02

1123 Kata
❝If you were mine you would not get the same. If you were mine you would  top everything❞ — bryson tiller, Don't. ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀   Dengan mata yang terfokus pada ponsel di tangannya seraya berjalan, Bara mengetikkan pesan singkat. Laki-laki itu tidak menemukan sama sekali notif dari Dina. Ini jelas saja tidak biasa. Karena jika sudah istirahat, pacarnya itu pasti mengirimnya chat untuk pergi makan di kantin berdua. Dengan cepat—tanpa memedulikan tatapan kagum yang terkesan terlalu terang-terangan dari adik kelas perempuan di sepanjang koridor, Bara pergi ke lantai tiga di mana kelas Dina berada. Dan kakinya pun berhenti melangkah. Dari penglihatannya, dari jendela, gadis itu sedang duduk sendirian dengan buku di depannya. Bara langsung saja masuk ke dalam kelas itu, dan duduk di depan gadis dengan rambut brunette, Dina. "Daniella, kamu kok nggak nge-chat aku?" tembak Bara langsung. "Astaga Bara! Kamu ngagetin aja sih." Bara malah terkekeh pelan dan mulai memakan muffins berbagai rasa yang Dina bawa di tempat makannya. "Makanya kamu jangan ngelamun terus," kata Bara dengan senyuman kecil yang masih saja terlihat di wajahnya itu. Dina membalik kertas di dalam buku tebalnya. "Aku bukan ngelamun kali, aku lagi belajar." "Emangnya semalem kamu ngapain?" "Aku semalem belajar juga, sekarang mau ngapalin lagi rumus-rumusnya." Bara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tatapannya masih belum terlepas dari Dina. Bara merasa benar-benar beruntung di dunia ini karena ia mempunyai Dina. Tidak bisa juga dibayangkan jika gadis itu akan meninggalkannya. Meninggalkannya. Jelas saja Bara benci itu. Mengingatkan pada kehidupannya yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang dan pergi seenaknya. Dan Bara berharap, Dina tidak seperti orang-orang itu. Lamunan Bara terhenti, gadis itu mendekat ke arahnya. Dina berbisik. "Mending sekarang kamu ke kelas kamu deh, Bar." Bara mengernyit. "Kamu nggak mau aku temenin aja?" "Bukan gitu, tapi di depan udah ada Pak Anton." Dan benar saja, saat Bara menoleh ke depan sana Pak Anton sudah duduk di kursinya sedang merapikan beberapa lembar kertas. "Yaudah aku balik ke kelas. Good luck untuk ulangan MTKnya, Daniella!" kata Bara, lalu melangkah keluar. Bertepatan dengan Titan yang hendak masuk ke kelasnya. ... Titan di tempatnya berdiri sekarang, mengumpat dalam hati. Berkali-kali. Seharusnya setelah menemui Gendra tadi, Titan pergi ke rooftop saja. Bukannya langsung melangkahkan kakinya ke kelasnya dan melihat pemandangan yang tidak ia sukai. Iya, di dalam kelasnya ada Bara dengan Dina di sana. Berdua. Berhadap-hadapan. Titan mendengus. Lalu, ia membalikkan tubuhnya dan bertabrakan langsung dengan d**a Axa yang tahu-tahu sudah berada di hadapannya. Axa jelas sekali melihat perubahan di raut wajah Titan. Pandangan laki-laki itu ia alihkan ke arah dalam kelasnya. Ia tahu sekarang penyebab Titan yang memasang wajah super bete-nya itu. "Mau sampai kapan sih, Tan?" Pertanyaan itu berkali-kali Titan tanyakan juga pada dirinya sendiri. Mau sampai kapan? Mau sampai kapan ia menyakiti diri sendiri? Mau sampai kapan ia memeluk sesuatu yang terus-terusan menghilang? Mau sampai kapan ia bertahan pada sesuatu yang tidak akan tergenggam oleh tangan? Dan Titan perlahan berjinjit untuk mencapai telinga kanan Axa dan berbisik, "Seharusnya lo juga tanyain itu sama diri lo, Xa." Mendengar itu, Axa tersenyum kecut. ... "Jadi, apa yang mau lo beli?" Suara Gendra di belakangnya langsung membuat Titan menoleh. Laki-laki itu sedang mendorong keranjang dan masih mengikuti ke mana Titan melangkahkan kakinya. Sebenarnya Titan tidak percaya juga pada dirinya yang entah kenapa menuruti permintaan Axa untuk menyuruh Gendra mengantarkan dirinya pergi. Dan di sinilah ia dengan Gendra sekarang, supermarket. Memilih bahan-bahan masakan yang akan ia buat di rumah nanti malam. Titan mengangkat kedua bahunya. "Tadinya gue mau ngajak Axa biar gue tau, gue harus buat apa nanti di rumah. Lo punya ide?" Titan bertanya balik. "Lo bisa masak?" Merespons pertanyaan Gendra, Titan menggelengkan kepalanya pelan. Ia melanjutkan lagi langkah kakinya dan Gendra mengikutinya, kali ini mereka jalan bersisian. Seraya melihat-lihat buah-buah yang terjejer itu, Titan mengatakan, "Gue bisa masak tapi.. gak begitu bisa banget. Tadinya Mba Arum yang mau belanja dan gue dengan sok-nya bilang biar gue aja yang beli bahan-bahan buat masak." Ia menoleh ke arah Gendra. Laki-laki itu masih memperhatikannya ternyata. Titan benar-benar tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Ia juga tidak mau bertemu Ayah dan Ibunya—yang entah mereka sudah menyelesaikan masalah mereka atau belum. Dan itu lah alasannya ia yang menggantikan Arum untuk membeli bahan-bahan makanan. "Apa yang lo suka?" Suara Gendra menyentaknya kembali. Bara. Eh? "Kalo lo suka apa?" Titan malah bertanya balik. Dan Gendra terkekeh. Tangannya tahu-tahu sudah berada di puncak kepala Titan, mengusaknya hingga rambut Titan terlihat berantakkan. "Kan elo yang mau makan, Titani." Setelah mengatakan itu, Gendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum sempat Titan menyahuti perkataan Gendra tadi, ponselnya bergetar. Itu dari Arum yang mengirimkan list bahan-bahan masakan yang harus Titan beli. "I got it." Titan lalu memperlihatkan layar ponselnya itu kepada Gendra. "Ayo kita belanja!" Kali ini, Gendra menggengam tangan Titan dengan erat. ... "Berenti di sini dulu, Gen." Titan menyentuh lengan Gendra. Tidak menyadari betapa berefeknya sentuhan Titan tadi pada diri Gendra sendiri. Laki-laki itu memang sedang mengemudi. Gendra menoleh ke arah gadis itu. Melihat lengannya yang baru saja Titan sentuh dan memandang Titan yang kini sedang melihat ke arah depan sana. Jam di dashboard sudah menunjukkan pukul 07.02 pm. Gendra sebenarnya tahu rumah Titan masih beberapa blok lagi. "Kenapa, Titani?" tanyanya. Kepala Titan menggeleng. Gadis itu terlihat gusar. Tadi, ia melihat mobil Ayahnya. Seketika itu juga bayangan-bayangan yang dengan begitu berhasilnya membuat dadanya sesak menyergapnya kembali. Titan masih merogoh tasnya dan menemukan apa yang ia cari. Melihat apa yang Titan pegang sekarang, Gendra langsung merebut kotak rokok itu. Ia menurunkan jendela mobil dan langsung membuangnya ke sembarang arah. "Kenapa lo buang sih?!" "Kenapa harus rokok sih?" Suara Gendra benar-benar pelan. Ia akan memeluk tubuh Titan sekarang juga, jika ia mampu. "Gue bisa jadi pendengar yang baik kok, Tan." Mendengar itu, Titan tersenyum masam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Gue nggak tau harus ngapain lagi, Gendra." Dua hari lalu saat di rooftop sekolah, Titan seharusnya menerjunkan dirinya saja dari sana dan berakhir di lapangan. Tidak akan menanggung beban lagi. Tidak akan merasa bersalah lagi. Ia akan terbebas dari tekanan yang berusaha menghabisi dirinya perlahan-lahan. Namun, Titan tahu menghindar dari masalah bukanlah jalan keluar yang terbaik. Titan pasti akan dianggap kalah oleh orang-orang yang membencinya. Gadis itu mengerjap. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. "Lo pasti bisa nyelesaian apa pun masalah lo itu. Lo bisa hadepin semuanya." Inilah yang Titan inginkan. Seseorang yang menyemangatinya. Yang mengatakan bahwa Titan pasti bisa. Ia melihat lawan bicaranya kali ini. Gendra juga melihatnya. "Thanks, Gendra." Ucapan Titan benar-benar terdengar tulus. Dan lagi-lagi, seperti memberikan kekuatan lebih untuk dirinya, Gendra menggenggam tangannya. Titan benar-benar bisa merasakan tangannya menghangat. Gendra juga melihatnya lurus-lurus. "Lo selalu bisa ngandelin gue, Tan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN