Semua orang, termasuk anggota Keluarga Winarto, termangu bodoh untuk sesaat.
Leonardo juga nampak terkejut,Bukan ini benda yang dia pilih.
Pasti ada yang salah.
"Bobby,Benda yang dia pilih adalah seekor giok singa, yaitu hewan mistis dengan kepala naga, tubuh singa, dan sepasang sayap.
Sebagai hewan keberuntungan dari zaman kuno, giok singa diyakini dapat mengusir roh jahat dari rumah dan membawa keberuntungan." Para pebisnis juga memuja giok singa ini.
Namun, Leonardo tahu betul bukan ini yang dia inginkan.
Apa jangan-jangan pemilik toko itu memberinya barang yang salah?
Robert yang sedari tadi terdiam pun sontak berseru dengan marah.
"Leonardo, sebenarnya apa maksudmu? Kamu bahkan membawa binatang buas yang jahat seperti giok singa ini." Semua orang terdiam.
Mereka awalnya ingin menertawakan Leonardo karena berpikir pria itu membawa barang murahan.
Namun, dilihat sekilas saja sudah terlihat bahwa giok singa ini bukan barang biasa.
Pasti sangat berharga dan bernilai tinggi. Kecacatan apa lagi yang bisa Robert katakan.
"Giok singa ini melambangkan binatang buas pembawa s**l! Kamu memberikan benda ini artinya sedang mengutuk Keluarga Winarto agar tertimpa musibah, bukan?
Kamu ini hanyalah menantu pecundang yang menumpang hidup di Keluarga Winarto!
Kamu hidup dengan mengandalkan kami!
Perbuatanmu ini sungguh kejam, apakah hati nuranimu sudah dimakan anjing?" Ekspresi Robert sungguh murka seolah-olah ingin menelan Leonardo bulat-bulat.
Dia berpikir bahwa dia bisa menindas Leonardo kapan saja selama dia ingin.
Akan tetapi, dia sangat marah karena apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar ekspektasinya.
Bukan apa yang Leonardo berikan yang menyulut kemarahannya, tapi dia merasa malu karena si pecundang satu itu bisa memberikan sesuatu yang begitu luar biasa.
Leonardo mengernyitkan alisnya sedikit.
Robert selalu saja menghalalkan segala cara untuk menindasnya!
Namun, saat datang Eleanor sudah bilang bahwa dia harus menahan diri apa pun yang terjadi, jadi Leonardo juga tidak akan berhitungan dengan Robert.
Apalagi situasi juga tidak akan membaik meski Leonardo menjelaskannya.
Semua orang pasti akan memihak Robert.
Robert lalu menoleh menatap Bobby,
"Ayah! Lihat, si Leonardo p*cundang ini membawa patung ukiran binatang buas di hari seperti ini!
Kamu tidak mempermasalahkannya? "
Para perwakilan dari kekuatan Kota Veo yang lain tidak mengatakan sepatah kata pun karena bagaimanapun juga, ini adalah masalah Keluarga Winarto.
Bobby menatap Leonardo dengan alis yang sedikit mengernyit, matanya terlihat agak tidak sabar.
"Binatang buas seperti giok singa ini melambangkan hanya masuk tidak akan keluar dan akan menelan semuanya.
Kamu pasti memberikan ini karena kamu ingin merebut harta Keluarga Winarto dan menguasai keluarga ini, bukan?
Leonardo, ternyata kamu ambisius sekali."
Walaupun Bobby adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan yang hebat, dia juga tidak memperlakukan Leonardo dengan baik hati.
Dia menganggap pria itu adalah menantu pecundang yang menumpang hidup di Keluarga Winarto.
Semua orang belum merasakan apa-apa ketika Robert mengomeli Leonardo.
Akan tetapi, mereka semua langsung memihak Bobby begitu dia berbicara.
Banyak sekali orang yang merasa senang atas penderitaan Leonardo.
Padahal mereka semua awalnya terkagum-kagum saat Leonardo mengeluarkan giok singa yang begitu indah!
Namun, sekarang Leonardo malah memindahkan batu terkena kaki sendiri dan membuat Bobby marah.
Sudah tidak mendapatkan apa-apa, malah kena marah.
Eleanor bahkan merasa lebih terhina dalam hati.
"Leonardo, Leonardo Kenapa kamu tidak memberikan yang lain, malah memberikan giok singa?
Kamu tetap saja akan dipermalukan meski memberikan barang seharga 20 ribuan.
Bukankah hal seperti ini sudah sering terjadi padamu?
Namun, kamu malah ingin menyombongkan diri dan memberikan patung giok singa kepada orang-orang yang jadinya mengira kamu ingin merebut bisnis Keluarga Winarto?Kamu benar-benar mau membunuh keluarga kami, ya?!"
Suasana pun terasa sangat aneh.
Semua orang di Keluarga Winarto merasa senang dengan kesialan yang dialami Eleanor dan Leonardo.
Raut wajah mereka semua tampak sedang mengejek.
Tepat pada saat itu, terdengar suara seseorang berseru dari luar pintu, "Hadiah sebagai ucapan selamat dari Keluarga Salim sudah tiba!"
"Keluarga Salim?" Semua orang sontak diam.
Hanya ada Leonardo yang bermarga Salim di antara banyaknya orang yang hadir, tapi mereka semua tidak menganggap Leonardo adalah bagian dari Keluarga Salim.
"Keluarga Salim?"
"Ada Keluarga Salim di Kota Veo?"
Bobby juga merasa sedikit terkejut, tapi dia tidak banyak mengatakan apa-apa.
Dia tentu saja harus turun tangan menyambut ketika orang lain mengirimkan hadiah sebagai ucapan selamat yang sedemikian besar.
Detik berikutnya, sekelompok orang berpakaian hitam melangkah satu per satu masuk ke dalam aula.
Mereka terlihat berwibawa sekali.
Bobby segera berlari kecil menghampiri mereka dan bertanya ke pemimpin sekelompok orang itu yang merupakan orang paruh baya,
"Maaf, Yang Mulia ini siapa?”
"Tentu saja kami dari Keluarga Salim harus memberikan hadiah sebagai ucapan selamat untuk perayaan perusahaan Keluarga Winarto! Selain itu, anggap saja ini sebagai bentuk Tuan Muda kami membayar utangnya" ujar pria paruh baya itu datar.
Dia lalu memerintahkan orang di belakangnya untuk membuka kotak yang ada di sampingnya.
Bukan hanya sedikit mirip, melainkan sama persis! Terlepas dari ukurannya dan warnanya yang putih, kedua patung ini terlihat seperti sepasang.
"Ini adalah hadiah sebagai ucapan selamat untuk perayaan kelima tahun bisnis Grup Winarto.
Semoga Direktur Bobby berkenan menerimanya."
Pria paruh baya itu lalu menunjuk ke beberapa kotak lainnya, "Barang-barang ini adalah utang yang Tuan Muda bayar."
"Apa ini?” tanya Bobby masih tercengang.
Brak!
Ketika kotak itu dibuka, hanya ada sesuatu yang merah yang terlihat oleh semua orang.
Itu semua adalah uang kertas berwarna merah!
"Ini adalah mas kawin secara tunai, totalnya sembilan belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah!"
"Ma .... Mas kawin ..." Pandangan Bobby menjadi kosong.
Mas kawinnya berupa uang kertas senilai sembilan belas miliar sembilan ratus sembilan ratus delapan puluh juta rupiah?
"Benar sekali, Tuan Muda dari Keluarga Salim kami sudah menikah dengan putri dari Keluarga Winarto, mana mungkin kami melupakan mas kawinnya?"
ujar pria paruh baya itu sambil tersenyum.
Dia kemudian memerintahkan orang-orang di belakangnya untuk meletakkan uang tunai itu di atas meja.
Uang kertas merah itu dibagi per 20 juta, 999 tumpuk uang itu disusun dengan rapi di atas meja.
Semua orang yang hadir di aula itu terdiam dengan d**a yang naik turun dengan cepat, entah itu anggota Keluarga Winarto maupun para orang kaya dari Kota Veo lainnya.
Jangan bahas ukiran giok singa itu.
Uang tunai dengan jumlah sebesar ini sebagai mas kawin sudah cukup untuk membuat mata semua orang terbelalak kaget.
Bagaimanapun juga, keberadaan para orang kaya itu sudah sangat tersohor karena Kota Veo adalah kota kecil.
Akan tetapi, sekarang ada Keluarga Salim!
Mereka bisa meletakkan puluhan miliar uang tunai hanya dengan satu lambaian tangan!
Kehebatan macam apa ini? Mas kawin senilai puluhan miliar!
Bobby juga sudah melihat banyak hal dalam hidupnya, tapi tetap saja saat ini dia terdiam.
Walaupun rasanya dia tidak mengerti maksud dari ucapan pria paruh baya itu, tapi dia tetap bisa menangkap satu atau dua patah kata.
Gadis mana dari Keluarga Winarto yang berhasil menarik perhatian Tuan Muda Keluarga Salim?
Bobby benar-benar tidak bisa menemukan alasan apa pun untuk menolak mas kawin yang sedemikian besarnya di hadapannya!
Dia bahkan tidak repot-repot meminta pendapat dari para putri Keluarga Winarto karena dia tahu tidak akan ada yang menolak.
sembilan belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah ini adalah utang yang Tuan Muda bayarkan kembali.
"Aku tidak akan bicara lebih banyak lagi, tanggung jawabku hanya untuk mengantarkan barang-barang ini.
Hal-hal lainnya akan Tuan Muda bahas dengan kalian.”
Pria paruh baya itu berujar dengan datar, lalu membawa orang-orangnya pergi tanpa basa-basi.
Bobby hendak mengantarkan mereka pergi, tapi orang-orang itu lenyap dari pandangannya dengan cepat sekali.
Keraguan merayapi benaknya. Sebenarnya, apa maksud dari semua ini?
Kenapa Keluarga Salim membayar utang kepada Keluarga Winarto?
Mas kawin ya mas kawin, tapi apa maksudnya dengan membayar utang?
Jangan-jangan Keluarga Salim berutang mas kawin pada Keluarga Winarto?
Bobby tahu betul bahwa Keluarga Winarto
belum pernah bertemu dengan sosok sehebat itu dari Keluarga Salim, jadi bagaimana dia bisa mengerti?
Dirinya bahkan tidak kenal dengan orang bermarga Salim, tapi tidak juga.
Suami Eleanor, Leonardo, memang bermarga Salim.
Akan tetapi, apa hubungannya pecundang itu dengan keluarga sekaya ini?
Akan menjadi lelucon besar kalau sampai dia tanyakan.
Napas semua orang yang hadir menjadi menderu saat menatap ratusan tumpuk uang kertas berwarna merah yang memenuhi meja aula.