pertemuan

861 Kata
Suasana pertemuan itu tak diliputi keharuan dan kerinduan layaknya saudara yang telah lama tak berjumpa. Dingin, seperti hembusan ac yang menerpa wajah Eza. Kaku seperti sambutan Rey kepada orang yang dipanggilnya kakak. "Kamu kaku sekali sekarang Rey, kayak kanebo" canda Eza Eka Atmaja melihat perubahan sikap adiknya. Tak ada tawa dan senyum seperti beberapa tahun sebelum ia menghilang. "Bagaimana kakak bisa tahu keberadaanku?" tanya Rey tak berniat menanggapi basa- basi kakaknya. Eza menatap sendu, ada pilu yang menggores hati. Meski Rey mengatakan kakak Eza merasa seperti orang lain. "Tentu saja aku bisa mencarimu meskipun waktu yang dibutuhkan lama. Sejauh apapun kamu pergi, ikatan kita tidak akan pernah putus bukan?" Rey tersentak mendengar pernyataan yang pernah ia lontarkan kepada kakaknya. "Sebenarnya apa tujuan kakak kesini?" tanya Rey menatap minuman yang baru saja di antarkan. Jus tomat kesukaannya. Eza menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan punggung ke kursi. "Apa kamu tidak kangen dengan kakakmu ini? Jujur, sejak kamu pergi, aku tak bisa berhenti memikirkan semuanya. Aku malu mengakui tapi dari lubuk hati menginginkanmu kembali ke rumah" Wajah Rey mengeras. Bayangan masa silam melintas. Semua bertabrakan. Kenangan indah yang penuh kepura- puraan, menggores lara semakin dalam. "Kenapa kamu tiba- tiba pergi Rey?" tanya Eza menyeruput minumannya. Hening. Rey mencebik. Ingin rasanya memaki lelaki yang dipanggil kakak itu namun semua diurungkan. Bukankah kalian yang menginginkan ini semua, kenapa sekarang memelas seolah tersakiti luar dalam, gumam Rey dalam hati. "Apa kamu sudah ingat semuanya Rey?" wajah Eza berubah sendu. Tak berani menatap adik yang berusaha dijaga. "Aku harus kerja. Kalau tak ada hal penting yang ingin kakak katakan, aku pamit dulu" kata Rey beranjak tapi Eza menahannya. Mau tak mau Rey kembali duduk. "Tak bisakah kamu memaafkan? Perlakuan kami kepadamu begitu buruk tapi apakah semua keacuhan kami harus kamu balas? Penebusan yang kami lakukan, apakah tak membuatmu berpikir dua kali untuk menjauh. Bagaimana pun ayah..." "Ayah punya kakak. Ia tak pernah membutuhkanku karena itu lebih baik kakak tidak usah mencariku lagi" Rey memotong perkataan Eza. "Semua hanya masa lalu Rey. Ayah sudah berubah" kata Eza. "Itu karena kakak tidak tahu kebenarannya" ucap Rey lesu. "Kamu lah yang tak tahu bahwa ayah...." Rey menatap Eza yang tak melanjutkan omongannya. Hampir saja, Eza mengungkapkan rahasia yang tak boleh Rey tahu. "Semua hanya kesalahpahaman Rey" Eza menyerah untuk meyakinkan. Tak ada kebaikan yang terlihat di mata Rey tentang ayah. Hanya kebencian dan amarah. Hati kecil terus bertanya, seandainya dulu ia menepati janjinya kepada ibu akankan semua ini terjadi. "Apa kamu tidak ingin tahu kabar ayah?" tanya Eza melunak. Mencoba mencari tahu jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Rey. "Aku tak peduli" jawabnya dingin. Ia pun beranjak pergi. "Ayah sakit Rey" Eza berharap bahwa adiknya akan sedikit melunak. Ucapan Eza berhasil menghentikan langkah Rey. "Meskipun ayah mati, jangan harap aku akan kembali" Ia tersentak mendengar jawaban yang tak diinginkan. Dipandanginya tubuh Rey yang mulai menghilang dan menyusul adiknya yang belum jauh dari pandangan. "Kau akan menyesalinya Rey!" teriak Eza membuat Rey membalikkan badan. Menatap dingin dengan segala kebekuan hatinya. "Bukankah kalian yang terus menyesali hingga berharap aku kembali? Aku sudah memaafkan kalian tapi bukan berarti melupakan semua yang telah terjadi" kata Rey sinis. Hening. Rey melepaskan tangan Eza yang masih di pundak. "Pulanglah kak! Jangan cari aku lagi! Hidupku lebih bahagia tanpa kalian. Atau aku akan benar- benar menghilang" ancam Rey berlalu pergi. Tubuh Eza tak berdaya menahan kebencian yang menumpuk dalam hati Rey. Nanar, menatap adiknya yang telah berubah menghilang di persimpangan jalan. Ia tak mengenali Rey sekarang. Apakah ini adalah kebencian yang selama ini disembunyikan dari wajah cerianya. Puncak segala kemarahan. Kekecewaan. Eza mengacak rambutnya kasar. Kesal. Ia tak tahu apakah keputusannya tepat atau hanya keegoisan semata. Ia menginginkan senyum hangat Rey yang membuatnya nyaman bahwa semua baik- baik saja. Nyatanya senyum itu menghilang. Yang ada hanya sesal yang terus menjejal. Ingin rasanya kembali ke masa ia melihat awal dimana luka Rey bermula karena ia berjanji akan menjaga hati yang sekarang berubah kelam. Semua sudah terlambat, sekuat apapun ia berusaha cermin yang retak tak akan menghasilkan pantulan yang sama. ****** Rey berjalan gontai, tubuhnya tak berhenti gemetar. Kebencian telah menguasai pikiran. Membuatnya kalap. Ia duduk di sebuah bangku halte. Menatap kosong sebelum mengeluarkan ponselnya. Dipanggil nomor dengan nama Jaka. "Woy, bisa jemput gue kah? Lemes banget nih" kata Rey. "Emang lu dimana?" tanya Jaka di seberang telepon. "Di halte dekat Cafe B- one" jawab Rey. "Busyet, jauh amat. Emang lu kesana gak dikasih makan apa. Gilak tuh orang, udah kaya tapi ga mau keluar uang. Mobil bagus tapi attitude nol" sembur Jaka seperti biasa. "Udah cepet ah. Mau pingsan rasanya ini" canda Rey. "Lebay, macam sudah seminggu gak makan saja. Ok tunggu sana" Panggilan berakhir dan Rey memainkan hpnya sembari menunggu kedatangan Jaka. Aktivitas jalanan masih ramai, beberapa karyawan perusahaan masih berlalu lalang. Tak beberapa lama Jaka datang dengan motor matic. Ia meminjam dari anak magang. "Kamu pasti dari cafe itu. Kenapa tidak makan disana? apa dia tidak menawari makan?" "Sudah, ga usah banyak tanya. Antar aku ke warung mbok Darmi" ucap Rey sambil naik ke motor. Motor yang ditumpangi Rey berjalan pelan. Dari kejauhan, Eza menatap penuh rindu senyuman yang telah lama tak dilihat dari balik kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN