Setelah membaca semua jenis laporan di atas meja dan merasa otak Palupi tumpul, Palupi memilih angkat tangan dan segera pergi ke bagian produksi di gedung sebelah.
Jangan salahkan Palupi. Salahkan saja otak Palupi yang meskipun mewarisi sebagian besar ingatan pemilik tubuh sebelumnya, sayangnya tak mewarisi semua skill yang dimilikinya, termasuk pengetahuan bisnis dan strategi-strategi usaha.
Yang ada dalam bayanyan Palupi, dia hanya samar-samar ingat tentang semua istilah-istilah dalam laporan, tetapi tak kunjung menguasai pemahaman sesuai yang ia kehendaki. Daripada dia menyiksa otaknya lebih lama lagi, Palupi memutuskan mengalihkan fokus dan berpura-pura melakukan tinjauan lapangan. Salsa mengikuti di belakangnya, tak lupa membawa semua laporan yang baru saja ia baca. Ah. Apakah wanita ini terlalu sempurna sehingga tak bisa meninggalkan laporan barang sejenak?
Palupi dibawa ke sebuah ruangan di lantai dua oleh Salsa, dan langsung disambut dengan kesibukan nyata. Ruangan yang digunakan memiliki luas sekitar seribu lima ratus meter, dibagi menjadi tiga sekat. Sekat pertama untuk ruang pencucian bahan sarant burung walet sebelum diproses, ruang kedua dan yang paling luas digunakan sebagai ruang produksi, dan terakhir, ruangan khusus mencetak, mengeringkan dengan oven, dan packing barang jadi. Setelah itu, nanti kemudian barang dikirimkan di bagian gudang dan berlanjut diekspor ke China.
Palupi menatap banyak orang yang duduk penuh konsentrasi di depan meja panjang dengan lampu neon di atasnya, tengah membersihkan sarang burung walet melalui pinset khusus. Jumlah orang ini cukup banyak. Total ada sekitar tiga puluh dua meja panjang, dengan sepuluh hingga dua belas orang per meja. Itu artinya, satu ruangan ada sekitar tiga ratus lima puluh orang. Di lantai atas berdasarkan informasi Salsa, bahkan satu ruangan ada yang tembus empat ratus orang. Tiga lantai dijadikan tempat pembersihan sarang burung walet. Seluruh karyawan mencapai sekitar seribu orang, atau bahkan lebih.
Di setiap meja, ada satu orang berseragam merah, menandakan ia memiliki tugas lain. Palupi tak bisa terlalu banyak bertanya pada Salsa—kecuali dia ingin dianggap penderita amnesia—sehingga ia hanya bisa menebak orang-orang dengan seragam berbeda ini pasti semacam pengawas atau sejenisnya. Mereka bertindak mengambilkan bahan kotor, dan mengantarkan barang bersih ke ruangan lain.
"Pagi, Bu!"
"Pagi, Bu!"
"Pagi, Bu!"
Beberapa pengawas menyapa Palupi dengan baik dan sopan, menunjukkan penghormatan. Palupi tak terlalu ingat orang-orang ini sehingga ia hanya bisa mengangguk dan pura-pura acuh.
"Mau melihat hasil cetakan hari ini?" Salsa menawari Palupi, mengingat biasanya atasannya suka mengecek langsung barang yang sudah cetak dan siap packing.
Tak bisa menolak tawaran Salsa, Palupi hanya bisa mengikuti di belakang sang sekretaris. Salsa membawa Palupi ke sebuah ruangan yang memiliku oven besar, dengan memandaatkan banyak kipas angin, untuk mengeringkan sarang burung walet yang telah dicetak ke dalam semacam kotak di dalamnya.
"Ini cetakan hari ini yang masih belum selesai. Bu, ini hasil kemarin yang baru saja saya packing!" Seorang pemuda dengan kemeja kotak-kotak kecil tanpa seragam menunjuk setumpuk sarang burung walet yang telah dicetak berbentuk segi empat.
Palupi mengingat-ingat orang ini, dan gagal menemukannya. Jadi alih-alih menyebutkan nama untuk menghargai, Palupi memilih mempertahankan ekspresinya yang berjarak dan menguarkan sedikit hawa dingin.
"Bagaimana tingkat putihnya? Lebih baik dari partai sebelumnya, bukan, hasilnya?" Lelaki itu masih mencerocos, tampaknya bangga dengan
Palupi menatap pada sarang burung walet yang dibentuk persegi seperti mie bihun putih, menyentuh teksturnya yang kasar, dan diam-diam mengambil kesimpulan. Jadi ini toh salah satu hasil dari produksi pencucian burung walet.
"Bagaimana tingkat warna putihnya? Itu pencuciannya masih menggunakan H2O2 tiga persen, tapi berhubung barangnya memang oke punya, jadi warnanya lebih cerah dari produksi partai terakhir!" Lelaki itu menjelaskan dengan bangga, seolah-olah menuggu pujian.
Palupi meletakkan sarang burung walet di atas meja, kemudian mengangguk dengan sedikit canggung. "Ya. Bagus. Pertahankan!" Karena tak tahu harus berkata apa, Palupi hanya bisa memuji secara samar.
"Bu! Sudah waktunya untuk rapat!" Salsa yang berjalan mengikuti Palupi, segera saja mengingatkan. Dia baru saja mendapat telepon dari Pak Eko, sang manager produksi terkait rapat ini.
Wajah Palupi terdistorsi. Dengan pasrah, Palupi segera kembali ke kantor, berjalan lemah ke ruang rapat, dan menatap dua orang lelaki yang telah duduk dengan profesional di meja bundar dengan setumpuk dokumen. Bayangan tentang isi dokumen yang pastinya berisi laporan, wajah Palupi semakin menggelap.
"Pagi menjelang siang, Bu!" Salah satu lelaki yang Palupi ingat sebagai Pak Eko, mengangguk sopan menyambut kedatangan atasannya. Pak Eko adalah lelaki berusia awal empat puluh, bermata jernih dan bertubuh ramping. Setiap gerakanna sigap dan cekatan. Pantas dia menjadi manager produksi. Jelas karakternya mumpuni. Terlebih lagi saat Palupi melihat sorot kecerdasn dari kedua mata lelaki itu.
Di sisi Pak Eko, ada pemuda berusia awal tiga puluhan dengan kacamata tipis dan senyum menawan. Dia adalah Martin, mamager muda keuangan.
Palupi duduk di hadapan mereka dengan ditemani Salsa, kemudian diberikan dokumen tentang laporan produksi yang sebelumnya ia baca. Palupi mulai meradang. Apakah mereka akan membahas ini?
"Ibu sudah baca laporan saya?" Pak Eko tampak bersemangat. "Terakhir Ibu bilang kita harus menantang diri kita untuk memberikan hasil yang paling baik, paling tinggi, dan paling besar yang mampu kita peroleh. Setelah saya push karyawan dan ganti sesikit metode pencucian bahan, kinerja kita lebih cepat dan susut bahan menurun dua koma dua persen dari partai sebelumnya! Sampel bahan yang ini juga sudah saya kasih ke Koh Liang. Koh Liang menguji sampel dan beliau berkata kita lolos QC. Bagaimana menurut Ibu?"
Pak Eko membuka laporan, menunjukkan jumlah penyusutan bahan mentah ke bahan jadi setelah pembersihan dengan semangat. Di sana tertera sebuah angka. Di bawahnya, ada perhitungan efisiensi per karyawan dalam satu hari kerja berdasarkan jumlah sarang burung walet yang mampu mereka bersihkan.
Palupi tak tahu harus bersikap apa. Dia hanya mengangguk, dalam hati memaki-maki. Bagaimana bisa dia memahami semua perhitungan ini? Dan dari mana perhitungan ini diambil?
"Dan barang ini, jika kita kirimkan sebelum akhir bulan, kesempatan kita untuk dapat harga baru dari China masih tinggi. Kita bisa mengambil keuntungan besar. Bukan begitu, Martin?" Pak Eko bertanya pada pemuda di sisinya. Pemuda itu mengangguk, dan memberikan sebuah kertas dengan tulisan berdigit tujuh.
"Ini adalah harga terakhir China dengan bahan yang bagus. Ini harga patahan. Ini harga moyan. Ini harga—"
"Oke. Oke!" Papuli merebut kertas itu, memotong penjelasan Martin. Dia melihat harga di kertas itu, terkejut melihat angka yang sangat besar.
"Ini harga per apa?" tanya Palupi bodoh.
"Per kilo!" Martin menjawab bingung. Tampaknya hari ini atasan mereka sedikit kurang antusias.
Palupi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian tersenyum kecil. Gilà. Harga sarang burung walet mencapai dua puluh juta ke atas per kilo. Ini semua uang. Itu artinya, tadi saat dia melihat hasil produksi jadi, Palupi baru saja melhat uang dalam nominal yang sangat besar. Mata Palupi membulat penuh ketertarikan.
"Laporan bulan terakhir, seharusnya Ibu tidak kecewa!" Martin membuka laporan, menunjukkan laporan laba rugi dan neraca keuangan. Ketertarikan Palupi pada harga burung walet mulai hilang, digantikan dengan wajah tertekan membaca laporan yang Sala siapkan di depannya.
Pembicaraan kemudian beralih pada semua jenis laporan keuangan dan topik produksi nyaris selama dua jam. Wajah Palupi semakin merah karena amarah. Otaknya kacau balau. Pikirannya terdistorsi. Telinganya sakit mendengar semua istilah-istilah itu. Saat Martin dan Pak Eko meminra saran dan umpan balik, Palupi nyaris tak bisa berkata-kata.
Dia mulai menyesali posisinya sebagai CEO.
…