21. Reaksi Arka

1545 Kata

Tak sabar sekali Embun, dia hubungi suaminya. “Mas pulang kapan?” chat Embun pada Arka. Lama tak dibalas, Embun mondar-mandir di rumahnya. Mual di perutnya tertutup oleh rasa gugup. ‘Drrt.’ Ponsel Embun bergetar. Pesan dari Arka. “Maaf, Yang. Bu Leksi sama yang lain ngajak jalan-jalan dulu nyari oleh-oleh. Jadinya kami pesan tiket balik untuk Sabtu pagi.” Sedih sekali Embun. Padahal dia sangat menunggu-nunggu kepulangan Arka. Esok harinya, karena sudah tak sabar ingin tahu kehamilannya benar atau tidak, Embun datang ke klinik kandungan. “Datang sendirian, Bunda?” tanya petugas resepsionis. “Iya, Mbak. Suami lagi dinas keluar kota.” “Oh. Siap, Bunda. Bentar ya, kami proses dulu datanya.” “Ya.” Beberapa saat kemudian. “Ini, Bunda. Antrean nomor tujuh ya. Untuk pembayaran bisa dil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN