Awalnya Ofelia mengira kedekatannya dengan Daryl hanya ketika mereka menjalani pelatihan di Jerman saja. Setelah kembali ke pekerjaan yang sebenarnya maka Daryl akan melupakan begitu saja kebersamaan mereka selama di Jerman. Namun dugaan Ofelia salah besar. Hubungan pertemanan mereka masih terus berlanjut hingga saat ini. Siapa yang tidak bisa menolak segala bentuk perhatian dan keramahan yang diberikan oleh seorang Daryl? Sekuat apa pun tembok yang dibangun oleh Ofelia akhirnya runtuh juga.
Ofelia tidak bisa memungkiri kalau lama-lama mulai menyukai sahabatnya itu. Namun Ofelia tidak berani mendalami perasaannya karena takut akan bertepuk sebelah tangan apalagi mengingat sepak terjang Daryl soal perempuan. Daryl memang selalu menceritakan hal sekecil apa pun kepada Ofelia, termasuk ketika laki-laki itu sedang didekati atau mendekati seorang perempuan hingga telah menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan. Namun Daryl tidak pernah sekalipun menceritakan secara detail pada Ofelia penyebab hubungannya dengan seorang perempuan berakhir. Biasanya Daryl hanya bilang kalau mereka sudah tidak cocok saja. Dan Ofelia tidak akan mencari tahu lebih dalam persoalan yang menimpa Daryl dan kekasihnya hingga membuat hubungannya berakhir.
Berbanding terbalik dengan Daryl, justru Ofelia bersikap tertutup soal perasaan dan love life-nya pada Daryl. Tak sekalipun dia menceritakan tentang kisah cintanya pada sahabatnya itu. Yang Daryl tahu hingga detik ini Ofelia adalah perempuan single dan tidak terikat hubungan dalam bentuk apa pun dengan seorang laki-laki. Daryl tidak pernah tahu tentang laki-laki yang menjadi cinta mati Ofelia hingga detik ini. Dan Ofelia sendiri juga tidak pernah memulai cerita apa pun tentang kisah cintanya yang mengenaskan itu pada Daryl.
~
Sore ini mau tidak mau, suka tidak suka sepulang dari kantor Ofelia terpaksa mengikuti ajakan Daryl untuk mencari kado yang akan diberikan pada Aline. Mereka berkeliling dari outlet ke outlet mencari kado yang pas untuk anak perempuan berusia sepuluh tahun. Kini mereka sudah berada di sebuah toko aksesories khusus remaja yang bisa dibilang surganya remaja perempuan dalam mencari aksesoris kekinian.
“Lucu, nggak?” tanya Daryl meraih sebuah gelang dengan aneka macam bandulan di sekeliling gelang.
“Lucu banget,” jawab Ofelia. “Tapi harganya nggak lucu, Ryl,” sambungnya.
Daryl kemudian melihat price tag pada gelang yang baru saja ditunjukkan pada Ofelia. “Nggak lucu gimana?” tanya Daryl bingung.
“Mahal,” jawab Ofelia cuek.
“Oh…Nggak juga. Nggak semahal berlian nyokap gue,” ucap Daryl dengan entengnya sambil melihat-lihat gelang motif lain yang harganya tidak beda jauh dari gelang sebelumnya. “Menurut lo cocok yang mana buat Aline? Ini atau ini?” lanjutnya sembari menunjukkan kembali gelang lain yang menurutnya pantas untuk ponakan Ofelia.
“Ya, emang nggak semahal berlian nyokap lo. Tapi gelang ratusan ribu buat anak kelas empat esde buat apa, Ryl? Kalau hilang gimana? Ada-ada aja lo,” sanggah Ofelia.
“Lo pilih salah satu atau gue bungkus dua-duanya, nih?” tawar Daryl.
Ofelia hanya menggeleng pasrah. Akhirnya dia memilih salah satu diantara kedua gelang yang ditawarkan oleh Daryl daripada harus dua-duanya. Sebenarnya harga gelang itu tidak ada apa-apanya buat Daryl yang memang sudah terlahir kaya, ditambah lagi pekerjaannya sendiri juga menghasilkan kekayaan yang bisa dinikmatinya seorang diri. Selanjutnya Daryl yang membawa ke kasir untuk dibungkus rapi sekaligus dibayar.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari selama hampir dua jam, keduanya berjalan menuju lift untuk turun ke basement tempat mobil Daryl diparkir. Ofelia menolak saat Daryl hendak mengajaknya makan malam dengan alasan ibunya di rumah sedang menunggunya. Daryl lalu tidak memaksa lagi.
Sebelum sampai di depan lift, ponsel Daryl berdering panjang. Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku jasnya. Sesaat kemudian dia memisahkan diri dari Ofelia untuk menerima panggilan telepon tersebut dan meminta pada Ofelia agar tidak masuk lift lebih dulu sebelum dia selesai menerima panggilan telepon. Ofelia setuju lalu memutuskan untuk berdiri dengan jarak sedikit jauh dari lift. Dia menunggu Daryl sembari memainkan ponselnya.
Ketika Ofelia menungggu selama lima menit akhirnya pintu lift terbuka. Ofelia yang masih menunggu kedatangan Daryl akhirnya bergeser menjauhi pintu lift untuk memberikan akses bagi orang-orang yang akan keluar dari lift. Saat itulah seorang laki-laki dengan postur tubuh tegap tapi tidak melampaui tinggi badan Daryl berhenti melangkah di samping Ofelia. Laki-laki itu kemudian mundur selangkah dan memosisikan tubuhnya berdiri tepat di depan Ofelia.
Ofelia hanya tertegun ketika ada sosok yang menghalangi langkahnya. Padahal dia pikir sudah memberikan akses lebih dari cukup pada orang-orang yang hendak keluar dari lift supaya bisa lewat. Pada saat itu Ofelia bingung dan mencari tahu alasan kenapa laki-laki itu berdiri di hadapannya. Saat sedang berpikir itulah laki-laki tadi akhirnya bersuara.
“Ofelia ya?” tanya laki-laki itu.
Ofelia sempat terkejut karena ada orang yang masih mengenalnya sekalipun orang itu ragu. Karena menurut teman-teman yang sudah tidak bertemu dengannya dalam jangka waktu sangat lama, selalu melontarkan komentar kalau wajah dan postur tubuhnya mengalami banyak perubahan dari saat terakhir bertemu. Makanya Ofelia cukup takjub ada orang yang langsung mengenalinya di awal pertemuan.
“Lo temannya Shayne, kan?” tanya Ofelia meragu padahal dalam hatinya dia sangat mengingat siapa laki-laki di hadapannya ini.
“Iya, gue Andika. Tapi lo beneran Ofelia, kan?” lanjut Andika.
“Iya gue Ofelia. Kita seangkatan waktu SMA,” ucap Ofelia sembari terkekeh.
“Iya gue ingat. Lo apa kabar?”
“Baik-baik saja,” jawab Ofelia santai.
Andika adalah teman satu genk Shayne dan merupakan satu-satunya teman Shayne yang dikenal oleh Ofelia. Hal itu bisa terjadi karena hanya Andika yang pernah satu kelas dengan Ofelia saat SMA.
“Setelah SMA lo sibuk apa?” tanya Andika lagi.
“Gue kuliah di Jepang sampai S2, trus lanjut kerja.”
“Oh, lanjut ke Jepang. Pantesan nggak pernah ketemu elo di Jakarta yang sempit ini,” komentar Andika. “Sekarang masih stay di Jepang?” tanyanya lagi.
“Udah nggak. Gue udah kerja di Jakarta.”
“Oh, ya? Sejak kapan?”
“Kurang lebih dua setengah tahun ini. Lo sendiri sibuk apa sekarang?” tanya Ofelia. Besar harapannya dia bisa mendapatkan informasi tentang Shayne dari Andika.
“Udah tiga tahun ini gue tinggal di Lombok. Gue merintis usaha kecil-kecilan di sana bareng istri gue. Lo kalau mau healing ke Lombok kabari gue aja,” ucap Andika kemudian merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Ini kartu nama gue. Call aja kalau lo butuh sesuatu, apa pun itu.”
Ofelia menerima kartu nama Andika. Membaca sekilas lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia kemudian menukarnya dengan kartu namanya sendiri untuk diberikan kepada Andika.
“Oh, lo kerja di Riilfud?” ucap Andika setelah membaca kartu nama Ofelia.
“Lo tahu perusahaan itu?”
“Siapa juga yang nggak tahu Riilfud. Hampir di setiap rumah ada produk-produk keluaran perusahaan itu,” jawab Andika sembari tertawa.
Ofelia menanggapi dengan tersenyum komentar Andika. “Kalau lo tinggal di Lombok, sekarang kenapa ada di Jakarta?” tanya Ofelia lagi.
“Gue diminta Shayne ke Jakarta. Si bongsor minta dibantuin nyiapin acara pertunangannya. Ini gue mau ketemuan sama dia sekarang,” jawab Andika santai.
Jantung Ofelia terasa terlepas dari tempatnya. Artinya kini dia berada begitu dekat dengan Shayne. Namun semesta sepertinya sedang tidak berpihak padanya hari ini. Bukannya ketemu Shayne, malah ketemu sahabatnya. Entah ini takdir baik atau justru sebaliknya. Ofelia tertegun selama beberapa detik. Informasi yang disampaikan oleh Andika terkait soal Shayne membuat indera pendengarannya juga mendadak bermasalah. Sehingga dia butuh pengulangan informasi untuk meyakinkan kalau rungunya salah dengar soal informasi pertunangan yang disampaikan oleh Andika padanya.
“Shayne mau tunangan? Sama siapa?” tanya Ofelia tanpa pikir panjang dan tentu saja masih dengan ekspresi terkejut yang tak bisa disembunyikannya. Kemudian dia merutuki dirinya sendiri yang telah dengan bodohnya mempertanyakan hal tersebut secara terang-terangan. Setelah tidak memiliki keberanian mencari tahu keberadaan Shayne, kini dengan angkuhnya dia bertanya siapa orang yang akan bertunangan dengan cinta matinya itu.
“Lo kayaknya kenal sama calon bininya si bongsor. Kalian satu SMP yang sama. Soalnya Bongsor pernah bilang kalau dia sama calonnya ini kenal pas SMP, cuma beda SMA,” jelas Andika, tak ketinggalan menyebut nama sebutan untuk Shayne yang diberikan oleh teman-temannya ketika SMA karena memang di antara teman-teman segengnya, Shayne terbilang yang paling besar postur tubuhnya. Dan Ofelia tahu itu.
“Oh, ya? Siapa, Dik?”
“Megan.”
Megan memang bukan nama yang langka. Namun hanya satu nama Megan yang pernah Ofelia kenal selama hidupnya. Dia adalah Megan Tiffany Putri. Sahabat Ofelia semasa putih biru. Mereka cukup akrab meski hubungan persahabatannya tidak berlanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya karena Megan harus mengikuti kedua orang tuanya yang pindah keluar kota. Awal-awal SMA keduanya sempat menjalin komunikasi yang cukup intens. Namun seiring berjalannya waktu komunikasi mereka terputus begitu saja tanpa sebab dan alasan tertentu. Hanya karena tidak saling menghubungi saja dan tidak ada yang berinisiatif untuk menjalin komunikasi lebih dulu. Sehingga membuat keduanya tidak bisa saling tukar informasi apa pun hingga kini.
“Kenal, kan?” tanya Andika sekali lagi.
“Iya, kenal kok. Kami juga sempet deket waktu SMP.”
“Tapi lo kayak nggak tahu apa-apa soal pertunangan Shayne sama Megan? Bahkan keliatan agak kaget juga. What’s wrong?”
“Nggak ada apa-apa. Gue cuma lost contact aja sama Megan. Trus tiba-tiba sekarang dapat kabar soal pertunangannya dengan teman yang juga gue kenal. Kayak nggak nyangka banget gitu ternyata calon tunangannya Shayne itu temen baik gue. Berasa kayak dunia beneran selebar daun kelor,” ucap Ofelia santai untuk menutupi bunyi retak di hatinya.
“Iya lagi. Tapi kayaknya acara pertunangannya intimate gitu. Jadi yang hadir cuma bener-bener anggota keluarga sama teman yang paling dekat. Teman-teman bongsor aja, cuma gue sama Nino doang yang diundang.”
“I see. Salam ya sama Shayne dan Megan. Selamat atas pertunangannya,” ujar Ofelia berusaha tidak menunjukkan emosi berlebih di wajahnya.
“Oke, siap. Nanti gue sampaikan juga ke Shayne kalau ketemu lo di sini.”
“Sama Megan juga,” canda Ofelia untuk meringankan suasana.
“Ya, maksud gue gitu,” balas Andika sembari tertawa ringan. “Gue duluan ya. Soalnya Nino udah nunggu daritadi,” ujar Andika menyebut nama sahabat Shayne yang lain menutup sesi pertemuan yang tidak disangka-sangka ini.
“Oke, duluan aja. Gue masih nunggu temen di sini.”
“Bye, Ofelia!” ujar Andika kemudian berlalu pergi.
~
Ofelia memutuskan kembali ke Indonesia sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu ia baru genap berusia 27 tahun. Namun di usia yang sematang itu dia masih belum memiliki pendamping hidup atau setidaknya calon pendamping hidup. Merana sekali hidupnya, bahkan pandangan punya kekasih saja sama sekali tidak tebersit di benaknya. Lebih menyedihkan lagi, hatinya seakan tertutup untuk nama lain kecuali Shayne Anteros Devan. Laki-laki yang begitu disukainya saat dia masih duduk di bangku SMP.
Sebenarnya Ofelia bukan gadis yang tidak menarik sehingga membuat tidak ada laki-laki yang tertarik padanya. Sayangnya perempuan itu tidak pernah sekalipun memberikan kesempatan pada laki-laki yang ingin berhubungan serius dengannya. Beberapa yang pernah mendekatinya selalu mundur teratur ketika Ofelia menunjukkan gelagat keengganan untuk melanjutkan proses pendekatan dengannya.
Saat ini terhitung sudah empat tahun lamanya sejak terakhir Ofelia menjalin hubungan dekat dengan seorang laki-laki. Nama laki-laki itu adalah Benny, blasteran Amerika Manado yang dikenalnya saat dia melanjutkan studi magisternya di Jepang. Satu tahun yang lalu Ofelia mendapatkan kabar bahagia soal laki-laki itu, bahwa Benny telah mendaftarkan pernikahannya dengan dengan seorang gadis asal Singapura bernama Jaselyn. Sedangkan Ofelia… Dia masih setia sendiri.
Tidak ada yang tahu kalau rasa suka Ofelia pada Shayne sudah menjurus ke arah obsesi terselubung. Shayne adalah laki-laki paling sempurna di mata Ofelia. Dari dulu hingga saat ini. Bayangkan saja, Shayne memiliki postur yang lebih tinggi dibanding teman-teman seumurannya kala itu. Kulitnya putih bersih, rambutnya lurus, mudah diatur dan hitam legam dengan postur tubuh yang tegap. Ketika laki-laki itu tersenyum, seolah sedang menularkan senyum yang sama pada orang-orang di sekitarnya. Dan senyuman itulah yang membuat Ofelia tertarik pada Shayne untuk pertama kalinya. Tidak hanya tampan, tetapi juga pandai. Laki-laki itu adalah juara kelas bahkan selalu menjadi juara umum di angkatan mereka. Latar belakang keluarganya juga berasal dari keluarga terpandang dan tergolong religius.
Bagaimana Ofelia bisa tahu soal Shayne sejauh itu? Ya, Ofelia sudah mengenal Shayne sejak sebelum dia merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Tepatnya semenjak sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Namun saat itu Ofelia hanya sekadar tahu saja tentang Shayne karena mereka bertumbuh di kelas yang sama dari kelas satu hingga kelas enam. Selanjutnya mereka dipertemukan kembali di sekolah menengah pertama yang sama meski selama tiga tahun di bangku SMP mereka tidak pernah satu kelas. Kendati begitu Shayne tetap bersikap ramah dan selalu menyapanya setiap kali mereka berpapasan di manapun.
Pada masa itu Ofelia masih belum merasakan getar-getar asmara atau memiliki ketertarikan lebih dari sekadar teman pada Shayne. Ofelia mulai merasakan hal-hal seperti itu saat beberapa bulan sebelum mereka lulus SMP. Disitu Ofelia mulai menyadari betapa mempesonanya seorang Shayne dan sejak itu tidak pernah bisa melupakannya.
~~~
^vee^