37. Penyesalan

3041 Kata

Tak pernah Agung sepanik ini. Bahkan saat dulu ibunya meninggal pun Agung tak pernah sepanik ini. Dia hubungi nomor Dokter Nuril berkali-kali. Namun, panggilannya tak ada yang terjawab. Agung semakin gusar. “Meninggal? Embun meninggal?” Agung menarik dan mengembuskan napas perlahan. “Tidak mungkin. Haha. Tidak mungkin. Aku tidak akan percaya sampai aku melihat tubuh Embun terbujur kaku di depan mataku.” “Lebih cepat!” teriak Agung pada sopirnya. “Baik,” jawab sopir. Asisten Agung yang duduk di sebelah sopir terlihat tenang. Namun, siapa sangka jika lelaki itu dalam hati panik bukan kepalang. Dia sudah bertanya ke orang-orang di rumah sakit, dan mereka semua bilang, Embun telah meninggal dunia. Asisten Agung tak sanggup membayangkan reaksi Agung nanti bagaimana. “Jangan beritahu siapa

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN