2

1166 Kata
Happy reading,, *Hai hati yang lemah, hati yang terluka. Aku sungguh tidak ingin menangis tapi kau menangis saat aku menyuruhmu untuk tidak menangis.* Kevan kecewa untuk kesekian kalinya, ia merasa bukan prioritas lagi bagi Dion. "Gue capek, Ki!" Lagi-lagi Kian lah tempat pelarian Kevan. Hanya Kian yang mengerti Kevan saat ini. "Lepasin, kalo lo emang udah capek!"  Hanya itu yang selalu Kian ucapkan. Toh berapa kali pun Kian menyuruh Kevan untuk melepaskan Dion, Kevan tidak pernah benar melakukannya. Capek yang keluar dari mulut Kevan hanya protesan sementara, ia lelah namun ia belum sanggup melepaskan Dion. "Dia itu gak ngertiin elo, kenapa lo harus ngertiin dia terus? Harusnya lo tahu dari dulu kalo lu itu gak ada apa-apanya di banding sahabatnya itu!" Kian sudah lelah, berulang kali dia mengingatkan Kevan namun Kevan selalu menutup mata dan telinga. Kevan hanya diam mendengar itu semua, bagi Kevan ini semua adalah salah Lunar. Kenapa harus ada Lunar diantara mereka? "Lo lihat sekarang! Dia bahkan lebih milih buat duduk sama Lunar. Makan bareng dia, yang jelas-jelas lo lagi di sini dan ngelihatan dia!" Entahlah amarah Kian semakin memuncak, mungkin kalau tidak ingat sedang di kantin sekolah Kian sudah maju untuk menghajar Dion. Kevan hanya memainkan makanannya dengan garpu, nafsu makannya sudah lenyap. Dadanya benar-benar sakit. "Kita balik ke kelas aja, Ki!" Hanya melarikan diri dari situasi yang bisa Kevan lakukan. Dion menarik tangan Kevan saat ia melewati meja Dion. Dion menatap sebentar kekasihnya itu, Kevan cukup kaget dengan apa yang dilakukan oleh Dion. "Mau kemana? Bukannya kamu belum habisin makanan kamu?" Entah sejak kapan Dion memperhatikan Kevan, namun memang benar Kevan tidak menyentuh makanannya sama sekali. "Aku udah kenyang!" Ucap Kevan sambil melepaskan tangan Dion. "Tunggu!" Dion beranjak, Kevan masih memandangi punggung Dion yang berlalu. "Ini! Aku yakin kamu bakalan laper lagi." Dion menyerahkan sekotak s**u coklat, Dion tahu benar kekasihnya itu suka sekali s**u cokelat. Kevan terdiam lalu menerima s**u coklat pemberian Dion, ternyata Dion masih ingat apa yang Kevan sukai. "Makasih!" Dion mengacak rambut Kevan, entah mengapa hati Kevan menghangat. Apa yang sebenarnya Dion lakukan sekarang? Kenapa dia selalu menarik ulur perasaan Kevan? Kevan sungguh bahagia, hanya dengan sekotak s**u perasaannya  kembali dalam mood yang baik. From: Dion Nanti malem kita nonton. Aku jemput kamu. Kevan tersenyum lagi membaca pesan dari Dion, apa yang sedang Dion coba lakukan? "Kenapa lo senyum-senyum gak jelas gitu, Van?" Kevan menoleh sebentar, melihat teman sebangkunya yang kelihatannya kepo. "Dion ngajak jalan, Ki!" Kevan terlihat antusias sekali, semoga kali ini tidak ada pembatalan lagi. Malam ini ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Dion. Kevan sudah merencanakan ini itu yang akan dilakukan bersama Dion. Pukul 7 malam Kevan sudah siap, ia hanya perlu menunggu Dion menjemput. Bel berbunyi, Kevan segera beranjak membukakan pintu. Di lihatnya sang kekasih yang tampan sudah berdiri di depan pintu, Kevan begitu senang. Kevan tak henti-hentinya tersenyum. "Hai Kev!" Suara itu, sapaan dari Lunar. Kevan kesal sekali ternyata Lunar sudah ada didalam mobil. Ia sudah duduk di samping Dion, sungguh rasanya Kevan ingin berteriak. Ia kira malam ini akan ia habiskan berdua dengan Dion. Popcorn rasa caramel pun berubah menjadi pahit, film yang diputar pun bukan kisah mengharu biru namun mampu membuat mata Kevan berkaca-kaca. Bagaimana tidak jika sekarang Kevan lebih memilih tertawa dengan Lunar. "Aku ke toilet dulu, Di." Kevan sudah jengah, kalau tau begini dia tidak akan mau untuk diajak pergi. Kevan meninggalkan teater bioskop, ia bukan ingin ke toilet tapi ia memilih untuk pulang. Dia tidak mau meneruskan kencan konyol yang Dion buat, bukankah sudah jelas kalau Kevan tidak suka pada Lunar lalu kenapa Dion mengajak Lunar. Sampai di rumah Kevan langsung masuk ke kamar, ia sama sekali tidak menggubris pertanyaan sang ibu. Kevan benar-benar kesal pada Dion. Siapa sebenarnya kekasihnya itu dirinya atau Lunar? ******* "Kenapa lo sembunyi dari Dion?" Kevan menghela nafasnya dalam, ia ingin menjauh dari Dion sebentar. "Gue cuma lagi males sama dia, Ki!" Kian hanya memutar bola matanya malas, kemarin Kevan bilang dia capek, sekarang males lalu sebentar lagi dia akan bilang dia gak bisa ninggalin Dion. Kian sudah kebal menghadapi sikap Kevan yang plinplan. "Kalo males putusin aja, kayak gak ada orang lain aja!" Kian tahu berkali pun dirinya menasehati Kevan untuk meninggalkan Dion, Kevan akan tetap bertahan untuk Dion. "Gak mudah!" Kevan masih sangat mencintai Dion. Dia tidak mungkin melepaskan orang yang setahun belakangan ini menjadi pengisi hatinya itu. "Mudah! Lo nya yang kelewat bego!" Kian benar-bemar sudah habis kata-kata manisnya, jika Kevan tidak mempan dengan nasihat yang baik mungkin dengan kata-kata kasar Kevan bisa sadar. "Gue emang bego, Ki. Tapi gue lebih bego kalo lepasin Dion." Kian benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Kevan, untuk apa dia bertahan kalau Dion saja tidak pernah peka. "Gue gak tahu gimana jalan pikiran lo, Van. Gue cuma mau ingetin, Lunar bukan cewek polos kayak lo kira!" Kevan tahu itu, namun ia tidak ingin bilang pada Dion jika belum ada bukti. Kevan tahu betul bagaimana sikap Lunar saat Kevan jauh dari Dion. Sikap Lunar akan berbalik 180 derajat jika dirinya tak bersama Dion. "Iya gue tahu. Ki, lo jangan bilangin Dion gue bolos di sini ya? Gue beneran gak mau ketemu dia!" Kian menghela nafasnya dalam, lagi! Kevan mencoba lari dari masalahnya. "Seenggknya lo aktifin ponsel lo, gue capek ditanya mulu udah kaya FBI nyari pembunuh!" Kevan hanya mengangguk dan tersenyum pada sahabatnya itu. Memang hanya Kian yang sanggup mengerti dirinya, sahabatnya itu bahkan terkadang lebih mementingkan urusan Kevan daripada dirinya sendiri. Kevan ingin tahu bagaimana reaksi Dion jika dia tidak mendapat kabar sama sekali dari Kevan. Kevan keluar dari tempat persembunyiannya, ini jam pulang sekolah. Kevan segera menuju kelasnya, Dion sudah berdiri di depan pintu kelas Kevan. Kevan ragu haruskah ia masuk ke dalam kelas atau meminta tolong Kian untuk mengambilkan tas miliknya. Dan sialnya, Kian sudah pulang! Mau tidak mau Kevan harus menghadapi Dion. "Kamu darimana aja, Van?" "Aku sakit, seharian di UKS." "Kenapa kamu gak jawab telfon aku atau bales pesan dari aku?" "Maaf, ponselku tertinggal di kelas!" Bohong, lagi lagi Kevan harus berbohong. Ia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. "Kenapa semalam kamu pergi gitu aja?" Wow! Kevan kaget ternyata Dion mencarinya, ia pikir Dion tidak akan merasa kehilangan. "Aku gak enak badan tiba-tiba, dan gak sempet buat balik lagi ke dalem jadi aku langsung pulang." Lagi, hanya kebohongan yang Kevan ucapkan. "Aku khawatir!" Dion menarik tangan Kevan, baru saja ia akan memeluk Kevan, Lunar sudah muncul dari ujung lorong memanggil Dion. "Hari ini kamu anterin aku pulang ya, Di? Mamaku gak bisa jemput!" Kevan tidak mau melihat drama Lunar lagi, ia segera mengambil tas dan hendak bergegas pergi. "Kamu pulang bareng kita aja, Van." Kevan menyunggingkan senyum kebencian di sudut bibirnya saat mendengar ajakkan Lunar. "Makasih, gue udah dijemput!" Kevan bisa melihat raut wajah Dion saat ini, entah dia marah atau memang tidak suka dengan sikap Kevan. Kevan berlalu meninggalkan dua  makhluk yang akhir-akhir ini memberinya rasa sakit itu. Kevan tidak ingin berlama-lama. Kevan berharap Dion akan menghentikan langkahnya, namun ternyata Dion hanya diam berdiri seperti patung. 'Apa aku harus pergi dulu Di? Supaya kamu tahu rasanya kehilangan itu seperti apa?' Batin Kevan sambil melangkah menjauh dari Dion. Tbc.... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN