Marisa menabrak d**a bidang seorang pria. Benturan itu tidak hanya membuat Marisa kaget, namun juga mengakibatkan buku-buku yang dibawanya terjatuh berhamburan di lantai koridor.
"Kalo jalan lihat-lihat, dong!” gerutu Marisa sambil cemberut kesal dan mengambil bukunya.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Marisa. Ia sedikit membungkuk karena tinggi badan mereka sangat berbeda.
“Hey, Cantik. Jangan cemberut, dong, nanti cantiknya luntur,” sapa pria yang memakai kaos olahraga tanpa lengan itu sambil tersenyum manis kepada Marisa.
Marisa memandang kesal ke arah orang tersebut dan tak menjawab. Ia malah membalas dengan memanyunkan bibir tipisnya.
“Hey Cantik, kenalan dong,” ucap pria itu sambil terus tersenyum manis.
"Sa, itu di sapa jawab, dong.” Rosa membantu membawakan buku Marisa.
"Ih, nggak minta maaf juga, ngapain aku jawab, Ros?” Marisa merasa sangat kesal.
"Maaf ya, kita permisi, Kak.” Melihat temannya kesal, Rosa menggenggam tangan Marisa dan mengajak segera pergi.
☆☆☆
"Tu cewek cantik tapi jutek, ya,” komentar Januar.
"Emang gitu, Bro, tapi aslinya baik dan asyik. Lo coba chat, dong. Nih, catet nomornya 089*****.”
Januar mengambil ponselnya dan mengetik nomor tersebut. Ia langsung mengirimkan pesan pertama.
Januar_ Hai, Cantik. Jutek banget, sih? Kenalan, dong.
Suara ponsel Marisa seketika berbunyi. Ia mengira itu pesan dari pelanggan karena nomornya baru.
"Chat dari siapa, nih? Lo kenal nggak nomor ini, Ros?” Marisa bertanya pada Rosa.
"Mana, sini lihat?” Rosa menjulurkan leher sambil melihat ponsel Marisa. Tak lama kemudian ia menggeleng. “Nggak tahu gue. Itu nomor fans lo mungkin. Abis nomor lo yang ini kan udah kesebar di kalangan cowok-cowok.”
"Ya udah gue bales dulu deh, penasaran gue orangnya siapa, siapa tahu ganteng haha.”
"Dasar lo, bagi atu napa? Gue jomlo mulu,” jawab Rosa.
"Iya ntar gue kenalin deh ke cowok-cowok biar lo punya pacar. Jangan terus-terusan betah menjomlo, entar dikira nggak normal.”
Marisa kemudian mengetik pesan balasan.
Marisa_ Maaf, ini siapa dan ada urusana apa, ya?
Januar tersenyum melihat pesannya dibalas oleh Marisa.
Januar_ Kenalin, nama Kakak Januar prasetyo. Maaf ganggu kamu, ya. Kakak cuma kepingin kenalan aja, abis kamu cantik tapi jutek hehe.
Marisa tersenyum, tak menyangka dirinya dikatai jutek lewat chat, sambil berpikir “Ni orang kayaknya asik di ajak chat.”
Marisa_ Haha maaf, Kak. Aku emang jutek kalo ke orang yang belum kenal. Mohon dimaklumi.
Januar melihat ponselnya dan tersenyum, “Ni cewek kayanya asik deh orangnya.”
Januar_ Maaf yah tadi Kakak nabrak kamu nggak sengaja, eh malah disengaja deh hehe.
Marisa_ Eh kurang asem, awas ya kalo ketemu, nggak tahu aku galak apah.
Januar_ Nggak takut, kamu kan nggak nyeremin.
Januar menambah emoji menjulurkan lidah
Januar_ "Mau aku anter nggak pulangnya nanti? Mau yah please.
Marisa_ Iya tapi jangan di culik, ya.
Januar_ Diculik ke pelaminan boleh ga? Kabarin kalo pulang, ya. Aku orang baik kok nggak bakal ngapa-ngapain kamu.
Marisa_ Oke, jam 4 sore di parkiran bawah pohon mangga aku nunggunya.
☆☆☆
Marisa mendapatkan pesan dari pacarnya, Febry.
Febry_ Sayang, aku nggak bisa anter pulang, ya. Aku ada praktik lapangan.
Marisa_ Iya Kakak, semangat, ya.
Marisa berpikir ini kesempatannya untuk mengenal Januar, mumpung Febry sedang ada acara.
Rosa menepuk pundak Marisa. “Hayo, lo mau melancarkan aksi PDKT ya, haha.”
"Ssssttt! Kok lo tahu, sih? Nggak pa-pa yah, abis penasaran. Nanti lo ikut pulang bareng, ya, takutnya ada apa-apa.”
"Oke, Say. Kayaknya kakak yang jemput lo itu yang pemain basket, ya?"
“Kok bener lagi sih, tebakannya? Iya yang itu. Manis, lucu, dan atletis. Tipe-tipe gue banget.”
"Temennya si Kak Roy boleh juga, Sa. Ntar mintain nomor WA-nya, ya, please.”
"Siap Komandan! Apa sih yang enggak buat cahabatkuu tercintah inih?”
"Yes, thank youu muachh!"
☆☆☆
Tepat pukul empat sore, Marisa dan Rosa menunggu di bawah pohon di parkiran. Terdengar suara klakson mobil Pajero Sport berwarna hitam pekat.
“Hai Marisa. Kamu sama siapa? Hai, aku Januar. Yuk, pulang bareng.” Januar menyapa sambil membukakan pintu mobil.
“Nggak pa-pa yah Kak, aku ajak Rosa sahabat aku? Soalnya kita satu kamar kos dan kebetulan satu kelas juga.”
"Iya, nggak pa-pa, malah seneng jadi rame.” Januar menoleh ke Rosa. “Hai Rosa. Temen kamu jadi ilang juteknya, ya,” godanya sampil mengedipkan sebelah mata ke arah Marisa.
“Haha, Marisa emang jutek dan galak, kok. Kakak belum tahu aja.” Rosa menyikut Marisa.
"Apaan sih Rosa, ih! Kak Januar juga nih, jail.” Marisa mencubit pinggang Januar.
"Auuu, cubitan kamu sakit juga. Kalian kos di mana? Gimana kalo kita makan dulu sebelum aku antar pulang?”
"Iya boleh, Kak. Kita ke kafe yang di mal sebarang sana. Nggak pa-pa?"
"Oke.” Januar menyalakan mobil, lalu melaju menuju tujuan mereka.
☆☆☆
Di seberang jalan, seorang wanita cantik berbadan pendek memperhatikan Marisa dan Rosa yang masuk ke dalam mobil.
"Dasar tu cewek sok kecantikan banget, sih. Cowok yang nganterin balik gonta ganti mulu.”
Wanita itu adalah Nisa, teman sekelas Marisa. Ia adalah wanita berwajah cantik yang selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Ia sangat membenci Marisa karena Marisa dianggap sebagai saingan. Ia berpikir begitu karena orang satu kampus menilai mahasiswi paling cantik di kebidanan adalah dirinya dan Marisa.
Nisa memasuki area kampus dan melihat papan pengumuman. Ada pengumuan dengan judul "Pemilihan Duta Kampus.” Pikiran jail segera memenuhi benak Nisa.
Wah, bagus juga, nih. Aku ikutan, ah. Tapi si centil Marisa ikutan juga nggak, ya? Mending pengumumannya aku cabut aja biar dia nggak lihat. Ilfil banget gue kalo ketemu dia.
☆☆☆
Mobil Januar berhenti di kafe yang mereka tuju. Setelah ketiganya turun dan mendapat tempat duduk, pelayan menyodorkan buku menu.
"Marisa mau makan apa? Kakak traktir, ya.”
"Aku nasi goreng aja, Kak, sama jus jeruk.”
"Kalo kamu mau apa Ros?” tanya Januar ke Rosa.
"Aku spageti aja, Kak, sama jus jeruk juga,” jawab Rosa.
"Marisa, kamu aktif di BEM, ya? Terus kamu aktif di kegiatan apa lagi?” tanya Januar antusias mengorek info kegemaran Marisa.
"Iya Kak, aku ikut BEM, klub kesenian, dan bela diri.”
"Wah, selain cantik kamu juga aktif, ya.”
"Iya dong Kak, sahabat aku ini aktif dan cerdas. Tapi sayang males baca buku haha ....” Rosa tertawa menceritakan bagaimana temannya ini.
"Ih, biarin. Aku males baca buku soalnya. Aku kan bukan kutu buku,” sanggah Marisa sambil menunjukkan ekspresi malu.
"O iya, kamu mau nggak ikut duta kampus bareng aku? Kan nanti yang menang bakal pasang-pasangan,” usul Januar.
“Nggak ah Kak, aku malu.”
"Ikut aja, Sa, please ...,” bujuk Januar sambil memasang wajah imut andalannya.
"Lumayan kan hadiahnya. Terus kamu bakal jadi cover majalah kampus,” timpal Rosa.
"Ya udah, nanti aku daftarin kamu ya, Marisa. Siapa tahu nanti kita jadi pasangan duta kampus. Mmmm, pasangan kekasih real juga nggak pa-pa.” Januar memasang senyum imut kembali agar Marisa tergoda.
"Makasih, Kak. Ya udah aku ikut.” Marisa membalas senyuman Januar.
"Kak Januar, boleh aku minta nomornya Kak Roy nggak? Hehe, itu juga kalo Kakak mau ngasih,” tutur Rosa.
“Bantuin comblangin dia Kak, kasihan jones, haha.” Marisa tertawa terbahak-bahak.
"Gile lo ngatain gue jones depan Kak Januar. Kan gue malu.” Rosa yang kesal tanpa ampun mencubit pinggang Marisa.
"Aku kenalin aja ya, Ros, biar nanti dia yang ngasih nomornya langsung ke kamu. Masa cewek minta nomor cowok duluan. Tenang aja, dia jomlo, kok.”
Tahu-tahu, terlihat Febry dan teman-teman sekelompoknya masuk ke kafe dan mencari meja kosong. Marisa melihat Febry dan menyembunyikan wajahnya dibalik wajah Rosa. Ia seketika berbisik di telinga Rosa, "Ros, ada Kak Febry noh, gawat kita harus buruan pergi sebelum gue ketahuan.”
"Kak, aku udah kenyang. Kita langsung pulang sekarang, ya,” ucap Marisa, berharap Januar tidak ingin berlama-lama lagi berada di kafe tersebut.
"Ok, aku bayar dulu ke kasir ya, terus anter kamu pulang.”
Januar berjalan ke arah kasir. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Febry. "Woi, Bro! Lagi ngapain lo disini?” serunya, menyapa Febry.
"Gue lagi istirahat nih, makan dulu disini ama temen-temen sekelompok gue, Bro. Lo juga ngapain di sini dan sama siapa?” balas Febry.
"Gue lagi ajak makan gebetan gue, Feb. Gue duluan, ya. Sorry kita bincang-bincangnya lain kali aja.”
"Yoi, Bro. Nggak pa-pa, hati-hati di jalan, semoga pedekatenya berhasil ya, Bro.”
☆☆☆
Marisa dan Rosa sudah diantar pulang dan kini membuka pintu kamar kos mereka. Rosa dan Marisa sudah tinggal bersama satu kamar selama dua tahun.
Ponsel Marisa berdering. Ternyata telepon masuk dari kontak bernama "Kak Januar Prasetyo”.
"Angkat tuh, Sa, telepon dari calon bebeb baru. Udah ganteng, macho pula,” goda Rosa.
Marisa memencet juga tombol hijau di layar ponsel. “Halo Kak, ada apa telepon? Kan tadi barusan ketemu.”
"Iya sih baru ketemu, tapi udah kangen kamu.”
“Haha, Kakak jago gombal, ya.”
“Nggak ih, Cantik. Kakak baru sampe rumah, nih. Kamu banyak baca wawasan kampus, ya. Kan waktu pemilihan duta kampus nanti dites tentang wawasan kita.”
"Iya Kakak, tapi aku nggak yakin bakalan menang.”
“Harus yakin, dong. Kamu kan cantik.”
Rosa menyenggol Marisa dan berbisik, "Ini pacar lo, kok malah nelpon ke hape gue, Sa?”
"Jangan diangkat, biarin dulu bentar,” jawab Marisa sambil berbisik agar tak terdengar oleh Januar.
"Ada apa, Sa?” tanya Januar
"Kak, aku tutup dulu teleponnya, ya. Aku mau mandi.” Marisa berbohong agar bisa mengangkat telepon dari Febry. Ia berharap Januar percaya dan mematikan teleponnya.
“Hallo Rosa, Marisa ke mana ya, ditelepon kok sibuk?”
“Hallo Kak, tadi Marisanya lagi telepon sama mamanya. Nih aku kasih hapenya ke Marisa, ya.”
Marisa menerima ponsel dari Rosa. “Hallo Kak, maaf tadi abis teleponan sama mama. Ada apa, Kak?"
"Kangen kamu aja, Sayang. Maaf aku sibuk. Besok kita berangkat bareng, ya.”
"Iya Kak. O iya, kalo aku nggak bales WA berarti paket data aku abis, ya, Kak.”
“Nanti Kakak isiin, Sayang.”
"Makasih, Kak.” Marisa menutup telepon dan mengembalikan ponsel milik Rosa.
"Wah, lo bilang gitu ngode ya, biar diisiin Kak Febry kan paket datanya. Padahal disini ada Wifi.”
"Mayan Ros, kan buat di kampus dipakenya. Hemat uang selagi ada cowok baik hati yang mudah diminta bantuan.”
“Baek banget dah Kak Febry. Kasihan ujung-ujungnya nanti kalo sakit hati.”
“Nanti lihat ke depan, layak dipertahankan atau enggak.”
"Mantaps!” sahut Rosa sambil mengacungkan jempol.
☆☆☆
Saat ini mahasiswi kebidanan sedang berkumpul menunggu kedatangan dosen sambil ngerumpi bersama.
"Aku abis dibeliin mobil baru sama papa, hadiah ulang tahun.” Nisa membuka percakapan dengan rekan-rekan sekelasnya.
"Wah gile, hadiah ulang tahun lo mantap jiwa banget, Nis,” jawab Salsa.
"Papa kamu emang manjain kamu banget, ya,” sahut Rosa dengan decak kagum.
"Iya dong. Papa nggak mau aku kepanasan. Papaku tuh over protective banget pokoknya.” Nisa menjawab sambil tersenyum.
"Kalo kamu gimana, Sa, deket nggak sama papa di rumah?” Nisa bertanya pada Marisa.
"Papa aku udah meninggal kurang lebih tiga tahun lalu, Say. Aku berdua aja sama mama. Kakakku udah menikah.”
"Oohh maaf, aku nggak tahu. Emang meninggalnya kenapa?” tanya Nisa.
"Karena sakit, Nis.” Marisa menjawabnya dengan mata menerawang.
"Udah jangan diinget-inget lagi. Doain aja, biar papamu tenang di alam sana, ya, Sa.” Rosa memeluk Marisa dengan erat.
===Bersambung===