penyesalan

1082 Kata
Pov dalari Pukul 06:30 aku udah kembali kekamar setelah pengajian ba'da subuh, aku membuka kembali kitab kitab yang baru aku pelajari, dengan membacanya berulang ulang supaya kosa kata bahasa arab ku bertambah. Pukul 07:00 ada yang mengetuk kamarku sambil mengucapkan salam, setelah kubuka ternyata ada kang andri. "Ada apa kang?" Tanyaku heran menatap kang andri. "Hari ini kamu mau kemana?" Kang andri balik bertanya. "Enggak kemana mana kang, belum ada perintah juga dari abah" jawabku bingung. "Kalau engga kemana mana, temenin aku memanen cabe dikebon pak chandra" ajak bang andri. Setelah Berpikir sebentar, aku pun mengangukan kepala tanda setuju, setelah menggati baju aku bergegas pergi mengikuti bang andri. Sesampainya dikebun aku dan kang andri disuruh sarapan dulu, katanya biar bekerjanya semangat. Sesudah sarapan bang andri mengajarkan cara memetik cabe yang baik dan benar. "Nih liatin caranya gini, ketika kamu mau metik buahnya, tangkai harus dipegang supaya tidak patah saat kamu menarik buahnya" jelas kang andri sambil memperaktekannya. aku menganguk lalu mencoba mengikuti saranya, ternyata sangat mudah tapi belum mahir. Pukul 11:30 aku dan kang andri menimbang cabe hasil yang kita petik, ternyata aku dapat sembilan kilo gram beda sama kang andri yang bisa mencapai dua puluh kilo. Sesudah ditimbang mandor kebun mengeluarkan uang, lalu memberikanya kekita sesuai hasilnya masing masing. "Gimana nanti besok mau ikut lagi gak" tanya kang andri yang berjalan di hadapanku meningalkan kebun. "Mau dong kang, kalau setiap hari bisa dapat uang, aku bisa menabung untuk segera melengkapi semua kitab" jawab ku sambil tetap melagkah mengikuti kang andri di jalan setapak yang disampingnya penuh alang alang. "Ya kalau gak dapat uang juga, minimal kita bisa makan tanpa harus masak dulu" kata kang andri. "Iya sih bang perbaikan gizi jarang bangetkan makan sama sayur kaya tadi" jawabku membenarkan. "Kita itu kalau bekerja, niatkan saja membantu dengan ikhlas, jangan mengharapakan balasan, kalau pun ada itu berarti rejeki kita kalau tidak ada kita tidak akan kecewa, karena awalnya kita niatnya hanya membantu" ujar kang andiri sambil terus berjalan. Keasikan mengobrol sampai tak terasa kita udah nyampe di pertigaan antara rumah kang andri dan pondok, kita pun memutuskan berpisah. ****** Setiap hari kalau tidak ada kegiatan dipondok, aku ikut kang andri belajar bertahan hidup, apapun kerjaannya dan berapapun upahnya aku tetap jalani. Perubahan pada tubuhku mulai terasa, kulitku yang semula putih berubah menjadi kecoklatan, karena sering tersengat matahari, tenagaku juga mulai bertambah, terliahat otot otot mulai terbentuk. Siang itu sekitar pukul 10:00 aku dan kang andri mengirimkan kayu bakar pesanan pak chandra, karena kemarin beliu memesanya, seperti biasa kita disuruh makan dulu sebelum pulang kepondok. Seusai makan kita ditawari kue oleh istri pak chandra, kita dengan senang hati untuk memakanya, ketika lagi asik menyatap kue, dari dalam rumah keluar seorang pria bertubuh kurus berbaju safari menghampiri kita. "Kamu dalari ya?" Tanyanya sambil menatapku. "Iya pak, ada apa yah" tanyaku heran. "Oh kamu mondok ya, kirain bapak kamu melanjutkan sekolah diluar daerah" tanyanya lagi. "Iya pak mondok" jawabku sambil tetap mengunyah kue. "Kenapa gak lanjutin sekolah, sayang tau kamu itu anak berbakat, bapak suka mantau ke setiap sekolah dasar, jadi bapak tau kamu memiliki bakat" ujarnya menyesalkan. Kalau ada yang mengingatkan tentang sekolah dadaku suka sesak, rasanya seperti luka lama yang kembali kambuh. "Kenapa kamu tidak sekolah, kan bisa mondok sambil sekolah" sarannya lagi. "Gak apa apa pak, aku lebih suka belajar dipondok" jawab ku pelan sambil tertunduk. "Bukan karena biaya" tanyanya mendesak. Aku semakin menundukan kepala, rasanya dihadapan pak chandra tidak ada rahasia yang bisa kututupi. Setelah ngobrol sebentar sama kang andri, pak chandra kembali kedalam rumah, tak lama berselang ia pun keluar lagi mau pergi keselokah, karena beliau adalah kepala sekolah di MTs nurul hasanah. Setelah beliau pergi aku sama kang andri melanjutkan pekerjaan memasukan kayu bakar kedalam rumah. ****** Siangnya mengingat tabunganku udah mulai banyak, aku berencana mengajak bang fahmi untuk membeli kitab yang belum aku punya, yang diajak sangat antusias dengan catatan aku membelikan bakso untuknya. "Tapi tidak janji yah bang, takut uangnya gak cukup" ujarku sambil memperlihatkan uangku. "Kalau gak cukup nanti kamu pinjam saja uangku buat traktiranya hehe" ujarnya sambil ngekek. Aku pun setuju atas sarannya, lalu kita berangkat bareng ke kantor desa yang letaknya tidak jauh hanya berjalan lima belas menit kita udah sampai. Karena di kantor desa banyak toko toko yang menjual kebutuhan warga, termasuk toko kitab juga ada. setelah menujukan lokasinya bang fahmi ijin mau membeli kebutuhan yang lain katanya mumpung kesini. Aku berjalan mendekati toko kitab, lalu mengucapkan salam, tak lama keluar siswi smp menghampiriku. "Iya, mau beli katib apa a" tanyanya lembut. Ditanya seperti aku hanya terus melihatnya, wajahnya nya sangat cantik, matanya bersih, idungnya mancung, pipinya kuning langsat, gigiya putih bersih, bibirnya yang warna ping, membuatku betah menatapnya. "Hay aa, mau beli apa" tanyanya lagi suaranya agak keras tapi enak didengar. "Astagfirullah" ujarku pelan. "Jangan ngelamun nanti juga ngalamin aa" ujarnya tetep senyum. "Saya mau membeli kitab teh, nih daptarnya" kataku sambil menyerahkan kertas berisi daftar kitab. Dia langsung mengambil catatan yang kuberikan lalu membacanya, setalah dibaca ia langsung mengambil beberapa kitab lalu manaruhnya di hadapanku. "Baru ada separuh A, soalnya bapak belum kekota lagi" ujarnya sambil menyerahkan catatan yang tadi aku berikan. "Ini aja dulu teh, totalnya jadi berapa takut uangnya kurang" tanyaku. Diapun lalu mengambil katalog dan kalkulator, menjumlahkan totalnya. "Semuanya jadi Rp. 78.000 A" sambiln menyerhakan bonnya. "Ini fatimah kan anak kelas satu?" Ujar bang fahmi yang baru datang. "Iya A" jawabnya singkat "Kenalkan Aku fahmi anak kelas tiga" kata bang fahmi sambil mengulurkan tangan. Fatimahmah mun langsung nganguk sambil menyimpan tangan di depan d**a bak karyawati mini market yang lagi nawari pulsa. Melihat itu bang fahmi menarik kembali tangannya, aku yang dari tadi menunggu untuk membayar tertahan atas ulah bang fahmi. "Ini uangnya teh" kataku sambil menyerhakan uang sesuai yang fatimah sebutkan, ia pun menerimanya, lalu membungkus kitab yang aku beli dengan koran, dan memasukanya kepelastik. fatimah tetap cuek, tapi bang fahmi dari tadi terus berusaha mengajak fatimah mengobrol, dia hanya menjawab seperlunya. "Kalau mau, nanti yang belum ada bisa aku pesenin, kalau bapak belanja kekota" kata fatimah sambil menyerahkan kantong berisi kitab kepadaku. "Insya Allah nanti kalu udah lagi tabunganya" jawabku singkat. Tetlihat raut wajah kecewa dari muka fatimah, entah kecewa kenapa aku tidak tau. "Ya udah ayo kita pergi yuk bang, kan udah selesai" kataku mengajak bang fahmi pergi. "Bentar dulu apa, mau pamitan dulu, aa tinggal dulu yah neng sampai ketemu besok di sekolah" ujar bang fahmi sambil menoleh kearah fatimah. Tak ada jawaban dari fatimah, kitapun pergi meningal toko kitab utuk mencari tukang bakso.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN