Aku kembali dalam keadaan ini. Mendengar orang-orang bercengkrama saat kelopak mata tidak mampu terbuka sepenuhnya. Papa duduk menundukkan kepala di sisiku, menggenggam tanganku seolah jika ditinggalkan akan menghilang kapan saja. Sedangkan mereka sangat mengganggu. Saling meninggikan suaranya tanpa peduli pita suara mereka kemungkinan akan putus. Aku mengkhawatirkan keadaan Papa. Selalu karena aku, pria kesayanganku ini dirundung ketakutan.
Maafkan Bungah, Pa.
"Kamu yang bertanggung jawab atas keamanan ruangan itu. Kenapa malah aku yang disalahkan?"
"Kapan aku tidak memperingatkan kalian? Aku selalu bilang kunci kunci kunci setiap siapapun keluar dari ruangan itu. Pintunya harus dikunci!"
"Hei, lihat di sini siapa yang menyalahkan siapa, harusnya kalian menyalahkan anak itu. Dia selalu bersikap semaunya. Sekarang apa? Dia susah, kita juga susah."
"Bungah tidak tahu apa-apa, harusnya kamu lebih berhati-hati. Kenapa kau selalu teledor?!"
"Mengurus anak kecil saja tidak becus."
"Cukup!"
Akhirnya aku kehilangan genggaman hangat Papa. Mereka diam setelah mendapat bentakan Papa. Aku sendiri belum pernah mendengar Papa semarah ini. Memang benar kata pepatah, marahnya orang penyabar itu paling menakutkan.
"Kalian masih melakukan hal gila itu, hah? Kenapa anakku harus terlibat pekerjaan kalian? Dari awal aku tidak pernah setuju kalian–" Suara Papa sedikit goyah, "arghhh, kenapa kalian tidak berhenti melakukan hal koyol itu?!"
Aku ingin menggapai tangannya agar tetap duduk di sisiku. Tetapi untuk memenggerakan ujung jari saja tidak mampu.
"Hal konyol katamu? Kamu lupa Lingga, hal konyol yang kamu sebut ini soal keselamatan kita? Nyawa taruhannya, Lingga, nyawa. Dia bisa saja memakan aku, kamu, kita, atau bahkan anakmu."
Percakapan orang-orang di ruangan ini makin kacau, arah pembicaraan mereka tidak aku pahami. Aku tidak tahan lagi dengan sakit kepala yang mendera juga sakitnya sekujur tubuh. Lalu kesadaranku sepenuhnya hilang melihat kepergian Papa.
***
Hembusan napas menerpa permukaan kulit. Dinginnya mengalun pelan. Kemungkinan Papa kembali menjagaku semalaman suntuk sampai tertidur.
Aku mendengar bisikan di sela-sela pintu lemari. Ada sedikit celah di sana, gelap.
Pandanganku yang buram berangsur pulih, seseorang jelas bukan Papa berbaring menopang kepalanya. Wanita itu menatap hampa dengan mata sayunya seperti tak bernyawa. Dia mengunyah sesuatu. Entah apa. Mulutnya berlumuran warna merah. Lantas bau anyir menyerebak. Lewat tangannya yang juga berlurumuran cairan kental berwarna merah. Ketika dia coba menyentuh wajahku, sontak aku beringsat menjaga jarak, terjatuh di atas kerasnya lantai.
Tak ingin kalah wanita itu merangkak cepat dari tempat tidur hingga menyudutkan punggungku pada dinding. Aku mendengar gumaman tidak jelasnya berbanding terbalik dengan irama napasku yang memburu. Mataku melebar, melihat bagaimana bola mata miliknya putih semua. Beberapa sekon kami berpandangan, lalu dia berseringai lebar.
Aku menjerit kencang, bukan hanya karena wanita ini yang menakutkan, wanita berambut panjang dari ruang terlarang ada di kamarku juga. Dia berdiri di samping lemari pakaian, jemari lentiknya mengelus pelan rambutnya yang jatuh di bahu kiri.
"Papa!"
Akhirnya suaraku terlepas bebas.
Bunga mawar menyambut penglihatan pertama. Aku terengah bangkit di atas pembaringan. Tubuhku nyaris bermandikan keringat.
"Kak Una!" Suara yang riang melompat ke atas tempat tidur. "Asiiik. Kak Una udah bangun."
Jadi tadi hanya mimpi?
"Sophia? Kenapa kamu–aw." Punggungku sakit sekali.
"Kak Una, jangan masuk ke ruangan Nenek lagi. Takut." Sophia bersila mengabaikan rintihan kesakitanku. Anak kecil itu malah bertopang dagu.
Aku merotasi bola mata, kekesalanku pada anak ini belum habis setelah kejadian tempo hari. Ua Rinanti bilang Sophia hanya melakukan apa yang kakak-kakak sepupunya katakan. Karena di keluarga ini tidak ada teman sebaya yang bisa diajak Sophia main. Tetap saja harusnya dia tidak semenyebalkan itu.
"Papa ...." Tangisku memanggil Papa, tidak tahan akan rasa sakit.
Sophia panik berlari ke luar kamar, tidak lama dia kembali dengan menuntun Papa. Wajah khawatir Papa pertama aku lihat, langkahnya lebar mendahului Sophia. Papa mengusap kepalaku, mengecup dahiku berkali-kali. Bersamaan dengan itu air mataku tidak hentinya mengalir.
"Papa," panggilku serak.
"Mana yang sakit? Bagi sakitnya sama Papa, Unga."
"Papa, Unga takut." Papa membalas tatapanku sulit diartikan, tubuhku dibawa ke dalam pelukannya. Aku tenggelam di d**a Papa, mendengarkan detak jantungnya. Aku masih diberi kesempatan melihat Papa.
"Unga jangan takut. Ada Papa."
"Unga mau pulang, Pa. Ke Kanada."
Papa hanya bergumam. Siang itu habiskan di pelukan Papa. Sophia merengek ingin dipeluk papaku juga. Akhirnya kami tidur siang bersama.
***
Setelah ditemukan tidak sadarkan diri dalam ruangan terlarang, keluarga besar mendadak memperketat penjagaan ruangan itu. Sekarang pintunya digembok. Hanya orang-orang punya izin Ua Hanggara bisa masuk ke sana.
Sedangkan mereka sudah tidak bisa lagi menyembunyikan keanehan keluarga ini. Bekas kejadian itu ada di sekitar leher, luka memar melingkar. Cekikan wanita itu nyata adanya dan bukan main-main. Aku semakin yakin, ada hal yang lebih besar dari ini mengingat percakapan saudara-saudara Papa saat aku setengah sadar. Papa tidak bisa mengelak lagi apa yang aku alami bukan nightmare biasa.
Setiap harinya aku dilarang sendirian. Pak Budi dialih tugaskan mengantar-jemput aku sekolah. Pergerakanku selalu dikontrol orang-orang suruhan keluarga Papa.
Semenjak hari itu juga, aku merasakan keanehan. Aku sering tidak sadarkan diri tiba-tiba. Kejadian-kejadian tidak masuk akal pun kerap kali aku alami. Seperti menjawab pertanyaan seseorang, sekejap kemudian orang itu hilang dari penghilatanku. Singkatnya, aku bisa melihat mereka yang harusnya tidak dilihat manusia normal. Mereka mulai menyebutku leumpeuh yuni. Memiliki batin lemah.
Keadaan ini berimbas pada Papa, makin hari makin terlihat kurus. Beban pikirannya bertambah gara-gara kondisiku. Tiap ada kesempatan kami bicara, aku selalu menghindarinya. Papa sama saja, tidak akan percaya pada apa yang aku lihat dan rasakan. Kini aku merasa dunia tengah merayap menjauh.
"Unga, kenalkan ini Tante Renata."
Suatu pagi di hari Minggu, Papa membawa seorang wanita berkacamata ke rumah. Aku tahu, Papa sedang mengusahakan yang terbaik untukku. Membawa seorang psikolog hanya membuat aku merasa Papa juga menganggap anaknya tidak waras. Itu melukai harga diriku.
"Hai Bungah, saya Renata."
Aku tidak lantas membalas hangat sapaannya. Hanya beranjak dari teras belakang rumah, menggendong anak kucing kampung pemberian Sophia. Anak itu berjanji akan membagi apapun miliknya asal bisa dimaafkan olehku, dan aku minta kucing kesayangan Sophia. Dia memberikannya cuma-cuma.
"Unga yang sopan sama Tante Renata."
Papa setengah menyentak. Renata langsung berdiri mengusap lengan Papa. "Tidak apa-apa, Mas."
Si Nina–kucing dalam pangkuanku meloncat ke luar rumah. Aku mendengus, Papa benar-benar membuat Nina ketakutan. Aku mencoba memanggil kucing itu ke arahnya pergi. Di situlah, Papa mencekal tanganku hingga kemerahan.
"Bungah. Dengar apa kata Papa barusan?"
"Iya, Pa," jawabku malas-malasan, aku melirik tanganku di udara. "Tapi tangan Unga sakit ...."
Sadar akan perbuatannya, sorot tajam Papa melunak, melepas cengkeraman itu lalu mengusap wajahnya kasar. " Maafkan Papa, Unga."
Aku mengangguk sekilas, cukup mengerti akhir-akhir ini Papa agak kacau. Tidak mau menambah beban pikirannya, aku pun meraih tangan teman Papa itu. "Halo, Tante."
Renata tersenyum lembut. Mengingatkan aku pada Mama.
Tiga hari yang lalu Mama benar-benar menikahi bule Jerman tanpa kehadiranku, acaranya tetap berlangsung seperti dugaanku. Panggilannya selalu aku tolak. Kemudian keluarga besar Papa mengkait-kaitkan kondisiku dengan problematika keluarga kami. Katanya aku berontak sebab tidak ada sosok ibu. Apa kabar dengan delapan tahun sebelumnya? Hidupku normal-normal saja tanpa kehadiran Mama. Kenapa masyarakat umum mudah sekali menyimpulkan sesuatu? Aku miris sebenarnya.
Renata hanya menyapa, selebihnya mengobrol di teras bersama Papa. Aku melihat ikan-ikan hias di kolam. Kalau Sophia datang, akan aku suruh dia mencari Nina.
Mendengar cerita Papa, sepertinya Renata setuju bila aku sedang menyapaikan sisi lain dari masa remajaku. Meluapkan emosi karena melihat ketidaklengkapan struktur keluarga kami. Masa peralihan anak-anak ke jenjang lebih dewasa. Perilaku wajar, katanya.
Pendapat wanita itu tentu dapat masuk ke logika Papa. Jelas, Renata seorang psikolog dapat menganalisis menggunakan ilmunya. Papa akan lebih lama-lama mendengarkan perkataan Renata daripada cerita fantasi yang aku alami.
Mendadak aku tidak suka kehadiran dokter psikolog itu. Dia mempengaruhi Papa.
Aku takut Papa bukan setuju tapi suka dengan Renata.
"Kak Una!" Sophia melewati depan rumahku melambaikan tangan.
Dia berdiri di atas sepeda yang melaju pelan. Seseorang membawa sepeda itu. Aku melebarkan netra, mengetahui Sophia sedang dibonceng siapa. DIA.
"Unga! Mau kemana?" teriakan Papa menghentikan langkahku mengejar Sophia.
Papa berdiri cemas di teras rumah, hendak berlari mengejarku namun Renata menahan lengannya. Bola mataku berputar, dasar.
Melangkah lebih keluar pagar, aku memberi Papa lambaian tangan. "Main dulu sama Sophia, Pa!"
Sekaligus mencari tahu siapa si dia. Kenapa bersama Sophia dan kenapa dia bisa kenal Kak Heman. Banyak sekali pertanyaan untuk si dia. Yang paling penting, aku ingin meminta kejelasan sikap dia di sekolah.
Pertanyaan-pertanyaan buntu memacu kakiku mengejar pengemudi sepeda itu.