Cahaya Keimanan

1205 Kata
“Apa kau yakin?” Rabiah mengangguk lemah. “Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.” Aleesha meremas tangan Rabiah, berusaha menguatkannya. “Berdoa saja, semoga Sarah dan ibunya hanya pergi dan tidak bisa memberitahumu. Seperti yang kamu bilang, sudah hampir sebulan sejak terakhir kali kalian bertemu bukan? Selama ini, hanya kamu yang mengunjunginya. Mereka tidak punya akses untuk komunikasi denganmu Biah, karena selama ini kamu yang selalu mendatangi mereka.” Ini tidak terfikirkan olehnya. Mungkin benar, Sarah dan Ibunya hanya tidak tahu bagaimana menghubunginya. Semoga saja Ibu dan anak itu baik-baik saja, batinnya penuh harap. Rabiah tersenyum. “Semoga yang kamu katakana benar, Sha. Oh iya bagaiman dengan Aliyah? Ayahnya yang dioperasi?” Detik pertanyaan itu menguar, terdengar salam dari pintu depan membuat keduanya mengulum tersenyum. “Berhubung anaknya sudah disini, ayo kita tanya langsung.” Rabiah mengangguk. Bersama mereka berdua menghampiri Aliyah yang sedang sibuk meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu hingga tidak menyadari kehadiran keduanya. “Astagfirullah. Kak Biah, Kak Al. bikin kaget Aliyah tahu gak.” Serunya setengah kesal setengah geregetan melihat dua wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri, tengah berdiri menjulang tepat saat dia mendongak. “Maaf.” Kekeh Biah mengacungkan dua jarinya sebagai tanda penyesalan. Aliyah mengangguk. “Ada apa? Apa kakak-kakakku ini merindukan adiknya yang cantik dan manis ini?” “Tentu saja. Setiap hari, kami selalu merindukan adik kecil kami yang manis dan cerewet ini.” Balas Aleesha tidak mau kalah. Aliyah memanyunkan bibirnya. “Bisa di maklumi, mengingat satu-satunya orang yang memiliki selera humor di rumah ini hanya adik manis kalian ini.” Ucapnya tersenyum sangat lebar, mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu. Membuat Aleesha dan Rabiah terkekeh. “Ketiganya berjalan menuju dapur. Rutinitas seperti ini sering mereka lakukan jika kebetulan jadwal mereka sama-sama tidak sedang sibuk. Makan bersama dan membicarakan apapun sekedar untuk mengetahui kesibukan masing-masing. Rabiah mengambil makanan dari lemari, sementara Aleesha sibuk menyiapkan peralatan makan diatas meja. “Aliyah pasti kangen suasana seperti ini, kalau kak Aleesha sudah pindah nanti.” Ujar Aliyah saat masuk ke dapur. Dia sudah mengganti gamisnya dengan baju rumahan. Tangannya cekatan menuangkan air minum ke dalam setiap gelas. “inshaAllah, kakak akan berusaha berkunjung jika keadaan memungkinkan, dan kita bisa melakukan kegiatan ini lagi.” balas Aleesha tersenyum menatap Aliyah dengan sayang. “Tapi yang paling kehilangan Kak Rabiah deh kayaknya Kak. Tuh lihat, mata Kak Biah sudah sembab.” Ledek Aliyah membuat Rabiah melotot. “Aliyah…” “Maaf, habisnya kak Biah mudah sekali menangis.” kekehnya. “Itu karena hatinya lembut.” Balas Aleesha membuat Aliyah mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Bagaimana keadaan orang tua mu Aliyah? Operasinya berjalan lancar?” tanya Rabiah hati-hati saat mereka mulai duduk di kursi masing-masing. “Insah Allah, ayah minggu depan akan melakukan operasi Kak. Mohon doanya, dan mengenai biaya kontrakan dan juga pengeluaran lainnya, maaf Aliyah belum bisa bayar dalam waktu dekat,” “Bukan itu alasan kakak bertanya Aliyah. Kita sudah seperti keluarga disini, dan sebagai keluarga sudah seharusnya kami tahu apa yang terjadi denganmu bukan?” “Terima kasih, kak.” Balas Aliyah terharu dengan mata berkaca-kaca. “Dan soal biaya pengeluaran rumah ini, kamu tidak usah khawatir, kakak sama Kak Aleesha pasti akan membantu sebisa mungkin, yang terpenting adalah kamu harus kuat. Keadaan ini tidak boleh membuat semangat belajarmu mengendur apalagi sampai hilang. Ingat, man jadda wajada.” Aliyah berdiri, menghambur kedalam pelukan Rabiah. “Terima kasih untuk tidak pernah lelah menasihati Aliyah Kak,” bisiknya dengan suara serak. “Ikuuutt,” seru Aleesha berdiri dan ikut mengalungkan lengan di belakang Aliyah. Mereka bertiga akhirnya berpelukan. Ah, dia sungguh akan merindukan momen seperti ini. Aleesha yang dewasa dan selalu bisa menenangkannya, dan Aliyah dengan pembawaannya yang ceria selalu berhasil memberi warna baru di apartemen mereka ini. ***** Ghibran menggulung lengan kemejanya sampai diatas siku dan melemparkan jasnya begitu saja di kursi tamu. Derap langkahnya bergema saat dia berjalan menuju lantai atas rumah Aira, tempat dimana kedua keponakannya yang menggemaskan sedang istirahat. “Ghibran,” Sapaan lembut itu berhasil menghentikan langkahnya yang hendak berjalan menuju lantai dua. Dia sudah setengah jalan, namun saat melihat Aira menatapnya penuh permohonan, dia urung melanjutkan langkah. Sejujurnya, dia tahu apa yang akan mereka bahas, dan dia tidak suka topik pembicaraan itu. “Ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya enggan. “Ayah menelepon.” Ucap Aira pelan mengukur reaksi Ghibran. “Ghibran…,” lanjutnya, namun bibirnya terkunci saat melihat tatapan terluka Ghibran. “Aku tidak ingin membahasnya, please?” pinta Ghibran memohon. “Tapi Ayah….” “Aku yang akan menghadapinya, Ra. Ayah harus sadar, tidak semua yang dia inginkan harus dia dapatkan.” “Kau tahu itu bukan hal mudah bukan?” Kali ini seulas senyum terukir di wajah tampan Ghibran. “Aku tahu. Itulah kenapa aku melarikan diri ke tempat ini. Ayah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini.” Aira mendengus. “’Kenapa aku merasa kalau bukan hanya itu alasanmu semakin sering mengunjungi rumah ini?” Aira berkacak pinggang, kedua alisnya terangkat. Ghibran berusaha menjaga wajahnya agar tidak terlihat malu, meski dia tahu tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari saudari kembarnya ini. “Memangnya alasan apalagi yang kupunya selain untuk menghindar dari terror ayah?” Aira tertawa. “Mungkin kau lupa kalau kita kembar Ghibran. Baiklah, jika kamu belum mau bercerita. Ngomong-ngomong Rabiah ada di atas jika kau ingin tahu.” seru Aira usil berhasil membuat Ghibran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Apa sejelas itu?” Tawa Aira semakin menguat. “Bagi orang lain tidak, tapi bagiku itu cukup jelas. Aku tahu, siapapun bisa jatuh cinta pada gadis itu.” “Apa yang membuatmu mengatakan hal seperti itu?” Ghibran yang ingin ke lantai atas membatalkan niatnya, sebagai gantinya dia berjalan ke kulkas dan mengambil buah. Lagipula gadis itu mungkin tidak akan nyaman jika dia ada disana. “Oh, jangan konyol Ghibran. Sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah ini, aku tahu dia gadis yang baik. Tatapannya yang teduh dan senyum yang selalu terukir di wajahnya. Dia bisa membuat orang di sekitarnya nyaman hanya dengan kehadirannya.” “Kesimpulan yang baik dari psikolog yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga.” Selanya diantara kunyahannya. “Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang Ghibran. Kau tahu itu kan?” “Ya. Aku tahu, Farhan pria yang beruntung.” Aira menggeleng. “Bukan. Aku yang beruntung karena memilikinya. Dia yang mengenalkanku pada cahaya keimanan ini Ghibran. Jika aku tidak bertemu dengannya, entah apa yang akan terjadi denganku.” Bisiknya dengan suara bergetar. “Hei, semua baik-baik saja sekarang. Kalian saling menemukan, itu yang kau sebut dengan takdir bukan?” Ghibran mengacak-acak rambut sebahu Aira, namun gadis itu segera menepisnya. “Takdir Allah. Jika bukan kehendakNya, aku tidak akan pernah menemukan Farhan, dan selamanya aku akan berkubang dengan kemaksiatan itu.” Aira berusaha menepis bayangan masa-masa kelam yang dia hadapi sebelum bertemu dengan Farhan. Sungguh, dia wanita yang paling beruntung karena dipertemukan dengan laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. “Aku tahu.” sahutnya pendek. “Kau juga akan menemukannya Ghibran.” Sebelah alis Ghibran terangkat. Apa? “Kau juga akan menemukan seseorang yang bisa menuntunmu pada cahaya keimanan, dan semoga siapapun orangnya, aku harap dia orang yang akan menorehkan senyum kebahagiaan di hatimu yang beku itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN