Chapter 3

1030 Kata
Unicorn International High School dihebohkan dengan kabar 'si cewek aneh dan si pangeran UHS jadian'... Banyak yang menuduh Rain menggoda Daren duluan, bahkan ada yang bilang kalau Rain menyerahkan tubuhnya demi mendapatkan si tampan Daren. Jujur gadis itu sudah sangat muak mendengar berita tersebut. Tapi dia malas untuk melawan. Siswi siswi di UHS sangarnya melebihi mak tiri Cinderella. Mengerikan. Rain sudah menghindar sebisa mungkin dari Daren, tapi tetap saja tak bisa. Apalagi Daren yang sejak kejadian di atap kini semakin gencar mendekatinya. Ketenangannya benar-benar terganggu. Kabar jadian yang hampir membuat Rain gila. Sebenarnya tak ada yang jadian. Itu hanya paksaan dari seorang playboy sekolahan yang sudah menambah kehancuraan masa-masa sekolahnya. Pembullian yang terjadi padanya selama ini saja belum sanggup ia menghadapinya, sekarang ia harus dihadapkan lagi dengan kenyataan seperti yang terjadi hari ini? Yaitu dihebohkan jadian dengan Daren. Bisa jadi hidupnya di sekolah ini hanya sampai besok. Rain menghembuskan nafasnya gusar. Sekali lagi kenyamanannya terusik. Bahkan kantin sekolah sudah menjadi neraka baginya saat ini gara-gara Daren si playboy sialan itu. "Sakit kepala gue Rena.." keluh Rain sambil memijit keningnya gusar. Rena menatap Rain lirih, "Udah Rain, jangan didengerin apa kata mereka mah! Santai aja kawan" ucap Rena mencoba menyemangati sahabatnya itu. Ia memegang pergelangan tangan Rain untuk menenangkannya. "Tapi Lo denger kan Ren, masa gue dibilang jual tubuh gue ke Daren hanya untuk dapetin cowok gila itu! Yang bener aja!" gerutu Rain geram. Dirinya tak semurahan itu hanya untuk seorang Daren. Gila saja sampai harus serahin tubuh ke Daren. Sampai ayam bisa nunggingin p****t ya lurus ngadep langit juga dia nggak akan mau. "Hahahaha! Gila! gila! ntar suka beneran Lo!" ucap Rena sambil tertawa. "Idih, Ogah gue!" Rain bergidik ngeri membayangkan jika itu beneran terjadi. Rain menyeruput minuman yang ia pesan tadi sambil terus menunduk. Ia tak mau melihat sekelilingnya, karena ia yakin tak akan aman jika ia menatap ke samping, depan atau belakang. Rain melirik ke arah Rena, gadis itu tengah menggeretak beberapa murid yang terus berbisik-bisik sembari menatap mereka. "Beneran deh Ren, gue udah nggak betah di sini, pergi yuuk!" bujuk Rain. Sebenarnya sudah dari tadi gadis itu membujuk sahabatnya untuk beranjak dari kantin. Pasalnya semua pengunjung kantin menatapnya tajam khususnya untuk yang cewek. Seolah Rain adalah mangsa yang harus dihabiskan. Namun yang namanya Rena, ia tak akan pernah mau kalah hanya karena orang-orang seperti cewek-cewek yang duduk di kantin. "Ngapain harus cabut sih.." "Gue males Rena. Ini pada liatin ke sini.." jawab Rain memohon. "Udah santai aja Rain! Makin Lo kabur, makin yakin dan percaya mereka dengan gosip gila yang mereka buat!" Benar juga apa yang Rena katakan. Sebenarnya jika dirinya semakin takut dan kabur, pasti yang lain akan semakin menindasnya. Harusnya ia melawan, tapi Rain tak ingin mencari masalah di sekolah. Rain menatap Rena sekali lagi dengan tatapan memelas, "Tapi gue bener-bener nggak nyaman!" rengeknya lirih. Sejujurnya Rena kasihan pada sahabatnya ini. Entah kenapa hidup sahabatnya itu bisa menjadi seperti ini. Padahal jika dipikir-pikir, Rain tak pernah mencari masalah dengan orang-orang. Rain juga tak pernah kasar pada siapapun. Sahabatnya ini hanya pergi sekolah dengan cara yang baik dan pulang dengam cara yang baik-baik pula. Tapi kenapa banyak siswi yang tak suka dengannya? Kenapa orang-orang selalu merasa paling sempurna? Seolah dimata mereka Rain terlihat sangat buruk. ***** Kehebohan dan teriakan cewek-cewek menggema di lapangan basket tertutup di sekolah. Bagaimana tidak, Daren sang pangeran sekolah sedang latihan basket di sana. Pasalnya, seminggu lagi, ia akan mengadakan pertandingan basket melawan SMA Strata Jaya. Daren melambaikan tangan pada gadis-gadis yang meneriaki namanya, membuat lapangan basket tersebut semakin riuh oleh teriakan mereka, fans garis keras seorang Daren. "Lo bener-bener deh. Saat gosip lo pacaran sama Rain naik ke permukaan, lo malah goda-goda gadis di sini.." tegur Toni pada teman sekelasnya tersebut. Daren tertawa cukup keras, "Itu bukan urusan lo. Biar semua jadi urusan gue. Yang jelas, gue nggak ganggu hidup lo..!" ucap Daren sinis. Ia tak suka direkcoki oleh siapapun. Urusan Rain biar dirinya yang mengatasi semuanya. Dan kenapa harus ada yang ikut campur. "Daren! Toni! Kalian mau latihan atau tidak?" teriak pelatih yang membuat perdebatan mereka berakhir. Daren tersenyum sinis pada Toni yang mulai beranjak darinya. Sedangkan keheningan terjadi sebentar saat Toni dan Daren tadi saling tatap. Namun kembali heboh saat Daren kembali berlari mendekati pelatih untuk melanjutkan latihannya. Latihan basket Daren selesai setengah jam setelahnya. Ia berjalan santai menuju tas ranselnya, mengambil botol minum miliknya dan menyandang tas tersebut sebelum ia keluar dari lapangan. Sebenarnya gadis gadis itu masih ada di dekat Daren, hanya saja Daren tak terlalu mempedulikan. "Woi! Suntuk aja lo!" tanya Kiki teman dekat Daren namun bukan sahabat. "Apaan sih! Ganggu aja lo!" "Habisnya lo bengong nggak jelas gini. Diputus pacar ya?" goda Kiki yang langsung mendapat tatapan tajam dari Daren. "Bisa minggir nggak lo!" "Nggak. Soalnya gue kepo. Lo beneran jadian sama Rain si cupu itu? Yakin lo? Masih banyak yang cantik Daren." Mendengar ucapan Kiki, Daren berdecak kesal, "Kalau tujuan lo ke sini cuma mau ledek gue, cabut lo sana. Jangan sampai gue patahin tangan lo!" Ancam Daren pada Kiki. Bukannya takut, Kiki justru semakin membuat Daren kesal. "Gue nanya aja kali pak. Kenapa mesti Rain sih? Kan Stevi ada. Setahu gue lo sama Stevi deketnya sampai kayak gini.." Kiki merapatkan jari telunjuknya dan jari tengah. "Itu urusan gue. Jadi bisa lo cabut dari gue?" Daren lagi-lagi mencoba mengusir Kiki darinya. Jujur, ia tak mau diganggu saat ini. Selain lelah karena latihan basket, ia juga lelah karena sedari pagi selalu menjadi bahan serbuan teman-temannya. Dan semua itu terjadi hanya untuk bertanya apa benar dirinya jadian dengan Rain. Apa itu harus di bahas? Apa semuanya harus dikabari? Nggak kan? Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah kepalang tanggung. Orang-orang juga sudah tahu jika dirinya jadian dengan Rain. Tapi, sebenarnya hanya dia yang mengikrarkan Rain pacarnya, sedangkan Rain tak pernah mengakui itu sama sekali. Huuufff.. Kenapa sih mesti ada tantangan gila itu. Kenapa mesti ada permintaan tak wajar itu. Nggak mesti ada begituan juga Rain bakalan jatuh cinta dengannya nanti. ***** ini baru di awal. tetap pantengin yaaa..^^ dan jangan lupa klik lambag love bagi yang belum...^^ makasi banyak semuanyaaa..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN