Pak Yanto duduk santai di balik meja besar ruang kerjanya. Di seberangnya, Mirna duduk dengan sopan. Joshua masuk dengan langkah tergesa, tanpa mengetuk pintu, dan langsung menghampiri ayahnya.
“Nak, ini Mirna. Yang bantu papa waktu insiden tanah kemarin. Kamu masih ingat?”
Mirna berdiri dan menyodorkan tangan. “Hai, saya Mirna.”
Joshua melirik sekilas, lalu menjabat tangan itu sekenanya. “Joshua.” Suaranya datar, tak ada usaha untuk ramah. Ia menoleh ke ayahnya. “Ada perlu apa, Pa?”
Pak Yanto menyerahkan beberapa dokumen. “Ini untuk kamu pelajari. Dan sekalian, antar Mirna pulang, ya.”
Joshua mendesah pelan. “Aku kira aku di sini buat bahas proyek, bukan jadi sopir dadakan.”
“Anggap saja bantu papa. Sekalian kenalan lebih dekat sama orang yang pernah bantu kita,” ujar Pak Yanto tenang, tapi tajam.
Joshua menoleh ke Mirna, senyum tipis di wajahnya bukan karena ramah, tapi karena menyimpan sesuatu yang meremehkan. “Oke. ikut denganku." Sambil berjalan tanpa menoleh
Mirna hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia bisa merasakan sikap dingin Joshua, tapi memilih untuk diam. Kadang, orang yang banyak bicara justru yang paling sulit dimengerti.
Mobil hitam keluaran terbaru itu melaju mulus keluar dari halaman kantor. Joshua duduk di balik kemudi dengan tangan kiri menyetir santai, sementara tangan kanannya memutar volume musik pelan. Suasana di dalam mobil terasa dingin, bukan karena AC, tapi karena sikap Joshua yang jelas tak ramah.
Beberapa menit berlalu tanpa suara, sampai akhirnya Joshua melirik sekilas ke arah Mirna yang duduk di sampingnya.
“Kamu tuh, sebenarnya mau apa sih datang-datang ke kantor?” tanyanya tiba-tiba. Nadanya ringan, tapi penuh sindiran. “Mau ketemu papa-ku, bilang-bilang pernah bantu, terus berharap dibalas?”
Mirna menoleh, menahan diri. “Bukan begitu. Aku cuma...."
“Please,” potong Joshua cepat. Ia tertawa pendek, sinis. “Jangan sok polos, ya. Dunia ini nggak semurah itu. Semua orang datang ke papa pasti ada maunya. Dan aku benci orang yang pura-pura nggak punya niat apa-apa.”
Mirna tak berbicara sedikit pun, Ia tetap diam tidak membantah apa yang diucapkan oleh Joshua.
Joshua melanjutkan, suaranya makin tajam. “Kalau kamu pikir karena bantu papaku kamu bisa memanfaatkan papaku… kamu salah besar.”
Ia menoleh dengan tatapan tajam, meski tetap menyetir. “Dengar ya. Aku nggak peduli kamu siapa. Tapi kalau kamu coba-coba manfaatin papa-ku, aku bisa bikin kamu nyesel.”
Mirna menatap ke luar jendela. Hatinya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang ia pendam rapat. Ia tahu, Joshua hanya melihat dari permukaan. Tapi diamnya bukan tanda lemah.
Joshua tertawa kecil lagi, puas karena merasa menang. “Bagus, diem aja. Itu lebih baik.”
Pak Darto sedang duduk di ruang tamu saat Mirna masuk, wajahnya masih menyimpan gundah.
“Ada apa, Nak?” tanya Pak Darto pelan.
Mirna duduk di samping ayahnya. Matanya memikirkan sesuatu apa yang harus kukatakan kepada Ayahku, akhirnya aku memberanikan diri berkata walaupun ini sangat berat bagiku.
“Pa… aku dijemput sama anaknya Pak Yanto tadi… Joshua.”
“Oh ya? Dia baik?”
Mirna menghela napas panjang. “Nggak, Pa. Dia merendahkan Mirna. Seolah-olah Mirna perempuan murahan yang mau uang dari ayahnya.”
Pak Darto terdiam.
“Pa… kalau benar Pak Yanto mau bantu kasih uang, misalnya… sampai seratus juta, tapi syaratnya aku harus menikah dengan anaknya yang kasar begitu… apa aku harus terima?”
Mendengar perkataan putrinya pak Darto tidak dapat berkata apa-apa.Ia hanya diam.
Ia menghampiri putri satu-satunya. Lalu berkata " Keputusan ada ditanganmu..kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa." Lalu Ia menghampiri Mirna dan menepuk pundaknya, lalu ia duduk disebelahnya.
Mirna mendekati ayahnya lalu berlutut di hadapannya " Mirna sudah putuskan akan menerima pernikahan ini, pa."
Pak Darto menatap putrinya dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Nak, kau yakin dengan keputusan ini?” suara Pak Darto bergetar, berat menahan perasaan sedih. “Aku tahu kau tak ingin ini terjadi, tapi keadaan memaksa…”
Mirna mengangguk pelan. “Pa, aku nggak punya pilihan lain. Aku harus lakukan ini demi Pa. Demi kita.”
Pak Darto meraih tangan Mirna dan menggenggamnya erat, berusaha menyampaikan dukungan meski hatinya hancur. “Kau anak yang kuat, Mirna. Jangan sampai apa pun yang terjadi membuatmu kehilangan jati dirimu.”
Setelah selesai pembicaraan dengan Ayahnya, Mirna menangis terisak di sudut kamar. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Tangisan Mirna bergema di kamarnya, campur aduk antara kelegaan dan perih yang tak terucapkan. Ia tahu, keputusan itu bukan sesuatu yang bisa diambil dengan ringan. Tapi ketika ayahnya tengah sakit dan beban hidup semakin berat, pilihan itu terasa seperti satu-satunya jalan keluar.
Malam itu, Mirna duduk termenung di kamar, menatap langit-langit yang redup. Bayangan wajah Joshua dan Pak Yanto berputar di kepalanya. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan terjadi setelah ini. Apakah ia benar-benar bisa bertahan di tengah sikap dingin Joshua dan dunia yang penuh kepura-puraan?
Kenangan tentang ayahnya yang selama ini bekerja keras demi keluarga itu menguatkan hatinya. Ia tahu perjuangan masih panjang dan berliku. Namun, jika cinta dan harga diri harus dipertaruhkan demi masa depan keluarga, Mirna siap menghadapi semuanya.