CHAPTER 6 : Kutukan

1409 Kata
"A-aku tidak b-bermaksud melakukannya..."  "Kau berniat menghancurkan dunia ini?!"  "Dosa yang kau lakukan sangatlah besar. Demi seluruh alam semesta ini, kau tidak bisa dimaafkan!"  "T-tolong maafkan aku..."  "Kau dikut-"  "TIDAK!!"  Napas Clauva terlihat tak beraturan, ia terbangun dengan peluh yang membanjiri pelipisnya. Dadanya juga terasa sangat sakit. Ini pertama kali baginya memiliki mimpi yang sangat aneh. Setetes air mata pun nampak keluar dari balik matanya. Bukan karena rasa sakit di dadanya, Clauva bahkan tidak tau mengapa ia menangis. Namun perasaannya saat ini sangat gelisah dan juga sedih. Apa semua ini karena ia memimpikan suara-suara asing itu?  Napasnya masih tersengal-sengal. Clauva berusaha menstabilkan pernapasannya yang tidak teratur. Dadanya masih terasa sangat sakit, ia tak tau apa penyebabnya.  Clauva mengambil minuman yang tersedia di nakas samping peraduannya. Ia meminumnya hingga tandas. Sakit di dadanya terasa sedikit menghilang, namun digantikan dengan rasa sakit di kepalanya.  "Sakit..." gumamnya lirih.  Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Pandangannya menggelap, ia merasa kesadarannya akan terenggut saat itu juga. Dan ya, Clauva tak sadarkan diri setelah itu juga.  Tak lama kemudian, dua orang lelaki masuk ke dalam kamarnya. Dua lelaki itu adalah Axero dan Gellan. Wajah Axero nampak khawatir melihat keadaan Clauva yang tak sadarkan diri. Belum lagi aura gelap yang menyelimuti gadis bersurai cokelat itu.  "Apa yang terjadi kepadanya? Gellan, apa kau merasakannya juga?" Axero mengelap peluh disekitaran pelipis Clauva menggunakan tangannya.  "Ya, Yang Mulia. Saya akan mencoba mencari tau apa yang terjadi. Sebelum itu, izinkan Saya untuk menyentuh tangan Putri Clauva, Yang Mulia."  "Aku mengizinkanmu. Namun hanya sebentar." Gellan tersenyum kecil mendengar penuturan Axero, ternyata Rajanya sangat posesif terhadap matenya. Ia yakin jikalau bukan karena situasi genting saat ini, Axero pasti tidak akan mengizinkan ia untuk menyentuh tangan matenya.  "Baiklah, Yang Mulia. Saya akan memulainya."  Gellan mulai menyentuh telapak tangan Clauva, cahaya berwarna hijau, biru, dan cokelat bermunculan satu per satu di balik telapak tangannya saat Gellan mulai membacakan mantranya.  “Di atas tanah Earyeltizes, dengan emasnya Margaritari dan kilaunya Sinine, jiwa dan roh murni para Dryad, tunjukkan setitik kegelapan yang terpendam." Setelah membacakan mantra itu, semua warna cahaya menjadi bersatu, menghasilkan warna hitam yang pekat. Cahaya hitam itu mulai merambati telapak tangan Gellan, sehingga membuatnya segera melepaskan tangannya dari telapak tangan Clauva.  Gellan merasakan sesak di dadanya hingga ia kesulitan bernapas. Axero langsung saja memberikan mantra pada Gellan yang terlihat tersiksa. Bahkan darah berwarna hitam keluar dari mulut Gellan setelah Axero memberinya mantra penyembuh.  Cahaya hitam yang merambati tangan Gellan turut hilang bersamaan dengan ia mengeluarkan darah hitamnya.  "Gellan, jelaskan padaku! Apakah benar dia terkena kutukan?" Axero menatap tajam Gellan.  "M-maaf, Yang Mulia. Dugaan Anda memang benar. Aura yang ia keluarkan sangat gelap, namun juga berpadu dengan kesucian. Sepertinya, Putri Clauva telah lama mendapat kutukan itu."  "Siapa yang telah berani mengutuknya?!" Murka Axero.  "S-saya tidak tau, Yang Mulia. Putri Clauva memang dikutuk, namun auranya terlalu gelap hingga Saya tidak bisa melihat apapun dalam dirinya. Selain itu juga, ada aura suci yang menyelimuti kutukan itu. Ini adalah hal yang baru bagi Saya."  Axero mengepalkan tangannya kuat, ia berusaha meredam amarahnya yang sebentar lagi akan membara. Baru beberapa hari ia bertemu dengan matenya, namun kejadian buruk seperti ini langsung menimpa mereka berdua.  "Keluarlah," perintah Axero pada Gellan.  "B-baik, Yang Mulia. Saya pamit undur diri." Gellan membungkukkan badannya lalu segera keluar dari kamar Clauva.  Axero mendekati Clauva yang tampak pucat. Ia segera memberikan mantra penyembuh pada Clauva, menghela napasnya lalu memeluk Clauva yang masih tak sadarkan diri.  "Aku harap kau baik-baik saja."  ***  "Eughh..." Clauva membuka matanya secara perlahan, menyesuaian cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.  Ia merasakan tubuhnya sangat segar pagi ini, semenjak kejadian mimpi anehnya tiga hari lalu, Clauva merasa tubuhnya setiap hari merasa segar dan sehat. Ia tak lagi merasakan sakit di dadanya. Tentu saja ia bersyukur akan hal itu.  Entah sudah berapa hari ia di Kerajaan Earyeltizes, Clauva tak pernah keluar dari kamarnya. Jujur saja ia sangat bosan terkurung dalam kamar mewah itu, ditambah dengan statusnya yang tidak jelas.  Ingin rasanya ia kembali ke dunia di mana dirinya berasal, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, bercanda gurau bersama warga desa dan hal-hal lainnya yang biasa ia lakukan.  Namun tidak untuk sekarang. Ia merasa dunianya berubah begitu saja. Apa yang tak pernah ia temui, kini ada di sini, di dunia asing ini. Dan lagi, dia bukanlah siapa-siapa di sini.  Sungguh semua hal ini turut membuatnya frustasi.  "Clauva, aku dan Aeli sudah menyiapkan air hangat untukmu membersikan diri. Setelah sarapan, kau akan akan menemui Scarlet, ia adalah seorang Elf yang akan mengajarimu tata cara seorang bangsawan." Jelas Hera kepada Clauva.  "Kenapa aku harus mengikuti tata cara bangsawan? Aku bukan seorang bangsawan." Clauva mengerucutkan bibirnya kesal.  "Kau harus mengikutinya, ini semua atas perintah Yang Mulia Lord." Eria menahan senyumnya melihat ekspresi Clauva yang terlihat enggan.  "Bisakah aku menemui Yang Mulia kalian? Aku ingin berbicara padanya."  "Kami harus meminta persetujuan Yang Mulia terlebih dahulu, Clauva. Lagi pula untuk apa kau ingin menemuinya?" Hera mengangkat sebelah alisnya.  "Aku ingin pulang. Hanya itu saja." Clauva menjawab dengan suara yang pelan, sambil memainkan ikatan tali bajunya.  Hera dan yang lainnya lantas terkejut mendengar penuturan Clauva. Bahkan Aeli sampai membuka mulutnya lebar.  "K-kenapa kau ingin pulang?" Eria menatap Clauva tak percaya, begitu pula yang lainnya.  "Aku hanya merasa sangat asing di sini. Apalagi Yang Mulia itu tidak pernah memberikan kejelasan mengapa aku bisa berada di sini. Ini bukanlah duniaku, kalian tau itu." Jawab Clauva dengan menghela napas pelan. Saat ini ia seperti seorang gadis yang menunggu kepastian dari orang yang disukainya.  Hera terdiam sejenak, "baiklah, aku akan membicarakan ini kepada orang kepercayaan Yang Mulia, mungkin dia bisa membantumu berbicara dengan Yang Mulia."  "Benarkah? Terima kasih!" Clauva langsung memeluk erat Hera hingga membuat gadis mermaid itu terkejut.  "Baiklah, sekarang aku ingin membersihkan diri."  Hera dan yang lainnya menatap Clauva sedih, gadis itu nampak sangat senang dengan keputusan yang ia buat.  Setelah sarapan usai, Hera mengantarkan Clauva untuk menemui Scarlet, Elf yang akan mengajari Clauva tata cara bangsawan. Sedangkan Aeli dan Eria sudah pergi terlebih dahulu mengerjakan tugas yang lainnya.  Hari ini, untuk pertama kalinya Clauva keluar dari kamarnya. Ia tampak sangat senang.  "Kau sudah siap?" Hera tersenyum pada Clauva. Sedangkan gadis itu menganggukkan kepalanya semangat.  "Tentu saja aku sangat siap!"  Hera mulai membuka pintu besar yang berada di kamar Clauva, pemandangan yang pertama kali mata Clauva tangkap adalah sebuah balkon yang lumayan jauh dari pintu kamarnya. Jangan lupakan dua prajurit yang menjaga di kedua sisi pintu kamarnya.  Clauva berdecak kagum melihat seisi ruangan ini sangatlah indah dan juga mewah. Di kedua sisi balkon itu dibatasi oleh dinding yang dihiasi banyak lukisan-lukisan indah. Kedua dinding itu membuat sisi kanan dan kiri kamarnya terlihat seperti lorong yang luas.  Clauva segera melangkahkan kakinya menuju balkon di dalam istana itu. Di bawah sana, terdapat aula yang besar, beberapa alat musik kuno terlihat di pinggir ruangan itu.  "Hera, apakah ini ballroom?" Mata Clauva tampak berbinar senang, seumur hidupnya ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di sebuah istana kerajaan, sejak dulu ia hanya bisa melihat keindahan kerajaan di dunia manusia dari jarak yang jauh. Bahkan menurut Clauva, kerajaan Earyeltizes ini berkali-kali lipat jauh lebih besar dan indah.  "Bukan, ruangan ini adalah tempat bebas, kita bisa melakukan apa saja di sini. Kau bisa bermain alat musik ataupun menari di situ."  "Wahh, ruangan ini sangat lah luas." Hera tersenyum melihat reaksi Clauva yang tampak kegirangan. Padahal baru satu ruangan itu yang ia tunjukkan.  "Tujuan kita bukan di situ. Ayo ikuti aku." Clauva mengangguk dan mengikuti langkah kaki Hera yang mengambil jalur kanan.  "Saat ini kita berada di istana Vasilisa, di Kerajaan Earyeltizes terbagi menjadi lima istana. Belum lagi, di sini terdapat tempat latihan untuk para prajurit, taman di setiap istana, taman utama, tempat pribadi Yang Mulia, perpustakaan, dapur, dua aula besar yang digunakan untuk acara tertentu, danau dan masih banyak lagi." Jelas Hera.  Saat ini mereka melewati sebuah taman yang lumayan besar, taman yang dihiasi banyak bunga dan kolam ikan. Sekali lagi Clauva berdecak kagum.  "Pasti aku akan sangat kelelahan bekeliling seluruh ruangan di kerajaan ini." Mereka tertawa bersama. Menikmati keindahan yang memanjakan mata mereka.  Saat Clauva masih meneruskan jalannya, tatapannya tak sengaja melihat sosok yang terlihat berwibawa. Sosok itu adalah seorang lelaki yang memakai jubah kebesarannya, di dampingi oleh beberapa orang di belakangnya.  Tatapan keduanya beradu. Mata cokelat Clauva bertemu dengan mata kelam lelaki itu. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Clauva tak tau apa yang ia rasakan saat ini. Namun saat matanya menatap lelaki tampan itu, ia merasa seperti tunduk akan pesonanya.  "Yang Mulia..."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN