Pelukan Nyaman

1159 Kata
Aku masih harus dirawat karena kondisi kakiku yang masih butuh penanganan. Lagipula aku juga butuh istirahat dan ada alasan khusus untuk tidak pergi bekerja. Aku belum siap untuk bertemu dengan Aksa di perusahaan. Meskipun beda divisi dan beda lantai, tetap saja kemungkinan bertemu itu pasti ada. Siang itu aku baru saja selesai makan, perawat sudah mengganti perban di kakiku. Aku melihat Raka datang kembali. Kali ini dia tidak memakai seragam sekolah. Dia memakai kemeja lengan pendek dalaman kaos putih polos dengan celana jeans berwarna gelap. Tampilan rambutnya segar dan lebih terlihat dewasa dari yang kemarin. “Mbak Rena!” sapanya ceria. Dia tersenyum lebar dan duduk di samping ranjang pasien. “Aku sudah nemu HP Mbak di lost and found supermarket. Awalnya pegawai supermarket tidak mau ngasih. Tapi pas aku lihatin foto Mbak di HP ku, dia baru ngasih.” Aku tersenyum tipis, lega sekaligus kaget. “Memangnya kamu sempat kepikiran fotoin aku?” tanyaku penasaran. “Hee-em. Semalam aku fotoin Mbak sebelum sadar.” Raka menyodorkan HP-ku. Kuperiksa layar ponsel masih 40% baterai, dan sudah menumpuk notif WA dan panggilan tidak terjawab. “Terimakasih banyak ya.” “Sama-sama Mbak. Oh ya aku tadi tanya ke dokter. Kalau sore ini Mbak udah bisa pulang dan lanjut rawat jalan. Aku sudah siapin mobil untuk mengantar Mbak pulang ke rumah.” “Siapa yang nyetir?” tanyaku khawatir. “Tentu saja aku Mbak. Mbak tenang aja, aman pokoknya. Aku udah punya SIM. Kejadian kemarin kan itu karena dua-duanya salah Mbak. Aku yang tidak waspada, Mbak pun yang jatuh kepeleset.” “Kamu yakin aman?” tanyaku dengan rasa trauma. “Aman, tenang aja Mbak. Hari ini cerah, jalan kering. SIM A resmi, aku bisa mengebut aman. Lagipula aku tidak mau mengecewakan Mama yang udah mau buatin aku soto ayam.” Ibuku nimbrung dari kursi, dia terlihat antusias. "Iya Ren, percaya aja sama Raka! Mama yakin aman. Malah bisa bonding di mobil, cerita-cerita. Nak, nanti mampir rumah ya? Mama siapin es kelapa muda dingin!" Matanya kedip nakal lagi, mode ship nyala maksimal. Aku menghela napas pelan, masih ragu tapi melihat keyakinan di mata Raka—bukan anak SMA nekat, tapi pemuda tanggung jawab yang beneran memikirkan keselamatan. "Oke deh, percaya. Tapi pelan-pelan ya, jangan ngebut meski katanya bisa aman." Senyumku tipis, trauma malam itu mulai pudar diganti rasa aman aneh dari kebaikan dia. Raka mengangguk tegas, senyum lebar penuh janji. "Siap, Mbak! Maksimal 50 km/jam, janji. " Dia bangkit, geser tasnya. "Sore jam 4 ya, aku balik lagi. Sekarang istirahat dulu!” * Sore itu jam 4 tepat, Raka kembali seperti janji—masuk kamar dengan senyum lebar, bawa tongkat penyangga dari dokter dan tas ibuku. "Siap pulang, Mbak Rena? Mobil udah parkir deket pintu darurat, biar gampang." Ibuku langsung heboh, peluk Raka lagi sebelum kami berangkat. Aku mencoba berdiri pelan, tapi kaki kiri masih lemas. Raka langsung maju, lengannya yang panjang dan kekar melingkar pinggangku dengan hati-hati—mengangkat sebagian berat tubuhku seperti mengangkat seonggok kapas. Aku baru sadar kalau dia tinggi banget, mungkin 185 cm, badannya atletis dan gagah meski masih 19 tahun. Lengan dan jarinya besar, urat menonjol saat memapah, kontras sama tubuhku yang kecil dan rapuh. Genggamannya kuat tapi lembut, bau sabun segar campur parfum ringan bikin merasa aman—seperti terlindungi benteng hidup. Sesaat pikiran liar muncul. 'Andai saja Raka bukan anak SMA kemarin... pasti nyaman punya cowok kayak gini. "Tenang, Mbak. Pegang bahuku kalau sakit," bisiknya pelan di telinga, napasnya hangat. Kami jalan pelan ke lift, tangannya tak lepas sampai mobil hitamnya. Di mobil, dia buka pintu kursi depan, bantu duduk sambil pasang seatbelt. "Nyaman? AC dingin nggak?" tanyanya perhatian, engine nyala pelan—benar aman, 40 km/jam max seperti janji. Aku mengangguk, pipi panas. "Oke, aman.” Hati berdegup aneh, campur syukur dan sesuatu yang baru. Mobil melaju pelan di jalan sore yang cerah. Raka mengendarai mobilnya dengan tenang. Aku melamun sambil memperhatikan jalan. Aku tidak banyak bertanya soal Raka. Sepertinya dia anak orang kaya. Mana mungkin anak SMA sudah memiliki mobil. Sementara aku seusianya belum mampu membeli mobil. Memang sih bisa membeli sistem cicilan. Tetapi aku memiliki prinsip menabung lebih dulu untuk membeli mobil langsung tanpa kredit. Jauh lebih tenang tanpa dikejar cicilan jatuh tempo. Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah sederhana kami. Raka membantu memapahku sampai ke dalam rumah. Lengan panjangnya kekar melingkar di pinggangku lagi, mengangkat tubuhku seperti tidak susah. Saat berada di rangkulannya, samar aku mencium aroma tubuh Raka yang wangi. Campuran sabun mandi segar, parfum ringan maskulin, dan sedikit keringat halus. Wanginya membuatku berimajinasi liar. Bayang lengannya memeluk lebih erat, napasnya di leher, sentuhan tangannya yang kekar di kulitku yang selama 3 tahun menikah tidak pernah disentuh beneran. “Tenang Mbak, pelan-pelan aja,” bisiknya pelan. Napasnya hangat dekat telingaku membuat pipiku merona merah. Selama menikah dengan Aksa, memang cukup dihitung dengan jari berapa kali aku bermesraan dengan Aksa. Dua tahun long distance marriage, dia kuliah S2 di luar negeri sambil bekerja. Setahun di Indonesia kami benar-benar tidak bisa berhubungan suami istri. Aku memiliki sindrom vaginismus, merasa takut ketika Aksa hendak melakukannya. Maka dari itu aku beralasan meminta waktu selama dua tahun untuk bisa memiliki anak sambil terapi mengatasi sindromku. Raka mengantarkanku ke kamar. Sementara Ibu, dia langsung sibuk di dapur. Sebenarnya kamar ini masih belum tertata rapi, koper masih berjejer di depan lemari. Aku belum sempat merapikan setelah proses sidang cerai selesai. Aku memang sudah memiliki rumah dengan Aksa, tetapi setelah bercerai rumah itu dalam proses dilelang sebagai harta gono gini. “Istirahat dulu Mbak, sepertinya Mama lagi masak soto di dapur,” katanya pelan. Mata cokelatnya menyisiri sekeliling kamar tanpa komentar banyak. Sepertinya dia paham dengan kekacauan hidupku sekarang. Aroma wanginya masih menempel di bajuku, membuat imajinasi liar tadi susah hilang. Dia tinggi kekar sangat kontras dengan kamar sempitku. Orang tidak akan mengira kalau dia adalah anak berusia 19 tahun. “Oh ya, aku boleh tanya nggak?” tanyaku ingin mengenal Raka lebih dekat. “Tanya apa aja aku jawab.” Suaranya tenang, aroma wanginya masih menyelimuti ruang sempit ini, membuat pipiku panas lagi. “Kamu sudah punya pacar belum?” tanyaku liar. Raka terkejut sejenak. Matanya melebar karena terkejut tapi dengan cepat ia tersenyum tipis malu-malu. Dia menggaruk leher panjangnya yang kekar. “Pacar? Belum ada Mbak. Fokus lulus SMA dulu sama les privat anak SD buat nabung kuliah. Cewek SMA pada ribet, pacaran bentar doang.” Suaranya tenang tapi ada nada gugup, mata cokelatnya menatap aku langsung, penuh kejujuran dewasa. “Kamu les privat anak SD, kok bisa? Ayahmu punya mobil berarti orang kaya. Mana mungkin tidak sanggup biayain kuliah kamu.” Aku menjawab heran. Raka menarik napas dalam dan panjang. “Itu mobil milik keluarga Papaku. Aku bukan orang kaya Mbak. Kalau aku orang kaya, mungkin aku tidak khawatir dengan biaya pendidikanku.” Aku tercengang mendengar jawabannya. Namun setelah itu aku mengucap hal yang tidak terduga. “Aku sanggup biayain kuliahmu Raka. Asal kamu ada di sisiku.” Meski itu hanya terucap dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN