Serli juga terkejut saat mendengar Dhana mengangkat Serli menjadi sekretaris pribadinya. Serli senang mendengar gajinya dinaikkan lima kali lipat. Kekaguman Serli tidak sampai disitu. Serli melihat orang paling ditakuti di kota Antara ini pun menghormati Dhana. Saat itu, untuk pertama kalinya, hati Serli merasakan bahwa Dhana adalah orang yang tepat yang dapat menjadi tempat perlindungannya untuk seumur hidupnya. Namun Serli mengetahui bahwa status dirinya dengan Dhana bagaikan langit dan bumi. Jadi Serli memendam perasaannya di dalam hatinya.
Perasaan itu kembali bersemi saat Dhana mengatakan “Jikalau aku jatuh cinta kepadamu, aku akan langsung melamarmu” dan Dhana pun memeluk dirinya.
Serli pun memantapkan hatinya untuk mencintai dan mendukung Dhana sepenuh hatinya.
“Ba..baik tuan Dhana.”ujar Serli tersenyum
“Ya sudah. Nah saat kau tersenyum, kecantikanmu terpancar.”ujar Dhana tersenyum.
Serli pun merasakan rasa tenang di dalam hatinya.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara iring-iriangan kendaraan patroli.
Mereka berdua melihat iring-iriangan besar menyertai sebuah mobil menuju ke sebuah tempat penjualan mobil sport.
Orang-orang pun berkumpul meyaksikan hal itu. Orang-orang penasaran melihat apa yang akan terjadi di tempat tersebut.
Martin dan Chantika juga melihat iring-iringan besar itu mendekati gedung mereka.
Tidak lama kemudian, Rosa pun keluar dari dalam mobil Ferrari keluaran terbaru miliknya.
Martin tidakmenyangka dia akan didatangi oleh nyonya Rosa.
Saat Martin hendak menyambut Rosa, Rosa tidak menghiraukan Martin, dan segera berlari mendekati Dhana. Begitu Rosa tiba di depan Dhana, Rosa berlutut dan meminta maaf karena dia telat satu menit.
Martin terkejut melihat pemandangan itu. Begitu juga dengan adik Martin dan orang-orang yang berkumpul di tempat itu.
“Mengapa kamu berlutut di depanku?”tanya Alvarendra kepada Rosa dengan santai.
“Aku sudah berjanji kepada tuan Dhana dimana aku akan datang tepat waktu. Namun aku tidak dapat menepati janjiku itu. Aku terlambat satu menit. Aku tahu apapun alasanku tidak dapat membenarkan tindakanku.”ujar Rosa.
“Baiklah. Aku memaafkan kesalahanmu. Bangunlah dan jangan pernah ingkari janjimu di kemudian hari” ujar Dhana.
“Baik tuan.”ujar Rosa sembari berdiri dan membersihkan celananya.
Setelah Rosa selesai membersihkan celananya, dia pun bertanya kepada Dhana.
“Ada gerangan apa tuan memanggil saya ke tempat ini?”
“Owh iya. Saya hampir saja lupa. Saya ingin membeli sebuah mobil. Tapi pemilik tempat ini tidak mengizinkan aku untuk masuk ke dalam tempat ini.”ujar Dhana memberi penjelasan kepada Rosa dengan santai.
Martin dan Chantika pun menjadi ketakutan. Mereka mendengar perkataan Dhana karena mereka berdiri lima puluh meter di tempat Dhana saat ini berdiri.
Saat Martin hendak mendekati Rosa untuk memberi penjelasan, Rosa pun berkata dengan lantang kepada salah satu anak buahnya.
“Tommy !!! Kau cari siapa pemilik tempat ini dan bawa kehadapan saya sekarang !!! “
Seorang pria yang berdiri di belakang Rosa pun berlari ke depan Rosa dan berkata dengan tegas.
“Baik nona. Perintah nona akan kami laksanakan.”ujar pria itu hendak beranjak dari tempat tersebut.
Namun Martin dan Chantika telah berdiri di dekat Rosa.
“Maaf nona. Saya adalah pemilik tempat ini. Nama saya Martin dan disebelah saya adik saya, Chantika.” Ujar Martin membungkuk hormat kepada Rosa.
“Salam nona Rosa.”ujar Chantika ikut membungkuk hormat kepada Rosa.
“Jadi kamu pemilik tempat ini?”tanya Rosa dengan tegas.
“Be..benar nona. Apakah nona ingin membeli mobil? Saya akan memberikan mobil apapun yang nona inginkan secara gratis. Saya merasa terhormat nona Rosa bersedia datang ke kediaman saya ini.”ujar Martin tersenyum ramah.
“Berarti kamu yang telah menyinggung tuan saya?”tanya Rosa dengan tatapan tajam.
“Apa maksud nona Rosa? Saya saja tidak berani menyinggung nona Rosa. Bagaimana mungkin saya berani menyinggung orang yang menjadi tuan nona?” ujar Martin memberi pembelaan diri.
“Pria di depan saya ini adalah tuan saya. Beliau berkata bahwa dia ingin membeli sebuah mobil. Tapi pemilik tempat ini mengusirnya dan melarangnya untuk masuk ke tempat ini. Apakah itu benar?” tanya Rosa dengan tatapan marah.
Martin pun memandang adiknya. Martin pun berusaha untuk menyelamatkan dirinya.
“Maafkan saya nona. Saya tidak tahu bahwa tuan ini adalah orang yang tidak boleh saya singgung. Tapi saya tidak bersalah. Adik saya lah yang telah menyinggung tuan ini. Adik saya yang mengusir tuan ini dari tempat ini. Saya sungguh tidak tahu.” Ujar Martin sembari berlutut di depan Rosa.
Chantika pun ketakutan karena kakaknya telah melemparkan kesalahan kepada dirinya. Chantika tidak mempunyai siapapun untuk disalahkan. Jadi dia pun berlutut dan meminta maaf kepada Rosa.
“Saya minta maaf nona. Saya bersalah di dalam hal ini. Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya.”ujar Chantika memohon pengampunan kepada Rosa.
Setiap orang di kota Antara tahu bahwa siapa pun yang berani menyinggung Rosa, orang itu membawa kematian bagi dirinya sendiri. Setiap orang tahu bahwa keluarga Rosa adalah pemimpin kota Antara yang sebenarnya.
Saat Rosa hendak meluapkan amarahnya kepada Martin dan Chantika, Dhana pun berkata dengan tegas kepada Rosa.
“Hentikan nona Rosa !!! Aku sudah memaafkan mereka. Aku hanya meminta kamu membawakanku sebuah mobil di sebuah ruangan khusus ke rumahku. Serli akan memberikan alamat rumah itu. Sekarang aku mau pergi. Ingat apa yang aku katakan. Jangan lukai mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Kamu mengerti kan, Rosa !!! “ujar Dhana dengan tegas.
“Me..mengerti tuan.”ujar Rosa.
“Baiklah. Kalian berdua berdirilah. Kalau begitu, aku pergi dulu. “ujar Dhana berjalan menuju mobil Bugatti La Voiture Noire milik Carli. Serli pun berlari ke mobil itu dan membuka pintu kepada Dhana. Setelah Dhana masuk, Serli pun mengendarai mobil itu dan pergi menuju lokasi penjualan handphone terbesar di kota Antara yakni di jalan Varise.
Setelah Dhana pergi, Rosa melihat Martin dan Chantika memandang Dhana dengan tatapan yang sangat terkejut. Mereka tidak menyangka orang yang berpakaian biasa adalah seseorang penguasa sebenarnya di kota Antara ini.
“Sampai kapan kalian mau terus berlutut? Tuan Dhana sudah mengampuni kalian. Tuan Dhana juga sudah meminta kalian berdiri. Kalian tidak perlu khawatir. Tuan Dhana sudah memintaku untuk mengampuni kalian. Jika tuan Dhana tidak memberi pengampunan, aku pastikan besok kalian hanya tinggal nama. Jadi sebaiknya jangan melakukan hal konyol seperti ini kepada tuan Dhana. Jika itu terjadi, tidak ada pengampunan kedua dariku. Walaupun tuan Dhana mengampuni kalian seribu kali, bagiku pengampunan hanya diberikan sekali. Kalian mengerti !!! “ujar Rosa dengan tegas kepada Martin dan Chantika.
“Ka..kami mengerti nyonya.”ujar Martin dan Chantika menjawab bersamaan. Setelah itu, Martin dan Chantika berdiri.