Kakinya gamang ingin melanjutkan langkah. Sungguh, saat ini suasana hatinya campur aduk, meski lebih didominasi kegugupan. Mereka tidak berdua di meja itu, ada mas Alzam yang duduk di samping kak Sofiyah, kursi yang seharusnya dia tempati. “Biah!” seru Sofiyah melambaikan tangan dengan semangat, membuat Rabiah seketika mengerjap. Dia menarik nafas pelan, membuangnya secara perlahan sebelum benar-benar mendekat. Dia tidak bisa melarikan diri, meski sekarang satu-satunya yang dia inginkan adalah berlari. Rabiah menarik sudut mulutnya saat berada di tempat yang dia tuju. “Mas Alzam, Mas Ghibran.” Ucapnya pelan sebelum mengambil kursi, berusaha sekuat tenaga agar tidak memandang sosok yang duduk di sampingnya dan sedari tadi berusaha menarik perhatiannya. “Aku hanya memesan untuk berdua. Ap

