Gadis itu hanya bisa menatap sedih sang kekasih. Ia berdiri di ambang pintu dengan air mata yang mengalir. Litzi tidak bisa melihat Rex seperti itu, pria itu duduk di tepi ranjang dengan rasa sakit yang menyelimuti kehancurannya. "Kemarilah!" Suara Rex membuat Litzi mengerjap, pria itu menyadari keberadannya. Ia dengan cepat menghapus air matanya saat Rex menoleh ke arahnya. Hati Litzi terasa di tusuk, pria itu tersenyum untuk menyembunyikan kekalutannya. Aku memang tidak sepeka dirimu. Tapi... aku tahu keadaanmu yang sesungguhnya. Semua orang pun bisa melihatnya, batin Litzi. "Baby, come here!" kata Rex. Litzi pun masuk dengan di ekori seorang pelayan wanita. Rex mengernyit, ia pikir Litzi sendiri. Pelayan itu tampak membawakan menu sarapan. Litzi meminta pelayan itu meletakannya di

