Lagi-lagi aku berpura kuat, menunjukkan ketenangan yang palsu. Padahal mengetahui kedua mantan kekasih itu bertemu saja hatiku sudah teramat sakit. Terlebih ketika fakta yang tak kuketahui itu meluncur dari bibirnya, juga bagaimana ia menyebutku w************n dengan begitu sinisnya. Aku adalah orang yang perasa dan aku tidak sebodoh itu untuk tidak peka bahwa sebutan itu memang ia tunjukkan kepadaku. Namun aku memilih diam, sekuat tenaga menenangkan kecamuk didadaku. Aku tidak ingin percaya begitu saja, lebih tepatnya adalah aku masih berharap bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan dan semua yang diucapkannya hanyalah dilandasi perasaan cemburunya saja. Tapi sayangnya, begitu melihat bagaimana reaksi Mas Mandala yang nampak kacau. Keyakinan dan harapan itu perlahan runtuh.

