11. Belum Merasa Lega

1283 Kata
Minggu pagi setelah melakukan joging keliling kompleks rumah hingga membuat kaus basah oleh keringat Ofelia bersantai di kamarnya. Seperti biasa hal yang dilakukan pertama adalah memeriksa beberapa pesan singkat yang masuk ketika dia joging tadi. Pesan yang paling menarik perhatiannya dari Rosita yang memintanya untuk segera menghubungi jika sudah membaca pesan tersebut. Ofelia bangkit dari ranjang lalu mencari keberadaan earphone-nya. Setelah menemukan benda yang dicarinya itu Ofelia menarik kursi yang tersimpang di bawah meja rias lalu membawanya ke dekat jendela kamar. Tak sampai nada sambung ketiga panggilan teleponnya langsung diterima oleh Rosita. “Urgent banget kayaknya, Ci? Segala minta segera menghubungi begitu gue baca chat lo,” ucap Ofelia begitu mendengar sapaan hallo dari Rosita yang lebih akrab dipanggil Oci. “Astaga… Lo kemana aja, Wak? Gue telepon sampai berapa kali nggak diangkat.” “Gue lagi joging tadi. So, ada kabar apa?” tanya Ofelia santai. “Lo udah dengar soal Shayne?” tanya Rosita to the point. “Shayne tunangan dengan Megan? Kalau soal itu gue tahu,” ungkap Ofelia tanpa beban. “What? Lo udah tahu? Kok, nggak ada cerita apa-apa lo sama gue?” Reaksi Rosita terdengar begitu terkejut mendengar jawaban Ofelia. “Kantor lagi hectic banget akhir-akhir ini. Lagian gue juga bingung konteksnya apa gue nyampein kabar soal pertunangan Shayne ke lo.” “Lo dapat kabar dari siapa?” “Dari Andika, teman segenk-nya Shayne yang pernah satu kelas sama gue pas SMA. Gue nggak sengaja ketemu dia. Ternyata dia lagi janjian sama Shayne buat nyiapin acara pertunangan Shayne dan Megan. Terus juga…” kalimat Ofelia menggantung. Dia kecoploson menceritakan soal part pertemuannya dengan Shayne di restoran setelah laki-laki itu resmi bertunangan. Dia merutuki kebodohannya dan memperingati dirinya supaya tidak sampai kecolongan untuk yang kedua kalinya. “Terus juga apa? Woylah, Ofelia! Jangan setengah-setengah ya, kalau cerita.” Rosita tampak tak sabaran menunggu kelanjutan cerita Ofelia. Sementara Ofelia tiba-tiba melamun mengingat kembali pertemuannya dengan Shayne waktu itu. Setelah beberapa saat ia tersadar setelah Rosita menyebutkan nama lengkapnya. “Gue ketemu Shayne,” jawab Ofelia singkat. “Terus?” “Ya cuma sempat ngobrol sebentar banget. Soalnya waktu itu Kak Sonia udah keburu ngajak gue cabut. Gue lihat cincin itu di jari manis Shayne,” ujar Ofelia sambil mendesah lesu. “Ofelia, are you okay?” “I don’t know.” “Kapan lo ketemu sama Shayne?” Ofelia lalu menceritakan pertemuannya dengan Shayne satu minggu yang lalu. Dia juga mengatakan bahwa Shayne menyimpan kartu namanya yang didapat dari Andika. Dia juga bilang soal Shayne yang mau meneleponnya, tapi sampai detik ini laki-laki itu belum menghubungi. “Sebenarnya gue punya kartu nama dia…” ujar Ofelia di akhir ceritanya, tanpa menceritakan soal pelukan antara dirinya dengan tunangan perempuan lain. “Lo udah nyoba hubungi Shayne?” “Udah, Ci. Tapi nggak ada respon,” jawab Ofelia. Terdengar cukup jelas ada kesedihan di nada bicaranya. Hal itu bisa ditangkap oleh Rosita yang memang menaruh curiga soal perasaan Ofelia pada Shayne saat SMA. Tidak hanya Rosita, sahabat Ofelia satu lagi juga mempunyai firasat yang sama soal itu. “Sebenarnya gimana, sih, perasaan lo sama Shayne itu? Dari dulu jawaban lo selalu sama. Lo selalu bilang nggak ada perasaan apa-apa sama cowok itu. Tapi setiap kali ada pembahasan soal dia lo nunjukin emosi yang berbeda dengan jawaban andalan lo itu. Tebakan gue sama Caca bener, kan, kalau dulu lo suka sama Shayne? Gue juga yakin kalau sampai sekarang rasa suka itu masih ada. Kalau gue salah kasih tahu yang bener gimana, biar gue nggak terkesan sok tahu tentang lo, Ofelia.” Detik berikutnya terjadi keheningan di panggilan telepon antara Ofelia dan Rosita. “Gue dulu suka sama Shayne. Sampai sekarang dia selalu ada dalam pikiran gue, Ci,” jawab Ofelia akhirnya. “Tapi gue takut kalau ada yang tahu soal itu.” “Kenapa mesti takut?” “Gue takut semakin banyak orang yang tahu soal perasaan gue, akan bikin hati gue makin sakit kalau pada kenyataannya perasaan gue itu cuma bertepuk sebelah tangan.” “Tapi minimal lo nggak sedih sendirian. Lo punya gue dan Caca sebagai tempat lo berbagi kesedihan. Kita selalu ada buat lo, Ofelia.” “Sorry…” “Kalau gue dan Caca aja nggak tahu soal perasaan lo berarti Shayne juga nggak tahu, kan? Padahal waktu kita SMA itu cowok sempat terang-terangan loh, nunjukin kalau dia punya feeling spesial sama lo.” “Gue terlalu takut waktu itu, Ci.” “Astaga, Ofelia… Kesedihan dan ketakutan nggak jelas lo itu beneran nyampe ke gue sekarang. Gue tahu lo pasti juga merasakan yang namanya penyesalan. Dan itu sangat menyakitkan, ya, kan?” tebak Rosita. “Kurang lebihnya seperti itu.” “Coba aja waktu itu lo mau membuka diri dan hati lo. Mungkin lo bisa tahu lebih awal. Lebih baik sakit hati karena ditolak, daripada sakit hati tahu kalau perasaan kita ternyata nggak bertepuk sebelah tangan tapi udah terlambat... Shayne mau nikah sama cewek lain, Ofelia.” “Kalau dia sudah memutuskan untuk menikahi Megan berarti dia memang nggak ada feeling ke gue. Simple-nya gitu, sih, Ci.” Ofelia tahu Rosita pasti sepakat soal pendapatnya ini. Ofelia sudah memikirkan soal itu dari sejak dia mendapat kabar soal pertunangan Shayne. Hal itu yang membuatnya semakin ingin meratapi kesedihannya. Karena yang ia rasakan bukan hanya sekadar akan kehilangan orang yang begitu disukainya sejak 13 tahun yang lalu, tetapi juga ada penyesalan seperti yang diungkapkan oleh Rosita. Dan diantara kesakitan yang menusuk kalbunya, penyesalan itu yang paling membuatnya frustrasi. Alasan itu jugalah yang membuat Ofelia maju mundur untuk menghubungi Shayne. Dia takut tak bisa mengontrol emosinya. Dia takut hatinya semakin tersakiti setiap kali merasakan sakitnya penyesalan yang belum ada penawarnya jika bisa berkomunikasi dengan Shayne. Ada keheningan selama beberapa saat. Rasanya begitu canggung setelah seorang sahabat akhirnya mengetahui rahasia yang telah disembunyikan sekian lama oleh sahabatnya. Ofelia merasa telah menyinggung perasaan Rosita karena tidak memberikan kepercayaan pada sahabatnya itu mengetahui tentang rahasia besarnya. Beruntung Rosita segera pulih dari situasi canggung yang hampir mendominasi di antara mereka. “Sebenarnya ada hal yang mau gue sampaikan ke elo,” ucap Rosita. “Soal apa?” tanya Ofelia. “Megan ngundang kita makan malam sebagai ganti nggak ngundang kita bertiga di acara pertunangannya,” ujar Rosita terdengar begitu hati-hati dalam pemilihan kata-kata dan nada bicaranya yang ia gunakan ketika menyampaikan berita tersebut. “Cuma kita bertiga doang?” “Nggak paham gue. Undangannya online dan perlu RSVP buat ngonfirmasi kehadiran di acara yang ada dalam undangan itu.” “Kalau gue skip boleh, nggak? Gue nggak tahu gimana caranya ngadepin Megan apalagi kalau sampai lihat dia sama Shayne.” “Lo nggak datang sendiri, Ofelia. Ada gue dan Caca juga di sana. Kalaupun Shayne juga datang, gue yakin dia juga pasti ngundang teman-temannya.” “Ya, udah gue mau datang,” jawab Ofelia pasrah. “Acaranya kapan, sih?” “Tanggal 25 bulan ini. Tenang aja itu hari Sabtu dan lo nggak bisa pakai alasan kerja buat nolak undangan itu,” ujar Rosita mengingatkan. “Iya lagi,” ujar Ofelia akhirnya bisa mengulas senyum di bibirnya setelah sekian menit berada di bawah tekanan kesedihan. Kemudian Ofelia dan Rosita terlibat obrolan yang jauh lebih ringan dari obrolan sebelumnya. Rosita tidak membahas lebih jauh lagi soal kebenaran perasaan sahabatnya yang telah tersimpan begitu rapi selama belasan tahun. Panggilan telepon berakhir satu setengah jam kemudian dengan kesepakatan Ofelia akan menghadiri undangan makan malam dari Megan. Meski telah membuka tabir rahasia yang selama ini disimpannya begitu rapi, masih ada rasa yang mengganjal di hati Ofelia. Tiba-tiba saja Ofelia memikirkan soal perasaan Shayne yang sebenarnya padanya. Namun seperti biasa Ofelia masih bergelut dengan hatinya untuk menemukan jalan keluar melepaskan diri dari perasaan yang mengganjal tersebut. ~~~ ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN