Tidak banyak mobil yang melintas, hanya ada satu dua, selebihnya lengang. Apa mungkin karena ini bukan jam pulang? Rata-rata penduduk disini memiliki kendaraan pribadi untuk memudahkan semua akses. Rabiah pernah ingin membelinya, meski bekas, tapi kemudian dia menemukan kemudahan saat tinggal di tempat yang dekat dengan kampus. Hampir semua yang dia inginkan dapat dijangkau dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Rabiah mendongak memandang langit yang dilapisi awan putih. Dia rindu musim semi. Diantara semuanya, dia selalu suka musim semi. Saat dimana daun-daun mulai tumbuh dengan hawa yang menyenangkan, dan saat dimana curah hujan mulai meningkat. Dia selalu suka menikmatinya.
“Kapan ujian kelulusan kalian?”
Rabiah memalingkan wajahnya dari jalanan, menatap punggung Ghibran. “InshaAllah bulan depan Mas. Mohon doanya.” Ujarnya dan langsung menyesal saat ingat Ghibran seorang ateis.
“Apa kau akan langsung pulang ke Indonesia?”
Rabiah mengangguk, namun saat sadar Ghibran tidak bisa melihatnya dia berucap. “Iya, mas.” Jawabnya dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia segera menunduk, takut Ghibran melihatnya. Kenapa dia harus menangis saat ini? kenapa dia merasa berat menjawab pertanyaan mas Ghibran?
“Semoga yang terbaik menghampirimu Biah.”
Kalimat Ghibran justru membuat hatinya semakin perih. Rabiah segera menyembunyikan wajahnya, agar Ghibran tidak melihat apa yang dia rasakan.
Taksi yang membawa mereka berhenti didepan gedung beton yang sudah dimakan usia. Disamping bangunannya ada mini market dan juga kafe sederhana yang pengunjungnya lebih banyak anak muda.
“Terima kasih Mas.” Ucap Rabiah setelah membuka pintu. Dia berbalik ingin memasuki apartemennya namun kalimat Ghibran menghentikannya.
“Apa hanya kau yang tinggal disini?” Ghibran mendekat, berdiri di samping Rabiah.
“Tidak mas, kami bertiga.”
“Apa sekarang mereka ada di dalam?”
Rabiah berfikir. Aliyah kemungkinan ada di dalam sementara Tania…dia belum hapal aktifitas adik tingkatnya itu. “Aliyah mungkin ada di dalam, sementara untuk Tania, Rabiah kurang tahu Mas.” Ujarnya malu.
“Tunggu disini.”
Rabiah mengerut mendengar perintah Ghibran. Kenapa dia harus menunggu disini? Netranya menatap saat Ghibran menjauh dan berjalan memasuki salah satu swalayan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, meski untuk menjangkaunya Ghibran harus menyeberang. Rabiah berdiri mematung dengan fikiran bertanya-tanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa sebaiknya dia ikut menyusul saja? setelah berdebat dengan dirinya sendiri Rabiah akhirnya menyeberang dan memutuskan mengikuti Ghibran.
Hawa dingin seketika menyelimuti tubuhnya begitu kakinya menginjakkan kaki di swalayan besar yang isinya lumayan lengkap, membuatnya seketika merasa kedinginan. Tidak banyak pengunjung sekarang. Rabiah merapatkan jilbabnya untuk meringankan sedikit rasa dingin yang menghinggapi tubuhnya. Dimana mas Ghibran? Rabiah mulai menyusuri lorong demi lorong untuk menemukan sosok Ghibran. Dia tidak tahu apa yang dilakukan laki-laki itu disini.
Kosong, batinnya saat memasuki lorong pertama yang berisi peralatan mandi disebelah kirinya. Rabiah tanpa sadar mulai menggigil.
“Rabiah?”
Rabiah berbalik dan segera berhadapan dengan Ghibran yang memegang troli belanjaan lengkap dengan wajah kebingungannya.
“Apa kau butuh sesuatu?”
“Apa yang mas lakukan? Butuh bantuan?”
Ghibran tersenyum membuat Rabiah kebingungan. Apa yang salah dengan pertanyaannya?
“Apa kau mau membantu?”
Rabiah mengangguk. Itu lebih baik daripada disuruh menunggu. “Apa yang bisa Biah bantu mas?”
Ghibran meminta Rabiah mengikutinya dengan gerakan wajahnya. Mereka akhirnya berjalan berdua dengan Rabiah yang berdiri di depan sementara Ghibran dibelakang dengan troli belanjaannya.
“Mas Ghibran butuh apa?”
“Apa yang biasanya dibutuhkan orang yang tinggal sendiri?”
Rabiah tersenyum, meski Ghibran tidak bisa melihatnya. Sepertinya mas Ghibran ingin belanja kebutuhannya sehari-hari. Kenapa dia harus melakukannya ditempat ini? tanyanya tidak habis fikir. Apa karena kebetulan mas Ghibran berada disini?
“Apa mas Ghibran bisa memasak?”
Ghibran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku bisa memasak makanan beku, air putih, dan juga mis instan. Apa itu termasuk bisa memasak?”
Rabiah tersenyum lebar mendengarnya. “Itu bisa dipertimbangkan.” Sahutnya geli, tidak sadar Ghibran menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau begitu kita bisa mencari makanan olahan untuk mas.”
“Sepertinya tidak perlu.”
Rabiah yang baru mulai memilah-milah makanan olahan berhenti. “Kenapa Mas?”
“Ini bukan untukku Biah.”
“Lalu?”
“Aku akan memberitahunya nanti. Sekarang yang penting kita membeli kebutuhannya Biah.”
Rabiah menurut. “Kalau begitu kita memilih bahan yang sehat dan aman di kantong mas.”
“Aku tidak masalah dengan uang, selama itu benar-benar dibutuhkan aku ikut Biah. Kau yang mengambil alih dari sini.”
Rabiah berusaha menepis rasa hangat yang menjalar dalam dadanya mendengar kalimat Ghibran. Dia menggeleng dan berusaha fokus dengan tujuannya di tempat ini. Tangannya cekatan mengambil beberapa produk yang biasanya dia ambil saat belanja kebutuhan sehari-hari. Ghibran mengekor dibelakang, mendekat saat Rabiah tanpa sadar meletakkan produk tanpa menoleh kebelakang.
Cukup lama mereka berdua berbelanja, dan ketika akhirnya troli Ghibran hampir penuh Rabiah berhenti. “Rabiah rasa ini cukup Mas.”
“Tidak ada makanan?”
“Mas butuh makanan juga?”
“Apa kalian tidak punya makanan ringan di apartemen?”
Lipatan di kening Rabiah melebar. “Ada Mas. Apa mas mau seperti yang diapartemen Biah?”
Ghibran mengangguk.
Rabiah segera berjalan menyususri lorong berisi makanan ringan. Wajahnya menengadah, melihat-lihat dan saat dia menemukan apa yang dia cari tangannya cekatan mengambilnya. Cukup susah karena ternyata makanan yang dia tuju diletakkan di rak paling atas.
“Biar aku yang ambil.” Tawar Ghibran dan tanpa menunggu jawaban Rabiah, Ghibran mendekat dan mengambil makanan yang ditunjuk Rabiah. Tiga puluh menit lebih berkutat dengan swalayan yang mulai ramai, Rabiah akhirnya selesai memilih-milih barang dan juga makanan kebutuhan sehari-hari.
“Kamu tunggu disini Biah,” ujar Ghibran meninggalkan Rabiah sementara dia mendorong troli menuju kasir.
Ghibran mengamati saat kasir mulai mengeluarkan barangnya satu persatu dan setelah menjumlahkan semuanya, Ghibran segera menyerahkan kartu untuk membayarnya.
“Anda memiliki istri yang sangat cantik.” Kasir perempuan yang membantu memasukkan barang-barang belanjaan Ghibran ke kantong plastik berkomentar dengan tersenyum.
Ghibran menoleh ke belakang punggungnya, menatap Rabiah yang berdiri kikuk di dekat pintu keluar.
“Terima kasih.” Balasnya senang dan mengambil alih kantong belanjaannya.
“Sudah mas?” Rabiah bertanya begitu sosok Ghibran mendekat.
“Yukk.” Ucap Ghibran.
Rabiah membuka pintu untuk Ghibran. “Butuh bantuan untuk membawanya?” ujarnya meski dia yakin mas Ghibran akan menolak tawarannya.
Ghibran mengangkat kantong belanjaannya seakan beban yang dibawanya seringan kapas. “Aku bisa mengatasinya.”
Rabiah tidak mendesaknya. Mereka berdua berjalan dan siap menyeberang.
“Ini bawa ke apartemenmu Biah.” Ghibran mendorong kantong belanjaannya pada Rabiah. Sementara Rabiah yang mendengarnya mematung. Dia kehilangan orientasi mendengar ucapan Ghibran.
“Maksud Mas?” tanyanya bingung.
“Semua ini untukmu, maksudku untuk kalian.”
“Tapi kenapa?”
Ghibran mengangkat bahu. “Tidak ada, aku hanya ingin melakukannya. Bawa, Biah.” Desaknya, mendorong kantong belanjaan agar Rabiah menerimanya.
Rabiah mematung dengan mulut membisu. Dia tidak pernah berfikir kalau mas Ghibran membelanjakan semua ini untuk dirinya. Ini banyak sekali, batinnya. Jika dia tahu belanjaan ini untuk dirinya, dia pasti tidak akan mengambil sebanyak ini. Retinanya menatap kantong belanjaan besar yang sekarang teronggok tidak berdaya di bawah kakinya. Dia tidak tahu bagaimana cara membawa semua ini kelantai tiga.
“Aku akan membantumu.” Ghibran yang tahu apa yang difikirkan Rabiah menawarkan bantuan.
Apa?
“Tapi Mas…”
“Kamu bilang di apartemen ada Aliyah bukan? Kita tidak akan berduaan Rabiah. Aku hanya akan membantumu membawa belanjaan ini, setelah itu aku akan pulang.”
Jangan terlalu baik padaku Mas, batinnya tercekat menatap Ghibran yang menunduk untuk mengambil kembali kantong belanjaan yang tergeletak di tanah.
“Apa Rabiah harus menerima semua ini mas?” tanyanya tidak enak hati. Laki-laki ini terlalu baik padanya.
Ghibran mendongak. “Aku selalu ingin melakukannya sejak dulu. Aku harap kamu tidak keberatan.” Ucap Ghibran tersenyum.
Rabiah menyerah, tidak punya celah untuk menolak kebaikan Ghibran. Dia berjalan dengan Ghibran di belakang menenteng kantong belanjaan.
“Hai, Rabiah.” Suara ceria itu membuat keduanya mendongak.
“Hai, Sarah.” Ujarnya tersenyum saat Sarah menuruni tangga dengan pakaian kasualnya.
“Apa kau mau pergi?” tanyanya.
Sarah mengangguk dan saat tatapannya bertemu dengan Ghibran dia menatap Rabiah dengan seringainya. “Siapa laki-laki ganteng ini Rabiah? Pacar?”
Rabiah cepat-cepat menggeleng. “Bukan.”
“Calon suami atau suami? Eh kamu belum nikah ya? Atau persiapan nikah?” celotehnya saat menatap kantong belanjaan yang ditenteng Ghibran, tidak menyadari efek dari kalimatnya membuat dua orang didepannya terlihat salah tingkah.
“Halo Sarah, aku Ghibran, teman Rabiah.” Ghibran mengambil alih saat melihat Rabiah membisu. Gadis itu pasti malu.
“Ouh, maaf. Aku fikir….” Ujarnya terlihat salah tingkah sekarang.
“Tidak apa.” balas Ghibran. Dia menoleh pada Rabiah. “Bisa kita pergi sekarang?”
Rabiah mengangguk. “Kami permisi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Sarah menatap Ghibran dan Rabiah bingung. “Kenapa mereka terlihat salah tingkah jika mereka hanya teman?” tanyanya bingung sendiri. Dia menggeleng. Itu bukan urusannya.
******
Khas cewek. Itu kesan pertama yang dia tangkap begitu memasuki apartemen Rabiah. Nuansanya begitu tenang, namun terlihat hidup dengan tanaman dan juga paduan warna yang mereka gunakan. Tidak banyak perabot, hanya beberapa kursi kayu. Dinding rumah ini dihiasi beberapa kaligrafi yang tidak dia mengerti artinya.
“Kak Biah?” Aliyah muncul dengan pakaian lengkapnya, membuat Rabiah bergumam syukur.
“Kak Ghibran?” gumamnya bingung, mengingat ini pertama kalinya ada laki-laki memasuki rumah ini. Apa yang terjadi kali ini?
“Aliyah?” tebaknya ragu. Rabiah bilang mereka hanya bertiga di apartemen tua ini, dan salah satu penghuninya pasti gadis ini. Dia pernah melihatnya di pemakaman Aleesha dan juga saat acara penggalangan dana.
Aliyah mengangguk, meski bingung dia mengesampingkan semuanya. Ada adab dalam menyambut tamu yang harus dia lakukan. “Duduk kak.” Sahutnya ramah menunjuk kursi kayu apartemen mereka.
“Terima kasih, tapi kakak hanya ingin membantu Rabiah membawa semua ini.” balasnya meletakkan kantong putih diatas lantai.
“Kak Biah belanja?” tanya Aliyah bingung, ini aneh mengingat biasanya mereka belanja tiap awal bulan.
“Bukan. Mas Ghibran yang membelinya, bukan kakak.”jelas Rabiah dan dia terdengar menggerutu membuat Ghibran tersenyum namun segera menyembunyikannya saat sadar Aliyah menatapnya.
“Apa sekarang aku bisa pulang? Kalian bisa berdebat setelah aku pergi.” Guraunya membuat Aliyah dan Rabiah saling melempar pandangan.
“Mas tidak mau minum dulu?”
“Tidak Biah. Mas langsung pulang saja. Terima kasih atas tawarannya. Oh iya, jangan lupa obatnya diminum. Kamu kelelahan dan dokter memintaku untuk memastikan kalau kamu benar-benar meminum obatnya. Aira pernah bilang kamu kesulitan minum obat?”
“Betul sekali kak.” Aliyah langsung menyambung dengan semangat. “Apa kak Ghibran tahu? kak Rabiah pernah menyembunyikan tablet obat dibawah kasur hanya karena takut kami memergoki kalau kak Biah belum minum obat.” Adunya berhasil mengundang tatapan tajam Rabiah. Namun Aliyah hanya cengengesan.
“Benarkah?” gumam Ghibran terhibur.
“Kakak tidak akan percaya kalau aku katakan, menyuruh kak Rabiah minum obat sama susahnya seperti menyuruh bocah lima tahun minum obat.”
Ghibran tersenyum lebar, menatap Rabiah yang sekarang pura-pura sibuk memandangi langit-langit ruang tamu mereka. Dia tidak pernah menyangka jika ketakutan Rabiah pada obat separah ini.
“Apa aku bisa memastikan kalau kamu akan meminum obatnya Biah?” tanyanya dengan mulut berkedut.
Rabiah meringis, mukanya benar-benar merah sekarang, membuat Ghibran berusaha amat keras agar tidak lepas kendali. Dia bisa saja tertawa saat ini, namun tahu kalau itu akan menyakiti Rabiah.
“Jangan mau kalah dari si kembar Biah,” candanya. Sekarang benar-benar berjalan menuju pintu keluar. “Aku pergi.”
“Mas,”
Ghibran menoleh. “Ya?”
“Terima kasih … untuk semuanya.”
Ghibran sempat mematung mendengarnya. Ucapan Rabiah biasa saja, namun kenapa dia merasa ada yang salah? Seolah dia tidak akan pernah melihat Rabiah lagi?
“Aku senang melakukannya Biah.” Sahutnya setelah terdiam beberapa saat. “Jangan lupa obatnya diminum.” Pesannya lagi sebelum benar-benar melenggang pergi.
******
“Apa kak Ghibran sudah tahu?”
“Tahu apa Aliyah?” Rabiah menenteng kantong belanjaan yang diberikan Ghibran ke dapur. Aliyah mengekor dengan membawa kantong yang lainnya.
“Kalau kakak sebentar lagi mau ke Indonesia.”
“Tentu saja tidak, Al. Kakak tidak punya alasan untuk memberitahunya kan?”
“Kakak fikir seperti itu? Setelah semua yang dia lakukan untuk kakak?”
Rabiah menghentikan aktifitasnya. Sorot matanya mengandung banyak emosi, namun saat menatap Aliyah dia mencoba terlihat tegar.
“Kakak tahu, kalau mas Ghibran orang yang sangat baik, tapi kakak tidak ingin perasaan yang kakak rasakan membuat Kakak menaruh harap padanya. Jawabannya sudah jelas. Dia ateis. Itu kenyataan, tapi itu tidak bisa diterima oleh kakak. Hanya ini yang bisa kakak lakukan Al. Kakak butuh ruang untuk berfikir. Itulah kenapa kakak mempercepat kepulangan ke Indonesia. Semakin lama kakak disini semakin besar peluang untuk kakak terluka, padahal jika kakak lebih kuat mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.”
“Kakak lupa, kita tidak bisa memutuskan kapan kita akan menyukai seseorang. Fitrahnya manusia memang memiliki rasa tertarik pada lawan jenis bukan? Kakak dulu sering mengatakan itu.”
Rabiah mengulum senyum. “Iya, tapi semua akan semakin rumit jika kakak lebih lama disini. Ini keputusan terbaik untuk semuanya.”
“Bagaimana jika Kak Ghibran memutuskan untuk memeluk islam?”
“Jangan berandai-andai Aliyah. Kita tidak bisa mengatakan seandainya, yang bisa kita lakukan adalah mendoakannya. Semoga mas Ghibran mendapat hidayah. Perkara jodoh sudah Allah tetapkan jauh sebelum kita lahir ke dunia ini.”
Aliyah manggut-manggut, tidak memiliki topik untuk dibahas lagi. Maniknya melirik Rabiah yang sibuk menata makanan yang diberi Ghibran.
“Ini banyak sekali.” Komentarnya tanpa sadar.
“Alhamdulillah.”
“Ouh iya, bagaimana ceritanya kakak bisa pulang bersama kak Ghibran?” dia baru ingat untuk menanyakan ini setelah beberapa saat berlalu. Dia cukup kenal kak Rabiah untuk tahu kalau keadaan memungkinkan dia tidak akan pernah mau bersama seseorang yang bukan mahramnya.
“Seperti yang kamu lihat, mas Ghibran membantu kakak.”
“Membantu?”
Rabiah menoleh, kemudian mengangguk. “Kakak pingsan, beruntung mas Ghibran ada disana dan membantu kakak.” Rabiah kemudian menceritakan kronologi saat dia pingsan dan di tolong Ghibran.
“Kebetulan sekali kak Ghibran ada disana.” Celutuknya setelah Rabiah selesai bercerita.
“Maksudnya?”
“Ya aneh aja kak. Secara kalau tidak salah kak Ghibran selalu mengendarai mobil kemana-mana, dan saat kakak pingsan kak Ghibran orang pertama yang membantu kakak?”
“Itu namanya pertolongan Allah, dan mbak bersyukur mas Ghibran yang menolong, meski entah bagaimana kakak akan membalas kebaikannya. Tapi di tolong seseorang yang kau kenal bisa memberikan sedikit perasaan lebih tenang.”
“Iya sih, kak,”
“Sudah, sekarang, kamu bantu kakak menyiapkan makanan. Tania dimana?” tanyanya, saat menatap pintu kamar Aliyah dan Tania lengang. Tidak ada orang disana.
“Jangan pedulikan kak. Tania buat emosi Aliyah naik beberapa oktaf.”
Ini informasi baru. Dia tidak suka jika salah satu penghuni rumah ini merasa tidak nyaman. “Apa yang dilakukan Tania, Al?”
Bibir Aliyah mengerucut. Dia terlihat kesal. “’Tania tidur seperti sapi, setiap malam selalu mendengkur.”
Kedua sudut mulutnya terangkat demi mendengar keluhan Aliya. Dia sudah berfikir sesuatu yang lebih buruk dari itu.
“Orang mendengkur bisa jadi posisi tidurnya salah atau karena dia kelelahan. Kamu bisa membantunya saat hal itu terjadi.”
Aliyah menghentak-hentakkan kakinya kekanakan. “Tetap saja kak, rasanya seperti dibangunkan alarm yang bunyinya bikin telinga sakit.”
Rabiah tertawa. Tangannya terulur dan mengusap kepala Aliyah. “Gak papa, anggap saja alarm biar bisa bangun lebih cepat.” sahutnya gemas.
“Aliyah pasti bakal kangen sama kakak deh, kalau nanti kak Rabiah sudah pulang.”
Rabiah termangu mendengar penuturan tiba-tiba Aliyah. Gadis ceria ini sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Ya, dia juga akan merindukan Aliyah dan semua yang ada disini, batinnya tercekat dengan mata berkaca-kaca.