“Jepit kici, Pipi kasi,” celoteh Rayu saat Yuri memasangkan jepit rambut pilihannya sendiri ke rambutnya yang Yuri sisir rapi dengan belahan samping. “Iya, jepit kelinci.” Sabtu menjelang siang hari ini tidak seperti sabtu-sabtu sebelumnya, kenadati Yuri sudah mendandani Rayu dan menyiapkan beberapa keperluannya di tas ransel mini miliknya seperti biasanya. "Pipi?" Itu juga yang diam-diam jadi pertanyaan Yuri saat yang muncul di depan rumahnya hari ini adalah Tya, dan bukannya Mulya. "Habis ini kita ketemu Papi, ya." "He eh." Rayu langsung mengerti asal dijanjikan bertemu dengan ayahnya, sementara Yuri berharap Tya menjelaskan lebih. Mengapa tepatnya bukan Mulya langsung yang menjemput Rayu, sedangkan kemarin-kemarin Mulya mengarang alasan untuk bisa datang kemari. Hal itu tentu s

