"Dwi nggak mau bobok? Matanya sudah merah. Pasti ngantuk. Gimana kalau bobok sama Papa, Nak?" Gandhi berujar lembut.
Arah pandang tertuju ke sosok buah hati kecilnya yang tengah digendong. Senyum manis dipamerkan oleh Dwiga, sebabkan tawa Gandhi pun jadi terlolos. Ia gemas.
"Pasti Dwi nggak mah bobok sama Papa lagi, ya? Pengin sama Mama saja, Nak? Papa tahu. Tapi, Mama masih ajak Triga."
Sang istri sedang menyusui putra bungsu mereka. Gandhi pun mendapatkan tugas menggendong Dwiga yang masih belum mau tertidur. Buah hatinya menunjukkan keantengan, tak mengeluarkan rengekan.
Tentu faktor yang menyebabkan adalah sudah kenyang minum ASI. Otomatis pula kerewelan tidak diperlihatkan dan begitu merasa nyaman berada dalam gendongan.
Gandhi sudah pasti jadi lebih tenang. Ia tak perlu khawatir jika buah hatinya sampai menangis. Tidak akan terjadi. Namun, ada satu hal yang mengusiknya, yakni minim kemampuan membuat sang putra tertidur.
"Dwi mau nunggu Mama dulu, baru bobok, ya? Benaran nggak mau sama Papa saja bobok, Nak?" Gandhi memulai monolog lagi dalam suara yang dibuatnya kian riang.
Gandhi telah coba beberapa kali melakukan, tetapi ia selalu gagal. Beragam cara sudah coba diterapkannya. Misalkan saja seperti bersenandung kecil seraya menepuk-nepuk halus p****t Dwiga. Nyatanya, tak pernah sukses. Hanya istrinya yang bisa meniduri.
Kontras memang dengan Triga, buah hati bungsu mereka sangat mudah dibuatnya terlelap. Walau, hanya diberikan pelukan hangat, tanpa ada embel-embel bernyanyi.
Gandhi pun menarik kesimpulan konyol bahwa dirinya tak bisa membuat Dwiga merasa nyaman dengannya. Meski begitu, ia pasti akan menemukan cara yang paling tepat suatu hari nanti. Dan, akan berhasil.
"Aduh ada yang nguap besar. Dwi tambah ngantuk ini. Tapi, nggak mau bobok juga sama Papa." Gandhi meluncurkan kalimat pengentaraannya sembari tertawa pelan.
"Coba Dwi kasih tahu Papa harus gimana biar Dwi mau bobok sama Papa, Sayang? Papa selalu nggak bisa buat Dwi bobok."
"Papa jadi penasaran harus pakai lagu apa supaya Dwi bisa boboknya yang cep--"
"Topih sayah bundarrr."
Gandhi segera menolehkan kepala ke sosok Ghesa yang sedang duduk di sisi kirinya, yakni tepat setelah dengar celotehan sang buah hati memotong ucapannya. Ia pun tampakkan ekspresi wajah bingung.
Gandhi tidak bisa memahami maksud dari kata-kata sang putri. Seperti sebuah kode. Bukan sekadar kalimat biasa. Ia yakin tak salah menduga. Tentu harus cepat ditanya ulang agar memperoleh jawaban pasti.
"Topi saya bundar? Apa itu, Nak? Ghesa coba kasih tahu ke Papa apa maksudnya, ya."
Hanya dua detik setelah selesaikan ucapan, maka Gandhi mendapatkan respons dari sang putri yang berupa anggukan. Ia pun putuskan memusatkan atensi kembali pada sosok balita perempuan itu. Tentu tadi, telah memastikan jika Dwiga masih anteng dan nyaman berada di dalam gendongannya.
"Agu, Papahh. Agu agus. Anyih...anyihh."
Seketika kerutan di dahi Gandhi muncul banyak. Kepala juga jadi pusing. Semuanya diakibatkan tak dapat memahami kata-kata baru selesai dilontarkan sang buah hati.
Gandhi tak akan mungkin menyalahkan putrinya berbicara dengan gaya masih cadel. Justru kemampuannya dalam mengerti yang payah. Ia belum terbiasa. Terlebih, memang tidak sesering sang istri mengajak buah hatinya mengobrol. Wajar jika kurang bisa memahami secara cepat. Harus dipikirkan ulang olehnya guna menemukan jawaban.
"Aguuu, Papaahhh. Anyihh...Anyihh."
Gandhi spontan diam. Tidak tahu ia harus bagaimana menanggapi permintaan sang putri yang sungguh belum mampu untuk dipahami hingga detik ini. Namun, tak mungkin hanya dirinya diam saja.
Gandhi memutuskan anggukan kepala, tanda jika ia akan mengiyakan keinginan sang putri. Tepat sedetik selepas diberikan respons. Maka, buah hatinya melebarkan senyuman. Gandhi pun senang melihatnya.
"Anyih, Papahh. Anyihh."
Seketika pula, ekspresi kebingungan pada wajah Gandhi jadi bertambah karena sang putri yang loloskan celotehan dengan penuh semangat sembari bertepuk tangan riuh. Berdampak juga untuk putranya yang ada di dalam gendongan jadi sedikit terkejut.
"Anyih apa, Nak? Mau apa Ghesa? Maaf, Papa belum mengerti maunya Ghesa apa."
"Hahahaha."
Mendengar tawa sang istri yang lumayan kencang, maka Gandhi segera memutuskan memandang wanita itu yang tengah berjalan mendekat menuju ke sofa, di mana dirinya dan dua buah hati mereka sedang berada.
Saat, sang istri sudah berdiri di depannya guna mengambil Dwiga, Gandhi biarkan saja. Yang masih menjadi pusat perhatian, tentu tawa ejekan sang istri. Belum juga ada tanda-tanda akan dihilangkan oleh wanita itu. Gandhi bukan tak suka, hanya merasa sedikit kesal karena didapatkan saat tengah dilanda kebingungan hadapi putri mereka.
"Papahhh."
Gandhi spontan menepuk jidat, setelah dengar Ghesa memanggil manja sembari mengguncang-guncang lengan kanannya. Ia pun cepat memusatkan pandangan ke sosok manis putri sulungnya. Diukir senyuman yang cukup lebar dengan rasa sedikit takut. Khawatir saja tak bisa memahami celotehan nantinya dikeluarkan oleh sang buah hati.
"Papahhh. Anyih, ayo. Anyihh."
Kembali, Gandhi mengusap-usap bagian kening yang tak gatal. Ucapan belum dapat dipahami lagi-lagi dilontarkan oleh putri manisnya. Bahkan kali ini dengan ekspresi seperti tengah sebal. Ditambah kembungan kedua pipi yang juga dipamerkan Ghesa.
"Anyih itu apa, Sayang? Papa nggak dapat mengerti sama ucapannya, Nak. Bisa je--"
Gandhi tak lanjutkan perkataannya karena terganggu dengan tawa ejekan sang istri yang belum mereda. Dipindahkan tatapan ke sosok wanita itu dalam sorot kesal.
"Bisa tolong berhenti menertawakan Papa, Ma? Kayaknya nggak ada yang lucu," ujar Gandhi dengan penekan di setiap kata.
"Papa katanya hebat. Masa nggak bisa peka dan mengerti sama keinginan putri cantik kita. Padahal, mudah, Pa. Tapi, kayaknya Papa berpikir keras. Mama jadi ketawa."
…………………………………………………………
Dua bayi kembarnya memang sudah jarang bangun tengah malam minta menyusui, tak berarti membuat tidur Wina lantas nyenyak. Terkadang ia akan terjaga secara tiba-tiba.
Seperti telah menjadi kebiasaan terbangun saat dini hari, yakni tepat pukul dua. Ia akan kesulitan kembali tidur. Sepasang matanya tidak mau dengan mudah dipejamkan.
Guna memancing rasa kantuknya, Wina memilih membaca buku di ruang tamu. Tentu setelah, ia dapat memastikan ketiga buah hatinya sudah tertidur dengan lelap, tak akan bangun hingga pagi datang.
Dan, hampir satu jam Wina menikmati kegiatan membaca. Telah sebanyak 50 isi halaman buku tentang parenting dilewati. Ia mendapatkan ilmu baru yang akan dirinya terapkan di hari-hari kedepan, yakni dalam mendidik dan merawat anak-anaknya.
"Mama...,"
Keterkesiapan langsung melanda diri Wina karena panggilan yang tertangkap oleh dua gendang telinganya bersamaan dengan juga diperoleh sentuhan pada bagian bahu kiri.
Tubuh pun sempat menegang. Namun, coba cepat dienyahkan. Pengaturan napas turut dilakukan. Hanya beberapa detik saja telah didapatkan ketenangannnya kembali. Lalu, diarahkan pandangan ke sang suami.
Ya, sosok yang memanggil tadi adalah ayah dari ketiga buah hatinya. Wina pun tidak menyangka bahwa sang suami akan ikut terjaga. Jadi, ia harus lekas mengonfirmasi.
"Papa kenapa bangun jam segini?" Refleks diloloskan kalimat tanya dengan penasaran.
"Karena Mama nggak ada di kamar Papa lihat. Papa mau tahu ke mana Mama pergi."
Wina tetap anggukan kepala tanda bahwa ia mengerti dengan penjelasan sang suami. Padahal, balasan pria itu tak cukup relevan bagi dirinya. Namun, ia malas menanyakan lebih lanjut. Lagipula, tak ada manfaat.
Kemudian, fokus pandangan dialihkan ke meja. Tepatnya pada cangkir teh yang baru diletakkan oleh sang suami di hadapannya. Seketika pula, alis kanan Wina terangkat.
Sebuah kesimpulan sederhana, tercipta di dalam kepalanya. Membuat perasaan Wina pun turut tersentuh. Perlakuan sang suami yang seperti ini sukses membuatnya haru.
"Papa bikin teh untuk Mama?" tanyanya dalam nada lembut seraya memandang ke arah sang suami dengan sorot hangatnya.
"Iya dong, Ma. Memang buat siapa lagi selain Mama? Ayo dicoba dulu, mumpung panas."
Wina lekas mengangguk. Sebanyak dua kali saja. Kemudian, ia melakukan seperti apa yang disarankan sang suami, meminum teh. Diambil dengan cepat cangkir di atas meja.
Dalam hitungan detik, sudah diseruputnya. Wina tambah naikkan kedua ujung bibir, membentuk senyuman yang lebih lebar lagi. Tentu, dipamerkan kepada sang suami. Mata mereka berdua sedang saling bersitatap.
"Teh yang kamu buat enak, Pa. Ya, nggak terlalu manis. Pas di lidah. Mama suka," ujar Wina dengan suara kian lembut memberi penilaiannya paling jujur, tanpa berlebihan.
"Benarkah? Sengaja memang Papa buat teh yang kurang manis. Papa kira kalau Mama lihat Papa. Akan jadi tambah manis tehnya."
Tawa Wina seketika lolos dengan lumayan kencang akibat jawaban dilontarkan sang suami begitu percaya dirinya. Ia paham jika pria itu tak sedang serius, hanya berusaha menghibur dan berguyon. Tentu saja, sang suami telah sukses membuatnya tergelak.
"Hahaha. Nggak ya, Pa. Siapa bilang teh tadi semakin manis cuma karena Mama minum sambil lihat Papa? Nggak ada kayak gitu."
Wina menambah sunggingan senyuman hangat di wajah seraya melekatkan tatapan ke sosok sang suami. "Tapi, makasih banyak Papa sudah buatkan Mama teh. Papa jadi makin ganteng dan manis," pujinya tulus.
Sang suami pun ikut luncurkan tawa sama sepertinya. Ekspresi gembira yang pria itu perlihatkan membuatnya senang melihat. Wina pun merasa bangga karena sudah sukses membalas dengan candaan yang tak kalah lucu hingga suaminya jadi tergelak.
"Astaga, muka Papa merah. Pasti Papa suka banget dipuji manis sama Mama, ya? Kedua pipi Papa merah gitu. Hahaha. Mama gemas ini, Pa. Boleh Mama cubit nggak pipi Papa?"
Wina meluncurkan kalimatnya dalam nada guyon, namun ia sungguh ingin melakukan seperti apa yang dirinya ucapkan. Tentu, menunggu reaksi dari sang suami terlebih dahulu. Belum diberikan respons apa pun. Ingin kembali menggoda sang suami. Seru saja sampai membuat pria itu tidak dapat membalas dengan kata-kata candaan balik.
"Papa kenapa nggak jawab? Mama tanya Papa tadi. Mau tahu apa tebakannya Mama benar atau nggak. Tapi, Papa malah diam aja. Papa masih malu, ya? Mukanya Papa tambah kelihatan merah." Wina berucap santai. Kekehan tawa renyah melengkapi.
"Hahaha. Mama pintar banget mancing Papa dari tadi. Maunya Mama apa coba? Senang sudah berhasil mengerjai dan membuat Papa jadi malu? Oke, Mama sudah berhasil. Apa ada lagi yang mau Mama lakukan?"
Wina menggeleng cepat. Tawa pun masih belum bisa diredam. Namun, sudah mulai dapat dikurangi volumenya. Kemudian, ia berikan pelukan pada sang suami. Tak lupa juga kecupan di dahi pria itu. Dilanjutkan ke pipi kanan dan kiri. Berakhir di bibir.
………………………………
"Papa mau bobo, yahh?" Ghesa bertanya dengan polos dan semakin lekat pandangi sang ayah yang tengah mainkan ayunan didudukinya. Balita itu memasang raut wajah serius.
"Belum, Nak. Nanti Papa baru bobo. Ghesa mau temani Papa tidur tidak?" Gandhi selipkan canda dalam jawabannya.
Kala, tangkap gelengan kepala dilakukan secara cepat oleh sang putri, beberapa kali. Maka, Gandhi tak merasa cukup puas. Ingin dengar buah hatinya berkata. "Kenapa tidak, Nak?"
"Ghesa mau main ayunan, Papaa. Gak mau bobo sama Papa. Ghesa gak ngantuk. Papa bobo sama Mama, yah?"
Gandhi spontan keluarkan kekehan tawa dengar sang putri melontarkan jawaban yang baginya menggelitik. Turut lucu juga karena dialunkan dengan nada polos. Tatapan lugu yang dipancarkan sepasang mata beriris hitam milik sang buah hati jadi membuat Gandhi kian gemas. Hilang sudah kantuknya.
"Papa bobo sendiri saja nanti, Nak. Mama nggak dapat temani Papa tidur. Mama lagi sibuk, Sayang. Tidak bisa," jawab pria itu dengan gaya bicara yang sedikit dibuat sedih, sengaja.
"Mama sibuk apa, Papa?" Ghesa masih bertanya dalam nada suara yang polos. Begitu juga ekspresi dan juga tatapannya.
"Mama sibuk jaga dan urus adik-adik kembar, Nak. Mama nggak punya waktu menemani Papa bobok." Gandhi menjelaskan.
"Papa harus bobok sendiri. Tapi, Papa nggak suka. Papa mau ditemani Kak Ghesa bobok. Apa Kak Ghesa mau, Nak?"
Ghesa pun lekas menggeleng. "Papa panggil Kak Ghesa? Gak Ghesa Cantik?" tanya balita itu dengan rasa penasaran tinggi.
"Iya, Nak. Mulai sekarang akan Papa panggil Kak Ghesa karena Kak Ghesa sudah punya dua adik. Harus dipanggil kakak."
Kepala cepat dianggukkan, beberapa kali. Tanda bahwa balita itu sudah mengerti jawaban sang ayah. "Iyah, Papa. Kakak."
"Adek Dwi sama Dek Tiga panggil Kak Ghesa, yahh?"
Kali ini, Gandhi yang perlihatkan anggukan segera seraya terus pandangi wajah manis putrinya. "Betul, Nak. Kalau Adik Dwiga dan Adik Triga sudah bisa ngomong, harus panggilnya Kakak Ghesa nanti," jelas Gandhi dengan suara kian dilembutkan.
"Kakak Ghesa yang cantik," imbuh pra itu dalam nada riang.
Dan kala sedetik kemudian, melihat respons yang ditunjukkan oleh sang putri berupa anggukan kepala serta senyuman manis. Gandhi sudah pasti menyukai, merasa dihibur juga tentunya.
"Kakak Ghesa cantik, Papa? Cantik kayak Mama, yah?"
Gandhi pun dengan mantap mengangguk sembari meloloskan tawa. Kemudian, diusap-usap halus rambut sang putri. "Betul, Nak. Betul sekali. Kakak Ghesa memang cantik kayak Mama."
"Kalau Papa ganteng kayak Adik Dwiga sama Adik Triga," lanjut Gandhi dalam suara yang cukup bangga dan juga senang.
Kemudian, tawanya mengeras karena mendengar sang putri tergelak. Otomatis, Gandhi mengikuti. Namun, tidak mengerti alasan buah hatinya tertawa secara tiba-tiba, 10 detik lalu.
"Papa gak ganteng. Adik Dwi sama Adik Tri baru ganteng. Hahahaha. Papa gak ganteng."
Seketika, Gandhi memasang muka masam. Lumayan terkesiap akan perkataan sang buah hati. Sama sekali, tak menyangka jika anak sulungnya akan bisa memberi penilaian demikian.
"Papa nggak ganteng, ya? Kakak Ghesa kenapa bilang Papa ini nggak ganteng, Nak?" Gandhi bertanya dengan rasa ingin tahu dan penasaran yang cukup tinggi. Berupaya mengonfirmasi.
"Iyahh, Papaaa. Gak ganteng, Papa. Jelek, Papa. Jelekkk!" Ghesa serukan ejekannya.
Balita perempuan itu lantas memeletkan lidah beberapa kali. Dilanjutkan pamerkan senyuman yang semakin lebar. Membuat Ghesa tambah terlihat menggemaskan bagi sang ayah. Ingin sekali mencubit kedua pipi balita itu. Namun, tak segera dilakukan.
"Papa gak ganteng. Wekkk!"
Kekehan tawa Gandhi pun kembali terlolos karena ejekan dari sang buah hati. Jelas tidak akan tersinggung sedikit pun. Justu, ia sudah sangat berhasil dihibur lagi oleh kelakuan putri kecilnya. Kegemasan juga jadi semakin besar. Masih ada niatan untuk mencubit. Tetapi, urung juga dilaksanakan. Takut saja, sang buah hati akan tak suka.
"Papa jelek, Nak? Jadi, Papa nggak ganteng atau jelek? Mana yang benar, Kakak Ghesa?" Gandhi lontarkan guyonannya.
"Papaaa jelekkk! Papa gak gantenggg! Hahahaha."
Tawa Gandhi mengeras akibat kalimat ejekan yang diucapkan untuk sekian kali oleh sang buah hati. "Oke, Nak. Papa jelek."
"Yang ganteng cuma boleh Adik Dwi dan Adik Tri punya Kakak Ghesa. Nah, Papa ada pertanyaan buat Kakak Ghesa. Bisa nggak nanti Kakak Ghesa jawab, Nak?" Gandhi pun bertanya dengan ekspresi sengaja serius.
"Papa mau nanya apa sama Ghesa?"
Gandhi pun mengangguk dengan ringan. Ia lantas menaruh tangan kanan pada kepala sang putri. Dilakukan usapan-usapan halus sembari menarik kedua ujung bibir untuk membentuk senyuman yang lebih lebar. Ia tentu, sudah disusunnya deretan kalimat tanya juga di dalam kepala. Tinggal diucap.
"Adik Triga sama Adik Dwi ganteng nggak, Nak? Pasti ganteng adik-adik Kakak Ghesa?"
"Yahhh, Papa. Ganteng Adek Dwi, Adek Tri."
Gandhi melebarkan senyuman bersamaan dengan kepala yang dianggukkan. "Siapa Papa dari Adik Dwi dan Adik Triga, Nak?"
"Papaaaa!"
Kekehan tawa Gandhi mengeras, selepas dengar seruan sang putri. Kepala pun lagi diangguk-anggukan. "Nah, Papa juga harus ganteng kayak Adik Dwi sama Adik Triga karena Papa adalah adik-adik dari Kakak Ghesa. Sudah paham nggak, Sayang?"
"Yahhh, Papaaa. Paham. Hahaha."
……………………………………………………………………………………
Ghesa masih berada di halaman belakang. Kali ini, bermain perosotan. Ayah dan ibunya juga tetap mengawasi, kedua adik laki-lakinya pun ikut diajak. Dwiga sedang digendong sang ibu. Sedangkan, Triga bersama dengan ayahnya. Duo bayi kembar anteng. Senang akan suasana sejuk di halaman belakang. Angin pun sepoi-sepoi.
Memang, cuaca tengah cukup bagus. Panas matahari pun tak terlalu terik, di siang hari ini. Angin turut berembus sesekali juga. Menambah sejuk. Tak seperti kemarin yang mendung dan turun hujan rintik-rintik, kondisi alam yang kurang bersahabat.
"Mamaaa! Papaaa!"
Selesai memanggil dengan seruan lantang, maka Ghesa cepat berlari menuju bangku ditempati oleh kedua orangtuanya. Tentu adik-adik kembar kesayangan dari balita perempuan itu juga ada di sana, masih duduk nyaman di atas pangkuan ibu dan ayahnya. Sama-sama kompak untuk tidak merengek. Begitu antengnya sejak tadi.
"Mamaaa! Papaaa!" Ghesa berseru kembali dalam intonasi tetap keras, tepat setelah berdiri di hadapan kedua orantuanya.
"Iya. Kenapa, Sayang?"
Mendengar sahutan cepat dari sang ibu, maka Ghesa segera menambah lebaran sunggingan senyum sembari memandangi lekat ibunya. "Mama, Kak Ghesa mau main sama Adek Dwi," pinta balita itu manja.
"Main sama Adik Dwi, ya? Mainan apa yang mau Kakak Ghesa lakukan, Sayang?"
Sedetik selepas, sang ibu selesai bertanya, Ghesa pun lekas arahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah ayunan. "Main itu, Mama," jawab Ghesa dengan antusias. "Main sama Adek Dwi," lanjut balita perempuan itu, semakin bersemangat.
"Maaf, Sayang. Adik Dwi belum boleh main ayunan. Kalau Adik Dwi dan Adik Tri sudah lebih gede, baru boleh main, yah."
Ghesa hanya mengangguk sekali. "Kenapa nggak boleh ajak Adek Dwi sama Dek Tri main ayunan, Mama?" tanyanya, lalu.
"Adik Dwi belum boleh main ayunan sama Kakak Ghesa karena Adik Dwi masih kecil, Nak. Kakak Ghesa juga belum bisa erat pegang Adik Dwi. Nanti bisa jatuh waktu main ayunannya. Kakak Ghesa mengerti apa yang Mama jelaskan ini nggak, Sayang?"
Kembali, Ghesa mengangguk. Tanda bahwa balita perempuan itu sudah mengerti akan penjelasan dari sang ayah. "Adek Dwi sama Dek Tri nggak boleh jatuh. Bisa nangis dan sakit nanti Dek Tri sama Adek Dwi." Ghesa bergumam dengan suara yang lebih pelan.
"Benar, Sayang. Nanti kedua adik ganteng Kakak Ghesa bisa jatuh. Karena, Adik Dwi sama Adik Tri belum bisa duduk dengan baik. Kakak Ghesa sudah paham pasti sama ucapan Mama, ya? Mama yakin sudah."
Ghesa pun lekas menganggukkan kepalanya sembari mengulum senyuman kian manis. Dipandang sang ibu dengan tatapan sayang. Sudah mengerti akan pesan disampaikan untuknya. Tak ada raut kekecewaan tampak.
Dan, akan senang hati Ghesa menuruti. Tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh sang ibu. "Iyahhh, Mamaa. Okee."
"Kakak Ghesa nggak ajak Adek Dwi sama Adek Tri main ayunan sekarang, Mama. Harus gede Adek Swi sama Adek Tri dulu."
Wina mengangguk cepat guna menanggapi jawaban sang buah hati yang menurutnya manis. Apalagi, gaya Ghesa berbicara tadi. Membuat Wina jadi semakin merasakan gemas. Ia pun langsung daratkan kecupan manis di bagian kening putri cantiknya.
"Iya, betul, Sayang. Tunggu Adik Dwi sama Adik Tri gede dulu, ya. Baru Kakak Ghesa boleh ajak main apa saja. Bebas nanti," ujar Wina dengan nada yang tambah halus.
"Iyahh, Mamaa. Okehhh. Hahaha."
"Pintar, Sayang. Kakak Ghesa nanti bareng mainnya dulu sama Papa. Kalau dengan Mama nggak bisa, ya. Mama harus kasih dua adiknya Kakak Ghesa ASI sampai bobok."
Penjelasan yang baru selesai diutarakan, cepat mendapatkan respons dari sang buah hati berupa anggukan kepala. Senyum putri sulungnya yang dilebarkan, tak sedetikpun dilewatkan Wina. Diabadikan jelas oleh dua matanya. Sungguh, ia jadi terus gemas. Ingin berikan lagi ciuman. Namun, diurungkan.
Kemudian, perhatian Sasmita tercuri akibat melihat sang buah hati yang menggeleng kini. Ia masih yakin bahwa beberapa detik lalu, tak demikian respons diberikan putri manisnya. Wina jelas langsung diselimuti kecurigaan. Wajib baginya untuk bertanya.
"Kakak Ghesa nggak mau main sama Papa, Sayang?" tanyanya dengan nada ragu.
Dan kembali, sang buah hati menggeleng. Bahkan, ekspresi cemberut dan bibir yang dimanyunkan pun Ghesa tampakkan. Wina pun semakin penasaran. Benar-benar ingin tahu alasan sebenarnya dari sang putri.
Ghesa belum mengatakan apa-apa. Hanya memandang dirinya sembari kepala yang masih digeleng-gelengkan. Wina memilih memerlihatkan senyuman hangatnya lebih lebar seraya membalas tatapan sang putri.
"Kenapa nggak mau main sama Papa, Nak? Biasanya Kakak Ghesa tunggu Papa pulang karena mau diajak main ayunan sama juga perosotan. Kenapa sekarang nggak mau?"
"Nggakk mauuu!" Ghesa berseru dengan cukup lantang. Lalu, memeletkan lidahnya.
"Ya, kalau Ghesa nggak mau main bareng sama Papa. Nanti Ghesa berarti nggak mau juga diajak sama Papa beli es krim, ya?"
Ghesa menggeleng dengan mantap seraya memeletkan lidah. "Nggak mau, Papa."
"Sudah pilek Ghesa. Ahahaha."