18. Gelisah Semalaman

1082 Kata
Ofelia pulang bersama kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan gadis itu sama sekali enggan bersuara. Meski bapak maupun ibunya mencoba membangun topik obrolan dengannya, Ofelia hanya menanggapi seadanya saja. Sampai di rumah Ofelia langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi. Asisten rumah tangga yang telah bekerja untuk keluarganya semenjak ia bayi beberapa kali membujuknya untuk makan malam. Namun Ofelia berdalih sudah ngantuk, kenyang dan punya stok camilan di kamarnya kalau seandainya lapar tengah malam. Namun ucapan itu hanya alasan saja untuk membuat Bik Lani berhenti mengganggunya. Karena hingga jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam matanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin tidur. Perutnya pun tidak berisik seperti biasanya padahal dia melewatkan makan malamnya. Yang dilakukan oleh Ofelia selama beberapa jam terakhir hanyalah rebahan di atas ranjang dengan gelisah. Banyak suara berisik yang memenuhi kepalanya mencari penjelasan atas kejadian yang terjadi beberapa jam lalu antara dirinya dan Daryl. Ditambah lagi tidak sekalipun Daryl mencoba untuk menghubunginya. Ofelia semakin gelisah di atas ranjangnya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya setiap kali terbayang momen bibir Daryl menyentuh bibirnya. Padahal bukan ciuman yang begitu dalam tapi efeknya begitu luar biasa bagia seluruh tubuh Ofelia. “Gila! Nggak masuk logika! Nggak mungkin gue jatuh cinta sama bule playboy itu!” Semua kata-kata itu terus terucap dari bibir Ofelia setiap kali dia menyentuh bibirnya sembari membayangkan bagaimana rasanya dicium lebih dalam oleh Daryl. Ofelia meremas rambutnya penuh frustrasi membayangkan kegilaan yang berputar di kepalanya. Dia terus berpikir bagaimana caranya bersikap ketika menghadapi Daryl esok di kantor. Mau ditaruh dimana wajahnya nanti saat secara sengaja maupun tak sengaja bertemu laki-laki itu. Saat ini Ofelia bukan hanya gelisah memikirkan perasaannya pada Daryl, tapi juga panik dan takut perasaan itu semakin berkembang lalu merusak pertemanan mereka yang telah terjalin selama hampir tiga tahun. Tepat jam cinderella pikiran Ofelia semakin kacau. Dia bahkan berpikir untuk pindah tempat kerja atau kembali ke Jepang saja. Kebetulan temannya di Jepang sempat menghubunginya beberapa waktu lalu dan menawarkan pekerjaan bagus di negeri sakura itu. Tapi itu adalah solusi paling akhir yang akan ia ambil nantinya kalau memang dia dengan tidak tahu dirinya menuntut Daryl membalas perasaannya. Ketika Ofelia masih berperang dengan kegelisahan dan kepanikannya ponselnya tiba-tiba berdering. Secepat kilat dia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia sangat berharap panggilan telepon itu berasal dari Daryl. Namun sayang sekali harapan tinggallah harapan. Ofelia menyemburkan napas lesu ketika melihat bukan nama Daryl yang muncul di layar ponselnya melainkan Shayne. Dan untuk pertama kalinya dia tidak memiliki semangat sedikitpun menerima panggilan telepon dari laki-laki itu. “Ya, Shayne?” sapa Ofelia. “Eh, sorry, Me. Aku ganggu tidur kamu ya?” “Nggak, kok. Kebetulan aku juga belum tidur. Ada apa?” tanya Ofelia tanpa basa basi. Dia sedang tidak ingin mengobrol dengan siapapun untuk saat ini. Energinya benar-benar sudah terkuras habis memikirkan tentang Daryl dan perbuatan laki-laki itu. “Gimana keadaan keponakan kamu? Tadi sebelum Daryl ngejar kamu, dia pamit sama Mami Papinya mau ngantar kamu ke rumah sakit soalnya ponakan kamu kecelakaan,” jelas Shayne tanpa diminta. “Malam ini harus rawat inap di rumah sakit. Besok udah boleh pulang. Selanjutnya perawatan untuk recovery luka-lukanya aja.” “Oh, syukurlah. Kamu sendiri gimana?” “Aku? Aku kenapa?” tanya Ofelia bingung. “Kamu baik-baik aja, kan?” “Iya, Shayne. Aku baik-baik aja.” “Baguslah. Apa aku boleh jenguk ponakan kamu?” “Boleh-boleh aja. Cuma aku bingung nanti kalau pada nanyain kamu siapa, aku bingung mesti jawab apa.” “Gitu ya. Kalau misal kita ketemuan aja gimana? Kamu mau nggak” “Dalam rangka apa?” tanya Ofelia dengan bodohnya. Shayne tertawa ringan. “Memangnya aku harus punya alasan dan tujuan ya, kalau mau ngajak kamu ketemuan? Nggak boleh cuma sekedar ketemu, makan dan nonton or everything tanpa mesti ada momen-momen tertentu?” “Boleh-boleh aja. Tapi gimana dengan Megan? Dia kira-kira nanti tahu nggak kalau kamu pergi sama aku?” “Harus tahu ya? Aku pikir kita nggak melakukan sesuatu hal yang buruk sampai dia perlu tahu soal acara ketemuan kita.” “Minimal kamu ngabarin Megan kalau lagi pergi sama aku, Shayne.” “Tapi kamu mau nggak ketemuan sama aku? Aku punya tiket live musik di resto bar teman aku. Kamu mau datang ke acara itu sama aku?” Ofelia semakin bimbang saat ini. Berhubung dia tidak punya jawaban yang pasti, akhirnya dia berkata akan melihat jadwalnya dulu di tanggal Shayne mengajaknya menonton acara live musik. Dan akan mengabari laki-laki itu setidaknya sehari sebelumnya. ~ Beberapa hari kemudian Ofelia sama sekali tidak pernah bertemu Daryl di manapun. Sebenarnya dia sangat ingin tahu kemana menghilangnya laki-laki itu. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mencari tahu keberadaan Daryl pada teman-teman di divisi HRD. Saat menghabiskan waktu istirahat makan siang di salah satu restoran tak jauh dari kantornya, Ofelia melihat keberadaan Daryl dengan seorang gadis yang kelihatan lebih muda darinya. Namun sepertinya Daryl begitu fokus hingga tidak melihat keberadaan Ofelia , yang datang bersama beberapa rekan dari divisinya. “Itu bukannya Daryl dari tim HRD ya?” celetuk salah satu rekan yang datang bersama Ofelia. Namun Ofelia sama sekali tidak terusik dengan pertanyaan itu. Dia bersikap seolah tidak tertarik pada obrolan teman-temannya yang sedang membicarakan Daryl dan tentu saja gadis muda yang datang bersamanya. “Berisik amat sih, lo semua? Gue ke sini mau niat makan, mau ngisi perut gue dengan makanan enak dan mengenyangkan. Bukan dengan gibahan kalian!” hardik Ofelia yang sudah tak tahan dengan setiap omongan teman-temannya. “Santai dong! Lo kenapa sewot amat? Biasanya juga biasa aja meski lagi bicarain Daryl!” balas teman Ofelia yang sedikit tidak terima dengan hardikan Ofelia. “Udah…udah! Stop kata gue. Suara kalian kedengaran sampai mejanya Daryl, loh!” “Ya, nggak mungkinlah!” balas Ofelia dan teman yang tadi berdebat dengannya secara bersamaan. “Mungkin banget karena sekarang Daryl lagi jalan ke sini,” ujar teman Ofelia yang memberi peringatan, dengan suara berbisik dan memberi kode lewat lirikannya yang mengarah ke belakang punggung Ofelia. “Damn It!” maki Ofelia dengan suara yang cukup bisa didengar oleh orang-orang di dekatnya, kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan berbalik badan. Bertepatan dengan itu tubuhnya yang tidak seberapa tinggi harus berhadapan dengan tubuh Daryl yang menjulang tinggi di depannya. “Sejak kapan lo punya hobi ngumpat, Fe?” Suara berat Daryl membuat seluruh tubuh Ofelia terasa lemas dan tak bertenaga saat ini. Mulutnya seperti terkunci rapat ketika tak ada satu jawaban pun ia berikan pada Daryl yang sedang menatap lurus kepadanya. ~~~ ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN