Malam sudah mulai larut. Para pemuda dan anak-anak kampung yang berlatih, kini sudah terlihat menurun semangatnya. Tentu saja, asisten pelatih yang merupakan cantrik padepokan tersebut segera cepat tanggap dengan adanya sinyal kebosanan para murid yang kebanyakan masih remaja.
“Kalian sudah lelah?” demikian teriak seorang senior padepokan.
“Sudah, Kak …”
“Baiklah, latihan malam ini kita sudahi sampai disini saja. Tapi, sebelumnya kalian tahu apa yang harus dilakukan sebelum kita berisitirahat. Kalian tahu apa?”
“Tahu, Kak …”
“Apa yang harus dilakukan?” tanya sang asisten lebih lanjut.
“Pendinginan, Kak …” jawab semua remaja dengan serempak.
“Bagus. Jangan pernah lupakan itu. Setiap aktifitas apapun yang melibatkan olah fisik, tentunya harus diakhiri dengan pendinginan terlebih dahulu. Semua itu perlu dilakukan agar kita tidak mengalami cedera pada otot dan bagian organ tubuh lainnya. Baiklah, kita mulai pendinginan seperti biasa. Bayu …!” usai memberi penjelasan singkat, sang asisten memanggil nama Bayu dengan suara keras.”
“Siap, Kak!”
“Pimpin teman-teman kalian untuk melakukan gerakan pendingan seperti biasa.”
“Siap, Kak …” jawab Bayu sambil maju ke depan.
“Terima kasih. Setelah selesai, kalian boleh menikmati ubi rebus yang sudah selesai dimasak oleh Wulan.”
“Asyiikkk …” demikian sambut para murid silat dengan gembira.
---
Tak lama kemudian, dua belas remaja kampung yang menjadi murid Ki Jalitheng sudah asyik berceloteh sambil menikmati singkong rebus dan minuman jahe hangat yang dibuatkan oleh Nawang Wulan.
Karena mereka merupakan kawan sepermainan dan beberapa diantaranya juga teman satu sekolah, otomatis Wulan juga bergabung ditengah mereka untuk saling berbagi cerita serta senda gurau.
Dua orang asisten yang sedikit memisahkan diri, kini terlihat serius berbicara mengenai materi latihan yang diberikan oleh Ki Jalitheng. Nampaknya, mereka itu memang murid-murid dari luar desa yang sudah lama belajar silat pada sang guru di padepokan itu.
Murid di tempat itu memang banyak, hanya saja latihan malam hari memang sengaja dikhususkan bagi muda-mudi warga desa yang secara cuma-cuma bisa menimba ilmu tanpa terikat. Artinya, siapapun boleh ikut dan tak harus selalu datang berlatih.
Sang pemilik padepokan memang sengaja menetapkan demikian. Karena ia sangat paham bagaimana karakter masyarakat yang terkadang hanya mementingkan gengsi tanpa berpikir isi.
Dengan menggunakan metode latihan santai seperti layaknya bermain, ia mencoba mendekatkan diri pada masyarakat dengan diutamakan generasi mudanya. Tentu saja sistem pembelajaran yang seperti itu akan bisa mengundang para remaja menjadi tertarik pada seni beladiri warisan leluhur.
Namun karena lelaki tua tersebut juga tidak menerapkan aturan perguruan atau padepokan dengan tegas pada para penduduk setempat, tentu saja tempat itu menjadi lebih mirip sebagai arena hiburan atau keisengan anak-anak saja.
Tetapi ternyata, justru disitulah letak kualitas kebijakan serta kecerdasan dari sang Aki tua tersebut. Dengan membuka lebar padepokannya sebagai ajang untuk menghibur diri serta beranjangsana, tentunya akan mengurangi sebuah kesan ‘wah’ bagi para muda yang ingin coba-coba belajar silat hanya untuk ‘gagah-gagahan’ saja. Dengan demikian, pada akhirnya hanya warga desa dengan bekal kesungguhan sajalah yang akan bisa bertahan lama untuk berguru ditempat itu.
***
Tengah asyik makan dan minum sambil bercerita seru dalam beberapa kelompok, mendadak saja nyala api obor di sudut Tenggara padam. Awalnya, semua masih menganggap biasa saja sambil menuduh tiupan angin sebagai biang kerok yang menyebabkan matinya api tersebut.
Namun saat seseorang murid akan menyalakannya kembali, sebuah obor lagi padam di arah Barat Daya. Tak sampai satu detik, api yang berjarak cukup jauh dari obor yang terakhir padam juga ikut mati.
Tentu saja, hal tersebut membuat semuanya menjadi bingung. Suasana langsung senyap, bersama menghilangnya celoteh ditempat yang kini menjadi remang-remang itu. Lalu saat semua tengah saling berpandangan untuk mencari jawaban …
Tiba-tiba saja,
“Ha ha ha … inikah tempat yang dikabarkan sebagai padepokan silat orang sakti bernama Jalitheng?”
Sebuah suara tertawa yang terdengar sumbang dan tak enak di telinga, mengawali kata-kata yang keluar dengan serak dari tenggorokan seseorang laki-laki. Seketika, semua wajah berpaling ke arah sumber suara tadi.
---
“Ahhh …”
Terdengar suara teriakan tertahan dari bibir beberapa murid yang terkejut melihat sebuah penampakan menyeramkan di sebuah sudut gelap. Beberapa meter dari tempat mereka berkumpul, nampak sesosok dengan pakaian gelap dan wajah tak begitu jelas telah berdiri sambil berkacak pinggang.
Tiga buah obor yang padam, mengakibatkan laki-laki yang belum juga bergerak itu menjadi terlihat sedemikian misterius. Apalagi, sinar bulan yang ada diatas malah membuat suasana semakin menyeramkan. Sebab riap rambut panjang dari lelaki yang tertangkap sinar purnama itu, malah menampilkan kesan begitu mistis penuh mencekam.
“Mana yang namanya Jalitheng? He he he … Hei, kamu … cepat panggilkan Aki-aki tua itu untuk mengadu kesaktian ilmu silat denganku!” dengan suara bengis, bayangan berjubah gelap itu menunjukkan jari telunjuknya pada sekelompok remaja yang kini menjadi ketakutan.
“Aki …”
“Aki Jalitheng …”
Demikian sahut menyahut suara para remaja Yang dengan tubuh gemetar berusaha memberanikan diri meminta pertolongan dari sang guru.
“Ha ha ha … Gurumu pasti sudah bersembunyi ketakutan saat tahu aku datang kesini. Ha ha … dia pasti sudah pipis di celana,” dengan jumawa, laki-laki tersebut berteriak menantang sambil melangkah mendekati tempat berkumpulnya muris padepokan.
Setelah berada dalam jangkauan cahaya api sisa obor yang masih hidup, kini perwujudan tamu tak diundang menjadi bertambah jelas. Wajah dengan rambut beriap tak beraturan itu ternyata mengenakan sebuah topeng kayu yang memperlihatkan wajah menyeramkan.
Tentu saja, hal tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar menakutkan bagi anak-anak remaja yang berada di tempat itu. Namun begitu, dua orang murid senior yang menjadi asisten pelatih terlihat tak menjadi jerih. Sebagai wakil dari sang guru yang pergi entah kemana, tentu saja mereka merasa harus mampu mempertahankan kehormatan Ki Jalitheng dan padepokannya.
“Siapakah nama Kisanak? Dan ada keperluan apakah mencari Ki Jalitheng?” dua cantrik mendekat ke depan, lalu salah satu dari mereka bertanya dengan sopan.
“Halah!! Siapa kalian? Segala macam cecurut berani-beraninya menghadangku. Mana Jalitheng?” Dengan suara bentakan yang cukup nyaring, pendatang gelap kurang ajar itu malah berkata-kata tanpa memberikan penghormatan sedikitpun.
“Kami berdua adalah wakil dari Aki Jalitheng bila beliau pergi. Maafkan kami bila kurang sopan menyambut tamu agung. Siapakah nama Kisanak?” dengan sabar, salah seorang asisten pelatih itu tetap mengajak bicara untuk mengetahui siapa dan apa maksud dari sang tamu yang datang semalam itu.
Mendengar pertanyaan dengan nada lemah lembut yang menunjukkan kejerihan, spontan saja terdenga sebuah tawa mengejek di balik topeng lelaki berambut riap-riapan itu.
“Ha ha ha … tak penting siapa aku. Ternyata nama Ki Jalitheng tak sebesar yang digemborkan banyak orang. Buktinya, dia hanya berani bersembunyi dibalik punggung dua bocah ingusan saja. Mana gurumu? Aku menantangnya berkelahi, untuk membuktikan siapa yang lebih sakti diantara kami.”
Sombong dan sangat tak mengenal sopan! Demikianlah yang diperlihatkan oleh lelaki bertubuh sedang tak berwajah dengan jubah panjang berwarna gelap tersebut. Namun, ternyata murid-murid Ki Jalitheng itu tak menjadi terpancing emosi atau bahkan takut.
Dengan masih mempertahankan sopan-santun sebagai penanda hormat pada tamu, salah seorang dari mereka menjawab,
“Guru sedang pergi karena ada satu urusan. Mohon perkenan Kisanak untuk berkenalan dan menerima sambutan dari kami murid-muridnya.”
Kata-kata yang sangat rendah hati tersebut, adalah satu kalimat yang mengandung sebuah arti besar. Tak hanya memperlihatkan sifat rendah hati saja, namun cantrik dari Ki Jalitheng telah sekaligus menunjukkan mental pemberaninya dengan menyambut tantangan terbuka sang tamu kepada guru mereka.
Mendengar kata-kata merendah yang malah dianggap sebagai sebuah kesombongan, sang tamu nampak sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dengan satu bentakan kecil, ia langsung merangsek untuk melakukan sebuah serangan,
“Banyak bacot! Hiaattt …” Laki-laki itu meloncat kedepan sambil melayangkan sebuah pukulan pada yang berbicara tadi. Sementara, kakinya juga tidak tinggal diam dengan menendang ke arah seorang lainnya.
Tapi ternyata ia kecele. Karena murid tingkat tiga dari padepokan silat Ki Jalitheng itu dengan sigap bisa menghindar serta menangkis. Mengetahui serangannya bisa dimentahkan dengan mudah, lelaki misterius itu terlihat marah dan semakin membabi buta menyerang dua anak muda yang dianggapnya sebagai penghalang untuk bertemu musuhnya.
“Sabar, Kisanak … jangan main serang seperti ini. Semua bisa kita bicarakan dengan baik.” Masih terlihat sabar, salah seorang cantrik mencoba untuk berbicara.
“Tutup mulutmu! Ciaattt …” tak memperdulikan kata-kata dari murid padepokan, lelaki berpakaian gelap terus menyerang dengan gencar.
Perkelahian tak terelakkan. Kedua orang muda yang belum memiliki banyak ilmu itu, akhirnya melawan sekuat tenaga untuk mempertahankan diri. Namun semakin lama, nampaknya keadaan menjadi bertambah mengkhawatirkan.
Walaupun menggabungkan dua kekuatan muda untuk melawan seseorang yang nampaknya sudah berumur, pengalaman kedua orang yang masih mentah itu hanya terlihat berhasil mengimbangi pada awal saja.
Pemuda-pemuda tersebut, kini menjadi keteteran dalam menghadapi serangan pukulan serta tendangan yang begitu trengginas dari musuh yang tanpa belas kasih. Alhasil, keduanya langsung saja jatuh bangun saat terkena beberapa pukulan dari musuh.
---
Murid-murid yang lebih muda, kini menjadi semakin ketakutan. Mereka tampak berkumpul di sudut lapangan sambil merapat satu dengan lainnya. Mereka tahu bila cepat atau lambat, para kakak seniornya pasti akan kalah. Meskipun gagah berani dan tak mengenal takut untuk terus melawan, namun tetap saja mereka akan berhasil dilumpuhkan oleh tamu kurangajar tersebut.
Nawang Wulan yang juga bergabung dengan para murid tingkat pertama, dengan berbisik-bisik berkata pada teman-temannya,
“Kita keroyok orang itu. Jangan biarkan dia mengalahkan kakak-kakak kita yang sudah sedemikian gagah mempertahankan padepokan ini.”
“Ah, tapi orang itu begitu pandai berkelahi. Kita pasti akan kalah,” jawab seorang temannya.
“Jangan takut, kita mengandalkan jumlah untuk ikut mengacaukan konsentrasi orang itu,” jawab Wulan kembali.
“Caranya?” tanya Bayu tertarik.
“Serang secara bersama-sama dari belakang.”
“Baik, ayo kita maju …” jawab Bayu dengan berani.
“Mari …”
“Ayo, serbu …”
Sahut menyahut, sekelompok remaja itu berteriak untuk memancing keberanian mereka sendiri. Dan mendadak, semangat semua anak menjadi tergugah.
“Bawa pentungan kayu atau bambu.” Demikian perintah Wulan.
“Bukankah itu curang?” dengan lugu, Bayu menyergah.
“Curang kalau itu sebuah pertandingan. Kita membela diri dari musuh yang lebih tua dan pandai berkelahi. Apanya yang curang?” dengan sedikit berbicara keras, Wulan menjawabnya. Setelah itu, ia berbalik menuju perapian dimana terdapat bambu dan kayu yang dipergunakan sebagai bahan bakar.
Setelah ia memilih batang bambu sebesar genggaman tangan yang dirasa cukup nyaman untuk digunakannya, Wulan kembali berbalik dan melangkah mendekati tiga orang yang tengah bertarung. Melihat keberanian gadis kecil tersebut, langsung saja teman-temannya berlarian mengambil kayu dan bambu untuk mempersenjatai diri.
---
Sampai di dekat tiga orang yang sedang berkelahi, sejenak Wulan berdiri untuk memperhatikan serunya baku hantam didepannya. Beberapa kali, ia melihat dua orang murid Ki Jalitheng terkena pukulan. Tapi meskipun terus saja dihajar oleh sang pria bertopeng, nampaknya para asisten pelatih itu tak juga gentar.
Gadis itu terus mengawasi. Sesekali, terlihat ia mengerutkan kening seperti sedang berpikir keras. Lalu entah mengapa, disaat berikutnya ia malah menarik satu sisi bibirnya sebagai tanda kekesalan.
Belum juga Wulan selesai melihat situasi, mendadak terdengar teriakan dari beberapa orang temannya,
“Serang …”
“Serbuuuu …”
Lalu, berhamburan beberapa tubuh kecil menerjang kedepan melewati Wulan yang sedang memperhatikan jalannya pertarungan.
“Aduh …”
“Tolong …”
“Ohhh, sakiittt …”
Beberapa anak yang menyerang, mendadak saja melayang kembali kebelakang karena terjengkang oleh dorongan tangan maupun sapuan kaki lelaki berpakaian gelap yang langsung menghadapi serangan mendadak itu.
Tentu saja, remaja lugu yang baru saja belajar silat langsung bisa dijatuhkan dengan mudah. Dan kontan saja, dengan beringsut-ingsut ketakutan mereka merangkak menjauhi lelaki bengis yang tak mengenal ampun itu.
---
“Ha ha ha … nama besar Jalitheng hancur lebur seketika … Hai Jalitheng! percuma saja kau dikenal sebagai guru silat kalau ternyata muridmu hanya berani keroyokan seperti itu. Ha ha ha …”
Dengan pongah, pria berjubah warna gelap tanpa alas kaki itu menengadahkan wajah bertopengnya ke atas langit. Cahaya rembulan yang bersinar gemerlap, saat itu malah semakin menambah kesan misterius dan menyeramkan pada topeng kayu berwarna merah yang ia kenakan.
Belum puas berkoar-koar, lelaki itu berkacak pinggang sambil sesumbar,
“Tak ada gurunya, murid pun jadi. Aku menantang kalian untuk melawanku secara satu-satu dengan berhadapan. Terserah, mau pakai senjata atau tidak … aku tak perduli. Pertarungan secara jantan, satu melawan satu!”
Setelah mengatakan demikian, lelaki tanpa wajah itu mengedarkan pandangannya pada semua murid padepokan. Saat belum ada yang menyahut, ia kembali melanjutkan bicaranya,
“Cukup menahan seranganku sebanyak tiga jurus. Jika ia mampu tetap berdiri tanpa terpukul, aku akan mengaku kalah. Siapa yang berani?” demikian tantang tamu tak tahu adat tersebut. Suaranya yang serak dan terdedam topeng, kini menjadi semakin menambah keseraman di tempat itu.
***