Jessa masih berada di dalam kantor Evan, pekerjaannya hari ini hanyalah melihat Evan bekerja. Ia masih memikirkan pesan dari sang ibu yang kemungkinan sedang tertarik pada kekasihnya itu. Beberapa kali Evan memanggil Jessa, tetapi wanita itu justru menatap Evan dengan tatapan kosong. Melihat hal itu, Evan mendekati Jessa dan menciumnya secara tiba-tiba.
“Evan, apa yang kau lakukan?” tanya Jessa.
“Mencium kekasihku,” jawab Evan dengan tersenyum.
“Kau membuatku terkejut,” ujar Jessa.
“Apa yang kau pikirkan saat ini?” tanya Evan.
“Tidak ada, kenapa kau ada di sini. Seharusnya kau duduk di sana dan menyelesaikan pekerjaanmu di sana,” omel Jessa.
“Aku sedang tidak ingin bekerja, aku ingin berada didekatmu, Sayang,” ujar Evan.
Jessa memutar bola matanya mendengar ucapan Evan. Kini wanita itu berdiri dari tempatnya dan hendak melangkah. Tetapi dengan cepat Evan menarik tubuh Jessa hingga jatuh di atas pangkuannya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jessa kesal.
“Apa yang akan kau lakukan dengan pergi tanpa berkata?”
“Aku hanya ingin ke kamar kecil, Evan.”
“Benarkah? Kenapa wajahmu terlihat murung setelah pertemuan tadi? Apa ada masalah dengan ibumu?” tanya Evan memastikan.
“Evan, jika harus memilih kau akan memilih kekasihmu atau orang tuamu?” tanya Jessa tiba-tiba.
“Kenapa kau bertanya hal seperti itu? Apa ibumu tidak merestui hubungan kita?”
“Tidak, bukan itu. Hanya saja … hal ini sulit untuk aku beritahukan,” jawab Jessa.
Evan melihat kebingungan di wajah Jessa, dan hal itu membuatnya tidak tenang. Evan menyentuh dagu Jessa dan membuat keduanya berhadapan. Evan menatap mata Jessa dalam-dalam, lalu bertanya pada wanita itu tentang permasalahan yang sedang ia alami.
“Jelaskan padaku, atau kau ingin melihatku memaksamu?”
“Evan, jangan seperti ini. Sungguh berat mengatakannya. Aku mohon, jangan paksa aku,” ujar Jessa dengan wajah memelas.
Evan tidak menggubris wanita itu, ia justru menggendong Jessa hingga masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di balik meja kerjanya.
Sebuah ruang tidur yang cukup mewah dengan dinding yang dipenuhi oleh kaca. Ruangan itu di d******i warna abu-abu, dengan ranjang yang juga tertutup seprai abu-abu. Evan merebahkan tubuh Jessa di atas ranjang itu, dan ia ikut bergabung di samping wanitanya.
“Evan, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jessa yang bingung.
“Tidak ada, aku hanya ingin membuatmu beristirahat, tidurlah. Aku akan menjagamu di sini,” ujar Evan.
“Kau yakin? Karena kau membuat jantungku berdetak cukup kencang saat ini,” ungkap Jessa.
“Benarkah? Kenapa? Apa kau takut jika aku melakukan sesuatu?”
“Mungkin saja, karena aku tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya,” jelas Jessa.
“Apa kau ingin mengatakan jika kau masih perawan?”
“Ya, semacam itu. Dan kau membuatku takut saat ini,” ujar Jessa.
“Baiklah, aku akan pergi. Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya untuk pulang,” ujar Evan sembari beranjak dari ranjang.
Pria itu benar-benar keluar dari ruang tidur itu, dan menutup rapat pintunya. Sementara Jessa masih terjaga karena tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang masih berdetak cukup kencang saat ini.
“Ada apa denganku? Astaga … aku sangat gugup kali ini,” gumamnya.
Jessa beranjak dari ranjang dan memutuskan untuk mengambil segelas air yang tersedia di atas meja. Tanpa pikir panjang, Jessa langsung menghabiskan segelas air itu, hingga membuatnya terbatuk-batuk.
“Apa ini? Uhuk … uhuk.”
Tidak lama setelah itu, ia merasa sangat pusing. Dan kesadarannya pun berkurang. Jessa mencoba berjalan ke atas ranjang, tetapi tidak bisa. Tiba-tiba saja ia merasa jika ruangan itu berputar dengan cepat, dan membuatnya terjatuh di atas karpet bulu.
“Kenapa kepalaku terasa berat, minuman apa itu?” gumam Jessa.
Ia mencoba memanggil Evan beberapa kali, tetapi percuma karena ruangan itu memiliki system kedap suara. Hingga akhirnya ia hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya setelah tidak bisa menahan rasa pusing itu.
***
Entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Jessa merasa ada yang memanggil namanya berkali-kali. Perlahan ia membuka mata, dan melihat wajah Evan yang khawatir.
“Astaga … akhirnya kau sadar,” ucap Evan.
“Evan … kepalaku pusing,” ujar Jessa.
“Kau menghabiskan minuman di sana?” tanya Evan.
“Ya, aku kira itu adalah air mineral,” ujar Jessa.
“Astaga, Sayang.”
Evan memeluk tubuh Jessa dengan erat, dan hal itu membuat Jessa merasa nyaman. Saat Evan melepaskan pelukan itu, ia melihat wajah Jessa sudah memerah.
“Apa kau demam?” tanya Evan.
“Tidak, tetapi tubuhku terasa panas,” ujar Jessa.
“Apa?”
“Evan.”
Jessa melepaskan pakaiannya di hadapan Evan, dan hal itu membuat Evan sedikit terkejut. Hingga akhirnya Evan berusaha membuat Jessa kembali mengenakan pakaian itu.
“Tidak mau! Aku kepanasan, Evan. Lepaskan!” protes Jessa.
“Sayang, kau membuat diriku tidak bisa menahannya lagi,” ujar Evan yang sudah berkali-kali menelan ludahnya.
“Ahh … Evan, tubuhku terasa panas,” ujar Jessa.
Wanita itu kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Dan membuat libido Evan naik seketika.sebagai pria lajang, tentu saja Evan tidak ingin menyiakan saat itu.
“Sayang, kau yang memintanya.”
Evan meraih tubuh Jessa dan menciumnya dengan kasar. Tubuh Evan menindih Jessa, dan menekan pada bagian intimnya.
“Ehm, aahh,” desah Jessa diantara ciuman itu.
Tangan Evan kini bermain pada bagian d**a Jessa, dan meremasnya dengan lembut. Desahan Jessa mulai terdengar di sela ciuman mereka. Wanita itu terlihat begitu kaku, dan sepertinya memang hal itu masih baru untuknya.
Tidak menyiakan kesempatan, Evan melepaskan ciumannya dan menurunkan pakaian dalam milik Jessa.
“Evan, apa yang kau lakukan?” tanya Jessa.
“Aku akan menghilangkan rasa panas itu, Sayang,” jawab Evan.
“Ehm … sstt, Evan … aahhh, geli,” ujar Jessa saat jari Evan menggesek pada kewanitaannya.
Evan melebarkan kaki Jessa dan memasukkan jarinya ke dalam liang senggama itu. Terasa basah saat jarinya mulai mengaduk di dalam sana.
“Ahh, Evan … aahh, sssttt … geli, yeah … aahh,” desah Jessa saat Evan melakukannya dengan baik.
“Kau menikmatinya?” tanya Evan.
“Ehm, apa ini? Aku merasa geli, Evan.”
Evan tidak menjawab, ia mengeluarkan jarinya dan menggantikannya dengan lidah yang kini menjulur masuk.
“Aahh, Evan! Ahhh, geli. Aku ingin ke kamar mandi, lepaskan, ahhh.”
“Keluarkan saja di sini, sayang.”
“Ahh, ssstt … geli, akh!”
Cairan bening keluar dari dalam liang itu, dan Evan menghisapnya hingga bersih. Kini ia melepaskan pakaiannya, hingga terlihat sebuah kejantanan yang panjang siap memasuki liang senggama itu. Evan kembali menindih tubuh Jessa, dan memainkan puncak d**a wanita itu.
“Ehm, aahh … Evan, aahh.”
Bagian bawahnya juga menggesek pada pintu kewanitaan Jessa. Hingga secara otomatis, wanita itu melingkarkan kakinya pada pinggang Evan. Perlahan, Evan memasukkan miliknya ke dalam liang senggama Jessa.
Awalnya Jessa terlihat menahan dirinya, ia terus menggerakkan pinggulnya agar benda tumpul itu tidak masuk ke dalam miliknya.
“Evan, jangan … apa yang akan kau lakukan?” tanya Jessa.
“Kau akan merasakan kenikmatan itu, Sayang,” jawab Evan.
Satu tangan Evan mengarahkan kejantanannya, dan dengan sekali hentakan benda itu masuk sepenuhnya ke dalam sana.
“ARGH! Sa-sakit! Evan!” teriak Jessa.
Evan dengan segera menutup mulut Jessa dengan bibirnya. Ia juga membiarkan kejantananya di dalam sana, hingga Jessa kembali tenang. Akhirnya Evan menggerakkan pinggulnya secara perlahan, meski Jessa masih merasakan nyeri, tetapi Evan membungkam mulutnya dengan ciuman dan remasan pada bagian dadanya.
Evan terus menggerakkan pinggulnya hingga Jessa kembali mendapatkan pelepasannya. Dan setelah lima belas menit berlalu, Evan mengeluarkan cairan putih kentalnya di dalam rahim Jessa.
Akhirnya mereka berbaring dalam satu ranjang, dan Evan menarik selimut untuk menutup tubuhnya bersama Jessa, kekasihnya.