bab 2

2170 Kata
Maya berdiri di depan jendela apartemennya. Di luar, kota masih basah oleh hujan yang turun sejak sore. Lampu kendaraan memantul di jalanan yang licin, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak seperti aliran sungai di antara gedung-gedung tinggi. Maya memeluk kedua lengannya. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna gelap. Tidak berlebihan. Tidak mencoba menarik perhatian. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya sulit dilupakan. Rambutnya dibiarkan terurai melewati bahu. Wajahnya nyaris tanpa riasan. Ia sudah berdiri di sana selama hampir dua puluh menit. Menunggu. Menunggu seseorang yang seharusnya tidak datang. Menunggu seorang pria yang telah memiliki kehidupan bersama perempuan lain. Adrian. Nama itu muncul di kepalanya berkali-kali. Maya memejamkan mata. Ia tahu hubungan mereka salah. Ia tahu Adrian menikah. Ia tahu ada seorang perempuan bernama Laras yang mungkin sedang menunggu suaminya pulang tanpa mengetahui bahwa pria itu sedang berdiri di ambang pintu apartemen perempuan lain. Maya tahu semuanya. Tetapi mengetahui bahwa sesuatu salah tidak selalu cukup untuk membuat seseorang berhenti. Bel pintu berbunyi. Maya membuka mata. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak langsung bergerak. Bel berbunyi sekali lagi. Maya menarik napas. Ia berjalan menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang. Beberapa detik ia terdiam. Kemudian pintu dibuka. Adrian berdiri di sana. Jasnya sedikit basah terkena hujan. Rambutnya berantakan. Wajahnya tampak lelah. Mereka saling menatap. Tidak ada kata-kata. Hanya tatapan panjang yang mengatakan terlalu banyak. "Kamu datang," kata Maya pelan. Adrian mengangguk. "Aku seharusnya tidak datang." Maya tersenyum tipis. "Tapi kamu datang." Kalimat sederhana itu membuat Adrian terdiam. Maya bergeser, memberikan jalan. Adrian masuk. Pintu tertutup di belakangnya. Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri dalam diam. Maya berjalan menuju ruang tengah. Adrian mengikutinya. Ia duduk di sofa. Maya memilih berdiri di dekat meja. "Aku membuat kopi." "Aku tidak ingin kopi." "Teh?" Adrian menggeleng. "Air saja." Maya mengambil air mineral dari dapur. Ia menyerahkannya. Adrian menerima tanpa berkata apa-apa. Maya duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Mereka kembali diam. Hubungan mereka selalu seperti itu. Kadang begitu banyak yang ingin dibicarakan, tetapi ketika berada dalam ruangan yang sama, kata-kata justru menjadi tidak berguna. Maya memperhatikan wajah Adrian. Ada sesuatu yang berbeda malam itu. Bukan sekadar lelah. Ada rasa bersalah. "Apa kamu bertengkar dengan Laras?" Adrian menatapnya. "Tidak." "Dia tahu tentang aku?" "Tidak." Maya menunduk. "Berarti kamu masih menyembunyikannya." Adrian tidak menjawab. "Kenapa kamu datang?" "Aku tidak tahu." Maya tersenyum kecil. "Jawaban yang aman." "Aku benar-benar tidak tahu." "Kamu selalu bilang begitu." Adrian menatapnya. "Maksudmu?" "Setiap kali kamu datang, kamu bilang tidak tahu." Maya menarik napas. "Padahal menurutku kamu tahu." Adrian bersandar. "Apa?" "Kenapa kamu datang." Hening. Maya menatapnya. "Kamu datang karena kamu merasa nyaman di sini." Adrian diam. "Kamu datang karena aku mendengarkanmu." Adrian menunduk. "Kamu datang karena ketika bersamaku, kamu tidak merasa menjadi seseorang yang harus memenuhi tuntutan." Maya berhenti sejenak. "Dan kamu datang karena aku membuatmu merasa diinginkan." Adrian menatapnya. Kalimat terakhir itu terasa terlalu tepat. Maya tersenyum pahit. "Benar, kan?" Adrian mengangguk pelan. "Benar." Kejujuran itu membuat Maya justru merasa lebih sakit. Ia pernah berharap Adrian akan menyangkal. Ia pernah berharap pria itu mengatakan bahwa perasaannya lebih besar daripada sekadar rasa nyaman. Namun Adrian hanya mengatakan benar. Maya berdiri. Ia berjalan menuju jendela. "Kadang aku membenci diriku sendiri." Adrian menatap punggungnya. "Kenapa?" "Karena aku tahu aku sedang melakukan sesuatu yang salah." Maya menatap pantulan wajahnya pada kaca. "Aku tahu kamu punya istri." "Aku tahu." "Aku tahu aku seharusnya menjaga jarak sejak awal." "Aku juga tahu." "Tapi kamu tetap datang." "Ya." Maya memejamkan mata. "Dan aku tetap membuka pintu." --- Maya tidak pernah merencanakan semua ini. Ketika pertama kali bertemu Adrian, ia bahkan tidak tahu pria itu akan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Pertemuan mereka hanya pekerjaan. Maya datang sebagai konsultan. Adrian sebagai pemilik perusahaan. Tidak lebih. Ia masih ingat hari pertama mereka bertemu. Ruang rapat dipenuhi orang. Adrian duduk di ujung meja. Serius. Tegas. Sedikit sulit didekati. Namun setelah rapat selesai, Adrian menghampirinya. "Presentasimu bagus." "Terima kasih." "Terutama bagian terakhir." "Bagian proyeksi risiko?" Adrian tersenyum. "Iya." Itulah awalnya. Percakapan yang sederhana. Tidak ada yang istimewa. Namun beberapa minggu kemudian, Maya mulai menyadari sesuatu. Adrian sering mencarinya. Bukan selalu untuk pekerjaan. Kadang hanya bertanya apakah ia sudah makan. Kadang mengirim artikel yang dianggap menarik. Kadang menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Maya menyadari batas itu mulai bergeser. Namun ia tidak menghentikannya. Mungkin karena saat itu ia sendiri sedang berada di titik yang rapuh. Maya pernah mencintai seseorang dengan cara yang sama dalam. Laki-laki itu pergi tiga tahun lalu. Bukan karena meninggal. Bukan pula karena perpisahan yang dramatis. Ia hanya memilih perempuan lain. Maya tidak pernah benar-benar pulih. Sejak saat itu, ia belajar satu hal. Jangan berharap terlalu banyak. Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada seseorang. Jangan percaya pada janji. Tetapi Adrian perlahan membuat pertahanan itu runtuh. Karena Adrian tidak pernah menjanjikan apa-apa. Justru itu yang membuatnya berbahaya. Ia tidak pernah mengatakan akan meninggalkan Laras. Tidak pernah mengatakan akan menikahi Maya. Tidak pernah mengatakan bahwa Maya adalah masa depannya. Ia hanya datang. Dan Maya membiarkannya. --- "Aku ingin bertanya sesuatu." Suara Maya membuat Adrian kembali dari pikirannya. "Apa?" Maya kembali duduk. Tatapannya serius. "Kalau malam ini aku meminta kamu memilih?" Adrian menatapnya. "Memilih apa?" "Aku atau kehidupan yang selama ini kamu jalani." Hening. Pertanyaan itu menggantung di udara. Adrian tidak langsung menjawab. Maya menunggu. Ia tidak tersenyum. Tidak pula terlihat marah. "Aku tidak bisa menjawab sekarang." Maya mengangguk. "Aku tahu." "Kamu tidak bisa meminta seseorang mengambil keputusan sebesar itu dalam satu malam." "Kenapa tidak?" "Karena ada banyak hal yang dipertaruhkan." Maya tertawa kecil. "Selalu ada alasan." "Bukan alasan." "Lalu apa?" "Realitas." Maya menatapnya. "Realitas bahwa kamu mencintai istrimu?" Adrian terdiam. Maya mengangguk perlahan. "Itu jawabannya." "Aku tidak mengatakan itu." "Tapi kamu juga tidak mengatakan sebaliknya." Adrian berdiri. "Aku datang ke sini bukan untuk bertengkar." "Aku juga tidak ingin bertengkar." "Kalau begitu?" "Aku hanya ingin tahu aku ini apa." Adrian terdiam. Maya melanjutkan. "Karena aku tidak mau menjadi tempatmu melarikan diri setiap kali rumah terasa sepi." "Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu." "Tapi kenyataannya begitu." Maya berdiri. "Aku selalu ada ketika kamu membutuhkan seseorang." Adrian memandangnya. "Dan setelah kamu merasa lebih baik, kamu pulang kepada istrimu." Maya tersenyum getir. "Sedangkan aku kembali sendirian." Adrian tidak mampu menjawab. "Aku tidak meminta kamu meninggalkan Laras malam ini," kata Maya. "Aku hanya meminta kejujuran." "Kejujuran tentang apa?" "Apakah kamu benar-benar memiliki perasaan kepadaku?" Adrian menatapnya. Lama. Kemudian berkata pelan. "Iya." Maya menahan napas. "Tapi..." Ia tersenyum. "Selalu ada 'tapi'." "Aku tidak bisa menghapus tiga tahun pernikahanku begitu saja." "Aku tidak pernah meminta kamu menghapusnya." "Lalu apa yang kamu inginkan?" Maya terdiam. Kemudian menjawab, "Aku ingin kamu berhenti hidup di antara dua kehidupan." Adrian mengernyit. "Maksudmu?" "Kalau kamu ingin memperbaiki pernikahanmu, lakukan." Maya menatapnya. "Kalau kamu ingin bersamaku, katakan." Ia menarik napas. "Tapi jangan datang kepadaku setiap malam hanya karena kamu tidak tahu harus pergi ke mana." Adrian menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia melihat Maya bukan sebagai perempuan yang memberinya kenyamanan. Ia melihatnya sebagai seseorang yang juga terluka. --- Maya berjalan ke dapur. Adrian tetap berdiri di ruang tengah. Dari kejauhan, ia mendengar suara air mengalir. Beberapa menit kemudian Maya kembali membawa dua gelas. Ia meletakkannya di meja. "Kamu ingat pertama kali kita makan malam?" Adrian tersenyum kecil. "Restoran dekat kantor." "Tempatnya buruk." Adrian tertawa pelan. "Kenapa kamu bilang begitu sekarang?" "Karena makanannya terlalu asin." "Kamu tetap menghabiskan semuanya." "Aku lapar." Mereka tertawa. Untuk beberapa detik, suasana terasa seperti dahulu. Ringan. Tanpa beban. Tanpa Laras. Tanpa rasa bersalah. Namun kebahagiaan kecil itu segera hilang. Karena kenyataan tetap ada. Adrian menatap Maya. "Aku takut." Maya terdiam. "Takut apa?" "Takut kehilangan semuanya." Maya menjawab pelan, "Kadang kita memang harus kehilangan sesuatu untuk mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan." "Aku tidak ingin kehilangan Laras." Maya mengangguk. "Kalau begitu, pulanglah." Adrian menatapnya. "Malam ini?" "Ya." "Dan kamu?" "Aku akan baik-baik saja." Adrian berjalan mendekati pintu. Maya tidak mengikutinya. Tangannya menyentuh gagang pintu. Sebelum pergi, Adrian menoleh. "Maya." "Ya?" "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini." "Aku juga." "Kalau aku tidak datang lagi?" Maya tersenyum. "Mungkin itu yang terbaik." Adrian mengangguk. Pintu terbuka. Namun sebelum ia melangkah keluar, Maya berkata, "Adrian." Ia berhenti. "Kalau suatu hari kamu datang lagi, jangan datang karena kesepian." Adrian menatapnya. "Datanglah hanya kalau kamu sudah tahu apa yang kamu inginkan." Adrian tidak menjawab. Ia pergi. Pintu tertutup. Maya berdiri sendirian. Untuk beberapa detik ia masih memandang pintu tersebut. Kemudian tubuhnya perlahan bersandar pada dinding. Matanya berkaca-kaca. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bukan karena Adrian pergi. Melainkan karena ia sadar bahwa mungkin malam itu adalah awal dari kehilangan yang sebenarnya. --- Di dalam mobil, Adrian tidak langsung pulang. Ia memarkir kendaraan di pinggir jalan. Ponselnya berada di tangannya. Nama Laras terpampang di layar. Adrian membuka percakapan mereka. Pesan terakhir dari Laras adalah pesan yang dikirim beberapa jam lalu. *Jangan pulang terlalu malam.* Sederhana. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kecurigaan. Adrian menatap kalimat tersebut lama. Kemudian ia mengetik. *Maaf.* Ia berhenti. Menghapusnya. Mengetik lagi. *Besok kita makan malam bersama, ya.* Ia menatap pesan itu. Lalu mengirim. Beberapa menit kemudian balasan datang. **Laras:** *Boleh.* Hanya satu kata. Namun Adrian tersenyum. Mungkin masih ada kesempatan. Mungkin tidak. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, malam itu ia harus membuat keputusan. Bukan tentang Maya saja. Bukan tentang Laras saja. Tetapi tentang dirinya sendiri. Ia harus menentukan apakah ia ingin menjadi laki-laki yang terus mencari pembenaran atas kesalahannya, atau laki-laki yang berani menghadapi konsekuensi dari pilihannya. --- Keesokan harinya, Maya datang ke kantor seperti biasa. Ia mengenakan pakaian profesional. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang. Tidak ada tanda bahwa semalam ia hampir menangis. Ketika memasuki ruang rapat, beberapa rekan kerja menyapanya. Maya membalas seperti biasa. "Selamat pagi." "Selamat pagi, Maya." Ia duduk. Laptop dibuka. Dokumen disiapkan. Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Adrian masuk. Tatapan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik. Kemudian Maya mengalihkan pandangan. Adrian duduk di tempatnya. Rapat dimulai. Tidak ada pembicaraan pribadi. Tidak ada pesan rahasia. Tidak ada tatapan panjang. Mereka kembali menjadi profesional. Setidaknya di depan orang lain. Namun di bawah meja, tangan Adrian mengepal. Ia tahu Maya sedang mencoba menjaga jarak. Dan anehnya, justru ketika Maya menjauh, ia semakin menyadari betapa besar ruang yang telah perempuan itu tempati dalam pikirannya. Rapat berlangsung hampir satu jam. Setelah selesai, semua orang meninggalkan ruangan. Maya membereskan laptop. Adrian masih duduk. "Maya." Maya berhenti. "Apa?" "Aku sudah bicara dengan Laras." Maya menatapnya. "Bagaimana?" "Kami akan mencoba memperbaiki hubungan." Maya mengangguk. "Bagus." Adrian berdiri. "Aku tidak tahu apakah aku berhasil." "Yang penting kamu mencoba." Maya memasukkan laptop ke tas. "Dan kita?" Adrian diam. Maya tersenyum tipis. "Sudahlah." Ia berjalan melewatinya. Namun Adrian berkata, "Aku belum selesai bicara." Maya berhenti. "Aku tidak ingin berbohong lagi." Maya berbalik. "Aku punya perasaan kepadamu." Maya menatapnya. "Tapi aku juga masih mencintai Laras." Kalimat itu terdengar seperti kejujuran yang terlambat. Maya mengangguk perlahan. "Akhirnya kamu mengatakannya." "Aku tidak ingin memberimu harapan palsu." "Bagus." Maya tersenyum. "Karena sekarang aku juga akan jujur." Adrian menunggu. "Aku tidak akan menunggumu." Adrian terdiam. "Aku punya perasaan kepadamu," lanjut Maya. "Tapi aku tidak akan menjadikan hidupku ruang tunggu untuk seorang pria yang masih belum tahu ke mana harus pulang." Ia mengambil tasnya. "Kalau suatu hari kamu benar-benar bebas dan masih ingin mencariku, kita bicara lagi." Maya membuka pintu. "Kalau tidak, anggap saja kita pernah menjadi bagian kecil dari kehidupan masing-masing." Pintu tertutup. Adrian berdiri sendirian di ruangan itu. Ia merasa kehilangan. Namun untuk pertama kalinya, ia tahu kehilangan itu bukan karena Maya meninggalkannya. Melainkan karena Maya memilih menghargai dirinya sendiri. --- Malamnya, Adrian pulang lebih awal. Laras sedang memasak di dapur. Adrian berdiri di ambang pintu. "Kamu pulang cepat." "Iya." Laras tersenyum. "Mau bantu?" Adrian mengangguk. "Potong apa?" "Sayuran itu." Adrian mengambil pisau. Mereka bekerja berdampingan. Tidak romantis. Tidak sempurna. Namun nyata. Laras sesekali bertanya tentang pekerjaan. Adrian menjawab. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka berbicara tanpa terburu-buru. Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tengah. Adrian memandang istrinya. "Aku ingin kita mulai lagi." Laras menatapnya. "Mulai dari mana?" "Dari hal-hal kecil." Laras tersenyum. "Mungkin itu lebih sulit daripada yang kamu pikir." "Aku tahu." "Dan kalau gagal?" Adrian menarik napas. "Kita coba lagi." Laras diam. Kemudian perlahan menggenggam tangan Adrian. Tidak ada janji bahwa semuanya akan kembali seperti dulu. Tidak ada jaminan bahwa luka yang belum terlihat akan tetap tidak terlihat. Namun malam itu, mereka memilih duduk bersama. Dan bagi Adrian, itu sudah menjadi awal. Sementara di apartemennya, Maya berdiri di depan jendela yang sama. Ia memandang kota. Ponselnya tergeletak di meja. Tidak ada pesan dari Adrian. Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu. Maya menarik napas panjang. Kemudian menutup tirai. Ada rasa sakit di dadanya. Namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang baru. Kelegaan. Karena akhirnya ia berhenti menjadi seseorang yang menunggu pilihan orang lain. Malam itu, tiga orang berada di tempat yang berbeda. Laras mencoba mempertahankan rumah tangganya. Adrian mencoba menemukan kembali dirinya. Dan Maya mencoba melepaskan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Namun tidak satu pun dari mereka tahu bahwa keputusan yang dibuat malam itu belum menjadi akhir. Justru sebaliknya. Itu adalah awal dari rahasia yang jauh lebih besar. Karena ketika sebuah hubungan dibangun dari kebohongan, kebenaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk ditemukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN