"Aeris tidak mau, Ibu ...." desah Aeris menahan kesal. "Jus ini baik untuk rahim kamu, Sayang. Ibu kan, sudah nggak sabar pengin punya cucu dari kamu." "Duh, Gusti." Aeris mengusap wajah kasar. Bagaimana mungkin dia dan Leon memberi cucu kalau mereka saja belum melakukan hubungan suami istri. "Ayo, cepat minum!" "Tapi, Bu ...." "Jangan dirasakan, ayo cepat minum." Aeris menutup hidung dan mata erat-erat saat minuman itu masuk ke tenggorokan agar tidak muntah. "Anak pintar." Hana menepuk puncak kepala Aeris dengan penuh sayang. "Ini yang terakhir ya, Bu?" Aeris memohon agar Hana tidak menyuruhnya untuk meminum jus aneh-aneh lagi. "Iya, Sayang. Ibu pulang dulu, ya." "Yes!" Aeris bersorak senang karena nanti malam tidak perlu tidur sekamar dengan Leon dan mengeluarkan desahan pal

