Prilly memperhatikan penampilannya didepan cermin. Hari ini ia memakai baju kaus putih dengan dilengkapi rok pink dengan wadges-nya. Menurutnya penampilannya cukup simple. Sore ini Prilly memutuskan untuk menunggu Ali di kamar, jaga-jaga jikalau Ali tak datang ia bisa langsung mengganti pakaiannya dan tidur. Tiba-tiba Prilly mendengar suara klakson mobil, Prilly mengintip dari jendela kamarnya dilantai dua, terlihat Ali yang keluar dari mobilnya. Ternyata Ali datang tepat waktu. Prilly langsung bergegas menghampiri Ali.
“Haiii,” sapa Ali. Prilly hanya melirik Ali dengan tatapan malas. Mungkin ini efek karna Prilly masih kesal dengan kejadian tempo hari.
“Yaelah muka lo ditekuk gitu, kayak dijemput KPK,” goda Ali yang mendapat tatapan
tajam dari Prilly.
“Gue lagi gak kepengen becanda, jadi pergi atau enggak?” Tanya Prilly ketus. Ali hanya
tertawa kecil mendapati sikap cuek Prilly. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil Ali.
Didalam mobil hanya terjadi keheningan, setiap kali Prilly bertanya mereka akan kemana, Ali hanya menjawab dengan jawaban yang sama sekali tak menjurus pada suatu tempat membuat Prilly malas bertanya dan lebih fokus menikmati kemacetan jalan hingga mobil Ali berhenti di salah satu mal di Jakarta.
“Mall? Aaaa bosan ah ke mall, lo jangan ngajak gue kemall dong,” rengek Prilly saat mobil Ali sudah terparkir.
“Udah turun aja dulu,” ajak Ali. Akhirnya dengan sangat terpaksa Prilly mengikuti Ali
memasuki mal.
“Gue itu bukan bodyguard lo, jadi sini jalan disamping gue,” ucap Ali yang mendapati Prilly berjalan malas dibelakangnya. Dengan malas Prilly berjalan di samping Ali yang membuat Ali tersenyum puas.
“Aaaaaaaaa,” pekik Prilly yang membuat Ali kaget dan sontak membekap mulut Prilly.
“Ih lo berisik banget. Biasa aja dong.” Prilly meracau tak jelas karna mulutnya yang masih
dibekap Ali.
“Gue bakal lepasin tapi janji jangan teriak,” ucap Ali yang mendapat anggukan dari Prilly.
Ali langsung melepaskan bekapannya pada mulut Prilly yang membuat Prilly dapat bernafas lega.
“Ih Ali engap tau,” omel Prilly.
“Lo berisik.”
“Ih gue kan kesenangan. Kalau gue lagi seneng gue suka teriak. Aaaaaa Ali kok lo tau sih
ada acara beginian?” Tanya Prilly.
“Tau dari Bunda. Tadi siang Bunda juga kesini, katanya acaranya bakal dilaksanain selama 1 minggu,” jelas Ali.
Kini Ali dan Prilly sedang berada di pameran binatang peliharaan yang diadakan di mall ini. Sebenarnya banyak sekali macam-macam bintang peliharaan disini. Tapi Ali sengaja membawa Prilly ke area khusus kelinci. Sebenarnya Ali juga ingin melihat-lihat kucing, namun diurungkan niatnya karna ia tahu Prilly takut kucing. Tak heran kalau Prilly tadi memekik kegirangan, karena sekarang di hadapannya terdapat banyak kelinci berbagai jenis. Tanpa arahan Prilly langsung berputar-putar melihat satu persatu kelinci-kelinci itu. Ali hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Prilly. Kalau berhubungan dengan kelinci Prilly terlihat seperti anak kecil. Setelah sangat lama berkeliling ditempat itu yang menurut Ali sangat tak jelas akhirnya Prilly yang kelelahanpun menyudahi aksinya melihat beberapa kelinci ditempat itu membuat Ali bernafas lega. Sungguh baginya ini sudah kelewat membosankan. Merasakan lapar diperutnya, Ali pun memutuskan untuk mengajak Prilly makan yang langsung disetujui Prilly karna ia juga sudah sangat lapar.
***
“Yakin kita mau kesini?” Tanya Prilly yang dibalas ali dengan anggukan mantap. “Kenapa? Lo gak suka?” Tanya Ali.
Prilly menatap sendu kearah pasar malam yang sudah ramai pengunjung. Pasar malam ini mengingatkan Prilly pada kehangatan keluarganya yang pernah ada. Dulu saat Prilly masih menginjak sekolah dasar Prilly sangat sering mengunjungi tempat ini bersama papa dan mamanya.
“Prill,” panggil Ali yang memecahkan lamunan Prilly. “Kalau lo gak suka kita cari tempat lain aja.”
“Gak papa kok. Kita kesana aja,” Prilly kemudian keluar dari mobil Ali yang diikuti Ali yang masih heran dengan sikap Prilly.
“Kita main itu yuk,” ajak Prilly menunjuk komedi putar. Ali pun mengangguk setuju lalu
mengikuti Prilly.
Terlihat jelas rona bahagia Prilly saat bermain dipasar malam ini. Rona bahagia yang tak pernah Ali liat sebelumnya, entah mengapa Ali merasa ingin selalu melihat kebahagiaan ini. Bahkan sangat berbeda rasanya melihat rona bahagia yang keluar dari wajah Prilly dan Icha. Ali menggeleng pelan saat menyadari dirinya membandingkan antara Prilly dan Icha.
“Ali main gelang-gelangan itu yuk kali aja kita dapat boneka gede,” ajak Prilly menarik
tangan Ali ke area permainan lempar gelang.
“Biar gue aja ya yang lempar gelangnya ya,” ucap Prilly saat Ali sudah mendapatkan
gelangnya.
“Udah gue aja. Kalau lo yang lempar palingan cuma dapet kuaci,” ucapan Ali yang
membuat Prilly membulatkan matanya kesal.
Gelang 1... gagal
Gelang 2... gagal
Gelang 3... gagal
Gelang 4... gagal
Kini tinggal gelang terakhir, namun belum ada yang masuk.
“Mana? Jangankan boneka. Kuaci juga kagak dapet,” ledek Prilly. Ali pun melemparkan
gelang terakhirnya. Dan happ!!!
“Yeayyy. See!” Ucap Ali saat gelangnya masuk sasaran.
“Selamat mas. Ini bonekanya,” ucap petugas penjaga arena permainan lempar gelang itu
memberikan sebuah boneka beruang besar pada Ali.
“Makasih mas.”
“Nih,” Ali memberikan boneka beruang yang tingginya hampir menyamai Prilly itu. “Buat gue?”
“Ya iyalah. Masa buat gue. Lagian gue gak punya saudara cewek, jadi buat lo aja,” balas
Ali.
“Aaaaaa asik, makasih,” ucap Prilly girang lalu mengambil boneka beruang itu dari tangan
Prilly.
“Iya sama-sama. Eh tunggu bentar ya,” Ali lalu berlalu dari Prilly entah kemana.
Prilly menunggu Ali sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ponsel Prilly tertutup oleh kembang gula. Prilly mendongakkan kepalanya mendapati Ali yang sudah ada di hadapannya.
“Nih buat lo,” ucap Ali sambil memberikan kembang gulanya pada Prilly. Prilly dengan senang hati menerima kembang gula berwarna pink cerah itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya memutari pasar malam.
“Prill lo sering kepasar malam?” Tanya Ali. Namun tak ada jawaban dari Prilly.
“Prill lo sering kepasar malam gak?” Tanya Ali lagi namun masih tak ada jawaban. Ali
melirik kearah Prilly yang ternyata sedang asik memakan kembang gulanya.
“Ih gue dikacangin. Prilly!” Panggil Ali yang membuat Prilly tersadar dan menoleh kearah
Ali.
“Eh sorry, lo ngomong apa tadi?” Tanya Prilly dengan tampang tanpa dosanya. Ali
mendengus kesal menatap Prilly.
“Gak tau ah. Susah kalau ngomong sama orang yang jarang-jarang makan kembang gula.
Sekalinya makan kembang gula dunia dicuekin,” ucap Ali ketus.
“Ciee ngambek. Seorang aliando Darrez bisa ngambek juga ternyata,” goda Prilly diiringi
tawanya.
Ali melipat kedua tangannya didepan d**a sambil memasang wajah masamnya membuat Prilly terkekeh.
“Udah ah ngambeknya. Tadi lo nanya apa?”
“Lo sering gak pergi ketempat ini? Sama temen-temen lo gitu, atau sama orang tua lo?”
Tanya Ali yang membuat Prilly tercekat. Raut mukanya berubah menjadi sedih.
“Eh lo kenapa?” Tanya Ali yang melihat mata Prilly yang sudah berkaca-kaca. “Eng..enggak kok, gue gak papa,” elak Prilly.
“Dulu gue sering kesini waktu masih kecil sama nyokap dan bokap, kangen deh kesini bareng mereka lagi. Tapi gak mungkin bisa, karna Mama udah tenang disana,” ucap Prilly yang membuat Ali menyadari suatu hal. Ternyata ibu Prilly sudah meninggal? Ali menjadi merasa bersalah sudah menanyakan hal ini, terlebih lagi melihat gadis itu kini menangis dalam diamnya.
“Maaf ya. Gue gak tau. Jangan nangis lagi,” ucap Ali lembut lalu menyeka air mata Prilly.
Prilly menatap Ali lalu tersenyum.
“Iya gak papa kok.”
Tiba-tiba rintik-rintik air hujan jatuh membasahi bumi. Para pengunjung kalang kabut mencari tempat berlindung. Ali langsung menggenggam tangan Prilly membawanya mencari tempat berteduh. Lokasi parkir yang lumayan jauh membuat mereka harus berteduh terlebih dahulu. Akhirnya Ali mendapati sebuah ruko yang sudah tertutup dan kebetulan ada kursi didepannya.
“Kita tunggu hujannya agak reda sedikit,” ucap Ali yang mendapat anggukan dari Prilly.
Mereka sama-sama fokus melihat ke depan dengan pikiran masing-masing. Prilly yang merasa kedinginan karna pakaiannya yang tak bisa menghangatkannya langsung memeluk boneka beruangnya yang berada dipelukannya. Ali melirik kepada gadis yang berada disampingnya. Wajah Prilly yang terlihat dari samping yang terkena sedikit pantulan cahaya lampu membuatnya terlihat indah! Ali menggelengkan kepalanya menghalau pikirannya yang mulai terfokus pada Prilly. Ali baru menyadari kalau gadis itu sedang kedinginan. Ali langsung melepas jaketnya dan memasangkannya ke pundak Prilly menutupi punggungnya. Spontan Prilly menoleh kearah Ali yang membuat jarak diantara mereka sangat dekat. Manik-manik mereka sama-sama bertemu. Bahkan tatapan teduh Ali bisa menghangatkan Prilly. Rasanya Prilly ingin memegang dadanya kini yang terasa berdetak seperti biasanya. Apa ada yang salah dengan jantungnya?
“Biar lo gak kedinginan,” bisik Ali lembut lalu kembali pada posisi duduknya semula. Prilly tersenyum menatap Ali.
Tak lama hujan pun mulai reda. Beberapa pengunjung mengambil kesempatan ini untuk pulang.
“Pulang yuk. Udah rada reda,” ajak Ali yang mendapat anggukan dari Prilly.
***
“Thanks ya Li buat hari ini,” kata Prilly saat mobil Ali sudah terparkir didepan rumahnya.
“Iya sama-sama. Maaf ya buat yang kemarin. Udah bikin lo bete.”
“Iya gak papa kok. Oh ya, ini jaket lo,” Prilly memberikan jaket itu padanya lagi.
“Yaudah gue masuk dulu. Lo hati-hati,” tiba-tiba saja suasana mereka menjadi kikuk, Ali bahkan tak bisa menggoda Prilly dan membuat gadis itu kesal.
“Oke, thanks for today, have a nice dream.”
Prilly mengangguk kemudian keluar dari mobil Ali. Ali tersenyum kecil saat Prilly sudah keluar dari mobilnya, sebenarnya apa yang terjadi padanya dan perasaannya hari ini? Ali pun kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Prilly.