Terjebak di Tempat yang Salah

1055 Kata
Palupi menatap wanita manis di depannya dengan penuh rasa penasaran. Wanita ini terlalu lugu, polos, dan sederhana. Jika di sekolah, gadis seperti dia selalu Palupi golongkan sebagai bunga melati. Terlalu lembut, lemah, dan tak membangkitkan minat untuk membully dari siapa pun. Gadis tanpa tantangan. "Caca, Sayang, suamimu terlalu impulsif membawa pulang wanta. Mama sedang membujuk Sam untuk membiarkannya pergi. Bantu Mama untuk membujuknya juga. Dia terlalu keras kepala!" Tante Renata menatap wanita yang dipanggil Caca dengam tatapan tak berdaya, seolah mencari sekutu dalam tindakan konspirasi. Sirkuit otak Palupi mulai mengalami gangguan. Tunggu tunggu ... bukankah Tante Renata menyebut kata "suami" untuk Caca pada Samuel? Apakah itu artinya wanita di depannya adalah istru sah dari Samuel? Pusing. Palupi merasa semuanya berjalan semakin kacau. Dia menghindari sebuah masalah, tapi justru masuk ke masalah lain. Jika drama ini tak disudahi, Palupi yakin hidupnya akan berakhir hanya dalam hitungan menit. Kesempatan hidupnya yang kedua, seharusnya tidak dia sia-siakan. "Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Tidak ada hubungan gelap, kekasih terlarang, atau apa pun itu." Palupi berdiri, merasa beruntung Tante Renata masih bersedia memberinya pinjaman dress renda ala model tahun sembilan puluhan, dan mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini dalam dua kalimat singkat. Nyatanya, baik Tante Renata dan Caca tak ada yang percaya. Wanita sehat mana yang akan percaya suaminya pulang membawa calon pengantin orang lain tanpa ada hubungan apa-apa? Tante Renata tadi telah mengatakan melalui telepon jika Sam pulang menggondol putri rival bisnis suaminya yang seharusnya menikah hari ini. Dengan informasi inilah, Caca langsung ke sini, ingin memastikan kebenaran. "Tak ada hubungan gelap?" Caca mengamati wajah Palupi yang kini telah bersih dari make up. Wajah ini sangat sempurna dengan kulit lembut dan mata cokelat berbinar indah. "Wanita cantik seperti kamu terlalu mudah menaklukkan laki-laki!" Caca tersenyum maklum, tak ada reaksi marah atau pun kesal sama sekali. Palupi semakin merasa semuanya tak beres. Bagaimana bisa ada istri yang tidak marah melihat suaminya pulang membawa wanita lain? Tante Renata yang menyaksikan reaksi Caca, wajahnya semakin gelap, tak puas oleh sikap menantunya. "Caca, bagaimanapun, kamu adalah istri sah Samuel! Jaga sikapmu dengan baik! Istri sah harus menjaga martabat suami dan menyingkirkan sesuatu yang seharusnya disingkirkan!" Tante Renata memperingatkan Caca dengan tajam. Jika Caca tak juga mengubah tingkah lakunya, Tante Renata khawatir pernikahan putranya bisa selesai kapan saja. Sementara Samuel yang menyaksikan adegan ini, memilih menikmatinya dengan kedua tangan terlipat. Palupi adalah sosok yang terkenal dingin, suka mengambil tindakan yang cenderung kasar dan pas sasaran seperti ayahnya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya kehilangan kendali adalah Devano. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya bereaksi manusiawi adalah Devano. Kini, melihat wanita itu di depan ibu dan suami Samuel, mau tak mau menggelitik rasa ingin tahu Samuel. Kira-kira apa sikap yang akan Palupi ambil kali ini? Lucu juga membayangkan Palupi akan bentrok dengan sesama kaum perempuan. "Palupi, Tante akan kasih kamu uang tunai. Akan lebih baik kamu segera pergi dan menyelesaikan masalah pernikahanmu yang kacau dengan segera. Jangan sampai keluargamu tau kamu ada di sini. Kamu tidak ingin semuanya semakin kacau, 'kan?" Tante Renata mengingatkan. Dia segera menyuruh pembantunya mengambil tas uang miliknya, dan mengambil tiga puluh lembar uang berwarna merah di dalamnya dengan cepat. Samuel hanya bisa menatap tindakan ibunya dengan sabar. Jika Mama pikir ia mampu membayar Palupi hanya demi uang sebanyak itu, tampaknya Mama terlalu rendah menilai wanita tersebut. Tapi, kejadian selanjutnya membuat Samuel syok tak percaya. Dengan tenang dan tanpa rasa bersalah, Palupi menyambar uang itu tanpa ragu-ragu. Dia menghitung uang tersebut di depan mereka, menepuknya dengan puas, dan menatap Tante Renata dengan sorot terimakasih. Tante Renata pun tak kalah syok. Tangannya yang baru saja diulurkan di udara masih kaku, seolah-olah uang itu belum diambil sama sekali. Dia menatap Palupi yang baru saja menyimpan uangnya, dan menggemeretakkan gigi dengan keras. Kenapa anak itu tidak berbasa-basi menolak? Bukankah seharusnya putri kaya seperti dia merasa tersinggun jika ditawari uang? Palupi bukan hanya meminta uang pada Jefri, tapi juga menerima uang dari Tante Renata secara langsung. Apa-apaan ini. Kenapa semuanya berjalan seperti ini? Tante Renata menatap uang yang sudah disimpan baik oleh Palupi, menyesali tindakannya yang impulsif. Beruntung Tante Renata tidak mengambil uang tersebut. Samuel dan Caca juga terkejut. Benarkah ini waita yang dibawa pulang Samuel? Kenapa karakternya seperti ini? "Terimakasih, Tante!" Palupi melenggang pergi, tersenyum simpul penuh kemenangan. Mudah sekali mendapatkan uang dalam lingkungan orang kaya. Sebelumnya, Palupi berada di lingkungan keluarga kaya juga, tetapi dalam masalah uang, dia tak memiliki kemudahan seperti ini. Kesempatan kedua adalah sesuatu yang sangat baik. Palupi harus memanfaatkan ini. Hidupnya telah berbeda, dan karena Tuhan memberinya kesempatan lain, dia tak bisa menolak begitu saja. Samuel tersenyum kecil, bibirnya semakin tinggi ia naikkan. Matanya menunjukkan ketertarikan baru pada seorang wanita yang sebelumnya pikir bukan siapa-siapa. Ternyata seorang putri tunggal dari keluarga Hadyan memiliki daya tarik yang cukup tinggi. Dia sosok yang berbeda dari apa yang telah dirumorkan. "Biar gue anter!" Samuel bangkit, berdiri dan berjalan cepat mengimbangi langkah Palupi. Palupi menatap Samuel seolah-olah laki-laki ini akan muncul ekor api di belakang tubuhnya. Apa orang ini sehat? Bahkan di depan istrinya sendiri, Samuel sengaja melakukan tindakan ini? Mugkin lelaki ini tak memiliki otak, atau mungin istrinya yang tidak memiliki kepekaan. Entah mana dari dua hal ini yang benar. "Gue bukan orang yang suka bermain adrenalin dengan laki-laki beristri!" Palupi mencibir, jelas tak suka dengan tindakan Samuel. Laki-laki di mana-mana sama. Setiap kali ia tertarik pada sesuatu, setiap kali itu pula mereka akan mengejarnya, tak peduli orang-orang yang bisa saja terluka atas tindakannya. "Nggak apa-nggak apa-apa. Sam! Anterin wanita ini dengan baik. Pastikan dia selamat sampai rumah!" Caca menepuk bahu Samuel dengan sedikit kesulitan karena perbedaan tiggi tubuhnya yang cukup banyak, dan mengisyaratkan agar ia merawat Palupi dengan baik. Palupi menatap Caca dengan bòdoh, dan Tante Renata menatap ngeri pada menantunya sendiri. Dunia terbalik. Istri sah memberikan lampu hijau pada wanita lain untuk didekati suaminya sendiri. "Jangan khawatir. Sam nggak akan liar dan bersikap kasar sama kamu! Dia laki-laki yang cukup sopan. Dia akan menjagamu dengan baik!" Caca meyakinkan Palupi dengan lembut, tetapi wanita itu mundur ke belakang, menatapnya semakin horor. Ada yang salah dengan otak Caca. Keluarga ini terlalu berantakan dan kacau. Siàl. Palupi merasa ia terjebak ke tempat yang tak seharusnya. "Ayo gue anterin! Ini perumahan. Sulit buat cari taxi langsung di area ini!" Samuel menarik tangan Palupi, membuat semuanya semakin ambigu. Palupi menjerit dalam hati. Ada apa ini sebenarnya? …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN