15. Malu-malu Tapi Bukan Kucing

1437 Kata
“Megan nggak ikut, Shen?” tanya Ofelia mencari bahan pembicaraan untuk menenangkan detak jantungnya. “Nggak ikut. Dia lagi ada kesibukan,” jawab Shayne singkat dan nada bicaranya menunjukkan sedang tak ingin membahas apa pun tentang Megan. Ofelia bisa merasakan kecanggungan itu. Sebenarnya dia sudah merasakan hal yang sama setiap kali topik obrolan mereka sampai pada pembahasan tentang Megan. Shayne pasti menunjukkan gelagat keengganan membahas tunangannya itu ketika mereka berkomunikasi lewat telepon maupun bertemu secara langsung seperti beberapa hari yang lalu. Ketika Ofelia sedang berpikir untuk mecari topik obrolan baru terdengar suara Daryl bertanya dengan nada bicara bingung. “Lo kenal Megan?” “Gue sama Megan kenal dari SD juga. Kita temenan sampai SMP. Pas SMA dia pindah keluar kota,” jelas Ofelia tampak lebih tenang saat ini. Setelah memberi penjelasan itu tiba-tiba Ofelia tertawa. Dia teringat pada cerita Shayne soal pertemuan kembali laki-laki itu dengan Megan sampai bisa pacaran dan kini sudah bertunangan. Daryl memerhatikan Ofelia yang bersikap aneh sebelum bertanya. “Apa yang lo ketawain, Fe?” Ofelia berusaha menahan tawa yang jika diteruskan akan berubah menjadi tangis. “Nggak ada apa-apa. Cuma keingat hal lucu aja,” jawabnya berusaha tenang. Dia buru-buru memalingkan wajah karena tak ingin si pakar ekspresi di sampingnya ini bisa menebak kondisi perasaannya. “Kalau kamu sama Daryl kenal karena satu kantor, Me?” tanya Shayne, menyelamatkan kecanggungan yang ada. “Iya, aku sama Daryl temen kantor. Cuma beda divisi aja,” jawab Ofelia. “Kayaknya kalian berdua lebih akrab dari yang gue kira,” ujar Daryl tiba-tiba. Ofelia dan Shayne kemudian saling pandang dengan pernyataan yang dilayangkan oleh Daryl. Tercipta keheningan selama beberapa saat sebelum kemudian Ofelia bersuara lebih dulu. “Kok, lo bisa ngomong gitu?” tanyanya bingung. “Aneh aja dengan panggilan Shayne ke elo. Trus kata ganti nama yang lo berdua gunain. Gue biasa dengar kata ganti aku-kamu itu dipakai buat orang yang benar-benar baru kenal dan orang yang terikat dalam sebuah relationship tertentu seperti pacaran,” jelas Daryl. “Itu menurut lo aja kali, Ryl,” seloroh Ofelia tak setuju dengan pendapat Daryl. “Kalau menurut lo, Shen? Kenapa nggak pakai lo gue kayak gue sama Ofelia?” Daryl melempar pertanyaan pada Shayne. “Sejak ketemu Meme lagi gue ngerasa lebih nyaman aja bicara dengan panggilan seperti itu. Memangnya kenapa, sih? Masalah banget kayaknya,” jawab Shayne tenang. “Jadi lo pernah ketemu Shayne sebelumnya? Lo juga udah sering komunikasi selama ini?” tanya Daryl entah menujukan pertanyaan itu terhadap siapa karena dia menatap Ofelia dan Shayne secara bergantian. “Iya, kenapa?” jawab Ofelia. Dia yang tadinya sudah mulai tenang kini kembali gelisah mendengar nada bicara Daryl yang tidak biasa, sekaligus tangan laki-laki itu tiba-tiba mencengkram pahanya. Perbuatan Daryl tersebut membuat Ofelia refleks menoleh pada laki-laki di sebelahnya itu. Ofelia dapat melihat jelas rahang kokoh Daryl tiba-tiba mengetat seperti sedang menahan sebuah emosi. Namun Ofelia tidak bisa menebak emosi seperti apa yang kini tengah dirasakan oleh Daryl hingga menunjukkan sikap yang tidak biasa. “Kamu udah berapa lama kenal Daryl, Me?” tanya Shayne menenangkan suasana yang mulai menegang gara-gara pertanyaan bernada bicara cukup tinggi dari Daryl. “Hampir tiga tahun,” seloroh Daryl meski pertanyaan itu bukan ditujukan padanya. “Lama juga ya,” komentar Shayne seolah tidak terganggu pada sikap skeptis yang ditunjukkan oleh Daryl. “Tapi lo nggak ada cerita apa-apa soal Meme ke gue, Ryl?” balas Shayne dengan nada menyindir. “Siapa elo?” balas Daryl ketus. Ofelia mulai merasakan ketegangan bukan hanya terjadi dalam dirinya melainkan juga pada diri Daryl dan Shayne. Namun ia tidak cukup bisa memahami keadaan yang membuat terjadinya kondisi tidak menyenangkan ini. Sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel dari arah pintu unit apartemen Daryl. “Biar gue aja yang buka,” ucap Shayne lalu berdiri dan melangkah lebar menuju ke arah pintu. Terdengar suara seorang perempuan menyapa Shayne yang Ofelia tebak adalah Mama Daryl. Mendengar suara lain memenuhi unit apartemennya membuat Daryl menarik tangannya dari paha Ofelia. Buru-buru Ofelia mengambil kesempatan itu untuk berpindah tempat duduk sejauhnya dari Daryl. Sementara itu Daryl meraih sebuah kaleng soda, membukanya lalu memberikannya pada Ofelia. “Thank You,” jawab Ofelia. Daryl juga membuka tutup salah satu toples camilan berisi coklat kemasan kesukaan Ofelia. Lagi-lagi dia membuka bungkusnya lalu memberikan isinya kepada Ofelia tanpa berkata-kata. Bertepatan dengan itu Shayne sudah kembali ke tempat mereka dan terang-terangan menunjukkan ekspresi jengah pada pemandangan yang baru saja dilihatnya. “Kak Ofelia is here!” Seru suara gadis dari balik punggung Shayne. “Oemji, kangen banget sama cewek independen ini!” Suara Aurelia yang cukup keras membuat Ofelia terkejut. Ditambah lagi adik perempuan Daryl itu tiba-tiba menjatuhkan diri di samping Ofelia lalu memeluknya dengan antusias. Shayne yang menyaksikan keakraban itu sempat bengong dan terdiam selama beberapa detik. “Bukannya kamu lagi ada di Paris?” tanya Ofelia setelah Aurelia melepas pelukannya. “Memangnya si kodok bule itu nggak cerita sama Kak Ofelia kalau aku udah pulang semalam?” jawab Aurelia sembari mengedikkan dagunya ke arah Daryl, lengkap dengan sebutan untuk sang kakak laki-laki tercinta. “Kata Daryl masih dua hari lagi. Dia bilang betah kamunya di sana,” jawab Ofelia sembari menahan tawa. “Dih, kesenengan dia nggak ada aku. Nggak kebagian tugas antar jemput aku ke tempat bimbel,” cibir Aurelia. Orang yang sedang mereka bicarakan refleks tertawa mendengar jawaban mendekati benar itu. Saat ini Aurelia memang sedang persiapan melanjutkan studi ke jenjang strata melalui jalur seleksi masuk universitas. Salah satu persiapan yang dijalankan oleh Aurelia adalah dengan mengikuti proses belajar di salah satu tempat bimbingan belajar. Dan Daryl mendapatkan tugas untuk mengantar dan menjemput adik kesayangannya itu. “Iyalah, soalnya kalau mesti ngantar jemput kamu ke tempat bimbel, bikin waktu seneng-senengnya sama cewek jadi berkurang,” sindir Ofelia dengan entengnya. Giliran Aurelia yang tertawa kencang. “Kak Ofelia bisa aja. Aku udah nebak alasan Daryl betah sama Kak Ofelia karena perempuan yang satu ini selain independen juga lawak banget orangnya. Tapi dia nggak mau ngakuin itu,” ucap gadis itu tanpa basa basi. Ofelia ikut tertawa, melupakan kalau kini bukan hanya ada dia dan Aurelia di sana. Ditambah lagi mereka berdua khususnya dirinya tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam unit apartemen Daryl. “Pada ngomongin apa. sih? Seru banget kayaknya?” sapa mama Daryl yang kini sudah ada di tengah-tengah mereka. Lengkap dengan papa Daryl yang sedang menanyakan keberadaan Megan pada Shayne. Dan jawaban Shayne tak ada bedanya dengan jawaban yang diberikan pada Ofelia ketika menanyakan hal yang sama. Setelah menyapa dan bercipika cipiki dengan Ofelia, Mama Daryl melanjutkan langkah untuk menyapa Daryl. “Ryl, muka kamu kenapa jadi mirip kepiting rebus gini?” ledek wanita itu sambil mencium kedua pipi anak laki-lakinya. “Nggaklah biasa aja,” jawab Daryl sembari menunjukkan senyum kikuk. “Kita langsung makan aja ya. Udah laper banget ini, kelamaan nungguinnya,” sambungnya kemudian segera beranjak dari sofa menuju ruang makan. Baru saja semua orang mengikuti langkah Daryl menuju ruang makan tiba-tiba ponsel Ofelia berdering panjang menandakan sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya. Ofelia lalu berbalik badan dan kembali ke arah tasnya. Sedangkan Daryl berhenti melangkah sembari mempersilakan semua anggota keluarganya melanjutkan langkah menuju ruang makan. Pandangannya tak putus mengarah ke Ofelia. “Ya, Bang?” sapa Ofelia. “Aline kecelakaan, Dek.” “Kecelakaan? Trus sekarang di mana?” Setelah kakak pertama Ofelia menyampaikan kondisi serta lokasi rumah sakit tempat Aline menerima pertolongan medis, Ofelia segera memanggil Daryl. “Aline, Ryl…” ucapnya panik. “Aline kenapa, Fe?” “Aline kecelakaan. Gue harus ke rumah sakit sekarang,” ujar Ofelia bergegas melangkah ke arah pintu tanpa sempat berbasa basi untuk berpamitan pada anggota keluarga Daryl. Daryl mengikuti langkah Ofelia sampai ke pintu. Dia meraih tangan gadis itu sambil berkata, “Tenang dulu. Don’t panic, oke! Sekarang lo bilang rumah sakit mana biar gue yang anter,” ujar Daryl berusaha menenangkan Ofelia. “Nggak usah, Ryl. Lo lanjut aja ngerayain ultah lo sama keluarga. Lagian gue bawa mobil sendiri ke sini. Nanti kalau gue udah tahu kondisi Aline gue pasti ngabarin lo.” “Mana kontak mobil lo! Gue nggak segila itu ngebiarin lo nyetir dalam kondisi panik kayak sekarang. Wait a minute! Gue pamitan dulu.” Daryl kembali masuk ke unit apartemennya. Sedangkan Ofelia yang sudah tak bisa lagi menunggu terus berjalan ke arah lift. Beruntung Daryl berpamitan singkat tadi pada keluarganya. Dia bahkan tak menunggu persetujuan apa pun dari keluarganya sebelum akhirnya menyusul Ofelia yang kini sedang kebingungan di depan lift. Tanpa ada yang sadar baik Daryl maupun Ofelia kalau dari pintu unit apartemen Shayne tengah menatap Daryl yang sedang mencoba menenangkan Ofelia di dalam pelukannya. ~~~ ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN