Sepeninggal Nyonya Oh, dengan Sean masih dalm gendongannya, Alenia membuka buku beludru biru itu dan mempelajari isinya.
Sean Marcello Andromeda, lahir di Kanada pada 12 April 2017.
Tidak ada nama orang tua atau apapun yang lain. Jadi Alenia membalik ke halaman selanjutnya.
Pastikan Sean meminum s**u dan makan buah setelah bangun tidur sebelum mencerna sajian apapun.
Alenia mengangguk sendiri, itu sudah dilakukan tadi. Tatapannya menyusuri gambar-gambar buah yang bisa dimakan Sean, salah satunya pisang.
Sean masih mengunyah buah pisang yang sudah dipotong dan ditaruh di mangkuk bergambar Robocar Poli sementara sesekali ia menyuapi bocah itu. Setelah habis, ia memastikan Sean meminum s**u yang sudah disediakan dan menimang bocah itu sambil berdiri agar sendawa.
Alenia membalik lembar selanjutnya.
Mandikan Sean dengan air hangat yang suhunya 38° celcius pada pagi hari dan 35° celcius pada sore hari. Cek suhu dengan termometer digital di lemari kamar mandi Sean.
Alenia mengangguk sendiri, membiarkan buku itu terbuka di meja makan dan beranjak ke lantai atas, kamar Sean yang terletak di ujung. Ia membuka pintu putih itu dan menatap kagum isinya. Sekali lagi, ruangan dengan desain minimalis.
Sean tampak senang saat masuk ke kamarnya dan bocah itu menunjuk-nunjuk ke arah deretan robot yang dipajang rapi di rak dinding.
"Sean mau main robot?" Tanya Alenia. Bocah itu mengangguk pelan dan masih menunjuk robot itu dengan semangat. "Baiklah. Sean main robot dulu sementara Noona menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Sean, oke?"
Sean mengangguk.
"Astaga, kau lucu sekali." Alenia menatap Sean dengan gemas sebab baru melihat bocah itu menyahutinya. Ia mencium pipi Sean sebelum menaruhnya di kasur dan memberinya sebuah robot.
Pagi yang indah untuk memulai pekerjaan.
--
Selepas memandikan Sean, Alenia segera membawa bocah itu turun untuk melihat kembali apa yang harus ia lakukan untuk Sean. Lalu saat ia tiba di dapur, seorang wanita paruh baya sedang berkutat di dapur untuk memasak sarapan. Alenia berasumsi bahwa wanita yang mengenakan apron berwarna putih itu adalah Bibi Yang.
"Bibi Yang?"
Sedikit terlonjak kaget, wanita itu berbalik dan tersenyum sopan ke arah Alenia. "Benar. Kau pasti Miss Park yang telah diceritakan oleh Nyonya Oh."
"Benar, Bibi. Aku Alenia."
Bibi Yang mengangguk ramah, tatapannya tertuju pada Sean yang terlihat tenang di gendongan gadis muda itu. "Nyonya Oh tidak salah pilih. Sean tampak sangat nyaman denganmu."
"Terima kasih, Bibi." Alenia sendiri tak mengira bahwa akan semudah ini mengurus Sean sebab ia sama sekali tak merasa kesulitan sejak awal. Bahkan saat mandi pun, bayi laki-laki itu sama sekali tidak rewel dan hanya memainkan bebek karetnya dengan riang. Sean bahkan tertawa saat Alenia ikut main dengan memainkan bebek karet yang lain. Setelah itu, mereka jadi begitu dekat.
"Kau lanjutkan membaca buku itu sementara aku menyiapkan sarapan." Bibi Yang kembali berkutat dengan dapur sedangkan Alenia meraih buku tentang Sean yang masih terbuka di meja makan.
Pastikan Sean bermain-main di halaman. Biarkan kakinya menyentuh rumput tanpa alas kaki karena itu bagus untuknya tapi jangan biarkan ia memasukkan sesuatu ke mulutnya.
Tatapan Alenia lalu terarah pada gambar-gambar mainan yang biasa dimainkan Sean di halaman dan disimpan di kotak dekat pintu belakang. Ia membuka kotak itu dan menemukan beberapa mainan yang langsung membuat Sean antusias. Bocah itu meraih sebuah mobil-mobilan dan membuat suara yang terdengar menggemaskan.
"Vroom...vroom..."
Alenia tertawa pelan. "Kau menyukai mobil dan robot ya. Baiklah, kita ke halaman sekarang."
Begitu di halaman, saat Alenia menurunkan Sean dari gendongannya, bocah itu langsung memainkan mobil-mobilannya selama beberapa saat sementara Alenia duduk tak jauh darinya, mengawasi bocah itu sambil sedikit melamun.
Kenapa orangtua Sean menitipkan bocah itu pada pengasuh dan bukannya diikutsertakan? Atau kenapa pagi tadi Nyonya Oh mengucapkan kata 'terpaksa' saat mengajak Sean ke Australia?
Pikiran negatif Alenia sampai membuat kesimpulan betapa kasihannya Sean, sekecil itu saat seharusnya mendapat banyak perhatian dari orangtuanya justru ditinggal dengan pengasuh. Diam-diam gadis itu bertekad, kalau ia menikah dan punya anak nanti, ia tak akan membiarkan anaknya diasuh orang lain. Ia ingin anaknya merasakan kasih sayangnya langsung.
"Na… na…"
Lamunan Alenia buyar saat Sean berusaha berdiri dengan berpegangan pada kakinya. Dan apa tadi katanya? Na… na...? Noona?
"Sean mau berdiri?" Alenia meraih tangan Sean dan membantu bocah itu berdiri, menjadikan tangannya tumpuan keseimbangan.
"Na…na…"
"Noona disini, sayang." Alenia tersenyum lebar sampai Sean ikut tersenyum riang. "Sean bisa berdiri?"
"Uhm…"
Alenia melepas tangannya untuk menguji keseimbangan Sean dan bertepuk tangan sambil berhitung cepat. "Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan--"
Pada hitungan kesembilan, Sean kehilangan keseimbangannya dan menjatuhkan dirinya ke pangkuan Alenia.
Gadis itu menggunakan tangan mungil Sean untuk bertepuk tangan heboh. "Sean hebat sekali bisa berdiri."
Sementara Sean tertawa, merasa nyaman pada orang asing yang baru ia temui kali itu.
Bagi bocah kecil yang sering merasa kesepian sepertinya, kehadiran Alenia seperti ganti kehadiran ibunya. Mengajaknya bicara, menemaninya bermain, memberinya perhatian, menggendongnya, dan tersenyum padanya.
--
"Masakan Bibi enak sekali," puji Alenia setelah ia menghabiskan sup jamur yang tadi dimasak Bibi Yang. Wanita paruh baya itu ikut makan dengannya dan membalasnya dengan senyum sementara di dudukan bayi, Sean sudah menyelesaikan sarapannya sebelum Alenia dan sedang sibuk dengan sepotong biskuit.
"Bagaimana pagi ini dengan Sean?"
Alenia melirik bocah itu sebentar, yang tampak menikmati biskuitnya dengan banyak remahan tertempel di sekitar mulutnya. "Menyenangkan sekali, Bibi. Sean sangat penurut."
Bibi Yang tersenyum. Wajahnya tampak welas asih dan penyabar.
"Bibi sudah lama bekerja untuk Nyonya Oh?"
"Bibi bekerja pada keluarga ini sejak Tuan William belum lahir."
"Tuan William?"
"Dia ayahnya Sean."
Gadis muda itu mengangguk-angguk paham dan menatap Bibi Yang dengan kagum. "Lama sekali rupanya."
Bibi Yang tertawa pelan sambil menyelesaikan sarapannya.
"Tapi apa Bibi tidak kelelahan kalau harus mengurus rumah?" Alenia bertanya lagi.
"Tentu saja tidak. Bibi ini asisten rumah tangga yang juga punya asisten," candanya hingga mereka berdua tertawa.
"Na… na…"
Mendengar suara dan ejaan itu, secara otomatis Alenia menoleh ke arah Sean. "Ya, sayang? Habiskan biskuitnya ya, lalu kita bermain lagi."
"Na… na…" panggilnya lagi, membuat Alenia kembali menoleh. "Na… na…"
"Ada apa, Sean?"
Bocah itu menyerahkan biskuitnya pada Alenia dan mengulurkan tangannya pada gadis itu, minta digendong.
"Begitu rupanya." Alenia tertawa pelan, lebih dulu melepas serbet Sean dan membersihkan bocah itu sebelum menggendongnya. Dan Sean menjadi tenang setelah digendong.
"Bocah yang manis," puji Bibi Yang kepada Sean. Ia sudah menyelesaikan sarapannya dan beranjak ke dapur untuk membereskannya sementara Alenia beranjak ke ruang keluarga sambil membawa buku tentang Sean.
Walau belum bisa bicara, Sean suka diajak bicara dan bermain layaknya teman.
Gadis itu menoleh ke arah Sean yang sedang bermain mobil-mobilan dan robot, benar-benar anak laki-laki. "Pantas saja..."
Sean mengarahkan mobil-mobilannya ke arah Alenia, membuat suara knalpot mobil dan memberhentikan mobil itu di dekat kakinya. Alenia mengambil alih mobil itu, membuat suara knalpot mobil seperti Sean dan menjalankan mobilnya di sekitar bocah itu, sesekali terbang mengelilingi kepala Sean hingga bocah itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Awas, Sean. Mobil datang! Vroom… vroom…"
Sean tertawa keras sampai matanya menyipit. "Na… na…" tangannya terulur hendak meraih mobil yang terbang di sekitar kepalanya. Tapi saat Sean hendak menggapai mobil itu, Alenia menjauhkannya kembali, mengusili Sean sampai bocah itu tak henti tertawa. "Naaa… vroom, vroom…"
"Kau mau mobilnya?" Sean mengangguk. Alenia mendekatkan mobil itu dan kembali membuatnya terbang menjauh. Kali ini ia menjalankan mobil itu di lengan dan kaki Sean sampai bocah itu menggelinjang geli. Setelahnya, barulah Alenia menyerahkan mobil itu dan tiduran di karpet tebal tempat mereka duduk. "Noona lelah. Kau tidak lelah?"
Seolah menjawab, Sean ikut berbaring di sebelah Alenia sementara tangannya masih sibuk menjalankan mobil-mobilannya.Sampai menjelang siang pun, mereka hanya menghabiskan waktu dengan bermain di ruang keluarga. Tanpa merasa bahwa seseorang mengawasi kegiatan mereka sepanjang hari.
--
[]