2. Pelarian

1219 Kata
"Insting seorang istri itu kuat ya Om, jangan macam-macam!" Agnia bersedekap penuh tuntutan. Saat ini keduanya sedang berada didalam mobil, Anggara mengantarkan Agnia pergi ke kampus. "Siapa yang macam-macam? mengada-ada kamu ih!" elak Anggara. "Iya semacam tapi mesra!" tuduh Agnia pasti. "Gak ada, Niaaaa!" "Kalau gitu, Om gaperlu takut ngasi tau Jasuke itu siapa?" tegas Agnia namun dengan bibir yang maju. Sementara, Anggara mengerjap dan kebingungan sendiri. "Jas-jasuke?" ia membeo dengan kening berkerut. "Tukang servis AC itu aslinya Jasuke kan?" tuntut gadis itu kesal. "O-owh, maksud kamu Jesika... ups!" keceplosan, Anggara reflek menutup mulut. "Terserah, mau Jasuke atau Jesika, itu pasti selingkuhan Om, ngaku deh!" sentak Agnia murka. "Enggak Nia, bukan! Om cuma asal sebut tadi!" Anggara kukuh mengelak. "Pokoknya Nia mau kita buat perjanjian baru!" "Perjanjian yang mana?" Anggara terkejut saat ia kembali menoleh dan menemukan sang istri sudah mengetikkan sesuatu pada laptop yang ditaruh dipangkuan. "Perjanjian pranikah kita waktu itu!" tanpa melihat lawan bicara, jari tangan Agnia sudah sibuk menari diatas keyboard. "Poinnya, kalau ada yang ketahuan selingkuh, yang diselingkuhi bebas mau menggugat cerai!" ucap Agnia tegas. Anggara langsung mengerjap, ia tidak menyangka Agnia akan secepat itu mengultimatum tanpa memberi kesempatan membela diri. "Tapi saya boleh tambahin poinnya juga kan?" sela Anggara sebelum Agnia mengirimkan surat tersebut melalui email. "Mau tambahin apasih, ribet banget kek bapak-bapak!" kesal Agnia mengoceh sembari memutar mata malas, namun Anggara sigap ingin merebut laptopnya hendak mengetik sesuatu. "Eh, jangan sentuh-sentuh, sebutin aja maunya Om!" tolak Agnia. "Eumm ... begini! Waktu kita nikah dulu, kamu bilang usia kamu masih 19 tahun, dan kamu minta izin ke saya untuk membebaskan kamu dari tanggung jawab sebagai istri selama dua tahun lagi agar tidak kehilangan masa muda." jelas Anggara pelan-pelan tanpa ingin memperpanjang pergelutan. "Om jangan belibet gitu deh, langsung ke intinya aja?" Agnia langsung menyela tak sabaran. Anggara hanya bisa menghela napas. "Oke, jadi kira-kira usia pernikahan kita udah berapa tahun?" kata Anggara sambil mengemudi dengan sebelah tangan mengusap dagu berpura-pura lupa. Agnia berhenti sejenak memiringkan kepala, memikirkan dengan serius menanggapi ucapan sang suami, lalu gadis itu kembali menoleh ke sisi samping wajah Anggara yang lurus kedepan. "Dua tahun!" sambungnya polos. "Jadi berapa usia kamu sekarang?" tanya Anggara mendikte. "Dua puluh satu!" sahut Agnia makin lesu. Hemmm... Anggara mengangguk- anggukan kepala. "Sudah dua tahun kamu jadi istri saya, tapi kamu masih seperti anak-anak. Harusnya dewasa sedikit bisa kan?" sindiran Anggara menjurus pada satu hal. Namun, Agnia yang masih sibuk dengan dunianya memiliki tanggapan yang berbeda. "Ishhh om ngaco deh... dua tahun saya jadi ibu dari anak anda, om masih sebut saya anak kecil?" sentak Agnia jengkel. "Dewasa sebelum waktunya sih iya!" gumam Agnia lagi, ia menghempas punggung di sandaran kursi. "Agnia, bukan itu maksud saya ... Saya tahu, kerja keras kamu dalam mengurus rumah tangga memang sudah tidak perlu diragukan, saya akui kamu hebat dan sangat bertanggung jawab, tapi dalam sebuah pernikahan kamu juga harus tahu kalau ada yang namanya hak bi-- " "Saya kurang apa coba? dari pagi sampai malam ngurusin kalian berdua, taunya diselingkuhi!" potong Agnia bergumam sendiri. Wajahnya begitu dramatis, ia membuang muka, enggan memperlihatkan wajah kecewa kearah jendela. Anggara menggantung kalimat lalu mengusap wajahnya frustasi, ia sangat ingin menjelaskan sekali lagi, tapi saat melihat reaksi Agnia yang terlihat lugu, iapun kebingungan sendiri harus mulai dari mana dan mengatakan dengan kalimat apa dan entah bagaimana. Anggara mengurungkan niat dan memilih untuk menerima isi perjanjian dan kembali pada mainan baru. Toh dalam pikirannya, ruang lingkup sang istri hanya seputar kampus dan rumah, pulang pergi dijemput supir pribadi, Agnia bukan tipe anak muda yang suka kelayapan. Sudah pasti ia tidak akan tahu tentang hubungan gelap Anggara, selama ia dan sugarbaby bermain secara bersih. buktinya ia sudah bisa mempertahankan hubungan selama tiga bulan, Anggara cukup bangga dengan prestasinya ini. "Permintaan kamu udah saya setujui, kenapa masih cemberut!" kata Anggara melihat Agnia yang tak mau turun dari mobil sesampainya di gerbang kampus. Meski Agnia tidak menyahut, tapi Anggara tahu persis situasi istrinya yang sedang merajuk. Dan dalam kondisi ini, traktiran es pisang hijau saja sudah cukup untuk merayu istri abegenya itu. Benar saja, Agnia kembali tersenyum ceria setelah mereka makan es pisang hijau didekat kampus dan Anggara dapat meninggalkan Agnia dalam keadaan bahagia. Sejatinya Anggara tidak tahu pasti keputusan menikahi seorang penjual sandwich yang berlapak didepan sekolah putrinya itu adalah hal baik atau buruk. Hanya karena sandwich buatan Agnia sangat enak dimata Caca, ia sampai rela posisi almarhumah ibu kandungnya digantikan oleh Agnia yang kala itu baru lulus SMA. Sebagai timbal balik sebagai ibu sambung, Agnia mendapatkan biaya kuliah penuh, sesuai permintaan. Worth it. Tiga tahun sudah mereka bertiga menjadi keluarga kecil yang bahagia. Namun, kesempurnaan yang telah dimiliki putri tercinta nyatanya masih menyisakan sebuah kejanggalan diantara Anggara dan sang Istri muda. *** Setelah meninggalkan Agnia dikampus, kini Anggara beralih pada sugarbabynya yang juga sedang merajuk padahal uang transferan sebagai ganti rugi naik angkutan umum sudah dilebihkan berkali-kali lipat. Alih-alih merasa dirugikan, Anggara malah merasa untung sebab jika uangnya keluar lebih banyak pada Jesika maka gadis muda itu akan bergantung padanya. Dengan bersikap royal, Anggara begitu percaya diri bahwa Jesika tidak mungkin meninggalkannya, dan Jesika pasti akan memberikan ia hal yang tidak pernah didapatkan dari istri kecilnya. Apalagi Jesika cukup mengerti dirinya dan tak pernah ikut campur dalam urusan pribadi. Pria itu mendatangi mainan kecilnya di sebuah apartemen, uang transferan yang masuk padanya semalam ia habiskan untuk memesan barang mewah yang akan ia jadikan hadiah untuk meluluhkan Jesika. Karena apartemen yang ditinggali Jesika adalah kepunyaan Anggara, maka Anggara bisa masuk kesana secara leluasa tanpa siapapun yang menghalangi, kecuali raut muka Jesika yang sudah ditekuk dan gerak yang berusaha menjauhinya. Tapi, hal itu tak pernah berlangsung lama karena kini tubuh Jesika sudah melambung diudara, dengan gaya bridal style Anggara menggendong gadis itu, dan dengan manjanya ia melingkarkan kedua tangan dileher setelah mendapatkan hadiah jam mahal. Disisi lain, Agnia berjalan cepat di tengah koridor kampus, satu-satunya teman akrab dikampus yang ia punya adalah Tiara, seorang gadis populer yang kerap menjadi primadona dalam setiap penampilan, Agnia pun juga ikut up to date gara-gara teman bekennya itu. "Niaaaaaaaa!" Sebelum masuk ke kelas, Tiara yang datang belakangan tiba-tiba memanggil. Suara cempreng Tiara tentu saja langsung didengar oleh si empunya nama, alhasil Agnia mendadak memutar tubuh dan tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria berkacamata yang berjalan tepat dibelakangnya. Braak Beberapa barang yang dibawa pria itu berhamburan kelantai. "Maaf, maaf!" kata Agnia segera berjongkok dan membantu si pria memunguti barang bawaan. "Ya ampun Nia, emang kamu jalan gak pakai mata?" sela Tiara yang sudah menghampiri namun langsung menghakimi. "Bukannya dia menoleh gara-gara kamu yang panggil?" Pria berjas putih itu langsung berdiri dan mengultimatum Tiara. Akan tetapi, bukannya sadar dengan peringatan si pria, Tiara malah membelalakkan mata dan berbinar binar. Pasalnya ia salah fokus dengan ketampanan pria paruh baya itu. "Masyaallah, ini cowok apa malaikat?" Tiara bergumam kagum. "Kamu apa-apaan si? Maaf Om temen saya emang rada kurang seperempat!" sela Agnia, ia langsung menarik tangan Tiara. "Heh ..ralat yang tadi, dia gak pantes dipanggil Om!" namun, Tiara malah protes pada Agnia. "Loh kenapa?" Agnia berpikir logis, sebab pria itu memang nampak lebih tua dari mahasiswa lainnya dan mungkin seumuran dengan Anggara. Maka dari itu, iapun tidak segan menyebutnya 'om. "Gada om-oman, dia itu sugar daddy tauk, eh maksudnya Dokter Aarav!" Tiara berbisik kemudian kembali bicara dengan lelaki itu. "Ya kan, anda Dokter Aarav kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN