Tiiiiiinggg .....
Suara monitor pasien berbunyi nyaring saat seorang pria yang tergeletak di atas panjang ICU menghembuskan nafas terakhirnya.
Beberapa dokter yang awalnya sibuk, menghentikan sejenak aktifitas mereka, mereka saling berpandangan sesaat sebelum kembali memeriksa keadaan pasien. Dan benar saja, pasien sudah benar benar meninggal.
Beberapa Dokter dan Perawat masih berdiri di sana. Tampak sebagian dari mereka meneteskan air mata. Mereka sedih dan berduka atas kepergian salah satu staf Dokter bedah umum terbaik di Rumah Sakit ini. Dokter Raiden Dananjaya, masih muda namun sudah harus meninggalkan dunia ini.
Setelah peralatan dan berbagai macam selang di lepas dari tubuh pasien, perawat segera menyedekapkan tangan si pasien lalu menutupinya dengan kain putih. Biasanya, Dokter Dananjaya yang selalu melakukan hal ini, tapi untuk hari ini, justru mereka yang harus melakukan itu untuk Sang Dokter.
Mereka sangat menyesal, sedih, dan merasa kehilangan. Mereka memanjatkan doa sebentar sebelum bersama sama keluar dari ruang ICU.
"Maaf, Nyonya." Salah satu staf Dokter meminta maaf terlebih dahulu begitu melihat Ibu dari Sang Dokter menghampirinya. "Kami tidak bisa menyelamatkan Dokter Dananjana. Beliau sudah meninggal. Kami benar benar minta maaf. Kami sangat menyesal."
Penuturan Dokter, membuat Isak tangis riuh terdengar. Mereka berlomba lomba saling menguatkan diri. Memanjatkan doa kepada sang pencipta agar Dokter Dananjaya mendapatkan hidup yang lebih baik di sana.