Melamun sudah menjadi kebiasaan Marisa, sampai-sampai ia tidak menyadari dirinya telah tertinggal beberapa meter dari rekan-rekan yang lain. Baru saat berada di koridor di dekat ruang BAAK, ia menabrak da-da bidang seorang pria. Marisa tersadar dari lamunan dan segera meminta maaf dengan menundukkan kepala dan badan tanpa memandang wajah pria tersebut. Melihat rekan-rekannya sudah memasuki ruangan BAAK, ia langsung berlari menuju ruangan tersebut, lalu segera masuk. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pria yang ia tabrak memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh arti. Di ruang BAAK, mereka dipersilahkan duduk. Ternyata yang dipanggil lumayan banyak, mengingat bukan hanya anak kelas Marisa saja yang menunggak, tapi banyak siswa dari kelas dan fakultas lain. Kepala Bagian Keuangan yang terl

