“Leonel, ayo, bangun.” Violeta menepuk-nepuk pipi suaminya pelan. “Ayo, bangun. Kau bisa terlambat pergi bekerja.” Leonel membuka sebelah matanya. “Beri aku waktu sebentar lagi,” gumamnya. Ia masih mengantuk. “William akan murka jika kau terlambat.” “Ya, b******n itu akan memotong gajiku.” Sekarang ia hanya seorang karyawan meski posisinya ia masih memimpin perusahaan tetapi tetap saja semuanya dipantau, ia seperti dimata-matai oleh William sialan itu. Violeta terkekeh, ia menyapukan bibirnya di sebelah pipi Leonel dengan gerakan lembut. “Ayo, bangun. Kau bisa tidur sepanjang hari besok.” Meski besok adalah akhir pekan, tetap saja besok dan hari ini berbeda. “Beri aku waktu lima menit.” “Baiklah.” Violeta membiarkan Leonel kembali menyusuri mimpinya, ia menatap wajah tampan suaminya

