Prolog

583 Kata
Lara tau ia sedang tidak sadar. Lebih tepatnya, tertidur. Ia merasa tubuhnya sedang rebahan di suatu tempat dengan nyaman. Ada aroma lavender yang ia ingat. Sayup-sayup ia mendengar suara ombak yang menyenangkan. Lara ingin membuka mata, ingin tau tempatnya berada yang terasa menyenangkan. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Seingin apapun ia membuka mata, ia malah terpaku pada kelebat memori yang bergerak cepat dalam benaknya. Oh, Lara sedang bermimpi. Mimpi yang kacau, dan sangat abstrak. Sekelebat ada cahaya menyilaukan, sekelebat ada aroma yang sangat menyengat, sekelebat lagi seperti ada suara denting garpu. Atau pisau, dengan piring kah? Entahlah, tidak jelas. Lalu ada cairan menetes. Eh? Apakah ia sedang minum? Dalam mimpi itu, Lara lantas berjalan entah kemana. Ia tiba di sebuah ruangan, lantas menoleh ke kanan, ada sebuah meja putih dengan laci yang dipahat dengan cermat. Di atas meja, ada sebuah vas bunga antik dengan ukiran-ukiran khas dari jaman Dinasti Ching, tampak mahal dan mewah. Pasti mahal. Tunggu, Lara juga tidak sadar darimana ia tau kalau itu vas antik bernilai tinggi. Mungkin ia melihatnya di film-film? Di vas bunga itu, ada seikat bunga Marigold berwarna oranye yang ditata sedemikian rupa dan terlihat cantik. Di atas bunga, tergantung di dinding berwarna putih, ada sebuah cermin bulat yang bingkainya dari perak berpahat. Pahatannya membuat cermin itu terlihat seperti gambar matahari. Dan di cermin itu, ada seorang wanita yang rambutnya disanggul, membalas tatapan Lara. Sebuah mahkota tersemat di puncak kepalanya. Wajah wanita itu tampak tenang. Kelopak matanya dipoles berwarna cerah. Pipinya diberi perona berwarna alami. Dan bibirnya ranum sewarna buah peach. Lara mengerjap. Eoh? Itu dirinya! Tampak cantik dalam riasan pengantin! Lara tidak ingat kapan ia secantik itu. Biasanya ia terlihat lusuh dengan celana jins dan kaos longgar. Tapi kali itu ia cantik sekali. Wah, Lara jadi terpesona dengan dirinya sendiri. Dan pakaian yang membalut tubuhnya. Ia menunduk. Benar saja, tubuhnya terbalut sebuah gaun pengantin berwarna merah cerah dengan motif sulur berwarna emas. Lara tersenyum, kembali menatap cermin, ia pasti bisa melihat dirinya semakin cantik. Tapi pantulannya di cermin tidak tersenyum, padahal pipi Lara semakin pegal karena tersenyum lebar. Pantulannya di cermin malah tampak sedih, binar matanya kosong. Ada apa? Oke, ini mulai menakutkan. Lara sampai merinding. Jadi ia segera berlari. Gaun pengantinnya yang berbahan sutra terasa sangat ringan, membuatnya berlari dengan leluasa. Lara terus berlari, sampai menyadari hari sudah malam. Gelap. Lara tidak tau ia berada dimana sekarang. Tapi ia berlari lagi sampai ia melihat seekor bayi panda sedang duduk memakan bambu muda. Astaga, lucu sekali! Bayi panda itu tampak sendirian dan rapuh, jadi Lara berlari kesana. Siapa tau ia bisa mengantongi bayi panda itu dan membawanya pulang. Tapi semakin ia berlari, Lara semakin menyadari bahwa itu bukan bayi panda, tapi induknya. Dan besar sekali! Ketika Lara menyadari bahwa ia seharusnya berhenti, segalanya sudah terlambat. Ia berlari di jalanan menurun dan susah untuk berhenti. Panda yang tingginya lebih dari Lara itu berbalik, dan Lara hanya bisa memejamkan mata pasrah saat ia menabrak si Panda tepat di perut gempalnya. Seketika, ia mental ke atas, seperti dalam adegan film Kungfu Panda yang dilihatnya. Setelah mental jauh ke atas, Lara pikir ia akan jatuh ke tanah dan membuatnya berlubang seperti jatuhan meteor. Tapi ia mendarat di atas awan, dan melihat peri-peri kecil berlarian. Salah satu peri kecil itu berlari ke arah Lara sambil mengatakan, atau meneriakkan sesuatu, sebelum menubruk Lara dengan kekuatan luar biasa. Lara mengingat peri kecil itu berteriak, "Mama!" sebelum mereka jatuh. Ketika ia membuka mata lagi, Lara terbangun. Dan suara ombak itu menjadi sangat nyata sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN