Semuanya kacau. Resepsi pernikahan yang digelar, kini menjadi ajang keributan. Sang mempelai pentantin wanita hilang entah ke mana. Kedua keluarga sibuk mencarinya ke segala sudut. Banyak orang dikerahkan untuk menemukan Palupi.
Setelah setengah jam mencari tidak mendapat hasil memuaskan, pencarian mulai dilebarkan ke area luar. Banyak orang bersaksi melihat kepergian Palupi di lapangan parkir. Entah bagaimana, Palupi pasti berhasil keluar dari rumah, meninggalkan prosesi acara.
Galuh Ginanjar Hadyan, ayah sekaligus kepala keluarga Hadyan, dipenuhi kerut-kerut kemarahan dan kekhawatiran dalam ekspresinya.
Palupi adalah wanita yang selalu hidup dalam kemudahan dan dukungan baik sejak ia kecil. Hanya saja, Galuh tak pernah menyangka putrinya akan mengacaukan pernikahannya sendiri mengingat bagaimana ia mencintai Devano dengan begitu dalam. Bahkan, peristiwa terakhir tentant tindakan Palupi telah menbuat semua keluarga Hadyan takut.
Rosalina, sang ibu, seluruh wajahnya pucat pasi. Dia menggenggam ponsel, mencoba menghubungi putrinya, tetapi tak kunjung tersambung.
"Tante, sepertinya percuma. Mau ditelepon seribu kali pun, Palupi nggak bakalan respon. Ini ponselnya ditinggal!" Maya yang baru saja menemukan ponsel Palupi di atas meja rias, menunjukkkannya pada Rosalina.
Rosalina semakin putus asa, kedua kakinya gemetar hebat. Dengan sigap, Maya mengambil kursi dan memberikannya pada Rosalina untuk ia gunakan.
Sementara keluarga Kagendra, amarah mereka sudah berada di titik tertinggi. Mereka merasa keluarga Hadyan telah mempermalukannya dengan adanya kepergian Palupi yang tiba-tiba. Adrian, sang ayah, menatap Galuh tak suka.
"Jika putrimu tidak suka dengan pernikahan ini, seharusnya dia mengatakannya secara terus terang. Untuk apa dia melarikan dalam prosesi? Apa dia sengaja membuat malu keluarga Kagendra? Atau jangan-jangan ini konspirasi kalian semua untuk menjatuhkan nama kami?"
Galuh yang diberi tuduhan seperti ini, hanya bisa semakin merasa bersalah.
"Adrian, tolong tenang! Palupi hanya impulsif. Kita semua tahu bagaimana Palupi mencintai Devano selama ini. Tidak mungkin dia sengaja mencampakkan pernikahan ini tanpa alasan kuat. Mungkin ada sesuatu yang tak bisa Palupi jelaskan sama kita!"
"Kalau kamu bahkan tidak bisa mengontrol tindakan putrimu sendiri, untuk apa kita berafiliasi dalam ikatan pernikahan. Mungkin perkawinan ini patut dipikirkan ulang!" Adrian mengibaskan tangan, berjalan meninggalkan Galuh yang masih berdiri canggung.
Palupi. Sungguh anak itu tak pernah berhenti untuk bertingkah. Apakah anak itu sengaja membuat kedua orang tuanya mati cepat? Tingkahnya meninggalkan pernikahan benar-benar tak bisa dipresiksi.
Kartika, istri Adrian, duduk di sisi putranya dengan wajah gelap. Dia menepuk bahu Devano, mencoba memberikan kekuatan dan penghiburan yang nyata pada satu-satunya putra yang ia miliki.
"Dev! Baik kamu maupun keluarga kita tidak bisa dipermainkan dengan mudah. Jika Palupi bisa menciptakan kekacauan ini, kamu juga bisa menciptakan kekacauan serupa. Saat nanti Palupi kembali, kamu tidak perlu berkewajiban untuk menerimanya lagi!" Kartika berbicara dengan berapi-api. Rambutnya yany disanggul bergoyang ke kanan dan ke kiri saat ia berbicara seolah-olah seperti gerakan otomatis.
Lelaki dingin tanpa ekspresi yang duduk di sisi Kartika, hanya melirik ibunya dan tak banyak menanggapi.
Pernikahan ini adalah pernikahan bisnis yang disepakati oleh dua keluarga besar. Devano tak terlalu peduli. Dia sudah lama tak tertarik pada Palupi. Sikapnya yang kekanakan, sombong, semaunya sendiri, dan tak pernah menghargai sekelilingnya telah membuat Devano sendiri jijik.
Namun, karena keluarganya terlalu berhasràt menikahkan mereka, Devano tak ambil pusing. Dia tak percaya cinta, tidak dekat dengan wanita tertentu, dan tidak memiliki bayangan muluk-muluk pada pernikahan. Kenapa tidak sekalian saja ia menerima pernikahan ini?
Setelah nanti menikah, bukan berarti Palupi bisa mengontrol Devano sepenuhnya. Devano pasti akan memiliki cara membuat Palupi sibuk dengan dirinya sendiri alih-alih mengganggu hidupnya yang tenang. Jika Palupi tetap saja mengganggu dan menjadi benalu, Devano tak segan-segan memberi pelajaran nyata pada Palupi. Yang jelas, dia bukan jenis orang yang bisa dikendalikan dengan mudah.
Hanya saja, dari semua pertimbangan yang ada, kepergian Palupi dari pernikaham bukanlah sesuatu yang bisa dpredilsi Devano. Wanita itu memang gegabah dan sering kali melakukan hal-hal tak masuk akal. Tapi meninggalkan pernikahannya sendiri dan membuang laki-laki yang selama ini dikejarnya dengan membabi buta … itu sangat di luar nalar.
"Dev! Jangan terlalu sedih! Kita pasti akan mengembalikan rasa malu yang diberikan keluarga Hadyan dua kali lipat!" Kartika menyipitkan matanya, menunjukkan tekad kuat untuk membalaskan kembali apa yang tengah ia rasakan sekarang.
Keluarga Hadyan mau main-main dengan keluarga Kagendra? Jangan harap. Jangan harap! Mereka pikir keluarga Kagendra akan diam saja? Mereka bermimpi.
"Dev!" Kartika memanggil putranya yang tak juga bereaksi dari tadi. Apakah keprrgian Palupi mengguncang mental Devano dengan sangat kuat?
"Hm!" Devano kembali melirik ibunya, tak tertarik sama sekali membicarakan gagalnya pernikahan ini. Masa bodoh dengan pernikahan. Hidip Devano masih memiliki jalan panjang yang tak bisa dipengaruhi oleh wanita mana pun, termasuk Palupi.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kartika mulai khawatir dengan kondisi putranya. Dia menggenggam lengan putranya, ingin memastikan semuanya.
"Baik!" jawaban Kevano masih seperti biasanya. Singkat, jelas, dan hanya terdiri dari satu atau dua kata.
"Kamera pengaman telah menemukan jejak kepergian Palupi!" Adrian berkata tiba-tiba, menyampaikan berita ini dengan wajah yang semakin tenggelam dalam amarah.
"Palupi pergi ke mana, Pa?" tanya Kartika, menyadari fakta ini pasti bukan fakta bagus mengingat reaksi wajah suaminya yang menggelap.
"Dia pergi dengan Samuel!" Bom ini dijatuhkan dengan tiba-tiba. Kartila yang mendengarya, membuka lebar matanya tak percaya. Devano, yang dikenal sedikit memiliki ekspresi, menaikkan salah satu alisnya, menunjukkan keterkejutan.
"Samuel Ganendra?" tanya Kartika, terlihat linglung. Hampir semua orang tahu keluarga Hadyan selalu bersinggungan dengan keluarga Ganendra. Hubungan mereka tak pernah baik dan selalu dipenuhi konflik.
"Ya. Samuel Ganendra!" Adrian mengepalkan tinjunya di sisi tubuh, menahan setiap murka yang siap meledak kapan saja.
"Apa-apaan ini! Apa kita sengaja dipermalukan di sini? Sudah! Kita pulang saja, Dev! Ayo, Pa! Suruh sopir kita siap-siap!" Kartika berdiri, tak bisa lagi menahan kekesalan. Devano yang mendengar berita ini, berdiri dengan santai dan melenggang pergi ke luar melewati orang-orang yang mulai kisruh. Di belakangnya, Kartika dan Adrin mengikutinya dalam langkah-langkah lebar.
"Jeng! Mau ke mana?" Rosalina melihat kepergian calon besannya dengan rasa bersalah yang sangat kuat.
"Karena putrimu sudah membuat draka yang begitu agung, kami tidak perlu tinggal lebih lama lagi di sini. Sepertinya pernikahan ini hanya dianggap sebagai lelucon bagi Palupi. Katakan sama dia kami tidak perlu lagi kehadirannya dalam rumah tangga kami!" Kartika marah. Sangat marah. Dia menumpahkan semuanya pada Rosalina.
"Maaf, Jeng! Semuanya jadi begini. Palupi hanya impulsif. Aku yakin dia sebenarnya nggak berniat begini! Aku janji akan mengurus kekacauan ini dengan baik!" Rosalina berusaha menenangkan Kartika, tapi saat tangannya mencoba meraihnya, segera ditepis oleh Kartika dengan cepat. Dia mendengkus kesal, berbalik pergi meninggalkan Rosalina begitu saja.
Melihat kepergian calon besan dan menantunya, Rosalina merasa gilà. Dia berjalan cepat mencari Galuh, mencoba mengatasi situasi canggung ini.
"Pa! Kita bubarkan tamu semuanya! Mereka hanya akan menambah suara-suara nggak baik tentang kita!" Rosalina menutupi wajah manisnya dengan kedua telapak tangan, merasa malu luar biasa atas tingkah putrinya.
"Mama urus di sini! Papa akan urus Palupi langsung!"
"Memangnya dia di mana saat ini?"
"Papa nggak tau pastinya. Tapi Papa tebak dia pasti tak jauh-jauh dari Samuel!"
…