Kunjungan untuk Meminta Maaf

1109 Kata
Demi menjaga hubungan baik antara keluarga Hadyan dan Kagendra, Galuh dengan paksa menteret Palupi dan istrinya untuk meminta maaf secara kekeluargaan pada Adrian dan keluarganya. Bagaimanapun, Palupi telah membatalkan pernikahan secara tiba-tiba dan hal ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan lingkar pergaulan mereka. Tentu saja Adrian merasa diolok-olok oleh keluarga Hadyan. Palupi yang mengejar-ngejar Devano membabi buta, tapi Palupi jugalah yang menghancurkan perkawinan itu sendiri. Wajah mana yang tak malu jika putranya ditinggal begitu saja pada hari paling penting dalam hidupnya? Untuk itulah, Galuh berinisiatif membawa Palupi dengan kerendahan hati, dengan membawa beberapa bingkisan sebagai tanda maaf. Kedua bola mata Palupi nyaris melotot saat dia melihat Mama membawa dua bingkisan berlogo Chanel dan Prada. Mereka mau meminta maaf atau menyuap secara sengaja? Ini … lebih seperti konspirasi daripada meminta maaf. "Ma! Itu KW keberapa?" Palupi melirik bingkisan itu dengan tak yakin saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan ke keluarga Kagendra. "Bagaimana bisa dibilang KW? Ini limited edition. Mama order jauh-jauh hari buat dapetin edisi ini!" Rosalina tak terima dengan tuduhan putrinya. Dia masih sakit hati karena harus melepaskan dua barang ini kepada Kartika demi meminta maaf. Belum hilang sakit hati Rosalina, Palupi sudah meragukan kualitas barang-barang yang ia miliki. Ibu mana yang tak sedih? "Pa! Itu juga ori?" Palupi melirik pada bingkisan dengan merk Bremont. Jam tangan dengan merk itu pasti bernilai banyak digit. "Ka-kamu meragukan Papa?" Wajah Galuh terdistorsi. Sebagai ayah, apakah Palupi berpikir dia suka membeli barang tiruan dengan sengaja? Sakit. Sakit rasanya dituduh seperti ini. "Woooo. Santai, Pa! Santai! Hanya sekedar bertanya, oke?" Palupi mencoba menenangkan lelaki gembul yang duduk di sisi kirinya, dan mengembalikan kembali kepercayaan diri lelaki tersebut. Palupi merasa hatinya berdarah-darah. Dia tak pernah tahu harga kekacauannya dari pembatalan pernikahan akan sebesar ini. Barang-barang yang akan diberikan orang tuanya pada keluarga Kagendra jika digabungkan, bisa membuat Palupi bertahan hidup beberapa bulan. Sebelumnya, Palupi memang hidup dari lingkungan keluarga kaya. Tapi bukan berarti dia memiliki dana tak terbatas yang bisa dihambur-hamburkan seperti air. Identitasnya hanya sebagai putri tiri dari istri siri. Uang dan fasilitas yang dia terima jauh dari anak sah Nehan Abimanyu lainnya. "Bagaimana jika kita meminta maaf secara tulus tanpa harus memberikan apa pun sebagai kompensasi?" usul Palupi, mulai menakar dalam hati berapa saja uang yang akan ia dapatkan jika bingkisan itu dia gadaikan atau dijual ke orang lain. Mata Palupi berbinar membayangkan ini, tapi segera berubah redup saat mendengar kalimat yang disampaikan Rosalina. "Setiap tindakan selalu memiliki konsekuensi. Kesalahan yang kamu buat dengan membatalkan pernikahan bukan hanya dianggap sebagai kesalahan kecil. Ini sama saja dengan menampar nama keluarga Kagendra secara sengaja. Kamu pikir bingkisan yang kita bawa cukup sebagai modal meminta maaf dan memohon perdamaian?" "Memangnya itu belum cukup? Mahal sekali harga diri mereka!" Rosalina dan Galuh saling pandang, kemudian menatap Palupi dengan ragu-ragu. "Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Rosalina selalu merasa aneh dengan sikap Palupi semenjak putrinya itu melarikan diri dari pernikahan. Ada sesuatu yang rasanya tak tepat. "Baik. Memangnya ada apa dengan Palupi?" Palupi merasa horor. Jangan-jangan tubuh ini memiliki riwayat penyakit mematikan yang tak ia ketahui. Meski dari ingatan sebelumnya Palupi tak menemukan hal-hal ini, bukan berarti semuanya sehat, bukan? Jelas memori yang ia warisi dari tubuh ini tak lengkap seratus persen. "Apa Palupi punya riwatar kanker?" Palupi merasa tak nyaman. "Kanker?" Papa terlihat syok. "Bukan, ya. Kalau gitu, tumor, mungkin?" "Tu-tumor?" Rosalina semakin bernapas cepat. "Bukan juga? Leukimia? Liver? Ginjal? Kelainan otak? Kelainan sel? Kelainan pembuluh darah?" Galuh dan Rosalina sudah pucat pasi. Dia menatap Palupi, seolah-olah Palupi berubah menjadi monster berkepala lima. Kedua tangan Rosalina lembab, mengeluarkan keringat dingin karena syok. "A-ada apa sama kamu, Sayang? Jangan terlalu sering menonton drama Asia. Terlalu berhalusinasi jelas tidak sehat untuk mental kamu!" Rosalina mencoba menenangkan Palupi, mencari-cari sisa kewarasan dari putri yang sebelumnya sangat beretiket sempurna dan bertingkah laku sopan. "Kalau gitu, seharusnya Palupi baik-baik saja dan nggak punya riwayat penyakit mematikan, 'kan? Baguslah! Itu artinya hidup Palupi sempurna!" Palupi mendesah lega, menyandarkan punggung rampingnya ke sandaran kursi mobil. Yang terpenting adalah dia sehat. Selain itu, masalah lain bisa ia atasi dengan mudah. Rosalina bergerak ke arah Galuh, membisikkan sesuatu dengan suara rendah. "Sepertinya putri kita mengalami banyak perubahan dan kelainan kepribadian." Galuh menepuk bahu istrinya, mencoba menenangkan Rosalina. "Kita akan mengatasi semuanya bersama-sama!" "Psikiater benar-benar dibutuhkan, Pa!" "Nanti akan coba Papa pertimbangkan lagi!" "Menurut Papa, Palupi masih tertolong, 'kan?" Rosalina bertanya penuh kesedihan. "Kalau nggak tertolong, kita akan rawat Palupi bersama-sama. Kita punya dana yang cukup untuk membuat anak kita nyaman hingga akhir hayat!" "Ya. Ya. Kita akan memberikan yang terbaik untuk Palupi!" Di sisi mereka, Palupi hanya bisa memutar bola mata dengan pasrah. Bagaimana mereka bisa membicarakan anak mereka sendiri seperti itu? Apa mereka pikir suara setinggi itu bisa diredam begitu saja? Mama jelas bermimpi jika beranggapan "bisikannya" tidak terdengar dari Palupi. Jelas apa yang dia pikir sebagai "bisikan", adalah percakapan bernada rendah yang masih bisa didengar orang lain, bahkan oleh sopir mereka sendiri. Pak Umat, si sopir, memilih pura-pura tuli, seolah-olah tak mendengarkan percakapan mereka. Melayani orang kaya sering kali kita dituntut untuk menutup mata dan menutup telinga. Terlalu banyak tahu rahasia kehidupan pribadi majikan juga bukan hal yang baik. Setelah empat puluh menit dalam perjalanan, Palupi dan kedua orang tuanya berhasil tiba di kediaman utama keluarga Kagendra. Jam menunjukkan waktu makan malam. Kunjungan ini memang sengaja dilakukan pada waktu makan malam, sehingga lebih rileks dan mengurangi kecanggungan. "Jeng! Maaf, kami berkunjung malam-malam begini!" Dengan basa-basi yang kaku, Mama menyapa Tante Kartika yang tampak menawan dibalut dress kuning pucat dengan renda-renda hitam di sepanjang ujungnya. Palupi mengerutkan dahi, tak mengerti dengan basa-basi Mama. Bukankah mereka memang telah memberi tahu akan berkunjung ke sini tiga jam sebelumnya? Kenapa harus minta maaf dan bersikap kunjungan ini adalah kunjungan acak yang tiba-tiba dilakukan? Palupi mulai tak memahami cara berpikir Mama. "Masuk! Mas Adrian sudah menunggu di dalam!" Kartika bersikap dingin, menatap Palupi dengan pandangan tak suka. Baiklah. Wajar jika Tante Kartika bersikap seperti ini. Wanita mana yang tak marah jika calon menantinya berlari meninggalkan putra tunggalnya dipermalukan pada saat pernikahan? Kartika membimbing semua orang ke ruang keluarga, sengaja tak terlalu banyak bicara sepanjang jalan. Rosalina bersikap bijak dengan tetap diam dan tak memprovokasi Kartika. Semua orang seolah-olah memiliki pemahaman bersama bahwa ketenangan palsu ini harus tetap dipertahankan, sebelum akhirnya robek dan saling menyerang satu sama lain secara verbal. Di ruang duduk yang didesain dengan gaya kontemporer, Palupi melihat dua orang laki-laki duduk berdampingan. Seorang lelaki awal enam puluhan dengan rambut putih dan mata tajam layaknya elang, dan lelaki muda awal tiga puluhan tahun, berfisik tegap dengan aura dingin yang sangat kuat. Dalam satu kali pandang saja, Palupi bisa menebak identitas laki-laki itu. Devano. … …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN