Pov dalari.
"Kamu udah baikan dal" tanya pak chandra yang baru keluar dari ruang tenggahnya.
"Masih ngilu sih pak, tapi tidak menggangu pekerjaan" jawabku sambil merapihkan piring ke rak.
"Kalau udah beres tolong bawain berkas yang ada dimeja ke ruang kepala sekolah yah" peritah pak chandra.
"Iya pak habis itu aku ijin langsung pulang" pintaku sambil menoleh ke pak chandra.
"Iya kamu pulang langsug istirahat" ujar pak chadra sambil masuk ke ruangan tengah.
Aku segera membersekan pekerjaanku meski ini tidak disuruh tapi ini adalah bentuk terimakasih atas kebaikanya.
Setelah beres aku membawa setumpuk map berisi dokumen dokumen untuk diantarkan keruang kepala sekolah.
Sesampainya dipondok aku langsung mandi dan dilanjutkan shalat dhuha, oya sholat dhuha bukan untuk meminta rejeki yah meliainkan menjalankan perntah rasulallah saw. Meski ada sebagian yang menjelaskan bahwa fadilah sholat dhuha itu penarik rejeki tapi kita jangan menekankan bawha sholat dhuha bisa mendatangkan rejeki, soalnya ditakutkan kalau rejekinya gak datang nanti sholat dhuhanya yang disalahkan.
Namanya juga fadilah, fadilah itu seperti bonus, kadang ada kadang tidak, namun kita harus yakin setiap pekerjaan pasti ada pahalanya, sesuai kadar pekerjaan amalnya.
Selesai sholat aku membuka lagi kitab kitab yang baru aku pelajari subuh tadi, semenjak suka ngepel disekolah aku sempatkan menghapal pelajaran setelah pulang kerja.
Banyak yang dipelajari disini, mulai dari ilmu fikih, tajwid, nahu, shorof, tauhid, tafsir, hadis dan lain lainya, Sebenarnya mata pelajaran di pesantren itu ada dua belas pan atau cabang, tapi disini baru beberapa bagian saja, dikarenakan para santri disini masih tahapan awal atau mubtadi.
Seperti kitab yang lagi lagi ku pelajari yaitu kitab jurruumiyyah, diambil dari kata jarruun dan maun yang berati perjalanan air.
Kitab jurruumiyyah menurut wikipedia adalah sebuah kitab kecil tentang tata bahasa Arab dari abad ke-7 H/13 M. Kitab ini disusun oleh ahli bahasa dari Maroko yang bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum (w. 1324 M). Rumus-rumus dasar pelajaran bahasa Arab klasik ditulis dengan bentuk berima untuk memudahkan dalam menghapal. Di lingkungan masyarakat Arab kitab ini menjadi salah satu kitab awal yang dihapalkan selain Al-Qur'an
Kitab ajurruumiyyah Di kalangan pesantren tradisional, Kitab Matan al-Ajurrumiyyah merupakan textbook tentang ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab) yang sangat terkenal. Hampir setiap santri yang menimba ilmu di pesantren tradisional mengawali pelajaran tentang bahasa Arab melalui kitab ini. Kitab ini merupakan kitab standar yang merupakan dasar dari pelajaran bahasa Arab. Dalam praktiknya di dunia pesantren, kitab tersebut sering disebut dengan nama Jurrumiyyah. Penamaan tersebut tidak persis sama dengan nama asli kitab tersebut, karena judul lengkap kitab tersebut adalah al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah fi Mabadi’ Ilm al-Arabiyyah.
Meski al-Ajurrumiyyah begitu terkenal di kalangan pesantren, tetapi si pengarang kitab itu sendiri tidak begitu dikenal di kalangan pesantren. Hal itu karena dalam praktiknya di pesantren, santri sering kali hanya disodori tentang pelajaran yang terkandung dalam kitab yang sedang dipelajari. Santri jarang diperkenalkan oleh sang kyai atau ustaz dengan si pengarang kitab yang sedang mereka pelajari. Hal itu wajar juga karena sang kyai atau sang ustaz sendiri belum tentu mengenal betul siapa si pengarang kitabnya.
Sesuai namanya, al-Ajurrumiyyah memang kitab muqaddimah (pengantar) tentang ilmu nahwu yang ditulis oleh Ibnu Ajurrum saat berada di Mekkah. Isinya sangat simpel dan mendasar. Karena itulah, kitab ini pun perlu diberi penjelasan yang lebih mendalam saat seorang santri hendak mempelajari ilmu nahwu lebih lanjut. Dengan alasan itulah, kitab ini akhirnya banyak diberi penjelasan oleh banyak ulama, hingga mencapai tiga puluh buku penjelasan. Penjelasan-penjelasan tersebut kelak dijadikan satu kitab dengan al-Ajurrumiyyah. Dalam kepustakaan bahasa Arab, kitab-kitab yang berisi penjelasan terhadap sebuah kitab yang lain disebut dengan istilah kitab syarah.
Kegunaanya adalah untuk mengetahui tata cara baca atau harekat dalam bahas arab, jadi orang akan tau yang harus dibaca dhomah, kasroh, fatah, atau sukun.
Ada penjelasan kalau ilmu nahwu itu mempelajari cara baca akhir kata, sedangkan shorof awal dan tengah serta mengatur arti kata, dua duanya sangat penting maka hukum mempelajarinya itu fardu ain buat orang yang mau mempelajar alquran dan hadis, dan fardu kifayah buat sebaliknya.
Setelah beres belajar aku membaringkan tubuh ditikar terbuat dari daun jerami, lalu kepejamkan biar saat mengaji dhuhur tidak ngantuk.
Awalnya disini merasa terpaksa, bahkan berburuk sangka bahwa orang tua tidak menyangiku, sampai sampai tega membuangku kepenjara suci, namun seiring berjalanya waktu rasa syukur itu mulai ada, bahkan perasaan nyesel mulai ada coba dari dulu mungkin tidak akan banyak pelajaran yang tertinggal.
Selesai ngaji dhuhur aku dan bang fahmi duduk bersama, untuk menanyakan lugot yang tertingal atau hanya bercengkrama.
"Setelah selesai sekolah bang fahmi mau lanjut kemana" tanyaku membuka pembicaraan.
"Kurang tau sih pengenya melanjukan sekolah disini tapi kamu juga tau kan orang tuaku sedang tidak baik baik saja, aku hawatr kalau tidak ada penengah mereka akan semakin renggang" jawab bang fahmi.
"Hmmmz iya kalau begitu aku nanti sendri dong disini, tidak ada lagi yang menegurku ketika salah" sesalku.
"Engga lah disini masih banyak kakak kakakmu mungkin nanti pas ajaran baru disekolah kamu akan punya adik adik baru jadi kamu tidak akan kesepian" ujar bang fahmi memberi penjelasan.
"Berarti bang fahmi emang mau pindah kekota, sehabis pelulusan" tanyaku sambil menatapnya.
"Belum tau juga nanti aku akan minta pendapat akang, setelah ujian akhir sekola soalnya kalau abah senggan" kata bang fahmi.
"Semoga apapun yang terjadi itu jalan yang terbaik buat kita" ucapku sambil menatap bang fahmi.
"Oh iya kemarin sebenarnya ada apa kok sifatim membantumu memberesihkan halaman" tanya bang fahmi penasaran.
"Sebenarnya bukan itu doang bang dia yang menyapu teras aku yang mengepelnya" jawabku jujur
"Lah kok bisa begitu" tanya bang fahmi heran.
"Bisalah bang kan luka ini sebenarnya dia yang buat" jawabku sambil menujukan bekas tamparan dipipi.
" berarti kemarin kamu gak jatuh" tanya bang fahmi semakin mendesak.
"Enggak bang kemarin aku takut untuk cerita, takut dia membalikan fakta, atau menuduh yang engak enggak" jelasku.
"Yang enggak enggak gimana" telusur bang fahmi penasaran.
"Kemarin pas bersihin ruang guru, pintu tiba tiba tertutup, abang tau juga kan pintu ruang guru udah lose, ketika aku membuka pintu hendak membuang sampah tiba tiba dia berteriak dihadapanku, lalu dengan cepat dia menamaparku dengan keras rasanya sakit menjalar keseluruh tubuh, makanya kemarin telat beresnya" jelasku.
"Terus dianya gak ada tangung jawab sama sekali" tanya bang fahmi
"Ada bang bahkan tadi pagi pak sukma menemuiku untuk memninta maaf walau ngedumel" ujarku menjelaskan.
"Kok bisa ngedumel" tanya bang fahmi
"Kurang tau kata beliau dia terpaksa oleh istrinya" ujarku.
"Lah ada ada saja perbuatan manisia dimuka bumi ini" ujar bang pahmi.
Masak
Masak
Masak
Teriak seseorang sambil memukul mukul kastrol.
"Ikuuttt"
Teriak kita bareng bareng mengakhiri pembicaran kita, menyiapkan untuk siap siap memasak nasi.