Tidak ada satu kalimat pembelaan pun yang keluar dari bibir Nailis saat Pak RW menjelaskan kepadaku duduk perkara yang terjadi sampai akhirnya diambilnya keputusan dengan tanpa adanya sama sekali pemberitahuan kepadaku, selaku suaminya. Yakni dikarenakan ponsel Nailis ataupun ponsel ayah mertuaku yang rusak sehingga tidak bisa menghubungiku. Setelah semua clear dan semua yang hadir satu persatu meninggalkan kediaman mertuaku, termasuk juga Dimas dan keluarganya. Nailis masih diam membeku bagai patung yang tak bernyawa. Dalam diam aku hanya bisa bertanya-tanya? Bolehkah aku merasa kecewa? Karena bagaimanapun kami adalah sepasang suami istri, meski Nailis belum bisa menerimaku sepenuhnya menjadi suaminya. Tapi tak bisa kupungkiri bahwa dalam hatiku terselip sebuah perasaan cemburu. Mereka d

