TMP ~ Cukup Ramah

2439 Kata
Mama membuka pintu dan mendapati seorang pria tinggi, mengenakan pakaian rapi berdiri di beranda rumah namun posisinya membelakangi pintu. Larut malam, siapa yang sekiranya datang bertamu? Mama menyipitkan mata mengawasi sosok itu lekat. Dia takut yang datang adalah orang jahat. Selain ini sudah larut malam, sunyi, juga tidak tampak satpam kompleks berkeliling menjaga keamanan. Di tambah, sosok itu juga terlihat asing. Dia yakin kalau orang ini bukan seseorang yang tinggal di dekat sini, bukan pula teman Shivani ataupun tamu suaminya. Lantas, siapa pria ini dan ada kepentingan apa datang ke rumahnya? Bukankah itu menakutkan? Dan sedikit mencurigakan? Terlebih, dia hanya sendirian di rumah. Kebetulan suami dan putrinya sedang pergi. Dan itu membuat dirinya semakin takut. Mama melangkah keluar dengan hati hati. "Permisi, kamu mencari siapa, ya?" Mama menyapa ramah, namun dia tetap was-was. Dia takut yang datang adalah pria tidak bermoral yang belakangan marak di beritakan melalui media online, yaitu para bandit yang tidak hanya merampok dan menjarah seisi rumah, namun juga membunuh si pemilik Rumah dengan cara keji. Mendengar suara seorang wanita dari arah belakang, Leo segera membalikkan badan. Dia mengulas senyum tipis saat melihat sosok wanita itu. Adalah wanita yang Shivani temui di Restauran saat dia makan siang di sana bersama Kristian. Dia ingat betul dengan wajahnya. Jadi kesimpulannya adalah wanita itu benar benar Ibu Shivani? "Maaf, mengganggu. Saya Leo." Leo mengulurkan tangan. Sapaannya sangat ramah dengan suara tegas namun tidak terkesan dingin. Mama menerima uluran tangan Leo dengan ragu. "Iya, Leo, ada yang bisa saya bantu?" Mama tidak menurunkan kewaspadaan sama sekali. Semakin ke sini dia justru semakin waspada. Meski anak ini sangat tampan, namun tampan tidak menjadi tolok ukur untuk seseorang memiliki kepribadian yang baik. Bisa saja di balik wajah rupawan itu memiliki jiwa psikopat. Apa lagi, zaman sekarang banyak bang-sat yang bersembunyi melalui wujud malaikat. Mereka berkata manis, namun perlahan tapi pasti, kata kata manis itu menghanyutkan kemudian membunuh. "Maaf sebelumnya, tapi saya datang untuk mengantar Shivani." Leo menunjuk mobilnya sendiri yang terparkir di halaman dengan maksud untuk menunjukkan kalau Shivani berada di dalam mobilnya dengan keadaan selamat, baik, sehat dan tidak kurang suatu apapun. "Apa?" Mama hampir saja menjatuhkan bola matanya karena terkejut. Ekspresinya buruk, hatinya kacau dan karut marut dalam bingkai kekecewaan yang dalam. "Iya. Saya datang untuk mengantar Shivani." Leo mengulangi perkataannya. Sepertinya sulit untuk meyakinkan seorang wanita meskipun itu adalah wanita paruh baya yang seharusnya lebih dewasa dengan pikiran positifnya, terbukti saat dia di hadapkan dengan reaksi berlebihan wanita itu saat dia menyebutkan nama "Shivani". Shivani itu masih ada, hidup, sehat dan tidak mati, okey? Jadi tidak bisakah wanita itu tidak menunjukkan reaksi seolah Shivani sudah tiada? Sangat eksesif atau katakanlah sangat berlebihan. "Kalau Shivani pulang bersamamu, kenapa dia tidak turun?" Mama menatap Leo penuh selidik. Meski pria ini tampak seperti pria baik baik, namun gelagatnya sangat mencurigakan. Membuat dia tidak bisa untuk tidak curiga. Terlebih anak ini terlalu mencurigakan untuk tidak di curigai. "Sejujurnya Shivani tidak sadarkan diri, dia sedikit mabuk." Leo menjelaskan dengan hati hati. Shivani memang tidak sadarkan diri, itu adalah benar. Terlebih.. berbohong tidak di perkenankan dalam agama yang di anutnya, jadi dia merasa perlu mengatakan yang sebenarnya meski tatapan wanita ini seolah akan mengambil nyawanya detik ini juga. Wanita.. oh wanita.. Entah itu muda atau tua, kalau sudah marah benar benar mengerikan. Dan Leo cukup waspada untuk menanggulangi segala resiko yang mungkin di timbulkan oleh wanita itu karena amarah yang membakar saat mengetahui Putrinya tidak sadarkan diri di club malam. Sebenarnya itu wajar dan dia cukup mengerti. Seorang Ibu jelas marah saat mengetahui Putrinya mabuk mabukan di club malam. Belum lagi pulang di antar oleh seorang pria asing. Jadi berdasarkan apa yang dia lihat dari sudut pandangnya, wajar untuk wanita ini marah. Bahkan sangat wajar. Mama meremas pakaian yang dia kenakan. Shivani tidak sadarkan diri di club malam? Jadi.. putrinya benar-benar mabuk-mabukan? Ada sekelumit emosi yang menjalar melalui peredaran darah Mama. Sebagai orang tua, dia jelas khawatir. Namun di banding siapapun, dia adalah yang paling tau alasan kenapa Shivani berlaku seperti itu, yaitu karena Raiden meninggalkan Shivani saat Shivani bahkan bernafas untuk Pria itu. Mama memijit pelan ruang di antara alisnya. Kakinya serasa lemah dan tubuhnya nyaris tumbang. Namun, Leo bergerak cepat menangkap dirinya yang semula masih baik-baik saja namun sekarang dia tidak baik-baik saja. Hanya dengan memikirkan Shivani, dia merasa hidupnya tidak berguna. Dia sedih. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kuasa apapun terhadap perasaan orang lain meskipun itu adalah putrinya sendiri. Apa lagi, Shivani sudah dewasa. Gadis itu bukan anak kecil lagi yang akan berhenti dari tangisan dan kesedihan saat dia memberinya permen. Shivani memiliki pola pikir yang tidak pernah bisa dia kendalikan. Terlebih, ini bukan perkara uang, harta, dan materi. Ini bukan tentang dimana ada hujan di situ ada payung. Ini bukan tentang dimana luka bisa di sembuhkan dengan mobil mewah dan tabungan berlimpah ruah. Tetapi ini adalah sesuatu yang sangat sensitif karena ini menyangkut hati yang pastinya jauh lebih rumit dari apa yang terlihat di permukaan. Putrinya jatuh cinta. Dan itu bukanlah sebuah kesalahan. Yang salah adalah saat putrinya masih belum merelakan Raiden meski gadis itu tau kalau Raiden tidak akan pernah kembali. Pria itu sudah berada di samping Tuhan, tidur tenang dengan raga yang terlelap di bawah timbunan tanah. "Apa perlu ku panggilkan dokter, Nyonya?" Leo memegang wanita itu erat. Dia menawarkan sebuah solusi setelah melihat wanita ini tampak pucat dan tidak bertenaga. Meski cukup wajar untuk Shivani pergi ke club malam sekedar minum ataupun melepas penat, tapi entah kenapa reaksi wanita itu begitu menggelitik nuraninya. Sebentar marah namun sebentar lemah. Sebenarnya apa yang wanita itu pikirkan? "Tidak perlu." Mama menyeimbangkan tubuh dan kembali berdiri dengan tegak. "Apa kamu bisa membantuku membawa Shivani ke kamar tidurnya di lantai dua?" Meskipun Mama belum melihat Shivani, namun dia percaya kalau apa yang Leo katakan bukan sebuah kebohongan. Shivani mabuk, itu sudah jelas dan Mama mempercayainya. Dia juga yakin kalau Shivani melakukan atas keinginannya sendiri tanpa desakan siapapun. Shivani yang memang menginginkannya. Mungkin, gadis itu pikir, dengan mabuk bisa melupakan Raiden barang sekejap tanpa gadis itu tau kalau alkohol tidak bisa menyembuhkan, alkohol tidak bisa merubah, alkohol tidak bisa memperbaiki. Rasa sakit itu.. hanya bisa di sembuhkan oleh diri sendiri tanpa ada orang lain yang bisa menyembuhkan, tanpa ada benda lain yang bisa di gunakan. "Apa?" Sekarang gantian Leo yang terkejut. Dia pikir wanita ini akan mencekik lehernya sampai putus karena berani mengantar Shivani pulang dalam keadaan mabuk. Tapi, siapa sangka kalau ternyata ekspresi wanita ini jauh lebih tenang dari sebelumnya? Dan perubahan itu justru tampak aneh dalam pandangannya. "Papa Shivani sedang tidak ada di rumah, dia sedang keluar kota untuk beberapa hari. Sedangkan aku tidak bisa membawa Shivani sendirian. Bisakah kamu membantuku?" Nada suara Mama sudah sepenuhnya turun. Itu amat sangat rendah bahkan nyaris tidak terdengar. "Baik." Leo menganggukkan kepala tanpa banyak bertanya. Lagi pula, bukan kapasitasnya untuk bertanya karena dia bukanlah siapa siapa. Meski sejujurnya ada sedikit rasa ingin tau, tapi sekuat hati dia menyembunyikannya. "Panggil aku Anna dan kamu tidak perlu sungkan." Mama Anna tersenyum lembut kepada Leo. Mungkin dia sudah salah paham di awal, namun sekarang dia memiliki lebih banyak keyakinan tentang penilaiannya sendiri bahwa Leo adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Leo menganggukkan kepala. "Baik." Ucapnya. Dia tidak menyangka kalau Mama Anna begitu welcome dan tidak mempersulit dirinya. Dia pikir, jalan ini tidak akan mudah. Namun sepertinya Mama Anna tidak hanya baik, perhatian, lembut namun juga elegan secara penampilan. Benar benar keluarga yang tidak biasa. Dan berdasarkan kesimpulannya, Restauran yang dia datangi bersama Kristian pada waktu itu, adalah milik keluarga Shivani. Pasti. -------• --• Leo menapaki satu persatu anak tangga sembari menggendong gadis cantik yang terlelap dalam tidurnya. Gadis ini begitu manis saat di lihat dari dekat. Begitu sempurna dan nyaris membelenggu dunianya. Detak jantungnya berdebar kencang seolah dia baru saja lari berkilo-kilo meter jauhnya. Itu membuat udara di sekitarnya menipis dengan tenggorokan tercekat. Dengan susah payah Leo berusaha melonggarkan dasinya yang serasa mencekik leher, namun.. "Si-al!" Dia mengumpat saat menyadari kalau ternyata dia tidak mengenakan dasi. Bit-ch kecil ini benar benar si-alan! Beraninya gadis ini mengalihkan dunianya dan membuatnya seperti ini! Membuat dia yang biasanya selalu bangga karena kepintaran, karena kecemerlangan, dan karena kejeniusannya tiba tiba menjadi bod-oh dan dun-gu sampai dia bahkan membenci dirinya sendiri. Lihat saja apa yang dia lakukan sebagai pembalasan. Dia mengawasi sekeliling setelah berhasil melewati anak tangga terakhir. Anehnya.. Mama Anna justru meminta dirinya agar mengantar Shivani ke lantai atas tanpa di dampingi. Bukankah itu konyol? Bagaimana dia bisa tau dimana letak kamar tidur Shivani? Benar benar konyol dan susah di percaya. Dan yang paling mengganggu pikirannya adalah.. apa Mama Anna tidak takut kalau dirinya akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada putrinya? Bagaimana kalau dia melecehkan? Bagaimana kalau dia bertindak asusila? Bukankah seharusnya Mama Anna merasakan ke khawatiran itu? Atau tidak? Atau Mama Anna percaya karena wajahnya tidak terlihat seperti penjahat? Dan apakah itu berarti wajahnya cukup meyakinkan untuk di percaya? Menyadari fakta ini, Leo tersenyum tipis. Lumayan. Sepertinya, ini akan menjadi keputusan yang baik untuk mendekati Shivani secara terbuka karena dia pikir Mama Anna akan memberinya kesempatan untuk mengenal Shivani lebih jauh lagi. Leo membuka salah satu pintu yang ada di lantai atas. Hanya asal memilih namun sepertinya pilihannya tidak buruk, atau justru bisa di katakan.. tepat? Dia melangkah masuk lalu dia membaringkan tubuh Shivani di atas ranjang. Setelahnya.. dia mengambil udara banyak banyak. Hanya segelintir orang yang pernah dia gendong seperti ini, selain Mama dan Adiknya, tentunya adalah Gabriela, namun meski begitu, meski sudah lama dia menjalin hubungan friends with benefits dengan Gabriela, namun sesungguhnya perasaannya tidak pernah berada pada wanita itu. Dia tidak pernah mencintai Gabriela meski wanita itu mati matian ingin menjadi Nyonya Muda keluarga Pahlevi. Membayangkan itu, Leo hanya tertawa. Tidak ada yang lebih pantas menjadi Nyonya Muda keluarga Pahlevi selain Shivani. Dan dia meyakini itu dengan sepenuh hati saat menyadari betapa tidak terkendali detak jantungnya setiap kali dekat dengan gadis itu. "Astaga." Leo mundur satu langkah. Dia menepuk dahi. Dia tidak tau akan ada pemikiran semacam itu di dalam benaknya. Shivani.. menjadi Nyonya Muda keluarga Pahlevi? Yang benar saja. Apa dia sudah gi-la sampai memiliki pemikiran semacam itu? Leo memijit pelan ruang di antara alisnya, lalu dia mendudukkan diri pada tepi ranjang. Mungkin dia hanya lelah, atau mungkin karena dia terlalu banyak berpikir. Namun tidak di pungkiri kalau tubuh Shivani memang seperti Venus. Cantiknya bak Dewi Romawi. Auranya juga sangat kuat sampai bisa menarik dirinya untuk mendekat dan terus mendekat. Tidak tau pesona macam apa yang gadis ini miliki, namun terlepas dari semua itu, yang paling tidak dia mengerti adalah dirinya sendiri. Dia benar benar sudah gi-la. Tidak mungkin miliknya bahkan menegang hanya karena melihat paha dan da-da milik Shivani, tidak mungkin dia menginginkan se-ks hanya karena melihat tubuh Shivani yang menggoda, tidak mungkin dia ingin tidur bersama hanya karena melihat wajah Shivani yang cantik jelita. Tidak mungkin. Dan itu tidak masuk akal. Tangan Leo terulur untuk meraih tangan Shivani. Tangan yang sangat lembut. Dia menempelkan tangan itu di dadanya. Dan rasanya.. "Ah.." Leo merasakan nyeri pada bagian dadanya. Rasa sakit ini benar benar menyesakkan sampai berhasil memunculkan beberapa slide abstrak yang berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Di sana, dalam penglihatannya.. seorang gadis tampak melambai ke arahnya, wajahnya tidak jelas. Namun, rona kebahagiaan jelas meliputi gadis muda itu. Dua detik kemudian, Leo mengerjakan mata. Ingatan siapa yang sebenarnya selalu bersemayam dan mengganggu pikirannya? Dia sangat yakin seratus persen kalau itu adalah ingatan orang lain, bukan ingatannya. Dia tidak pikun dan dia selalu mengingat detail kejadian yang terjadi padanya sejak dia masih kecil sampai sekarang. Namun ingatan tentang seorang gadis yang sudah beberapa bulan ini membuat dirinya terganggu, dia merasa kalau semakin ke sini semua semakin janggal. Terlebih dia tidak pernah memiliki ikatan hati dengan seorang gadis baik itu dulu ataupun sekarang, tidak sama sekali. Tidak sekalipun. Jadi, gadis yang selalu muncul dalam pikirannya, adalah gadis yang tidak pernah dia tau. Setelah cukup lama berdebat dengan isi kepalanya, Leo meletakkan tangan Shivani kembali, dia akan pergi. Tentu saja. Dia tidak mungkin berada di dalam kamar bersama seorang gadis yang selalu mengganggu konsentrasinya, dan kebetulan dia tidak begitu mempercayai dirinya sendiri. Dia takut hilang kendali. Dia takut akan melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan kepada seorang gadis yang bahkan selalu menjauhinya. Dia takut perasaannya akan semakin besar hanya dengan melihat wajah gadis itu. Jadi, dia sudah memutuskan akan pergi sekarang. Leo segera berdiri, namun tangan Shivani gesit meraih tangannya, menggenggam erat jari jemarinya. "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku lagi! Aku tidak bisa tanpa kamu. Aku tidak bisa." Shivani menatap siluet pria di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sorot matanya menunjukkan rasa sakit yang teramat dalam. Tatapannya bahkan buram dan tidak jelas. Semua gambar berwarna seolah memudar. Menyisakan warna warna abstrak yang kusam dan membingungkan. Kepalanya sakit, dan telinganya juga berdengung. Hanya siluet seorang pria yang berhasil tertangkap pandangannya. Meski tidak jelas, namun dia yakin itu adalah seorang pria. Suara yang terdengar membuat Leo menoleh. Melihat Shivani membuka mata dengan menunjukkan sorot teduh yang menggetarkan hati, untuk sejenak dia terpaku. Gadis ini.. ada apa dengan gadis ini? Dia bertanya di dalam hati saat melihat raut kekecewaan seolah kekecewaan itu Shivani targetkan untuknya. Dia benar benar linglung sampai akhirnya Shivani kembali berbicara. "Ku mohon." Kata kata sederhana, singkat, padat dan jelas ini sudah mewakilkan banyaknya kata yang tertahan di ujung lidah tanpa bisa terlontar. Entah itu Leo atau Shivani, semua larut akan pusaran takdir yang menyeret dan mengumpulkan mereka di suatu kejadian yang tidak pernah mereka harapkan, yaitu saat ini. Leo mendudukkan dirinya kembali. "Kamu mabuk." Dia mengusap pelan rambut Shivani. "Tidurlah!" Ucapnya kemudian. Sebelumnya, dia tidak pernah melihat Shivani serapuh ini. Hanya hari ini dan gadis itu seperti sudah berubah menjadi orang yang berbeda dalam pandangannya. Shivani mengangguk dan segera memejamkan mata kembali. Namun, tangannya masih tidak melepaskan tangan pria itu. Dia justru mempererat genggaman tangannya. Kehangatan ini adalah yang paling dia butuhkan untuk saat ini. Dan dia tidak akan melepaskannya meski dia tidak tau siapa pemilik tangan ini. Apa itu adalah Raiden? Terbersit pertanyaan itu di sela-sela rasa tidak nyamannya. Namun, dia menampik pertanyaannya sendiri. Itu tidak mungkin. Raiden sudah tiada. Pria itu sudah mati. Pria itu meninggalkan dirinya dalam tumpukan luka yang semakin lama semakin menyakitkan. "Kamu jahat!" Shivani terisak dalam tidurnya. Namun beberapa saat kemudian, dia kembali lelap dalam tidurnya. Melihat ini, Leo terkekeh. "Seperti anak kecil." Ucapnya pada kegelapan malam. Sejauh ini, Leo memang hanya mengawasi. Dia tidak benar benar menanggapi karena dia tau Shivani dalam pengaruh alkohol. Kalau dia menanggapi orang mabuk, dia bisa gi-la sendiri. Jadi dia hanya bisa mengusap pelan rambut Shivani, tanpa ada niat untuknya ikut campur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN