2

1859 Kata
Max tidak mengira jika ternyata wanita itu bahkan aslinya lebih menggoda dari pada fotonya. Saat dia melihat foto wanita itu, dia memutuskan wanita itu harus menjadi miliknya dan dia akan membuat wanita itu jatuh cinta padanya, baru setelah itu dia akan melepaskannya untuk kembali kepada laki-laki itu. Setelah keluar dari kamar Emerald, dia menuju ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Saat sudah duduk di belakang meja kerjanya, tidak ada apa pun yang bisa dikerjakannya dan pikirannya kembali memikirkan Emerald. Sayang dirinya terlambat karena saat orang-orangnya menculik wanita itu dia sudah menikah dan sudah berbulan madu tapi hal itu tidak akan menghentikan minat Max padanya. Hanya seks yang Max inginkan dari wanita itu. Saat dia mengatakan jatuh cinta pada Emerald itu hanya salah satu taktiknya saja untuk membuat wanita itu jatuh cinta padanya. Dirinya bukanlah pria terhormat, hanya dia tidak pernah harus memaksa wanita untuk bercinta dengannya dan wanita satu ini juga tidak akan dia paksa. Max tahu jika semua wanita akan luluh jika pria terus mengatakan mencintainya. Dia tersenyum dengan sangat puas. "Tidak lama lagi dia akan menjadi milikku dan aku harap kamu akan tenang di sana Alessa." Max mencoba mulai bekerja kembali. Dirinya tidak akan menjadi salah seorang penting di Yunani jika hanya karena wanita dia tidak bisa bekerja. Ya, Maximus Lykalos adalah pemilik dari Attikan Airlines yang merupakan maskapai penerbangan utama di Yunani yang memilik kantor pusat di Kifisia, pinggiran kota Athena. Attikan Airlines merupakan maskapai penerbangan terbesar di Yunani yang menghubungkan Bandara International Athena di Athena, bandara Thessaloniki di Thessaloniki dan bandara International Larnaca di Siprus. Max terus bekerja tanpa henti dan hanya berhenti untuk makan saja. Sejak setahun lalu, hanya bekerja yang bisa membuatnya tetap kuat dan tidak menyerah dengan kehilangannya dan yang dia inginkan saat ini hanyalah Emerald. Dia akan mendapatkan wanita itu bagaimanapun caranya. *** Keesokan harinya dia kembali menemui Emerald di kamarnya. Kali ini dia ingin makan bersama Emerald. Sejak kemarin dia belum menemui Emerald lagi. Dia terpaku saat masuk ke dalam kamar wanita itu dan menemukannya sedang tertidur di atas ranjang dengan seprei putih tersebut. Kulitnya yang berwarna putih dan rambutnya yang berwarna cokelat seolah menyatu dengan ranjang. Dia sungguh terpesona melihatnya. Dia mendekat dan menatap wajah wanita itu. Sayang jika wanita secantik ini menjadi milik seorang b******n. Perlahan bulu mata lentik Emerald bergerak dan mata wanita itu terbuka dengan sayu. Sontak gairah Max bangkit karenanya, dia membayangkan ketika mereka bercinta dan keesokan harinya wanita ini akan terbangun seperti ini dan mereka akan bercinta kembali. "Apa yang Anda lakukan di sini?!" teriak Emerald histeris saat membuka matanya dan melihat laki-laki itu sudah duduk di ranjangnya. "Hanya menatap wajahmu yang begitu indah saat tertidur dan sesaat aku begitu tergoda ingin menggigit bibirmu yang begitu menggiurkan." Wajah Emerald kembali bersemu merah. Emerald tahu kalau laki-laki itu sedang berusaha menggodanya dan ia tidak akan tergoda. Ia mencium aroma makanan dan dia merasa lapar. Mungkin saat laki-laki ini melepaskannya ia akan sebesar gajah karena hanya makan dan tidur saja yang di lakukannya di sini. "Aku lapar," ujar Emerald dan berjalan ke meja di kamarnya.  Emerald mulai makan dan tidak memedulikan laki-laki itu. "Apa kamu tidak makan?" tanya Emerald risi saat laki-laki itu terus menatapnya. Max kemudian mendekat ke meja dan mulai ikut makan. Dia terus memperhatikan Emerald yang sedang makan karena merasa wanita ini begitu berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini ditemuinya. Emerald sama sekali tidak malu-malu, dia makan apa yang dia inginkan dan mendesah bahagia saat merasakan makanan yang disukainya tanpa menyadari efek desahannya pada diri Max. Sial! Seharusnya aku tidak makan bersamanya jika akan membuatku tersiksa seperti ini. Tapi ternyata itu belum seberapa. Gairah Max sampai titik tertinggi saat Emerald menghisap sisa makanan yang ada di jari-jarinya dengan perlahan. Max membayangkan sesuatu yang sangat erotis akan hal itu. Dia membayangkan dirinyalah yang di hisap oleh Emerald. "Maaf jika Anda merasa jijik saat makan bersama saya, Mr. Lykalos. Orang kaya seperti Anda pasti tidak dapat menerima hal itu. Anda bisa melepaskan saya jika begitu," ucap Emerald tersenyum manis pada Max. Sial! Ternyata dia sengaja melakukan hal itu. Dia salah mencari lawan.  Max kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mendekat pada Emerald. Kemudian dirinya menggenggam lengan Emerald dan tidak melepaskannya walau pun wanita itu berusaha menariknya. Dia kemudian membawa jari-jari Emerald ke mulutnya dan menggantikan mulut Emerald untuk menjilati jari-jari wanita itu dan kemudian dia menghisapnya perlahan sambil menatap mata wanita itu. Emerald terpana saat laki-laki itu malah ikut menghisap jarinya dan ia merasakan sesuatu menjalari jarinya hingga ke tulang belakang dan rasa nyeri mengikuti ke seluruh tubuhnya, dirinya tidak pernah merasakan hal itu. Dengan cepat Emerald menarik tangannya sekuat tenaga. "M..aaf saya perlu ke kamar mandi," ujar Emerald dan dengan terburu-buru melarikan diri dari sana. Dari godaan laki-laki bermata biru itu. Saat sampai di kamar mandi, ia berdiam diri untuk menenangkan dirinya, baru kemudian ia mencuci tangannya. Saat menyentuh jari-jarinya, ia kembali teringat ekspresi laki-laki itu saat menghisap jari-jarinya terlihat begitu nikmat, seolah-olah dia sedang menghisap permen dan menjilati es krim. Hentikan pikiranmu itu Emerald, ingatlah akan suamimu. Sebelum keluar Emerald menarik napas sejenak dan memberanikan dirinya keluar. Saat menatap mata biru itu, Emerald bisa melihat senyum di kedua mata itu. Emerald memilih bersikap biasa dan pura-pura tidak mengerti. "Saya sudah selesai makan, Anda bisa keluar sekarang," ucap Emerald mengusir laki-laki itu. Max berjalan perlahan ke arah Emerald. Dia tahu jika wanita itu mulai tergoda, dia bisa melihat sesaat tadi di kedua mata wanita itu timbul gairah terhadapnya karena apa yang dia lakukan pada jari-jari wanita itu. "Godaan hari ini belum berakhir, koukla mou." Emerald mengernyit bingung, tidak mengerti arti panggilan Max padanya apa. "Sebaiknya saya mandi, hari sudah sore," ucap Emerald dan kabur dari sana. Max hanya bisa menatap saat wanita itu melarikan diri darinya. Perlahan senyum tersungging di kedua bibirnya. Dia tahu jika wanita itu mulai tergoda. Dia berjalan keluar dari kamar Emerald dan kembali bekerja seperti biasanya dan saat malam tiba, dia kemudian mandi air dingin untuk meredakan gairahnya akan wanita yang di sekapnya itu. Bersabarlah, kamu akan mendapatkannya sebentar lagi. Tapi perkiraan Max tidaklah tepat karena wanita itu tetap tidak bisa dia taklukan hingga satu minggu kemudian. Hal itu membuat emosinya turun naik karena begitu mendambakan wanita itu tapi dia tetap tidak ingin memaksa wanita itu. Setiap hari dia akan pergi ke kamar wanita itu, dia tahu Emerald menjaga jarak yang aman darinya dan wanita itu akan menahan pintu dengan sesuatu saat dia tidur. Karena pernah dia ingin masuk tapi tidak bisa dan akhirnya dia mengetahui jika Emerald menahan pintu dengan sesuatu. Hari ini Max kembali mengunjungi wanita itu. Dia tidak akan menyerah semudah itu. "Ayo, makan," ucap Emerald saat laki-laki itu masuk. "Cobalah ini," ujar Emerald sambil menyuapkan makanan ke mulut Max tanpa ia menyadari tindakannya dan Max menerima suapan itu sambil menghisap jari-jari Emerald dan menatap kedua matanya. Max bisa melihat gairah di kedua mata itu. "Maaf," ucap Emerald dengan cepat menyadari tindakannya. Dia hanya mulai merasa nyaman berada di dekat Max. Walaupun laki-laki itu menculiknya, entah kenapa dia tidak merasa takut kepada laki-laki itu dan malah merasa begitu nyaman. Emerald kemudian masuk ke dalam kamar mandi, menjauh sejenak dari godaan Max. Saat selesai mencuci tangan, Emerald kembali keluar tapi ternyata Max sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi. Emerald terbelalak kaget melihat kemarahan di kedua mata Max. Apa salahku hingga membuat dia marah? "Apa kamu sengaja ingin mempermainkan aku?" "Saya tidak tahu maksud Anda." "Kamu sengaja bukan menggodaku dan kemudian kamu akan menolakku setelahnya." "Bukan seperti itu. Maaf, saya..." gugup Emerald saat laki-laki tersebut semakin mendekat padanya. "Saya... hanya bertindak spontan karena begitu menyukai rasa makanan itu dan saya ingin Anda juga mencobanya. Tidak ada maksud lain. Maafkan saya!" "Aku akan menerima permintaan maafmu, dengan satu syarat," ucap Max di depan bibir Emerald saat dirinya terpojok di depan wastafel kamar mandi. "Apa?" bisik Emerald merasa sedikit cemas. "Panggil namaku!" Emerald terdiam sejenak. Selama ini dirinya sengaja tidak mau memanggil nama laki-laki itu, dalam pikirannya dia hanya menyebutnya laki-laki itu. Tapi sekarang, sepertinya dia tidak punya pilihan. "Max," ucap Emerald lirih. Saat mendengar namanya disebutkan oleh bibir Emerald. Seketika gairah Max semakin tak terkendali dan dia kemudian memagut bibir Emerald dengan penuh gairah. Emerald meletakkan kedua tangannya di d**a Max saat laki-laki itu menciumnya dengan begitu b*******h dan ia menggenggam erat baju Max agar tangannya tidak menuruti keinginannya, yaitu menyentuh tubuh Max. Sesaat ia membiarkan saja laki-laki itu menciumnya. Sekelebat bayangan suami yang mencintainya muncul di kepalanya hingga ia menyadari kelakuannya. "Tidak!" tolak Emerald dan berpaling dari ciuman Max. Max menghentikan ciumannya dan menenangkan napasnya yang terengah sejenak. Dia kemudian mencium leher jenjang Emerald yang tampak olehnya dan semakin menuju ke atas ke telinganya. "Jangan, saya mohon. Saya sudah bersuami." "Baiklah, tapi ingat, koakla mou, saat kamu memutuskan bercinta denganku, maka aku tidak akan memedulikan penolakan-penolakanmu lagi karena aku tahu, kamu juga begitu menginginkanku," bisik Max di telinga Emerald dan segera keluar dari sana meninggalkan Emerald. Oh...aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak pernah merasakan ini semua saat bersama Alden. *** Emerald dan Alden sudah berpacaran sejak mereka masuk perguruan tinggi. Tapi dia mengenal Alden sejak kecil dan Aldenlah satu-satunya sahabat yang dimilikinya, sebab semua orang menjauhinya. Dia dan Alden kuliah di tempat yang sama di Coventry University tapi di jurusan berbeda dan dia sangat bahagia saat Alden memintanya menjadi kekasihnya. Ia menerima laki-laki itu karena sikapnya yang sangat baik padanya, Alden tidak pernah bersikap kasar padanya, bahkan laki-laki itu selalu memujinya, hingga Emerald begitu terpesona dan jatuh cinta padanya. Apalagi dirinya sejak kecil selalu di hujat karena menjadi anak haram dan hanya laki-laki itu saja yang tidak pernah memandang rendah dirinya. Ya, dia adalah anak hasil dari perselingkuhan salah satu orang terkenal di Inggris. Tapi hanya dirinya, ibunya dan kakak tiri yang begitu membencinya yang tahu akan hal itu. Ayahnya bisa menerimanya, tapi hanya sekedar memberikan uang padanya dan membiayai hidupnya tapi tidak dengan namanya. Ia menggunakan nama gadis ibunya. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, semua kemewahan itu hilang dari hidupnya, Emerald tidak keberatan karena sejak lama dia sudah membiasakan diri, sebab dia tahu semua itu suatu hari akan menghilang dari hidupnya. Sejak ayahnya mewariskan semuanya pada kakak tiri yang membencinya, ia harus bisa menghidupi dirinya sendiri, belajar dan bekerja di saat yang sama. Emerald menikah dengan Alden di Coventry tempat mereka tumbuh besar dan bersama selama ini. Saat dia di culik, dirinya sedang berjalan-jalan sendirian di taman hotel menunggu kepulangan suaminya yang entah pergi ke mana karena Alden mengatakan akan keluar sebentar tapi hingga malam dia tidak pulang dan saat ia bangun keesokan harinya Alden juga masih belum pulang. Ia berjalan-jalan di taman untuk menghilangkan kegelisahannya karena ponsel Alden juga tidak bisa dia hubungi. Ia tidak akan mengkhianati Alden, selama dirinya masih sadar dan bisa berpikir jernih sebab Alden adalah satu-satunya orang yang begitu baik padanya selama ini. Saat teringat akan pekerjaannya, Emerald merasa sepertinya ia akan segera di pecat karena dia bahkan tidak mengabari atasannya. Ia hanya mengatakan akan berbulan madu dan hari ini harusnya dia sudah masuk kerja. *** Setelah meninggalkan kamar Emerald, Max menuju ruang kerjanya dan berteriak frustrasi. Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan wanita itu? Haruskah aku memerkosanya? Tidak! Max menghilangkan hal itu dari pikirannya. Dia tidak akan membuat wanita itu membencinya karena dia ingin wanita itu jatuh cinta padanya, tidak pada suaminya lagi dan jika wanita itu sudah jatuh cinta padanya. Max sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena begitu frustrasi, Max melampiaskan semua ini kepada para pengawal dan para pelayannya, hingga mereka terus menghindarinya beberapa hari ini. Max memutuskan lebih baik dia bekerja. Saat bekerja dia bisa sejenak melupakan semuanya. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN