Chapter 9

823 Kata
Ali membalik-balikkan buku sastra yang ada dihadapannya. Bagi Ali waktu itu jangan dibiarkan berlalu begitu saja. Setiap detiknya harus dilalui dengan sebaik mungkin. “Duh tuh anak kemana sih. Masa iya belum kelar kelasnya. Kan gue juga mau pulang,” dumal Ali sambil melirik jam tangannya. Tadi Ali mengirim pesan WA pada Prilly untuk menemuinya saat pulang sekolah untuk melihat hasil ulangan fisika Prilly. Namun sudah hampir 15 menit Ali menunggu gadis itu tak datang juga. “Sorry ya telat dikit,” ucap seseorang di belakang Ali. Ali membalikkan badannya dan mendapati Prilly yang sudah berada dibelakangnya. “Lo kemana aja sih? Lama banget. Lo pikir waktu gue banyak apa buat liat nilai ulangan lo yang selalu jelek itu,” omel Ali. Prilly mendengus kesal mendengar ucapan Ali. Ali selalu seperti itu bicara seenaknya tidak pernah memikirkan apakah perasaan orang lain akan terluka atau tidak. “Mana hasil ulangan lo?” Tanya Ali. Dengan tampang ragunya Prilly memberikan kertas ulangannya pada Ali yang membuat Ali sudah bisa menebak hasil ulangan Prilly yang tak jauh-jauh dari angka 4, 5, atau 6. Ali mengambil kertas ulangan Prilly. Ali melihat kertas ulangan itu dahinya mengerinyit, Ali menatap Prilly tak percaya sementara Prilly memperlihatkan senyum penuh kemenangan. “86?” Tanya Ali tak percaya dengan hasil ulangan Prilly. Sungguh diluar dugaan. Ali sangat tahu guru yang mengajar fisika dikelas Prilly adalah guru paling killer disekolahnya. Tak ada siswa yang bisa menyontek pada saat jam ulangannya. “Yap! Hebat kan gue. Ayoo ngaku kalau gue hebat,” sorak Prilly penuh kemenangan. “Hush! Bisa gak sih biasa aja? Ini perpus bukan stadion. Lagian cuma lebih 1 doang dari target yang gue kasih. Jadi biasa aja gak ada hebat-hebatnya,” kata Ali yang membuat Prilly mengerucutkan bibirnya. Dasar lelaki menyebalkan! “Menurut lo biasa aja. Tapi beda kalau menurut gue,” ucap Prilly lirih. Ali menatap Prilly yang sedang menunduk sambil memainkan tali tasnya. Apa dia sudah menyinggung perasaan gadis ini? Mungkin Prilly benar, bagi Ali ini memang biasa saja. Tapi bagi dia? Ini sesuatu yang luar biasa. “Oke. Karna lo berhasil ntar malam gue jemput. Kita jalan-jalan,” ucap Ali yang membuat Prilly mendongakkan kepalanya. “Beneran?” Tanya Prilly sumringah. “Iya. Tapi berhubung ntar malem satnite. Jadi lo jangan berfikiran kita ngedate. Kita cuma jalan-jalan,” ucap Ali penuh penekanan lalu berlalu dari Prilly.     “Dih. Siapa juga yang mau ngedate sama dia. Iuhhhh..... manusia ngeselin kayak dia tu harusnya cepat-cepat punah.”     ***     “Aliiii.   ,” Ali yang baru akan masuk ke dalam mobilnya harus menghentikan langkahnya saat ada seseorang yang memanggilnya. “Kenapa Cha?” Tanya Ali saat mendapati Icha sudah berada tepat didepannya. “Ntar malam ada pameran robotik disalah satu mall. Kita kesana yuk. Hitung-hitung nambah pengetahuan.” “Bo. ,” ali menghentikan ucapannya saat ia teringat sesuatu. Bagaimana mungkin ia pergi dengan Icha sementara ia sudah ada janji dengan Prilly. “Kenapa Li?” Tanya Icha saat melihat Ali yang sedang sibuk berpikir. Ali benar-benar bingung. Malam ini satnite, ia tak bisa bohong kalau ia ingin sekali melewati malam minggunya kali ini bersama Icha. Haruskah ia menolaknya. Tapi Icha pasti akan sangat kecewa. “Boleh deh, ntar malam gue jemput ya,” balas Ali yang membuat senyum Icha mengembang. “Oke, aku tunggu ya. Yaudah aku mau pulang dulu. Kamu hati-hati,” Icha berlalu dari Ali sementara Ali langsung masuk ke dalam mobilnya.     ***     Prilly berdiri didepan cermin memperhatikan penampilannya. Ia menggunakan jeans abu- abu dengan design robek-robek pada beberapa bagiannya seperti yang sedang tren sekarang dipadu dengan kemeja berwarna merah maroon kotak-kotaknya. Rambut sebahunya dibiarkannya tergerai begitu saja. Setelah merasa siap, Prilly keluar dari kamarnya dan memutuskan menunggu Ali di ruang tamu. Sudah hampir 2 jam Prilly menunggu namun Ali tak kunjung datang. Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Prilly berniat untuk menghubungi Ali, namun ia buru-buru mengurungkan niatnya. Ia hanya tak mau kalau Ali berpikir ia terlalu berharap ingin jalan malam ini dengan Ali. Merasa sudah terlalu lama menunggu, Prilly segera kembali ke kamarnya.     ***Pagi minggu yang cerah, membuat Prilly makin bersemangat melakukan rutinitas pagi minggunya. Setiap pagi minggu Prilly selalu membantu bik Imah memasak, selain menambah pengalaman, Prilly juga memang sangat suka memasak. Bik Imah adalah asisten rumah tangga di rumah Prilly, bik Imah sudah bekerja disini bahkan sebelum Prilly lahir. Bagi Prilly, bik Imah bukan hanya seorang asisten rumah tangga, namun juga sudah seperti keluarga. “Non Prilly kalau lagi masak gini. Mirip sekali dengan nyonya,” ucap bik Imah memperhatikan Prilly yang sedang mengupas bawang. “Masa sih bik? Kangen ya bik sama masakan mama. Aku gak pernah bisa lo bikin masakan seenak mama,” ucap Prilly. “Iya non. Tapi masakan non tetap enak kok. Bibik aja kalau makan masakan non suka lupa diri" ucap bik Imah yang membuat Prilly terkekeh. Memasak memang salah satu moodbooster- nya selain Miko kelincinya. Buktinya ia sampai lupa akan kekesalannya pada Ali karna kejadian kemarin malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN