Gerimis, saat Aku Jatuh Cinta

1152 Kata
Aku semakin senang berada di sekolah, karena sekarang aku mempunyai teman yang selalu menemaniku. Ya, aku dan Evan sudah menjadi teman yang sangat dekat. Ia selalu mendengar setiap kata yang ku ucapkan. Bahkan saking dekatnya, ia tahu bagaimana keadaan keluargaku, dan tentu saja Evan menjadi satu-satunya temanku yang tahu. Tak terasa, kehidupan sekolah dasarku telah berakhir. Hari ini adalah hari kelulusan. Tak ada yang istimewa bagiku, semua terasa biasa saja. Bahkan satu-satunya teman yang ku miliki di bangku SD itu hanyalah Evan. Acara perpisahan hanya berjalan sebentar. Seperti biasanya, aku dan Evan akan pulang bersama. Rumah yang searah memudahkan Evan untuk menghampiriku setiap pagi, dan mengantarku seraya pulang. Ini adalah musim yang hangat, musim semi dengan Bunga Sakura yang mekar di sepanjang jalan dan taman. "5 cm per detik," ucap Evan tiba-tiba. "Apa?" tanyaku yang memang tidak tahu apa yang sedang Evan katakan. Evan yang tengah sibuk mengurai kelopak sakura di tanah menoleh, kemudian ia melanjutkan. "Bunga Sakura, katanya ia jatuh setiap 5 cm per detik," jelasnya. Aku hanya mengangguk menanggapi kalimat Evan. Setelah selesai dengan kelopak Sakura yang berguguran, aku dan Evan kembali berjalan. Sakura hari ini sangat indah, mekar dan sebagian kelopak gugur ke tanah. Warna merah muda ini sungguh hangat. Ku layangkan pandagan ke atas, menatap bunga yang menggugurkan kelopaknya, terhembus angin. "Hei Evan," ucapku. Evan yang mendengar ikut berhenti, dan menoleh seraya menyiratkan tanya kenapa aku memanggil. "Menurutmu, Bunga Sakura indah?" tanyaku. Ku turunkan mataku pada Evan, dan ia tersenyum. "Tentu saja, lihat banyak yang senang melihat Bunga Sakura," jawabnya. Aku menghela nafas, "apakah Sakura akan bahagia? Lihatlah, ia hanya mekar dua pekan, berguguran dan harus menunggu musim semi selanjutnya untuk mekar. Apakah itu adil?" sambungku. Mendengar pertanyaanku, ku lihat Evan berpikir sejenak. "Hmmm, entahlah adil atau tidak. Tapi, menurutku itulah kebahagiaan yang dirasakan oleh Sakura," Evan kembali tersenyum dan menatapku, melihat aku tak paham, ia melanjutkan. "Tumbuh dan mekar, berguguran, dan menunggu lama lagi untuk bisa muncul kembali. Namun, lihatlah manusia yang sangat menantikan kehadirannya, meski hanya sebentar, akan tetapi mekarnya mampu membuat orang-orang bahagia," lanjut Evan. Memang benar katanya, "lantas, apakah aku masih menunggu musim untuk mekar? sebab aku belum merasakan kebahagiaan atas kehadiranku hingga saat ini," ucapku sendu. "Uun ...," Evan menggeleng, "Aku bahagia bersamamu, Sakura," ujar Evan sedikit membuatku senang. Benar, semenjak mengenal Evan aku jadi lebih bisa bersyukur telah lahir di dunia. Meski aku belum menemukan musim untuk mekar, setidaknya aku tetap terlahir sebagai Sakura, yang indah dan berbahagia, harusnya. Masa sekolah dasar kami telah berakhir, kini kami menduduki bangku Chuugakkou atau Sekolah Menengah Pertama. Aku dan Evan memutuskan untuk masuk ke sekolah yang sama. Mengingat kami adalah teman dekat, dan sekolah yang kami pilih adalah sekolah yang paling dekat dengan rumah kami. Masa SMP kami juga tak jauh berbeda, berangkat dan pulang bersama. Bahkan meski kelas kami berbeda, salah satu dari kami akan saling menunggu jika ada yang keluar kelas lebih lambat. Karena hal itu juga, kami sering disangka sudah berpacaran. Padahal, aku dan Evan hanya teman. Selama tiga tahun di SMP, empat musim sudah kami lalui setiap tahunnya. Masa SMP berjalan begitu cepat, tak terasa kini kami hampir mencapai batasnya. Besok adalah hari kelulusan, setiap siswa sudah memutuskan akan meneruskan ke SMA pilihan masing-masing, tak kecuali Evan yang sudah memilih sekolah negeri ternama sebagai pijakan pendidikan selanjutnya. Berbeda dengan yang lain, aku masih bimbang hendak melanjutkan sekolah atau berhenti sampai di sini. Aku sangat ingin melanjutkan pendidikan, tapi ibuku menentang dengan alasan tidak ada biaya. "Untuk makan saja kita susah, apalagi untuk biaya sekolah yang tidak sedikit," ujar ibu tiap kali aku izin untuk melanjutkan sekolah. Ku pikir, semakin aku dewasa kehidupanku akan berubah. Rupanya tidak, ibu masih saja bertahan dengan ayah yang kasar. Sedangkan aku, masih saja hidup dan makan dengan kurang. Semenjak hari kelulusan, Evan semakin sulit untuk dihubungi. Ku pikir ia sudah enggan berteman denganku, ia tahu kalau aku tidak diizinkan untuk melanjutkan sekolah SMA. Tak mengapa, wajar bagiku jika ia ingin memiliki teman yang setara dengannya. Bagaimanapun, aku dan Evan bagai laut dan langit, terlihat tak bersekat tapi berjarak sangat jauh. Sore ini, saat jingga tertutup awan yang mendung, ayahku kembali berulah. Aku yang baru saja pulang melihat ibu terlibat pertengkaran sengit dengan ayah. Sepertinya ia kalah besar dalam perjudian, ia memaksa menjual barang elektronik kami satu-satunya untuk menutupi sedikit dari kekalahannya. Barang mulai berterbangan, dilempar dan dipukul ayahku tanpa ampun. Rumah yang sudah reot, kini terlihat bagai kandang yang tak pernah dibersihkan. Berantakan di mana-mana, barang sudah raib dari tempatnya, bahkan beberapa sudah berubah dari bentuk aslinya. Aku yang masih terpaku di depan pintu hanya bisa menghela napas berkali-kali. Hingga saat tangan ayah hendak melayang ke pipi ibu yang sudah lebam, aku berlari dan mencoba menghentikan tangan kekar ayah tanpa rasa takut sedikitpun. Ku tatap tajam matanya, "berhenti atau aku panggil polisi, dasar ayah tak tahu diri!" ancamku. Mendengar aku mengancam, pria itu semakin dibakar amarah. Terlihat jelas dari matanya yang menyiratkan api emosi. Tak mau mendengarkan ucapanku, ayah malah mengambil pecahan gelas dan berniat menusukannya padaku. Tak mau kalah, aku mengeluarkan ponsel dan menekan nomor darurat. "Maju selangkah lagi, aku akan menelpon polisi, ayo maju aku tidak takut!" tegasku. Mendengar aku serius, ayah menghela napas dengan keras, seolah frustasi. "Kalian! Mati saja!" teriaknya sebelum meninggalkan kami. "Pergi kau dan jangan pernah pulang, bre**sek!" Aku berteriak tak kalah kencang, berharap pria yang tak punya akal itu mendengar. Sedangkan ibuku, ia masih terisak. Ku peluk erat tubuhnya, mencoba menenangkan wanita lemah yang tidak bisa membela dirinya sendiri. Setelah ibu tenang, ku punguti barang-barang di bawah yang sudah seperti sampah. Pecah, hanya beberapa yang tersisa. Ingin rasanya aku menangis. Namun mengingat betapa menyedihkannya hidupku selama ini membuatku kembali membendung air mata, harusnya aku sudah terbiasa. Senja telah berakhir, sepertinya ayah tidak akan pulang untuk beberapa hari. Tak mengapa, setidaknya kami bisa tenang untuk sementara waktu. Ku telusuri jalan setapak di tengah gelapnya malam. Ingin rasanya tidur cepat, tapi mata tak mau diajak terpejam. Entahlah, malam ini aku terpikir banyak hal yang membuat sadarku enggan dihilangkan. Langkahku berhenti pada sebuah taman yang biasa ku datangi dengan Evan. Aku duduk di salah satu bangku favorit kami, aku tetap duduk dengan nyaman meski sendiri. Suasana ini, mengingatkanku pada masa sebelum Evan menyapaku, kesendirian adalah temanku yang paling setia. Tak terasa, air mataku mengalir. Entahlah apa yang membuatku begitu sedih, apakah kehidupanku yang menyedihkan, ataukah aku yang tidak lagi berteman dengan Evan. Awan hitam yang tadi sore ku lihat, kini tak lagi bisa menahan airnya, seperti aku yang tak mampu membendung air mata. Gerimis datang saat aku tengah menangis. Saat aku sedang menangis, aku tahu ada seseorang yang datang. Berdiri tepat di sebelahku. Momen ini, mengingatkanku pada saat kali pertama Evan menyapaku. "Ayahmu berulah lagi?" ucapnya. Mendengar suara itu, kepalaku terangkat. Melihat wajahnya, aku terdiam sejenak, pria itu tersenyum. Sontak, ku hamburkan tubuhku padanya. Memeluknya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. "Evan, kau kemana saja?" Dia datang lagi saat gerimis untuk kedua kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN