“Apa kabar, Wang?” tanya Opik dengan nada sabar dan ramah. Meskipun, kegundahan hatinya saat itu tak dapat sepenuhnya bisa ia tutupi. Sepertinya, tadi ia tengah membicarakan sesuatu yang serius dengan seorang rekannya, dan harus terputus karena kedatangan sang tamu mudanya.
“Baik, Om … bagaimana kabar, Om?” jawab Wawang sambil balas bertanya.
“Aku sehat. Ahh … kelihatannya kamu sudah siap untuk kembali lagi beraksi. Sudah makan?”
“Aku sudah makan sepulang sekolah tadi. Ya daripada dirumah bingung mau apa, mendingan main kesini untuk bertemu dengan orang-orang baik,” jawab anak muda tersebut dengan sengaja memancing pembicaraan tentang sekolah. Remaja itu sengaja berkata demikian untuk memancing reaksi Opik yang ia duga sudah mengetahui siapa dirinya sebenar.
Yang diajak bicara, nampaknya cukup mendengar dengan baik. Namun, ia tak mau menanggapi kata-kata terkait sekolah seperti yang dikatakan oleh anak buahnya. Setelah diam sejenak, barulah Opik berkata dengan nada yang lebih lembut serta perlahan.
“Wawang … aku akan tetap memanggilmu dengan nama itu sementara kau ada disini. Dan kebetulan, ada satu hal penting yang akan kusampaikan padamu. Tapi sebelumnya perlu kutegaskan agar dirimu jangan salah paham terkait apa yang akan disampaikan. Cerita yang akan kau dengar ini, bukanlah kukatakan dengan maksud untuk tidak memperbolehkan kamu ikut bekerja seperti dulu lagi. Tapi … ah, aku juga bingung bagaimana harus mengatakannya.” Demikian Opik mulai bicara panjang lebar dengan nada terdengar ragu.
“Mmmm … apakah hal itu ada sangkut pautnya dengan meninggalnya pamanku?”
“Eh, jangan salah paham … bukan karena hubunganmu dengan Mas Jiwo jika aku sedikit memberimu nasehat agar untuk sementara kau menjauhi tempat ini.” Dengan sedikit bingung karena tak ingin ada salah paham, lelaki itu mencoba menegaskan permasalahannya.
“Ohh … apakah berkaitan dengan apa yang sedang Om Opik bicarakan tadi sebelum kedatanganku?” dengan berani, Wulan kembali bertanya untuk mengejar jawaban yang lebih jelas.
“Kau mendengarnya? Pada bagian yang apa?” Opik balik bertanya.
“Tentang orang yang berani mengganggu setelah meninggalnya Paman Jiwo,” jawab gadis itu dengan lebih jelas lagi.
“Hmm … tampaknya, kau memang sudah mendengarnya. Baiklah, kita keluar sebentar. Yuk, kamu ikut Om.” Demikian kata Opik pada akhirnya. Mau tak mau, Wawang mengikuti lelaki itu melangkah keluar dari gardu.
“Kemana?”
“Ke tempat yang agak jauh dari sini, dimana tak ada telinga lain yang bisa mendengar ceritaku nanti.”
“Memangnya kenapa?”
“Kamu tak melihat keanehan disini?” Opik bertanya untuk menguji.
“Beberapa orang asing. Ya, sedikit aneh juga saat aku meihat wajah-wajah yang tak dikenal.”
“Itulah maksudku. Kau lihat orang yang duduk di halte sana?” tanya sang Paman sambil menunjukkan jari pada satu titik.
“Jaket jins, rambut gondrong dan muka gosong?”
“Yups, dia adalah orang kepercayaan Edi Best.”
“Siapa Edi Best?”
“Akan kuceritakan nanti. Mari kita pergi.”
***
Meminjam salah satu angkot yang ada di pangkalan, Opik dan Wawang pergi meninggalkan tempat tersebut untuk membicarakan apa yang terjadi pada tempat mereka bekerja. Dengan alasan untuk melatih kembali Wawang yang sedikit lupa tentang bagaimana cara mengemudikan mobil, Opik mengajak remaja tersebut berkeliling memutari beberapa blok pertokoan sambil sedikit bercerita.
---
Dari kisah yang dituturkan oleh sahabat sang Paman itulah, akhirnya si keponakan menjadi tahu bahwa sebenarnya Sujiwo adalah merupakan seseorang yang disegani di kota tersebut. Karena itulah, selama ini tak pernah ada seorangpun yang berani mengganggu tempat mereka mencari nafkah.
“Dulu sekali, seseorang yang bernama Ali Badri pernah dihajar oleh Pamanmu saat anak buahnya berani memalak uang dari para sopir dan calo di tempat kami,” demikian cerita Opik selanjutnya.
“Siapa dia?”
“Orang tersebut kini menjadi seorang pemimpin preman tak resmi yang terkenal jagoan di kota ini. Katakan saja; semua tukang parkir, café, tempat hiburan dan pertokoan … semua menyetor uang keamanan padanya. Waktu bentrok dengan Pamanmu, Ali Badri masih aktif turun ke jalan untuk menyebar pengaruh dengan mengajak berkelahi preman lain agar tunduk kepadanya.”
“Tapi kalah oleh Pamanku?”
“Iya, betul. Bahkan jika saat itu Pamanmu mau … tentu saja ia bisa menjadi seorang pentolan di di kota ini. Tapi, Mas Jiwo adalah orang yang baik. Dia tidak pernah sekalipun mau merampas nafkah orang lain.”
“Lalu, setelah Badri itu dihajar Pamanku? Dia kapok?”
“Meskipun akhirnya menjadi semacam pimpinan gerombolan preman, baik dia ataupun anak buahnya tak pernah berani mengganggu tempat kita lagi. Bahkan para pencopet dan preman lainnya juga tak ada yang berani berkeliaran disana. Kau lihat selama ini, bukan? Kita bisa mencari nafkah dengan tenang dan damai penuh persaudaraan.” Demikian tutur Opik dengan nada prihatin.
“Lalu, apa hubungannya dengan Edi Best? Kenapa dia sekarang mengawasi pangkalan kita?”
“Dia orang yang lebih muda, tangan kanan Ali Badri dalam memungut uang keamanan dari semua tempat usaha dan parkir.”
“Hmm … maksudnya, dia juga akan menarik uang keamanan di pangkalan angkot?”
“Ya, memang seperti itu. kau tahu, pangkalan kita adalah satu-satunya terminal bayangan yang menghasilkan uang tak sedikit. Karena itulah, mereka pasti akan mengicar usaha kita.”
“Dan hal itu terjadi dengan serta merta semenjak meninggalnya Paman Sujiwo? Begitukah maksud Om Opik? Karena mereka merasa sudah tidak ada lagi yang harus ditakuti?”
“Ya … kenyataannya memang seperti itu.”
“Om Opik takut dengan mereka?”
“Bukan takut secara pribadi. Mereka ini kuat, karena sudah memiliki semacam organisasi bawah tanah. Aku akan menjelaskan kepadamu dengan sederhana.”
---
Dengan singkat, pria gempal berwajah sangar itu menuturkan bahwa di kota tersebut memang terdapat sebuah hierarki tak resmi terkait sisi-sisi dunia gelap pada lingkungan yang tak terlihat dalam pandangan mata masyarakat umum.
Ali Badri, adalah merupakan seorang laki-laki setengah baya yang pada masa mudanya telah malang melintang menjagoi dunia kekerasan di kota tersebut. Konon kabarnya, manusia yang satu itu termasuk sebagai makhluk berdaging yang tak mempan tergores senjata tajam alias memiliki ilmu kebal.
Karena terkenal akan kerasnya kulit, ia jadi disegani oleh orang-orang yang berasal dari kalangan dunia bawah tanah. Pendek kata, tak ada satupun pelaku usaha gelap di kota tersebut yang bisa beroperasi tanpa perkenan dari orang tersebut. Tentu saja, ijin itu akan diberikan jika yang bersangkutan bersedia memberikan sejumlah uang sebagai pembayaran pajak tak resmi.
“Hmm … jadi, Edi Best itu merupakan komandan lapangannya?”
“Kira-kira seperti itu. Dulunya, ia atlit beladiri karate yang sering mengikuti turnamen ke luar kota. Kabarnya ia juga sering menang. Karena tak bisa menjaga nama perguruan, akhirnya ia dikeluarkan dari organisasi. Semenjak itu, ia malah berkeliaran memamerkan kekuatan untuk menindas masyarakat. Dan sekarang, ia dikenal sebagai salah satu tukang pukul pemberani yang paling ditakuti orang.”
“Pintar berkelahi?” tanya Wulan dengan lugu.
“Kejam dan berangasan, itu saja kata yang bisa menggambarkan dirinya.”
“Om Opik berani jika harus berhadapan secara satu-satu dengan dia?”
“Hmm … Mas Jiwo juga sudah banyak mengajariku ilmu beladiri yang konon didapatkan dari seorang pendekar masa lalu. Aku tak akan takut sedikitpun jika harus berhadapan dengan manusia bernama Edi itu. Tapi, permasalahannya tidaklah sesederhana dengan hanya memenangkan pertarungan lalu dianggap selesai.”
“Maksud Om?”
“Jangan lupa, Edi Best hanya merupakan anak buah. Masih ada Ali Badri diatasnya, kau lupa itu? belum lagi, mereka juga tak akan segan melakukan pengeroyokan dan tindakan curang lainnya. Tentang hal itu, kami juga mencurigai jika meninggalnya Pamanmu bukanlah sesuatu yang wajar.”
“Ada yang sengaja mencelakakan Paman?”
“Kemungkinan besar. Karena, tabrak lari sepagi itu saat Pamanmu jogging, rasanya bukanlah hal yang wajar. Bukankah jalanan masih sepi? Dan Mas Jiwo juga tertabrak persis di pinggir trotoar, bukan di tengah jalan. Banyak saksi yang mengatakan jika itu tak sewajarnya, tapi sayangnya tak ada bukti ataupun pelaku yang bisa ditangkap.”
“Seperti disembunyikan?”
“Satu hal lagi harus kau pahami, Nak … banyak kasus harus disimpan jika menyangkut orang berpengaruh, meskipun itu penjahat sekalipun. Dan tak sedikit juga aparat yang takut untuk menindak orang semacam mereka demi sebuah keamanan diri …”
“Intinya, apakah mereka telah berniat mencelakai Pamanku hanya demi berebut lahan usaha di pangkalan sana?”
“Sepertinya iya. Terbukti, mereka langsung saja bermunculan untuk menarik parkir liar, mencopet, bahkan mengganggu kenyamanan orang berbelanja. Tak hanya itu … pangkalan kita juga sudah mulai dimintai setoran setiap harinya.”
“Banyak?”
“Separuh pendapatan. Dan itu adalah merupakan sebuah cara halus mereka dalam mengusir Paman beserta semua rekan dari sana.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Sementara ini, kami sudah sepakat untuk berdiam dulu sementara sambil menunggu perkembangan.”
“Tanpa perlawanan?”
“Bila mereka mendahului melakukan kekerasan, kami akan melawan. Tapi jika masih seperti ini, tampaknya kami harus sedikit bersabar dengan pura-pura tak berdaya.”
---
Setelah diam sejenak untuk mencerna semua informasi yang begitu cepat datang hingga nyaris tak tertampung oleh pikiran lugu si gadis, barulah Wulan mengatakan sebuah kesimpulan terkait perasaannya dengan sepenuh sadar, “Jika kecelakaan yang merenggut nyawa paman adalah sebuah kesengajaan, wajib bagiku sebagai saudara sedarah untuk melakukan sebuah pembalasan.”
“Jangan, Wang … kamu tak akan bisa, karena mereka terlalu kuat. Lagipula, kau masih terlalu muda dan tak memiliki kekuatan apapun untuk itu.”
“Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Tapi untuk sementara, Om Opik tak usah merasa khawatir. Aku tak akan memaksakan diri bila memang hal tersebut belum memungkinkan untuk dilakukan. Sebab yang paling utama dari itu, adalah terungkapnya siapa pelaku yang menyebabkan meninggalnya Paman Jiwo.”
Mereka kembali berdiskusi, seolah Wawang sudah dianggap sebagai rekanan yang memiliki kekuatan serta keberanian setara dengan para senior. Dalam kesempatan itu, Opik juga menceritakan bagaimana detil disaat Ali Badri ketakutan dihajar oleh Sujiwo yang masih sangat muda kala itu.
“Ali Badri yang terkenal kebal senjata, bahkan sampai minta ampun pada Pamanmu saat dihajar dengan sebatang bambu kuning. Ah, ya … bambu kuning itu, apakah kau menemukan sebuah benda berupa batang bambu kuning di rumahmu?”
“Oh, ada … aku melihatnya kemarin sewaktu membenahi kamar.”
“Katanya, benda tersebut adalah pemberian dari guru Mas Jiwo …”
“Oh … aku malah baru mengetahui tentang hal itu.”
“Menurut cerita pamanmu, Ali Badri jadi ketakutan dengan bambu kuning tersebut.”
“Ah … bagaimana kalau bambu itu kuberikan pada Om Opik saja? Dengan begitu, para preman itu akan menjadi takut untuk mengganggu kita.”
“Percuma, Wang … aku belum bisa menggunakan itu selama belum bisa menahan napas selama lima menit. Karena, butuh hawa murni dan kekuatan batin yang luar biasa agar bisa memunculkan kekuatan tersembunyi dari bambu tersebut. ”
“Ohhh … dan Om Opik belum pernah berlatih?”
“Selalu berlatih dalam beberapa tahun terakhir ini dengan bantuan Mas Jiwo. Tapi … mungkin aku kurang berbakat, jadinya masih berkisar dalam hitungan empat menit menahan napas dalam menghimpun kekuatan hawa murni dalam tubuh. Ah … sebenarnya hanya kurang sedikit, tapi Mas Jiwo malah sudah meninggalkanku,” demikian jawab Opik dengan wajah yang suram.
“Jangan putus asa, Om … teruslah berlatih, bambu kuning itu akan menunggu untuk dimiliki selagi Om Opik menyelesaikan latihan.”
“Iya … semoga saja demikian. Mudah-mudahan, waktunya akan cukup untuk itu.”
***