Bab 4

1310 Kata
Naresya yang mendengar pernyataan cinta dari Naskala pun membeku. Begitu juga Raga yang mendengarnya. Tapi senyum tipis terbit di bibir Raga mengetahui ternyata selama ini sikap dingin Naskala bukan karena masalah dengan masa lalunya tapi juga dengan hatinya. "Anak muda yang tak bisa di tebak." gumam Raga. Naskala yang sadar jika ucapannya membuat Naresya terdiam pun gelagapan. "Nares, maafin gue. Lupain aja yang barusan gue omongin." Naresya terdiam, otaknya kosong. Semua ini terlalu tiba tiba untuknya. Dan dia juga bingung harus melakukan apa saat ini. "Lalu, saat ini apa Gisel masih mengejar mu?" Entah kenapa malah pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Naresya. Naskala tak langsung menjawab. Tapi dia juga tahu jika dia tak boleh menutupi lagi apa pun tentang yang terjadi padanya karena dia tak ingin ada kesalahpahaman lagi dengan Naresya. "Masih, tapi papa Raga sama mama selalu berusaha menjauhkan dia dari gue. Nares, maaf, sekali lagi gue benar benar menyesal dengan semua yang gue lakuin sama Lo. Biarin gue tanggung jawab sama Lo." Mata Naresya membeliak, dia bingung. Semua ini terlalu beruntun untuknya. "Naskala, gue nggak bisa jawab. Ini semua terlalu mendadak buat gue. Pertemuan kita dan semua penjelasan Lo masih abu abu buat gue." jawab Naresya lirih. Naresya membenci Naskala, tapi dia tak bisa menjauh. Entah takdir apa yang membawanya bisa sampai bertemu Naskala kembali. Melihat Naskala yang juga depresi sepertinya, terlihat juga jika Naskala juga sudah mendapatkan hukuman. Tapi semua tak adil karena Naresya harus di usir dari rumah tapi Naskala malah mendapat keluarga yang lengkap. "Nares, gue cuma mau tanggung jawab dengan apa yang gue lakuin sama Lo. Gue mau kita menikah!" Naresya memijat keningnya yang mulai berdenyut. Kejutan yang dia dapat membuat kepalanya penuh seketika. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. "Naskala, gue harus pergi sekarang. Kita akan bicara lagi lain kali." Naresya ingin pergi dari sana, dia sudah berdiri. Greb... Naskala langsung memeluk Naresya dari belakang. Tubuh Naresya membeku, tubuhnya mulai gemetar. Bayangan saat Naskala melakukan semua itu kembali muncul dalam pikirannya. "Nggak, Naskala lepasin!" pinta Naresya lirih. Tubuhnya mulai menggigil dan itu tak di sadari oleh Naskala. Raga yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya. Naskala dan Naresya masih sama sama sakit dan mereka belum sembuh sepenuhnya. "Gue nggak mau lepasin Lo, nanti Lo kabur lagi!" Naskala memeluk Naresya lebih erat. Dan itu membuat Naresya semakin ketakutan. Tangannya mulai gemetar, bola matanya bergerak liar dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Brak.... "Naskala, lepasin Naresya!" " Nggak pa, kalau Naskala lepasin dia kabur lagi. Aku nggak bisa pa!" Anak buah Raga sudah berjaga di luar ruangan Naskala. Jangan sampai kejadian ini tersebar keluar. Raga mendekat, tapi Naskala menarik menjauh tubuh Naresya. "Tidak, Naskala. Kamu janji sama papa untuk tak seperti ini. Lihat, Naresya ketakutan. Lepasin Naskala." Raga berusaha membuat Naskala melepaskan Naresya tapi ternyata Naskala juga kembali kambuh. Astaga, kenapa malah seperti ini. Raga memutar otaknya saat ini. Dia harus membuat Naskala melepaskan Naresya. Wajah Naresya sudat pucat dan terlihat ketakutan. Raga harus mencari cara bagaimana melepaskan Naresya dari Naskala. Mereka harus di obati jika tidak, Raga takut jika akan bertambah parah. Raga kira Naskala bisa mengatur semua emosinya tapi ternyata belum sepenuhnya sembuh dan itu membuat Raga kelabakan saat ini. Tapi belum sempat Raga bertindak Naresya sudah pingsan terlebih dahulu. Bruk... Mata Naskala membola melihat itu, Raga berlari mendekat sedangkan Naskala mematung di tempatnya. "Lihat Naskala, papa sudah memberitahu mu tadi." Raga mengangkat Naresya dan membawanya pergi dari sana memalui pintu yang lain. Asisten Raga datang tepat waktu. "Tuan muda, lebih baik kita mengikuti tuan besar. Nona Naresya butuh perawatan begitu juga dengan tuan muda." Naskala mengikuti Asisten papanya dengan langkah gontai. Kepalanya terasa berdenyut kembali melihat Naresya pingsan saat ini dan itu karena ulahnya. # Raga, sudah memberitahu Kaila soal ini. Karena sejak tadi Kaila sudah selesai di salonnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Kaila terus menangis membayangkan yang terjadi pada Naskala dan juga Naresya. Tak berselang lama, Kaila sampai di rumah sakit. Dia melihat Raga suaminya, duduk termenung di depan ruang periksa. "Pa....." panggil Kaila pelan. Raga berdiri lalu memeluk Kaila dengan erat. Kaila menangis dalam pelukan Raga. "Bagaimana bisa ini terjadi?" Raga akhirnya menjelaskan semunya pada Kaila. Kaila menutup mulutnya syok, ternyata takdir begitu kejam pada dua anak remaja itu. Raga juga memberitahu sebuah info tentang hidup Naresya setelah semua yang terjadi dan itu membuat Kaila semakin syok. "Astaga pa, kasihan sekali Naresya." Raga mengangguk mengerti, dia juga tak percaya jika ada orang tua yang malah membenci anaknya dan tak memberi perlindungan saat anaknya dalam masalah. Mereka berdua menunggu di depan ruangan. Naskala, yang tadi menyusul pun langsung pingsan kembali saat sampai di rumah sakit. Semua sedikit kacau dan membuat Raga terpaksa mengamankan semuanya. Jangan sampai berita tentang Naskala menyebar kemana mana. Tak lama dokter yang menangani Naskala dan Naresya keluar dengan wajah tak bisa di tebak. "Dokter, bagaimana mereka berdua?" tanya Raga cepat. Dokter itu mengambil napas panjang sebelum menjelaskan semuanya pada Raga. Dokter itu akhirnya memberitahu jika Naskala dan Naresya harus di rawat tapi tak harus di rumah sakit. Raga dan Kaila, lemas. Mereka harus segera merawat Naskala dan juga Naresya. Apalagi Naresya tak punya siapa siapa lagi. "Jadi gimana ma?" tanya Raga meminta masukan Kaila. Kaila terdiam, rasa marahnya pada mantan suaminya dan juga Gisel yang membuat dua orang anaknya menjadi depresi seperti ini. Di tambah saat itu mereka masih sama sama sekolah dan belum mengerti apa apa tentang kehidupan di luar. "Pa, kita bawa ke luar negeri saja sampai mereka pulih. Kita bisa membawa mereka di daerah yang jauh dari kota. Tapi dengan tempat yang berbeda. Biar mama yang mengurus mereka." Akhirnya Kaila membuka suara dan itu membuat Raga sedikit kaget. Meksipun Raga sudah bisa memprediksi jawaban itu. "Kamu yakin ma? Apa nggak kesusahan nanti mengurus mereka berdua?" Raga takut jika Kaila akan kesusahan nantinya. Apalagi dengan kondisi Naskala dan Naresya yang tak stabil seperti ini. Kaila menyentuh tangan Raga yang khawatir dengannya. Meskipun dia terluka dengan keadaan Naskala dan Naresya tapi dia harus berusaha kuat. Ini semua terjadi juga karena dia yang dulu hanya menjadi istri yang terlalu menurut. "Pa, mereka harus sembuh. Setelah itu mereka harus membalas semua kesakitan ini kepada semua orang yang sudah membuat mereka sakit." Raga tertegun mendengar semua perkataan Kaila. Semua luka itu terlihat jelas di mata Kaila. Raga akhirnya mengangguk, dia menghela napas panjang. Karena setelah sekian tahun mereka hidup tenang pada akhirnya hari ini terjadi kembali. Mau tak mau Raga harus siap. Dan dia akan tetap mendukung Kaila. "Aku akan siapkan semuanya. Dan kita akan berangkat setelah bicara dengan Naresya juga nanti. Kita akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk hidup Naresya saat ini." Kaila setuju, dia memeluk Raga dengan erat. Kaila bersyukur dia bertemu dengan suami sekaligus ayah sambung yang baik seperti Raga. "Terima kasih pa." Raga mengangguk, beberapa menit berlalu Kaila masuk ke dalam ruangan Naresya. Naresya yang sudah siuman pun bingung saat melihat Kaila ada disana. Kaila memeluk Naresya yang membuat Naresya membeku. Di hatinya ada perasaan yang sudah lama tak dia rasakan. Kaila melepaskan pelukannya pada Naresya. Dia mengusap pipi Naresya yang masih pucat. "Naresya, aku mamanya Naskala." Naresya tak bicara apa apa saat tahu jika wanita itu adalah mamanya Naskala. "Maaf ya, sudah membuat kamu seperti ini. Tapi mungkin maaf dari Tante nggak bisa kembalikan semua kehidupan kamu. " Kaila menjeda kalimatnya, dia memegang tangan Naresya erat. Naresya hanya menatap Kaila sendu. Dia merindukan sosok ibunya dan saat melihat Kaila, Naresya sudah bisa menebak jika Kaila adalah ibu yang baik. Bukan seperti ibunya yang akan langsung menghakimi. Kaila menjelaskan semua niatnya kepada Naresya yang membuat Naresya semakin diam. "Tante tak akan memaksa Naresya, tapi Tante mau kalian benar benar sembuh agar tak melukai satu sama lainnya lagi. Dan masih banyak hal yang harus kalian selesaikan nantinya." Naresya tak mengerti, tapi Kaila menjelaskan semuanya kembali. Naresya terlihat berpikir lama tapi kemudian dia mengangguk pelan "Apa aku bisa sembuh Tante? " to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN