06

1684 Kata
"Kamu akan menetap di Bali atau ada perjalanan bisnis lagi ke luar negeri, Na? Beberapa bulan terakhir kamu di Eropa,?" Wina cepat anggukan kepala. "Iya, Res. Hampir enam bulan aku kunjungi beberapa negara di Eropa, atas perintah Ibuku." "Masalah menetap di Bali, aku masih sangat usahakan. Aku tidak ingin pergi lagi. Suami dan juga anakku ada di sini." Wina pun menjawab dengan lirih. "Aku tidak mau meninggalkan mereka. Sama sekali, tidak akan sanggup aku melakukannya lagi." "Iya, Na. Aku ngerti sama apa yang kamu rasakan. Nggak akan mudah berpisah dengan keluarga kecilmu, terutama anak." Wina kembali mengangguk. Kali ini, dalam gerakan lemah. Tanpa terasa pelupuk matanya sudah berair. "Aku kangen banget sama Ghesa, Res. Terakhir, aku berjumpa waktu dia tiga bulan. Rasanya sudah lama." "Kemarin, aku tidak sengaja ke bar tempat Gandhi bekerja karena aku ada pertemuan dengan klien di sana. kami juga sempat ngobrol. Dia sangat sinis padaku. Gandhi membenciku sekarang. Aku sadar pantas aku diperlakukan kayak begitu sama dia." Wina menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah. Ia harus dapat menahan. "Aku minta maaf pada Gandhi. Aku bilang juga ingin bertemu dengan Ghesa. Tapi. Dia tidak mengizinkan." "Sabar, Na." Resa hanya tanggapi singkat. Sebab, bingung harus lontarkan kalimat yang bagaimana bagus pada sahabatnya. "Dia pantas bersikap begitu padaku, ya? Aku salah sudah meninggalkan dia dan Ghesa, hanya demi bisnis dan perusahaan." "Sabar, Wina. Aku kalau ada di posisi Gandhi, bakalan kesal dan marah dengan apa yang kamu lakukan. Tapi, setelah kamu jelaskan alasan tinggalkan anak sama suami kamu demi melindungi mereka juga. Aku nggak bisa nyalahin kamu, Na." Resa mengusap-usap lembut bahu teman baiknya. Ia sungguh merasa prihatin,juga iba akan masalah yang sedang dihadapi oleh Wina. "Tante Greta terlalu egois agar kamu selalu mau menuruti keinginannya. Tante Greta bahkan tega ancam kamu, Na. Aku seriusan heran. Padahal, kamu adalah anaknya sendiri. Mana mungkin seorang Ibu bisa kejam begitu, Na?" "Ibuku bisa, Res. Cuma demi pengembangan bisnis di dunia internasional. Mama akan lakukan apa saja. Mama nggak pernah peduli dengan kebahagiaanku dan juga apa mauku. Yang Mama inginkan cuma aku jadi pebisnis handal dan penerus perusahaan." "Padahal, aku nggak terlalu menginginkan semua itu. Aku nggak butuh uang yang banyak atau bisnis sukses, kalau akan buat aku menderita. Aku nggak bahagia." Air mata Wina kian turun deras bersamaan dengan rasa sakit di d**a yang semakin besar menghantam. "Kalau, misal aku nggak nurut. Mama bilang akan mengusik suamiku. Nggak mudah buatku ambil keputusan tinggalkan Ghesa yang berusia tiga bulan waktu ini. Berat. Tapi, aku harus tetap lakukan demi melindungi mereka." "Aku ikhlas menderita asalkan Mama nggak sampai menyakiti Gandhi dan Ghesa. Aku masih trauma, dulu sebelum aku menikah dengan Gandhi. Mama sempat mencari masalah. Gandhi diancam, bahkan keluar dari pekerjaan gara-gara Mama meminta ke bos Gandhi. Saat itu aku tahu Mama nggak akan main-main dengan ancaman dikasih." Wina mulai mengisak pelan, setelah selesaikan kalimatnya. Ia tak mampu menahan perih di dalam d**a yang semakin mampu meruntuhkan kekokohan dinding ketabahannya. Dan, setiap kali teringat akan sosok kecil Ghesa, Wina pasti akan seperti ini. "Aku nggak tahu harus gimana sekarang. Gandhi sudah bilang nggak akan memaafkanku. Dia juga melarangku bertemu sama Ghesa. Aku nggak sanggup menjalani hidupku dengan baik dan semangat lagi. Aku kehilangan semangat maupun harapan." Wina terus menyeka air matanya yang masih tumpah deras, ia tak bisa mengurangi. "Hiks, kenapa nasibku jelek begini?" "Apa di masa lalu aku sudah buat banyak kesalahan, sampai aku harus menanggung penderitaan yang berat begini, ya? Aku memang mesti ikhlas menerima. Tapi, tetap sulit untukku." Wina mengisak kembali bersamaan dengan rasa sesak yang kian menghantam d**a. "Hiks. Aku harus gimana sekarang, ya? Apa aku benar-benar nggak akan pernah punya kesempatan lagi memperbaiki semua?" "Aku nggak mau bercerai dengan Gandhi. Aku ingin mempertahankan pernikahanku dan dia. Aku masih sangat mencintai dia. Aku nggak mau Ghesa punya keluarga yang broken. Aku akan tambah merasa bersalah." "Pasti ada jalan keluar, Wina. Aku percaya kalau kamu nggak akan dikasih cobaan yang berat. Akan sesuai dengan ke—" "Silakan pergi dari rumah saya sekarang, Nak. Saya sudah peringatkan kamu untuk tidak menemui anak saya untuk membahas anak dia. Saya maafkan kamu sekali lagi hari ini. Jangan diulangi." Wina langsung menolehkan kepalanya ke arah sang ibu yang beberapa detik lalu, baru selesai bicara. Ia lantas bangun dari sofa guna menghampiri ibunya. Tidak terima akan sejumlah kalimat bernada kasar yang diberikan pada teman baiknya. "Mama nggak boleh mengusir Resa dari sini. Manakah kesopanan Mama sama tamu? Bukankah di kalangan kolega bisnis, Mama terkenal punya sifat yang baik dan sikap ramah. Harus bis—" PLAK! Wina tak bisa selesaikan kalimatnya karena mendapatkan tamparan keras dari sang ibu, membuat wanita itu langsung diam seribu bahasa. Tak mampu mengucapkan apa-apa untuk mencegah sang sahabat meninggalkan kediaman sang ibu, Resa pergi begitu saja. Wina pun hanya bisa melihat sahabatnya berjalan menjauh. "Jika kamu lakukan hal seperti ini lagi. Mama tidak akan segan-segan membuat kamu semakin jauh dengan anak dan suami kamu, Nak. Mama juga akan membuat mereka menderita. Ma—" "Mam kenapa nggak pernah puas menyebabkan aku jadi menderita?! Hati Mama terbuat dari apa? Sampai tega selalu buat aku sedih? Mama bukan ibu yang baik!" seru Wina sarat akan amarah. "Aku membenci Mama! Sudah hilang semua rasa sayang dan hormatku kepada Mama!" Napas Wina semakin menderu saja, ketika memandangi sosok sang ibu yang semakin nyalang. Ia tahu bahwa ucapannya sudah memberikan dampak kurang baik juga pada sang ibu. Misalkan, bertambah besar rasa amarah teruntuknya. Namun, Wina enggan mempermasalahkan. Bahkan, tidak ada niat meminta maaf karena kata-katanya yang tadi diucapkan dengan sinis. Keinginannya untuk lontarkan kalimat-kalimat lebih pedas lagi justru belum hilang. Sudah tersusun di dalam kepalanya dengan sangat rapi pula. "Mama akan mendapatkan karma karena semua perbuatan buruk yang sudah Mama lakukan kepadaku. Setiap hari, aku akan mendoakan supaya Mama cepat diberikan karma dan kesadaran dari Yang Maha Kuasa sebelum akibatnya semakin fatal nanti!" "Tutup mulutmu, Nak! Kamu tidak berhak menyumpahi Mama. Kamu harus ingat jika Mama sudah banyak berkorban dari kamu masih kecil sampai sekarang! Kamu harus bisa menghargai semua usaha Mama! Kamu tidak punya hak menghakimi Mama!" ........................................................................... Hari ini, Gandhi mendapat jatah libur. Ia pun manfaatkan untuk bangun sedikit siang dari sebelumnya, yakni pukul sembilan. Ia merasa butuh waktu tidur yang lebih lama guna memulihkan tenaga. Gandhi menyadari keadaan tubuhnya kurang sehat. "Papahpapahh. Hayooo." Mendengar panggilan manis sang putri, ketika baru saja keluar kamar. Maka, secara cepat senyuman simpul dibentuk oleh Gandhi. Sedangkan, kedua kaki yang sedang berjalan pun semakin dipercepat agar dapat mencapai buah hatinya. Bayi perempuan itu tengah duduk sendiri di atas karpet yang berada dekat dengan sofa. "Haloo juga, Ghesaa." Gandhi keluarkan kalimat balasan dalam nada riang. "Lagi main apa, Sayang?" tanyanya seraya angkat tubuh putrinya untuk digendong. Lalu, diberi kecupan manis. "Main...main..." Ghesa tak menjawab, melainkan luncurkan sepatah kata yang sukses ditangkap pada kalimat diucap ayahnya. Dialunkan dengan suara lumayan kencang, penuh semangat. Bayi berusia sebelas bulan itu pun lantas menunjuk-nunjuk boneka-bonekanya berserakan di atas karpet. Senyuman manis nan lucu terus dipamerkan pada ayahnya. Kaki dan tangan tidak henti digerak-gerakan, begitu aktif. Engan untuk diam barang satu detik. "Ghesa mau main boneka dengan Papa, Sayang?" tanya Gandhi berupaya mengartikan celotehan yang diloloskan putrinya. "Ain (main)...ainn...ainnn." Ghesa meracau kembali. Lebih semangat serta diiiringi oleh tepuk tangan yang kian antusias. "Oke, Sayang. Ayo, main boneka dengan Papa. Seharian ini akan Papa temani Ghesa main di rumah. Papa tidak pergi kerja." Selesai lontarkan kalimatnya, Gandhi pun ajak putrinya untuk duduk di atas karpet. Berada di atas pangkuan. Lalu, ia edarkan pandangan ke sejumlah mainan dan boneka milik sang buah hati. Ia merasakan sedikit keanehan saja. Terutama, ada kaitan dengan kian bertambah banyak mainan-mainan Ghesa. "Sudah lama rasanya Papa jarang belikan boneka, tapi kenapa punya delapan sekarang, Sayang? Apa Nini sama Om Prema yang belikan semua boneka-boneka, ya Nak?" Gandhi ungkap kecurigaannya lewat kata-kata bernada cukup pelan. "Ainnn... Ainnn... Ainn." Ghesa keluarkan celotehannya lagi, lebih bersemangat. Diambil boneka kuda. Lalu, diserahkan pada sang ayah. "Ainn... Ainn... Ainn," pintanya kian antusias. "Iya, Nak. Siap. Ayo, kita main boneka. Tapi, maafkan nanti kalau Papa kurang ahli, ya. Dari kecil, Papa belum pernah main boneka. Papa sukanya sama robot dan main pedang," ujar Gandhi dalam nada canda yang kental. Ia juga loloskan tawa. "Papa kurang suka boneka juga. Tapi, demi bisa buat Ghesa senang. Papa akan mau diajak main boneka, deh ya." Selesai lontarkan kalimat-kalimatnya, maka Gandhi segera saja mengambil boneka pandadan beruang, kemudian dipegang di masing-masing tangan. Gandhi sudah cukup siap memainkan. Senyuman manis yang semakin melebar ditunjukkan oleh sang putri, sangat mampu membuat dirinya bersemangat. Meski, tak suka. Gandhi sudah bertekad akan lakukan apa pun asal dapat menyenangkan hati buah hatinya. Kebahagiaan Ghesa begitu penting bagi Gandhi. Tak heran, ia rela bermain boneka. "Awas Bli, mahal itu. Harus dipakai hati-hati. Jangan sampai sobek kayak waktu ini. Baru juga dikasih sama Kak Wina." Tubuh Gandhi langsung kaku mendengar perkataan adik laki-laki bungsunya. Dibuang refleks boneka-boneka yang sedang berada di tangan-tangannya. Lalu, Gandhi menolehkan kepala ke arah Prema yang tengah berjalan menuju ke ruang tamu. "Maksudnya apa?" Gandhi hanya lontarkan dua patah kata guna mengonfirmasi. Yakin sang adik telah bisa memahami. "Bli nanya apa? Maaf masih nggakkonek. Baru bangun aku. Bli apa mau tanyakan soal mainan sama boneka dikasih sama Kak Wina? Betul, Bli?" Prema bertanya dengan nada cukup santai. "Jangan sebut nama dia di depan Bli, Dik!" Otomatis, Prema melebarkan bola mata, selepas sang kakak keluarkan seruan cukup keras. Tampak jelas pada sepasang indera penglihatan kakak sulungnya itu memancarkan amarah dan rasa benci bersamaan. Ia pun sukses menjadi bergidik. "Maaf, Bli. Nggak ada maksud apa-apa. Maaf, kalau Bli merasa nggak suka. Cuma, aku ingin bilang yang sebenarnya saja. Kak Wina yang berikan semua boneka dan mainan untuk Ghesa. Aku sendiri yang sudah menerima semua dari kurir pengirim." "Lain kali, jika ada kiriman barang lagi dari dia. Jangan diterima. Semahal apa pun harganya." Gandhi menjawab dengan suara kian dingin. Tatapan pun semakin tak bisa bersahabat. "Iya, Bli. Akan aku lakukan seperti yang Bli minta." Gandhi mengangguk pelan. "Tolong masukan sekarang semua mainan yang sudah dia kasih. Bli akan kembalikan ke rumah dia. Harus semua kamu berikan pada Bli, jangan sampai masih ada yang tertinggal. Bli akan bawa semua," pintanya dengan tegas.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN