6 tahun kemudian “Pagi Bun.” Ali sedikit menunduk untuk mencium pipi bundanya yang sudah siap di meja makan dengan sarapan mereka. “Pagi sayang. Makan dulu yuk,” Fani menyendokkan nasi goreng ke piring putranya. Dengan lahap Ali menghabiskan nasi gorengnya. Setelah sarapannya habis Ali langsung melirik arlojinya. “Bun Ali udah harus berangkat nih. Udah ada janji sama pasien pagi ini,” pamit Ali lalu mencium punggung tangan bundanya. “Iya Li. Kamu hati-hati ya,” pesan Fani yang dibalas Ali dengan anggukan. “Oh iya, jangan lupa kasih makan Miko ya Bun, Ali buru-buru banget soalnya,” ucap Ali saat ia hendak keluar dari rumah. “Iya Li.” Fani menatap kepergian putranya dengan tersenyum hangat. Fani benar-benar merasa bahagia. Bagaimana tidak, putranya sudah menjadi orang yang sukses se

